Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Maret 2009

Al Baqoroh ayat 44

AYAT 44: A takmuruunan naasa bil birri wa tansauna anfusakum wa antum tatluunal kitaab. Afalaa ta’qiluuna

I'rob
  • A = apakah (berfungsi mengubah jadi kalimat tanya)
  • Amaro = he ordered/dia telah menyuruh → takmuruuna = you-all order/kalian menyuruh (fi'l mudloorik = present tense)
  • Naasun = a human being → an-naasu = THE human being
  • Bi = with/dengan
  • Barro = he was being pious/dia telah saleh → birrun = a righteousness/sebuah kesalehan → al-birru = THE righteousness → bi adalah preposisi, maka al-birru majrur jadi al-birri
  • Wa = dan
  • Nasiya = he pretend to forget/dia pura-pura lupa → tansauna = you-all forget/kalian pura-pura lupa
  • Nafsun = self/diri sendiri → anfusun = selves (bentuk jamaknya)
  • Kum = you-all/kalian → anfusun hilang tanwin jadi anfusu, berarti kum mudlof ilaih dari anfuusun → anfusu manshub jadi anfusa, berarti anfusa adalah objek dari tansauna → anfusakum = yourselves
  • Antum = you-all/kalian
  • Talaa = he recited/dia telah membaca → tatluuna = you-all recite/kalian membaca (fi'l mudloorik)
  • Kataba = he wrote/he decreed/dia telah menulis/dia telah menetapkan → kitaabun = a book/sebuah kitab → al-kitaabu = THE book (bentuk definitnya) → al-kitaabu manshub jadi al-kitaaba, berarti posisinya sebagai objek dari tatluuna
  • Fa = then/lalu
  • Laa = tidak → laa nafiyah (negasi)
  • 'Aqila = he had brain/dia telah punya otak → ta'qiluuna = you have brain/kalian punya otak (fi'l mudloorik)
A takmuruunan naasa bil birri wa tansauna anfusakum wa antum tatluunal kitaaba, a fa laa ta'qiluuna

Inggris: Do you-all order THE human being to THE righteousness and you-all pretend to forget yourselves while you-all recite THE Book? Then, don't you have brain?
Indonesia: Apakah kalian menyuruh manusia kepada kesalehan dan kalian sendiri pura-pura lupa padahal kalian membaca Al-kitab? Lalu apakah kalian tidak punya otak?

A takmuruunan naasa bil birri wa tansauna anfusakum

Atsar Muhammad bin Ishaq: dari Ibnu Abbas: maksudnya, padahal kalian lupa mempraktekkannya.

Atsar As-Suddi dan Abdurrozzaq: dari Ma'mar: dari Qotadah: Bani Isroil biasa menyuruh orang: taat pada Allah, takut padaNya dan berbuat baik; tapi mereka sendiri tidak mempraktekkannya. Maka Allah mengingatkan mereka lewat ayat ini.

Atsar Ibnu Juroij: Ahli Kitab dan orang munafik biasanya menyuruh orang sholat dan puasa, tapi mereka tidak mempraktekkannya. Jadi, kalau dia menyuruh kesalehan, dia harus menjadi yang pertama melaksanakannya.

Tafsir Ibn Katsir: menyuruh kesalehan adalah kewajiban, tapi melaksanakannya juga kewajiban yang sama pentingnya.

Menurut tafsir Adh Dhohhak: dari Ibnu Abbas: apakah kalian menyuruh orang lain masuk agama Rasulullah, dan perintah2 lain spt sholat, tapi kalian sendiri tidak mempraktekkannya?

Hud 88: Wamaa uriidu (Dan aku (Nabi Syu’aib) tidak mau) an ukhoolifakum (untuk aku berkontradiksi kepada kalian) ilaa maa anhaakum ‘anhu (kepada apa yg aku larang kalian atasnya). In uriidu illal ishlaaha (aku tidak menginginkan selain perbaikan) mastatho’tu (selama aku sanggup), wamaa taufiiqii illaa billaah (dan tidak ada petunjuk bagiku selain dengan (pertolongan) Allah), ‘alaihi tawakkaltu (hanya kepada-Nya aku mewakilkan (urusanku)) wa ilaihi uniib (dan hanya kepada-Nya aku kembali)

Wa antum tatluunal kitaab (padahal kalian membaca kitab)

Atsar Muhammad bin Ishaq: dari Ibn 'Abbas: kalian melarang manusia mengingkari kerosulan dan perjanjian yang kalian sebutkan dalam Taurot, kalian tahu apa yg dijanjikan Taurot terhadap orang yang mengabaikan perintah Allah, tapi kalian tidak mempraktekkannya. Dengan kata lain, kalian sendiri ingkar terhadap isi Taurot.

Afalaa ta’qiluun (tidakkah kalian berakal)

Menurut tafsir Ibnu Katsir: artinya apakah kalian tidak memikirkan apa yang kalian lakukan terhadap diri kalian sendiri? Semoga kalian sadar dari mengantuk kalian dan pandangan kalian kembali dari kebutaan.

Larangan menyuruh berbuat baik kalau dia tidak mempraktekkannya

Hadits ghorib Imam Abul Qosim Ath Thobroni: dari Jundub: dari Rosululloh: Ma-tsalul ‘aalimil ladzii yu’allimun nasal khoiro (Perumpamaan orang berilmu yang mengajarkan kebaikan pada manusia) wa laa ya’malu bihii (tapi dia sendiri tidak melakukannya) kama-tsalis sirooji yu-dlii-u linnaasi (seperti perumpamaan pelita menerangi manusia) wa yahriqu nafsah (tapi dia sendiri terbakar)

Hadits shohih Imam Ahmad (dari Abu Wa-il) dan hadits shohih Bukhori dan Muslim (dari Al A'masy): dari Usamah: dari Rosululloh: Yujaa-u bir rojuli yaumal qiyaamati (pada hari kiamat akan didatangkan seseorang) fa yulqoo fin naari (lalu dia dicampakkan di dalam neraka) fa tandaliqu bihiqtaabuhu (lalu ususnya terburai), fa yaduuru bihaa fin naari (lalu dia berputar dalam neraka (mengitari ususnya itu)) kamaa yaduurul himaaru biruhaahu (seperti keledai mengitari penggilingannya), fa ya-thiifu bihi ahlun naari (lalu para penghuni neraka berputar mengelilinginya) fa yaquuluuna (lalu mereka berkata), yaa fulaan maa a-shoobaka ("Wahai fulan, apa yang menimpamu?) alam takun takmurunaa bil ma’ruufi wa tanhaanaa 'anil munkar? (bukankah dulu kamu menyuruh berbuat baik dan mencegah berbuat munkar?") fa yaquula (lalu dia berkata) kuntu aamirukum bil ma’ruufi ("Dulu aku menyuruh kalian berbuat baik) wa laa aatiihi (tapi aku tidak mengerjakannya), wa anhaakum ‘anil munkari wa aatiihi (dan melarang kalian berbuat kemunkaran tapi aku sendiri mengerjakan).

