Tampilkan postingan dengan label Iman Kpd Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iman Kpd Allah. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Juli 2010

Al Baqoroh ayat 77

AYAT 77: A wa laa ya'lamuuna annallaaha ya'lamu maa yusirruuna wa maa yu'linuuna

  • A = apakah (ism istifham = kata tanya)
  • Wa = dan
  • Laa → laa nafiyah (negasi)
  • 'Alima = he knew/dia telah tahu → ya'lamuuna = they know/mereka tahu → ya'lamu = he knows/dia tahu
  • Anna = that → tergolong inna → berarti Allah adalah ism inna, ya'lamu maa yusirruuna wa maa yu'linuuna adalah khobar inna
  • Karena ism inna, Allah harus manshub jadi allooha
  • Maa = what/apa yang
  • Sarro = he was secret/dia adalah rahasia → asarro (wazan 4: causative) = he concealed/dia telah merahasiakan → yusirruuna = they conceal/mereka merahasiakan
  • 'Alana = he was manifest/dia adalah nyata (bukan rahasia) → a'lana = he declared/dia telah menyatakan (terang-terangan) → yu'linuuna = they declares/mereka menyatakan
A wa laa ya'lamuuna annallooha ya'lamu maa yusirruuna wa maa yu'linuuna

Inggris: And don't they know that Allah knows what they conceal and what they declare?
Indonesia: Dan tidakkah mereka tahu bahwa Allah tahu apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.

A wa laa ya'lamuuna annallooha ya'lamu

Atsar Al Hasan Al Bashri: Saat Bani Isroil bertemu orang yang percaya, mereka berkata "Kami percaya." Saat mereka saling bertemu, sebagian dari mereka berkata, "Jangan kalian berkata kepada sahabat Muhammad tentang apa yang Allah telah ramalkan di kitab kalian, sehingga kabar itu tidak menjadi bukti bagi mereka untuk melawan kalian di sisi Robb kalian, sehingga kalian bisa memenangkan perselisihan."

Maa yusirruuna

Atsar Abul 'Aliyah dan Qotadah: yaitu bahwa mereka diam-diam tidak percaya dan mengingkari Muhammad, meskipun mereka menemukan kedatangannya tercatat di kitab mereka.

Atsar Al Hasan Al Bashri: yaitu saat mereka berkumpul sendiri, jauh dari sahabat Muhammad, mereka saling melarang untuk menyampaikan kabar bahwa Allah menurunkannya kepada mereka di kitab mereka kepada sahabat Muhammad, karena takut bahwa para sahabat akan memakai kabar ini melawan mereka di depan Robb mereka.

Wa maa yu'linuun

Atsar Abul 'Aliyah, Ar Robi’ bin Anas, dan Qotadah: yaitu saat mereka berkata kepada sahabat Muhammad, "Kami percaya".