Hadits shohih Imam Ahmad: dari Sayyar bin Hatim: dari Ja'far bin Sulaiman: dari Tsabit: dari Anas: dari Rosululloh: Innallooha yu'aa fil ummiyyiina yaumal qiyaamati (sesungguhnya Allah memaafkan orang2 butahuruf di hari kiamat) maa laa yu’aa fil 'ulamaak (dengan pemaafan yg tak Dia lakukan terhadap orang berilmu)

Az Zumar 9: Qul hal yastawil ladziina ya’lamuuna wal ladziina laa ya’lamuun (katakan, apakah sama orang yg berilmu (tahu larangan dan perintah Allah) dan orang yg tak berilmu)? Innamaa yata-dzakkaru uulul albaab (sesungguhnya orang2 yg punya otaklah yang bisa menerima pelajaran)

Hadits dari Ibnu Jarir Ath Thobari: dari Al Walid bin Uqbah: dari Rosululloh: Inna unaasan min ahlil jannati (sesungguhnya ada seorang manusia dari penghuni surga) yathla’uuna ‘alaa unaasin min ahlin naari (dia melihat kepada manusia dari penghuni neraka) fa yaquuluuna bima da-kholtumun naar (lalu mereka berkata "karena apa kalian masuk neraka?) fa walloohi maa da-kholnal jannata illaa bimaa ta’allamnaa minkum (padahal demi Allah tiada yg memasukkan kami ke surga selain karena apa yang kami pelajari dari kalian") fa yaquuluuna innaa kunnaa naquulu wa laa naf’al (Lalu mereka berkata "Sesungguhnya kami dulu hanya berkata dan tidak melakukannya")

Atsar Adh Dhohhak: dari Ibnu Abbas: Aku pernah didatangi seorang lelaki dan dia berkata, "Wahai Ibnu Abbas, sesungguhnya aku ingin menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat jahat." Aku berkata, "Apa kamu sudah melakukannya?" Dia berkata, "Aku baru ingin melakukannya", Lalu aku berkata, "Kalau kamu tidak takut akan terbongkar aib dirimu dengan 3 ayat dalam Alqur-an, maka lakukanlah". Dia berkata, "Apa saja 3 ayat itu?" Ibnu Abbas membacakan ayat Alqur-an:
1. "A takmuruunan naasa bil birri wa tansauna anfusakum" (Al Baqoroh 44)
Aku berkata "Apakah kamu sudah mengerjakan hal ini dengan sempurna?" Dia berkata "Belum"
2. "Limaa taquuluuna maa laa taf’aluun? Kaburo maqtan 'indalloohi an taquuluu maa laa taf’aluun" (Kenapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan - Ash Shoff 2-3)
Aku berkata "Apakah kamu telah mengerjakan hal ini dengan sempurna?" Dia berkata "Belum"
3. Ucapan seorang hamba yg sholih, Syu’aib: "Wamaa uriidu an ukhoolifakum ilaa maa anhaakum 'anhu. In uriidu illal ishlaaha" (Dan aku tidak menghendaki untuk aku menyalahkan kalian kepada apa yg aku larang kalian atasnya, tidaklah aku menghendaki selain perbaikan - Huud 88)
Aku berkata "Dan apakah kamu sudah mengerjakan hal ini dengan sempurna?" Dia berkata "Belum", Maka aku berkata "Mulailah dari dirimu sendiri"

Atsar Ibrohim An Nakho'i: aku benar-benar tidak suka menasehati karena 3 ayat: Al Baqoroh 44, Ash Shoff 2-3, dan Huud 88.

Senin, 02 Maret 2009

Al Baqoroh ayat 41

AYAT 41: Wa aaminuu bimaa anzaltu mushoddiqon limaa ma’akum walaa takuunuu awwala kaafirin bihii. Walaa tasytaruu bi aayaatii tsamanan qoliilan. Wa iyyaaya fattaquuni

I'rob
  • Wa = dan
  • Aamana = he believed/dia telah percaya → aaminuu = (you-all) believe!/berimanlah kalian (fi'l 'amr = kata kerja perintah)
  • Bi = with/dengan
  • Maa = what/apa yang (relative pronoun)
  • Nazala = he descended/dia telah turun → anzala (wazan 4: causative) = he sent down/dia telah menurunkan → anzaltu = I sent down/Aku telah menurunkan
  • Shodaqo = he was truthful/dia telah benar → shoddaqo (wazan 2) = he verified/dia telah membenarkan → mushoddiqun (ism fa'ilnya/yang me-) = verifier/yang membenarkan
  • Li = to/atas
  • Ma'a = together with/bersama → preposisi
  • Kum = you-all/kalian
  • Laa = Don't! → laa nahiyah (larangan)
  • Takuunuuna = you-all are/kalian adalah → Takuunuu (bentuk jussive, karena ada laa) → kaana bentuk fi'l mudloorik/present tense, berarti "kalian" adalah ism inna, dan awwalu adalah khobar kaana
  • Awwalun = the first/awal → khobar kaana harus manshub (berakhiran "a") jadi awwalan
  • Kafaro = he disbelieved/dia telah tidak percaya → kaafirun = disbeliever/orang yang tidak percaya → kaafirun adalah mudlof ilaih dari awwalun, maka kaafirun majrur jadi kaafirin
  • Bi = with/dengan
  • Hu = him/dia → bi adalah preposisi, maka hu majrur jadi hi
  • Laa = Don't! → laa nahiyah (larangan)
  • Syaroo = he bartered/dia telah menukar → tasytaruuna = kalian menukarkan (fi'l mudloorik = present tense) → karena laa, maka tasytaruuna berubah jadi tasytaruu (jussive)
  • Aayatun = a verse/a miracle/sebuah ayat → aayaatun = bentuk jamaknya/verses/miracles → bi adalah preposisi, maka aayaatun majrur jadi aayaatin
  • -y = my/-ku → akhiran -y adalah mudlof ilaih dari aayaatin, berarti aayaatin hilang tanwin jadi aayaati
  • Tsamanun = a price/sebuah harga → posisinya sebagai Haal (kata keterangan) sehingga harus manshub (berakhiran "a") jadi tsamanan
  • Qoliilun = he was small/dia telah sedikit → sama-sama manshub dan naqiroh dengan tsamanan, berarti sebagai na'at dari tsamanan
  • Wa = dan
  • Iyyaa (=only unto/hanya kepada) + nii (me) = iyyaaya = only unto me
  • Fa = then/maka
  • Waqoo = he feared Ittaquu = (you-all) fear!/(kalian) takutlah!
  • -ni = me/aku (objek)
Wa aaminuu bimaa anzaltu mushoddiqon limaa ma'akum, wa laa takuunuu awwala kaafirin bihii, wa laa tasytaruu bi aayaatii tsamanan qoliilan. Wa iyyaaya fattaquun

Inggris: And (you all) believe with what I sent down verifying what's with you-all! And don't (you-all) be the first of disbeliever with it! And don't you-all barter My verses/miracles with a small price! And unto Me alone then (you-all) fear!
Indonesia: Dan percayalah kalian dengan apa yang telah Aku turunkan yang membenarkan terhadap apa yang bersama kalian! Dan jangan kalian menjadi yang orang yang pertama kali tidak percaya dengannya! Dan jangan kalian menukar ayat-ayatKu dengan harga yang rendah. Dan hanya kepadaKu maka kalian takutlah!

Wa aaminuu bimaa anzaltu mushoddiqon limaa ma'akum

Tafsir Ibn Katsir: yaitu kepada Alquran yang Allah kirim kepada Muhammad, nabi dari bangsa Arab yang buta huruf, sebagai membawa kabar gembira, peringatan, dan cahaya. Quran mengandung kebenaran dari Allah dan mengakui apa yang diturunkan sebelumnya dalam Taurot dan Injil.

Atsar Abul 'Aliyah, Mujahid, Ar Robi' bin Anas, Qotadah: Allah berkata "Wahai Bani Isroil, percayalah dengan apa yang Akutelah turunkan (Alqur-an) yang membenarkan apa yang kalian punya (Taurot dan Injil)", karena deskripsi Muhammad ada dalam Taurot dan Injil.

Walaa takuunuu awwala kaafirin bihi

Atsar Ibnu Abbas: "Jangan menjadi orang yang pertama kali tidak percaya kepada Alqur-an (atau Muhammad) padahal kalian tahu lebih banyak daripada orang lain".

Atsar Abul 'Aliyah, Al Hasan Al Bashri, As Suddi, Ar Robi' bin Anas: yaitu larangan kepada Ahli Kitab untuk menjadi orang yang pertama kali tidak percaya setelah mendengar bahwa dia telah dikirim sebagai seorang nabi.

Tafsir Ibn Jarir: Bihii maksudnya Alqur-an.

Tafsir Ibn Katsir: ayat ini ditujukan kepada Bani Isroil, karena mereka yang di Madinah adalah Bani Isroil pertama yang tidak percaya. Padahal sebelumnya Muhammad sudah ditolak orang Quroisy dan orang Arab, jangan memperburuknya.

Walaa tasytaruu bi aayaatii

Tafsir Ibn Katsir: jangan menukar iman kepada ayat-ayat Allah dan iman kepada rosulNya, dengan kehidupan dunia dan godaannya yang hanya sebentar dan tidak abadi.

Menurut tafsir Abu Ja’far: dari Ar Robi’ bin Anas: dari Abul ’Aliyah: Jangan menerima upah dalam mengajarkan ayat Allah.

Larangan dakwah dengan minta upah

Shood 86: Qul maa as-alukum 'alaihi min ajrin (katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepada kalian atas ini (penyampaian risalah dan nasihat ini)) wa maa anaa minal mutakallifiina (dan aku bukan dari orang-orang yang mengada-ada)

Bukhori: dari Sufyan Ats-Tsauri: dari Ibn Mas'ud: Wahai manusia, barangsiapa tahu (berilmu) sesuatu, maka katakanlah. Dan barangsiapa tidak tahu (belum punya ilmunya), maka katakan Allohu a'lam (Allah lebih tahu), karena seseorang yang berkata Allohu A'lam adalah termasuk bagian dari ilmu. Sesungguhnya Allah berkata kepada Rosululloh Shood 86.

Hadits Ibn 'Asakir dan Al Baihaqi: dari Abu Darda': dari Rosululloh: Man akhodza 'alaa ta'liimil qur-aani qousan, qolladahulloohu qousan min naari yaumal qiyaamah (barangsiapa mengambil sebuah busur atas mengajarkan Alqur-an, pasti Allah mengalungkan kepadanya busur dari api neraka pada hari kiamat) → hasan li ghoirihi, karena dikatakan "tidak ada asalnya" oleh Al Baihaqi sendiri, lalu dibantah oleh Ibn At Turkimani karena sanad Al Baihaqi shohih tapi entah kenapa dia mendloifkannya sendiri. Abu Hatim tidak ada masalah dengan sanad hadits ini. Menurut Ibnu Hajar Asyqolani, sanadnya sesuai syarat shohih Muslim. Cacat yang ada dari hadits ini adalah Sa'id bin Abdul Aziz rusak hafalannya di akhir usianya (tapi belum diketahui, hadits ini didengar setelah hafalannya rusak atau sebelumnya), dan Al Walid bin Muslim adalah mudallis tadlis taswiyah (tadlis terburuk).

Hadits shohih Abu Dawud, Ibnu Majah, Imam Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi: dari 'Ubadah bin Ash Shomit: Aku mengajarkan Alqur-an dan menulis kepada ahli Shuffah, lalu salah seorang dari mereka menghadiahkan sebuah busur kepadaku. Kata hatiku, busur ini bukan harta, toh dapat aku gunakan untuk berperang fii sabiilillah. Aku mendatangi Rosululloh dan bertanya kepada dia, "Wahai Rosululloh, seorang lelaki yang telah kuajari menulis dan membaca Alqur-an telah menghadiahkan sebuah busur kepadaku. Busur itu bukanlah harta berharga dan dapat aku gunakan untuk berperang fii sabiilillah." Rosululloh berkata, in kunta tuhibbu an tuthowwaqo min naarin faqbalhaa (Kalau kamu suka dililitkan kalung dari neraka, maka terimalah!) Lalu aku menolak.

Hadits hasan shohih Tirmidzi: dari Utsman bin Abi Al 'Ash: Sesungguhnya nasihat terakhir Rasulullah kepadaku adalah barangsiapa menjadi muadzin janganlah dia mengambil upah atas adzannya.

Hadits hasan lighoirihi Tirmidzi, Imam Ahmad, dan Al Baghowi: dari ‘Imron bin Husain:
Aku melihat seorang qori sedang membaca Alqur-an lalu meminta upah. Akupun mengatakan kalimat istirja' (inna lillahi wa inna ilaihi rooji'uuna) lalu aku berkata, "Aku mendengar Rosululloh pernah berkata man qoro-al qur-aana (barangsiapa membaca Alqur-an) falyas-ililaaha bihi (maka mintalah kepada Allah dengannya (pahalanya)), fa innahu sayajii-u iqwaamun yaqro-uunal qur-aana yas-iluuna bihin naas (karena sesungguhnya akan datang beberapa kaum yang membacakan Alqur-an meminta dengannya (upahnya) kepada manusia)"

Hadits hasan Ahmad, Al Baghowi, Al Hakim: dari Abu Sa'id Al Khudri: dari Rosululloh:
Ta'allamul qur-aana (pelajarilah Alqur-an) was-alullooha bihil jannah (dan mintalah Allah surga (sebagai balasannya)) qobla an yata'allamahu qoumun yas-aluunaihid dun-yaa (sebelum datang suatu kaum yang mempelajarinya, meminta dunia (upah) sebagai imbalannya) fa innal qur-aana yata'allamuhu tsalaatsah (sesungguhnya orang yang mempelajari Alqur-an ada 3) rojalun yubaahii bihi (orang yang membanggakan diri dengannya (dengan mempelajarinya)) wa rojulun yastakkilu bihi (dan orang yang mencari makan dengannya (dengan mempelajarinya)) wa rojulun yaqro-ahulloohi (dan orang yang membacakannya karena Allah)

Hadits shohih Abu Dawud dan Imam Ahmad: dari Jabir bin Abdillah: Rosululloh keluar menemui kami. Saat itu kami sedang membaca Alqur-an, di antara kami ada orang2 Arab dan orang2 'Ajam (non-Arab). Beliau berkata, iqroo-uu fakullun hasanun (bacalah (Alqur-an), karena (bacaan kalian) semuanya bagus) wa sayajii-u iqwaamun yuqiimuunahu kamaa tuqoomul qidhu (dan akan datang beberapa kaum yang menegakkan yang harus ditegakkan (Alqur-an dan Islam) seperti menegakkan anak panah) yata'ajjaluunahu (mereka hanya mencari materi dengannya) wa laa yata-ajjaluunahu (dan mereka tidak mencari pahala)

Hadits shohih Ath Thohawi, Imam Ahmad, dan Thobroni: dari Abdurrohman bin Syibl Al Anshoori: Mu'awiyah (nabi palsu zaman Rasulullah) berkata kepadanya "Kalau kamu datang ke kemahku, maka sampaikan hadits yg telah engkau dengar dari Rosululloh" Lalu dia berkata, "Aku mendengar Rosululloh berkata: Iqro-uul qur-aana wa laa takkuluu bihi (kalian bacalah Alqur-an dan kalian jangan mencari makan darinya) wa laa tastaktsiruu bihi (dan kalian jangan menganggapnya remeh) wa laa taghluu fiihi (dan kalian jangan berlebihan dengannya)

Hadits Bukhori & Muslim: dari Abdullah bin as-Sa'dy:
Umar telah memakai jasaku untuk mengumpulkan zakat. Setelah aku selesai mengumpulkan kemudian diserahkan kepada Umar, dia memerintahkan agar aku diberi upah. Aku berkata, “Semua kukerjakan ikhlas lillahi ta'ala”. Umar pun berkata, “Aku juga pernah menjadi amil zakat semasa Rasulullah, lalu aku diberi upah, maka aku berkata seperti yang engkau katakan tadi (semua kukerjakan dengan ikhlas lillahi ta'ala) Rasulullah pun berkata, “Apabila engkau diberi sesuatu tanpa meminta-minta maka makanlah dan sedekahkanlah"

Ruqyah yang sesuai Alqur-an boleh diminta upahnya, dan mahar boleh berupa hafalan Quran

Hadits Bukhori: dari Sahal bin Sa’d As Sa’idi: Kami sedang duduk bersama Rasulullah, lalu datang seorang wanita dan memperlihatkan dirinya kepada Rasulullah, maka Rasulullah menundukkan pandangannya dan lalu mengangkatnya kembali dan beliau tak menyuruh perempuan itu pergi. Maka salah seorang sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, nikahkan aku dengannya”, Rasulullah berkata, “Apakah kau punya sesuatu (untuk mahar)?” Lelaki itu berkata, “Tidak”, Rasulullah berkata, “Walau hanya dari cincin besi?” Lelaki itu berkata, “Saya tak punya apa2, walau itu cincin besi, tapi saya akan sobek kain ini, separuh saya serahkan untuk mahar, separuh lagi untuk saya pakai”, Rasulullah berkata, “Tidak! Apakah kamu menguasai sesuatu dari Alqur-an?” Lelaki itu berkata, “Ada wahai Rasulullah”, Rasulullah berkata, “Zawwajtukahaa bimaa ma’aka minal qur-aan” = Aku nikahkan kamu kepadanya dengan mahar apa-apa yg kauhafal dari Alqur-an.

Hadits Shohih Bukhori: dari Abu Sa'id Al Khudri: sekelompok sahabat Rosulullah sedang dalam perjalanan hingga beristirahat di dekat salah satu suku Arab dan meminta mereka dijamu sebagai tamu, tapi mereka (suku itu) menolak menjamu mereka. Lalu kepala suku itu digigit ular (atau disengat kalajengking) dan dia diberikan segala pengobatan tapi semuanya gagal. Beberapa dari mereka berkata "Maukah kamu mendatangi kelompok yang beristirahat di dekat kalian dan mencari tahu apakah salah satu dari mereka punya sesuatu yang berguna?" Mereka mendatangi mereka dan berkata "Wahai sekelompok orang, Pemimpin kami digigit ular (atau disengat kalajengking) dan kami sudah mengobatinya dengan segala hal tapi tidak ada yang berguna. Apakah ada di antara kalian yang memiliki sesuatu yang berguna?" Salah satu dari mereka menjawab, "Ya, demi Allah aku tahu cara mengobati dengan Ruqyah. Tapi demi Allah kami ingin kalian menerima kami sebagai tamu kalian tapi kalian menolak. Aku tidak akan mengobati pasien kalian dengan Ruqyah sampai kalian menjanjikan sesuatu kepada kami sebagai upah." Maka mereka setuju memberi sekawanan kambing kepada musafir itu. Lelaki itu datang ke kepala suku bersama mereka, meludahi (gigitannya) dan membacakan Surat Al Fatihah sampai pasiennya sembuh dan bisa jalan seperti tidak pernah sakit. Saat orang-orang suku itu membayar upah mereka sesuai perjanjian, beberapa dari mereka (musafir) berkata, "Bagi-bagikan kambingnya" Tapi orang yang meruqyah berkata "Jangan melakukannya sampai kita mendatangi Rosululloh dan menceritakan kepadanya apa yang terjadi, dan lihat apa yang dia akan perintahkan kita. Maka mereka mendatangi Rosululloh dan menceritakan kisahnya dan dia berkata "Bagaimana kalian tahu bahwa Surat Al Fatihah adalah Ruqyah? Kalian telah melakukan hal yang benar. Bagikan (kambingnya) dan aku dibagi juga ya." Rosululloh lalu tersenyum.

Hadits shohih Abu Dawud, Ahmad, Ibn Majah, Al Hakim: dari Abu Huroiroh: Man ta'allama 'ilman mimmaa yubtaghoo bihi wajhulloohi (barangsiapa mengajarkan ilmu dengan mencari Wajah Allah) laa yata'allamuhu illaa li yushiiba bihi arodlon minad dun-yaa ((tapi) dia tidak mengajarkannya kecuali untuk mencari keuntungan dunia) lam yajid 'arfal jannati yaumal qiyaamah (dia takkan mendapatkan bau surga pada hari kiamat)

Lalu bagaimana dengan hadits yang membolehkan Kitabulloh diambil upahnya?

Hadits shohih Bukhori: dari Ibn Abbas: Inna ahaqqo maa akhodztum 'alaihi ajron kitaabulloohi (sesungguhnya yang paling berhak kalian ambil upah atasnya adalah Kitabulloh)

Tapi kemudian ada hadits lain yang menjelaskannya:

Hadits shohih Bukhori: dari Ibn Abbas: Kalian adalah yang paling berhak menerima upah dari melakukan Ruqyah dengan kitab Allah.

Para rosul pun dakwah sambil tetap mencari nafkah

Hadits Muslim dan Ahmad: dari Abu Huroiroh: dari Rosululloh: Zakarriyaa adalah seorang tukang kayu.

Hadits Bukhori: dari Miqdam bin Ma'dikariba: dari Rosululloh: Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil usahanya sendiri, sedangkan Dawud juga makan dari hasil usahanya sendiri

Saba' 10-11: Wa laqod aatainaa daawuuda minnaa fadllan (Dan sungguh Kami telah memberi Dawud karunia dari Kami) yaa jibaalu awwibii ma'ahu wath thoiro (wahai para gunung dan para burung, bertasbihlah berulang-ulang bersamanya) wa a lannaa lahul hadiida (dan Kami telah melunakkan besi baginya (mukjizat membengkokkan besi)) ani'mal saabighootin (bahwa "kamu buatlah baju besi yang besar) wa qoddir fis sardi wa'maluu shoolihan (dan ukurlah didalam anyaman (baju besi) dan berbuat baiklah")

Asy-Syu'aro 108-109: Wattaqulooha wa a-thii'uuni (dan takutlah pada Allah dan taatilah aku (Nuh)) wa maa as-alukum 'alaihi min ajrin (dan aku tidak minta kalian upah atasnya) in ajriya illaa 'alaa robbil 'aalamiina (tiadalah upahku kecuali atas Robb dari semua alam)

Asy-Syu'aro 126-127: Fattaqullooha wa a-thii'uuni (maka takutlah pada Allah dan taatilah aku (Hud)) wa maa as-alukum 'alaihi min ajrin (dan aku tidak minta kalian upah atasnya) in ajriya illaa 'alaa robbil 'aalamiina (tiadalah upahku kecuali atas Robb dari semua alam)

Asy-Syu'aro 144-145: Fattaqullooha wa a-thii'uuni (maka takutlah pada Allah dan taatilah aku (Shoolih)) wa maa as-alukum 'alaihi min ajrin (dan aku tidak minta kalian upah atasnya) in ajriya illaa 'alaa robbil 'aalamiina (tiadalah upahku kecuali atas Robb dari semua alam)

Asy-Syu'aro 164-165: Fattaqullooha wa a-thii'uuni (maka takutlah pada Allah dan taatilah aku (Luth)) wa maa as-alukum 'alaihi min ajrin (dan aku tidak minta kalian upah atasnya) in ajriya illaa 'alaa robbil 'aalamiina (tiadalah upahku kecuali atas Robb dari semua alam)

Asy-Syu'aro 179-180: Fattaqullooha wa a-thii'uuni (maka takutlah pada Allah dan taatilah aku (Syu'aib)) wa maa as-alukum 'alaihi min ajrin (dan aku tidak minta kalian upah atasnya) in ajriya illaa 'alaa robbil 'aalamiina (tiadalah upahku kecuali atas Robb dari semua alam)

Shood 86 (sudah disebutkan di atas)

Al Furqoon 57: Qul maa as-alukum 'alaihi min ajrin (Katakanlah: "Aku tidak minta kalian upah atasnya) illaa man syaa-a an yatta-khidza ilaa robbihi sabiilan (kecuali barangsiapa yang mau untuk mengambil jalan menuju Robbnya)

Yaasiin 21: Ittabi'uu man laa yas-alukum ajron wa hum muhtaduuna (ikutilah barangsiapa yang tidak minta upah kepadamu, dan mereka adalah orang-orang yang diberi petunjuk)

Wa iyyaaya fattaquuni

Atsar Ibnu Abi Hatim: dari Tholq bin Habib: Taqwa adalah ta'mala bi thoo'atillah (berbuat dengan menaati Allah) rojaa-a rohmatillah ’alaa nuurin minallah (dengan mengharap rahmat Allah atas cahaya (petunjuk) dari Allah) wa tatruka ma'shiyaatallah 'alaa nuurin minallah (dan meninggalkan maksiat kepada Allah atas cahaya dari Allah) takhoofu 'iqooballah (karena takut terhadap siksa Allah)

Sabtu, 17 Januari 2009

Al Baqoroh ayat 33

AYAT 33: Qoola yaa aadamu anbikhum bi asmaa-ihim. Fa lammaa anba-ahum bi asmaa-ihim, qoola a lam aqul lakum innii a’lamu ghoibas samaawaati wal ardl. Wa a’lamu maa tubduuna wamaa kuntum taktumuun.

I'rob

  • Qoola = he said/dia telah berkata (fi'l ma-dlii = past tense)
  • Yaa = O/wahai
  • Naba-a = he informed/dia telah mengabarkan → Anba-a (wazan 4: causative) = he made informed --> anbik = (you) inform! (fi'l 'amr = kata kerja perintah)
  • Hum = them/mereka
  • Bi = with/dengan
  • Asmaa-un = names/nama-nama → Bi adalah preposisi, maka asmaa-un majrur jadi asmaa-in → asmaa-in hilang tanwin jadi asmaa-i, dan setelahnya ada hum yang majrur jadi him, menandakan bahwa hum adalah mudlof ilaih (pemilik) dari asmaa-in.
  • Lammaa = when/saat
  • A = apakah
  • Lam → lam nafiyah (negasi) → maka aqoola (wazan dari qoola) harus jazm jadi aqul.
  • La = bagi
  • Kum = kalian
  • Inna = verily/sesungguhnya → Innii = Inna + yy artinya "aku"
  • 'Alima = he knew/dia telah tahu → a'lamu = knower/knowest (ism tafdlil = lebih/paling)
  • Ghoibun = an unseen/sesuatu yang ghoib
  • Samaa-un = a sky/sebuah langit → samaawaatu/samawaatu = bentuk jamaknya/skies → as-samaawaatu = THE skies (bentuk definitnya)
  • Wa = dan
  • Al-ardlu = THE earth
  • Badaa = he revealed/dia telah nyata → tubduuna = you-all reveal/kalian menyatakan (fi'l mudloorik = present tense)
  • Kuntum = you-all were --> kaana, mengandung subjek "kalian" → "kalian" adalah ism kaana, taktumuuna adalah khobar kaana.
  • Katama = he concealed/dia telah menyembunyikan → taktumuuna = you-all conceal/kalian menyembunyikan (fi'l mudloorik) --> kuntum membuat klausa setelahnya jadi past-tense, sehingga taktumuuna (meskipun present tense) harus berubah jadi past tense = you-all concealed.

Qoola yaa aadamu anbikhum bi asmaa-ihim. Fa lammaa anba-ahum bi asmaa-ihim, qoola a lam aqul lakum innii a'lamu ghoibas samaawaati wal ardli, wa a'lamu maa tubduuna wa maa kuntum taktumuuna

Inggris: He said "O Adam, inform them with their names!" Then, when he informed them with their names, He said, "Haven't I said to you, verily I'm more knowledgeable about an unseen of THE skies and THE earth?" And He is most knowledgeable about what you-all reveal and what you-all concealed
Indonesia: Dia telah berkata "Wahai Adam, kabarkan mereka dengan nama-nama mereka!" Lalu saat dia telah memberitahu mereka dengan nama-nama mereka, Dia berkata "Bukankah aku sudah berkata, sesungguhnya Aku lebih tahu sesuatu yang ghoib dari langit dan bumi?" Dan Dia paling tahu apa yang kalian nyatakan dan apa yang kalian telah sembunyikan.

Qoola yaa aadamu anbikhum bi asmaa-ihim

Atsar Zaid bin Aslam: Adam berkata kamu adalah Jibril, kamu Mikail, kamu Isrofil, sampai menyebut burung gagak".

Atsar Mujahid, Sa'id bin Jubair, Al Hasan, Qotadah: merpati, burung gagak, dan semuanya.

Fa lammaa anba-ahum bi asmaa-ihim, qoola a lam aqul lakum innii a’lamu ghoibas samaawaati wal ardl

Tafsir Ibn Katsir: Setelah kelebihan Adam diperlihatkan pada para malaikat, Allah berkata kepada mereka "Aku tahu hal yang nampak dan yang tidak nampak".

Wa a’lamu maa tubduuna wamaa kuntum taktumuun

Atsar Adh Dhohhak: dari Ibnu Abbas: Allah tahu rahasia-rahasia, sebagaimana Allah tahu hal yang terang-terangan, seperti apa yang iblis sembunyikan dalam hatinya.

Atsar Abu Ja’far Arrozi: dari Arrobi’ bin Anas: Kuntum taktumuuna adalah pertanyaan malaikat "Apakah Engkau akan menciptakan kholifah yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah?" Maa tubduuna adalah dalam hati malaikat "kami lebih tahu banyak daripada ciptaan yang Allah akan buat".

Thoohaa 7: Wa in tajhar bil qouli (dan kalau kamu keras dengan kata-katamu (doa teriak-teriak)), fa innahu ya'lamus sirro wa akhfaa (maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi).

Tafsir Ibn Katsir: Rahasia adalah apa yang disembunyikan tiap manusia dalam hatinya. Yang lebih tersembunyi adalah perbuatan manusia yang disembunyikan Allah sebelum mereka melakukannya.

An Naml 25: Wa ya'lamu maa tukhfuuna wa maa tu'linuuna (dan Dia tahu apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan)

Atsar 'Ali bin Abi Tholhah: dari Ibn Abbas: Allah tahu apa yang hambaNya katakan dan lakukan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Jumat, 16 Januari 2009

Al Baqoroh ayat 31-32

AYAT 31: Wa 'allama aadamal asmaa-a kullahaa tsumma 'arodlohum 'alal malaaikati fa qoola anbi-uunii bi asmaa-i haa-ulaa-i in kuntum shoodiqiina

I'rob

  • Wa = dan
  • 'Alima = he knew/dia telah tahu → 'allama (wazan 2: causative) = he taught/dia telah mengajarkan
  • Aadam manshub (berakhiran "a") → berarti berposisi sebagai maf'ul (objek) dari 'allama.
  • Ismun = a name/sebuah nama → asmaa-un = bentuk jamaknya/names → al-asmaa-u = THE names (definit jamak) → al-asmaa-u manshub menjadi Al-asmaa-a → berarti berposisi sebagai maf'ul (objek) kedua dari 'allama.
  • Kullun = every/setiap
  • Haa = her/dia → Kullun + haa = Kullahaa → berarti kullun adalah mudlof, haa adalah mudlof ilaih, sehingga kullun menghilangkan tanwin jadi kullu, dan kullu menjadi kulla karena posisinya sebagai Haal (kata keterangan) → sehingga, al-asmaa-a kullahaa (nama-nama, setiapnya) diterjemahkan sebagai semua nama.
  • Tsumma = then/lalu
  • 'Arodlo = he showed/dia telah memperlihatkan (fi'l ma-dlii = past tense)
  • Hum = them/mereka
  • 'Alaa = upon/atas
  • Malaka = he owned/dia telah memiliki → malakun = an angel/seorang malaikat → al-malaa-ikatu = THE angels (jamak definit) → 'alaa adalah preposisi, maka al-malaa-ikatu majrur jadi al-malaa-ikati.
  • Fa = then/lalu
  • Qoola = he said/dia telah berkata (fi'l ma-dlii)
  • Naba-a = he informed/dia telah memberitahu → Anbi-uu = (you all) inform! (fi'l amr = kata kerja perintah) → "kalian" = para malaikat
  • -Nii = me/aku
  • Bi = with/dengan → bi adalah preposisi, maka asmaa-un majrur jadi asmaa-in
  • Haa-ulaa-i = these/ini semua → Asmaa-in jadi asmaa-i, lalu ada haa-ulaa-i, berarti haa-ulaa-i adalah mudlof ilaih dari asmaa-i → maka, asmaa-i haa-ulaa-i diterjemahkan dengan menambahkan kata OF: names OF these.
  • In = if/jika
  • Kuntum = you-all were --> yaitu kaana dengan ism kaana "kalian" dan khobar kaana shoodiqiina.
  • Shodaqo = he was truthful → shoodiqun = truthful person (ism fa'il = pelaku) → shoodiquuna = bentuk jamaknya/truthful people → shoodiquuna adalah khobar kaana, maka manshub jadi shoodiqiina.
Wa 'allama aadamal asmaa-a kullahaa tsumma 'arodlohum 'alal malaaikati fa qoola anbi-uunii bi asmaa-i haa-ulaa-i in kuntum shoodiqiina

Inggris: And He taught Adam THE names of everything, then He showed them to THE angels, then He said "(You-all) inform me with the names of these if you are truthful people!"
Indonesia: Dan Dia telah mengajarkan Adam nama-nama setiapnya, lalu dia telah memperlihatkan mereka kepada para malaikat, lalu Dia berkata "Kalian beritahu Aku nama-nama ini semua, jika kalian adalah orang-orang yang benar!"

Tujuan ayat

Tafsir Ibn Katsir: Di ayat ini Allah menyatakan Adam lebih mulia daripada para malaikat, karena Dia mengajarkan Adam nama-nama semuanya, bukan kepada para malaikat. Ayat ini juga untuk memberi tahu para malaikat bahwa Dia tahu apa yang tidak mereka tahu.

Wa 'allama aadamal asmaa-a kullahaa

Atsar Ibn 'Abbas: yaitu nama segala benda, dzat, sifat, dan af'alnya (perbuatannya).

Atsar Adh Dhohhak: dari Ibn 'Abbas: Nama yang dipakai orang, seperti: manusia, hewan, langit, bumi, tanah, laut, kuda, keledai, dll, termasuk nama spesies lain.

Atsar Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir: dari 'Asim bin Kulaib: dari Sa'id bin Ma'bad: Ibnu Abbas pernah ditanya "Apakah Allah mengajarkannya nama-nama piring dan bejana?", dia menjawab "Ya, bahkan istilah-istilah untuk buang angin".

Hadits shohih Bukhori, Muslim, An Nasa-i dan Ibnu Majah: dari Anas bin Malik: dari Rosululloh: Yajtami'ul mukminuuna yaumal qiyaamati, fa yaquuluuna (orang-orang beriman (akan) berkumpul pada hari kiamat lalu mereka berkata) lawis tasyfa'naa ilar robbinaa ("Kita harus mencari syafaat kepada Rabb kita") fa yaktuunaa adama fa yaquuluuna (lalu mereka mendatangi Adam lalu mereka berkata) anta abunnaasi kholaqokalloohu baidihi wa asjada laka malaa-ikatahu wa 'allamaka asmaa-a kulli syai-in ("Kamu adalah ayah dari manusia, Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya dan para malaikatNya telah bersujud kepadamu dan Dia telah mengajarkanmu nama-nama setiap sesuatu") fasyfa' lanaa 'inda robbika, hattaa yuriihanaa min makaaninaa haadzaa (maka berilah syafaat bagi kami di sisi Robbmu, sehingga Dia membebaskan kami dari tempat kami ini") fa yaquulu lastu hunaa kum wa yadzkuru dzanbahu (lalu dia berkata "Aku tidak bisa melakukannya untuk kalian" dan dia mengingat dosa-dosanya) fa yastahyiktuu nuuhan fa innahu awwalu rosuulin ba'atsahulloohu ilaa ahlil ardl (lalu dia malu "Pergilah (ke) Nuh, karena sesungguhnya dia rosul Allah pertama yang dikirim untuk orang-orang bumi") fa yaktuunahu fa yaquulu lastu hunnaa kum wa yadzkuru su-aalahu robbahu maa laisa lahu bihi 'ilmun (lalu mereka pergi ke dia lalu dia berkata, "Aku tidak bisa melakukannya untuk kalian", dan dia teringat meminta Allah apa yang dia tidak punya ilmunya) fa yastahyii fa yaquulu iktuu kholiilar rohmaan (lalu dia malu lalu dia berkata "Pergilah (ke) Kholil (kekasih) Ar-Rohman") fa yaktuunahu fa yaquulu lastu hunaa kum (lalu mereka pergi ke dia dan dia berkata "Aku tidak bisa melakukannya untuk kalian") fa yaquuluktuu muusaa 'abdan kallamahulloohu wa a'thoohut taurooh (lalu dia berkata, "Pergilah (ke) Musa, seorang hamba yang Allah berbicara kepadanya dan Dia memberinya Tauroh") fa yaquulu lastu hunaa kum fa yadzkuru qotlan nafsi bi ghoiri nafsin fa yastahyii min robbihi (lalu dia berkata "Aku tidak bisa melakukannya untuk kalian", lalu dia teringat dia telah membunuh seseorang tanpa justifikasi lalu dia malu dengan Robbnya) fa yaquuluktuu iisaa 'abdalloohi wa rosuulahu wa kalimataloohi wa ruuhahu, fa yaktuunahu (lalu dia berkata, "Pergilah (ke) Isa, hamba Allah dan rasulNya dan firman Allah dan ruhNya" lalu mereka pergi ke dia) fa yaquulu lastu hunaa kum, iktuu muhammadan 'abdan ghufiro lahu maa taqoddam min dzanbi wa maa ta-akhkhor (lalu dia berkata, "Aku tidak bisa melakukannya untuk kalian. Pergilah (ke) Muhammad, hamba yang diampuni dosa masalalunya dan yang di masa depannya.") fa yaktuunii fa antholiqu hattaa astakdzina 'alaa robbii fa yakdzanu lii (lalu mereka mendatangiku lalu aku pergi sehingga aku minta izin kepada Robbku lalu Dia mengizinkan kepadaku) fa idzaa ro-aitu robbii waqo'tu saajidan fa yada'unii maasyaa-alloohu (lalu saat aku melihat Robbku, aku bersujud lalu Allah mengizinkanku (bersujud) sampai kapan yang Allah kehendaki) tsumma yaquulurfa' roksaka wasal tu'thoh waqul yusma' wasyfa' tusyaffa' (lalu Dia berkata, "Angkat kepalamu, karena kamu diberikan apa yang kamu minta, dan berilah syafa'at karena syafa'atmu diterima.") fa arfa'u roksii fa ahmaduhu bi tahmiidin yu'allimuniihi (maka aku mengangkat kepala lalu memujinya dengan tahmid (pujian) yang Dia ajarkanku) tsumma asyfa'u fa yuhaddu lii haddan fa udkhiluhumul jannata (lalu aku memberi syafa'at lalu Dia membatasinya lalu Dia memasukkan mereka ke surga) tsumma a'uudu ilaihi fa idzaa ro-aitu robbii mitslahu tsumma asyfa'u fa yuhaddu lii haddan fa udkhiluhumul jannah (lalu aku kembali kepadaNya lalu saat aku melihat Robbku seperti itu) tsumma a'uuduts tsaalitsata tsumma a'uudur roobi'ata (lalu aku kembali ketiga (kalinya) lalu aku kembali keempat (kalinya)) fa aquulu maa baqiya fin naari ilaa man habasahul qur-aanu wa wajaba 'alaihil khuluud (lalu aku berkata "Tidak ada yang tersisa dalam neraka kecuali yang Qur-an telah memenjarakannya dan mereka kekal di dalamnya")

Tsumma 'arodlohum 'alal malaaikati

Atsar 'Abdurrozzaq: dari Ma'mar: dari Qotadah: Allah memperlihatkan benda-benda atau makhluk-makhlukNya di depan para malaikat.

In kuntum shoodiqiin

Tafsir Ibn Katsir: Allah berkata: Katakan padaku nama benda-benda ini, wahai para malaikat yang berkata "Apakah Engkau menjadikan di dalamnya orang-orang yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah?" Kalau kamu berkata benar (bahwa kalau aku menunjuk kholifah dari bukan kalangan malaikat ke bumi, mereka akan tidak taat kepadaKu, berbuat kerusakan, menumpahkan darah), maka Aku akan menjadikan kalian khalifah yang selalu menaatiKu, mengikuti perintahKu, selalu mengagungkanKu. Tapi karena kalian tidak tahu nama benda-benda ini, kalian tidak lebih tahu apa yang akan terjadi di bumi yang belum tercipta ini.

AYAT 32: Qooluu subhaanaka laa 'ilma lanaa illaa maa 'allamtanaa. Innaka antal 'aliimul hakiimu

I'rob
  • Qoola = he said/dia telah berkata → qooluu = they said/mereka telah berkata (fi'l ma-dlii = past tense)
  • Sabbaha = he glorified/dia telah memahasucikan → Subhaana = Glory/Mahasuci
  • Ka = you/kamu
  • 'Ilmun = knowledge/ilmu → Laa + kata benda nakiroh (indefinit) → berarti Laa = no, dan 'ilmun harus manshub dan hilang tanwin jadi 'ilma.
  • La = bagi
  • -naa = us/kami
  • Illaa = except/kecuali
  • Maa = what/apa yang (relative pronoun)
  • 'Alima = he knew/dia telah tahu → 'allama (wazan 2: causative) = he taught/dia telah mengajarkan → 'allamta = you taught/kamu telah mengajarkan (fi'l ma-dlii)
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti ka adalah ism inna, al-'aliimul hakiimu adalah khobar inna → khobar inna harus marfu' (berakhiran u).
  • Anta = you/kamu → Anta sebagai dlorof fashl/penguat
  • Al-'aliimu = The Most Knowledgeable/Mahatahu
  • Al-Hakiimu = The Most Wise/Mahabijaksana
Qooluu subhaanaka laa 'ilma lanaa illaa maa 'allamtanaa, innaka antal 'aliimul hakiimu

Inggris: They said "Glory (is to) you! no knowledge with us but what you taught us. Verily you are The Most Knowledgeable The Most Wise."
Indonesia: Mereka telah berkata "Mahasuci Engkau! Tiada ilmu bagi kami selain apa yang Engkau telah ajarkan kami. Sesungguhnya Engkau adalah Mahatahu Mahabijaksana."

Tujuan ayat

Tafsir Ibn Katsir: Malaikat memuji kesucian dan kesempurnaan Allah, tidak punya kekurangan, tidak ada makhluk yang bisa mendapatkan ilmu sedikitpun kecuali atas izin Allah atau diajarkan oleh Allah. Allah Mahatahu, Mahabijaksana (keputusanNya) atas semua ciptaanNya.