Jumat, 16 Juli 2010

Al Baqoroh ayat 74

AYAT 74: Tsumma qosat quluubukum min ba'di dzaalika fa hiya kal hijaaroti au a-syaddu qoswata, wa inna minal hijaaroti la maa yatafajjaru minhul anhaaru, wa inna minhaa lamaa yasysyaqqoqu fa yakhruju minhul maa-u, wa inna minhaa lamaa yahbi-thu min khosy-yatillaahi, wa maalloohu bi ghoofilin 'ammaa ta'maluuna
  • Tsumma = then/lalu
  • Qosaa = he became hard/dia telah mengeras → qosat = she became hard/dia telah mengeras → menjadi 'she' karena quluubukum berjenis kelamin perempuan, tanpa peduli tunggal/jamak
  • Qolbun = a heart/sebuah hati (jenis kelamin: wanita) → quluubun = hearts (bentuk jamaknya)
  • Kum = you-all/kalian → quluubun hilang tanwin jadi quluubu, berarti kum adalah mudlof ilaih (pemilik) dari quluubu
  • Min = from/dari
  • Ba'dun = after/setelah → min adalah preposisi, maka ba'dun majrur jadi ba'din
  • Dzaalika = that/itu → ba'din hilang tanwin jadi ba'di, berarti dzaalika adalah mudlof ilaih dari ba'di
  • Fa = then/lalu
  • Hiya = they/mereka (jenis kelamin: perempuan), yaitu mengacu pada quluubukum
  • Ka = like/seperti → hiya adalah mubtadak, kal hijaaroti adalah khobar, sehingga dalam terjemahannya ditambahkan kata "adalah"
  • Hajarun = a stone/sebuah batu (jenis kelamin: lelaki) → hijaarotun = a stone/sebuah batu (jenis kelamin: perempuan) → al-hijaarotu = THE stone (bentuk definitnya) → ka adalah preposisi, maka al-hijaarotu majrur jadi al-hijaaroti
  • Au = or/atau
  • Syadada = he strengthened/dia telah memperkuat → syadiidun = almighty/mahakuat → asyaddu = stronger/lebih kuat (ism tafdlil = comparatif/superlatif)
  • Qosaa = he became hard/dia telah mengeras → qoswatun = a hardness (tidak bisa diterjemahkan, karena kekerasan bukan hardness) → manshub, berarti posisinya adalah sebagai kata keterangan, yaitu jenis tamyiiz (spesifikasi), yaitu menjelaskan apanya yang asyaddu (lebih keras), sehingga qoswatan artinya in hardness/dalam hal kerasnya
  • Wa = dan
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti minal hijaaroti adalah ism inna, lamaa yatafajjaru minhul anhaaru adalah khobar inna
  • Min = from/dari → al-hijaaroti berawalan huruf vokal, maka min jadi mina → mina adalah preposisi, maka al-hijaarotu majrur jadi al-hijaaroti
  • La = surely/niscaya
  • Maa = one who/yang
  • Fajaro = he gushed forth/dia telah muncrat → tafajjaru (wazan 5: pasif dari causativenya) = he was gushed forth/dia telah terpancar → yatafajjaru = he is gushed forth/dia terpancar
  • Min = from/dari, hu = him/dia
  • Nahrun = a river/sebuah sungai (jenis kelamin: perempuan)→ anhaarun = rivers (bentuk jamaknya) → al-anhaaru = THE rivers (bentuk jamak definitnya)
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti minhaa adalah ism inna, la maa yasysyaqqoqu adalah khobar inna
  • Min = from/dari; haa = her/dia; la = surely/niscaya; maa = what/apa yang
  • Syaqoqu = he crossed/dia telah menyeberang → tasysyaqqoqu (wazan 5: pasif dari causative) = he splitted/dia telah membelah (made it be able to be crossed) → yasyaqqoqu = he splits/dia membelah
  • Khoroja = he went out/dia telah keluar → yakhruju = he goes out/dia keluar
  • Al-maa-u = THE water/air → marfu', berarti sebagai fa'il (subjek) dari yakhruju
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti minhaa adalah ism inna, la maa yahbi-thu adalah khobar inna
  • Haba-tho = he fell down/dia telah jatuh → yahbi-thu = he falls down/dia jatuh (fi'l mudloorik)
  • Khosya-a = he was humble/he was fearful/dia telah rendah hati/dia telah takut → khosy-yatun = fearful/takut (jenis kelamin = perempuan) → min adalah preposisi, maka khosy-yatun majrur jadi khosy-yatin
  • Allah majrur jadi allaahi, dan khosy-yatin hilang tanwin jadi khosy-yati, berarti Allah adalah mudlof ilaih (pemilik) dari khosy-yati
  • Wa = dan; maa → maa nafiyah (negasi)
  • Allah marfu' dalam bentuk alloohu, berarti posisinya adalah sebagai mubtadak (karena kata setelahnya bukan fi'l), dan kata setelahnya (bi ghoofilin 'ammaa ta'maluuna) adalah khobarnya.
  • Bi = with/dengan
  • Ghoofulu = he neglected/dia telah mengabaikan → ghoofilun = unaware/lengah → bi adalah preposisi, maka ghoofilun majrur jadi ghoofilin
  • 'An = of/dari; maa = what/apa yang → 'an+maa = 'ammaa
  • 'Amila = he did/dia telah melakukan → ta'maluuna = you-all do/kalian lakukan
Tsumma qosat quluubukum min ba'di dzaalika fa hiya kal hijaaroti au a-syaddu qoswata, wa inna minal hijaaroti la maa yatafajjaru minhul anhaaru, wa inna minhaa lamaa yasysyaqqoqu fa yakhruju minhul maa-u, wa inna minhaa lamaa yahbi-thu min khosy-yatillaahi, wa maalloohu bi ghoofilin 'ammaa ta'maluuna

Inggris: Then your hearts became hard after that, then they (your hearts) are like THE stone or mightier in hardness, and verily from THE stone is surely what THE river gush forth from it, and verily from her is surely what he splits, then THE water goes out from it, and verily from her is surely what falls down with fearful of Allah, and Allah is not unaware of what you-all do.
Indonesia: Lalu hati kalian telah mengeras setelah itu, lalu mereka (hati mereka) adalah seperti batu atau lebih kuat dalam hal kerasnya, dan sesungguhnya dari batu tersebut pasti terdapat apa yang sungai terpancar darinya, dan sesungguhnya darinya pastilah terdapat apa yang dia belah, lalu air keluar darinya, dan sesungguhnya darinya pastilah terdapat apa yang jatuh dengan rasa takut terhadap Allah, dan Allah tidak lengah dari apa yang kalian lakukan.

Tsumma qosat quluubukum min ba'di dzaalika

Tafsir Ibn Katsir: Allah mengecam Bani Isroil karena mereka telah menyaksikan mukjizat-mukjizat tersebut, termasuk menghidupkan orang mati, tapi lalu hati mereka seperti batu, tidak pernah melunak. Inilah kenapa Allah melarang orang-orang yang percaya (beriman) untuk meniru Bani Isroil.

Al Hadiid 16: A lam yakni lilladziina aamanuu an takhsya'a quluubuhum (apakah belum datang waktu bagi orang-orang yang percaya (beriman) bahwa hati mereka menjadi humble) li dzikrillaahi wa maa nazala minal haqq (atas mengingat Allah dan (atas) apa yang telah turun dari sang kebenaran?) wa laa yakuunuu kalladziina uutul kitaaba min qoblu (dan janganlah mereka menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab sebelumnya) fa thoola ‘alaihimul amadu (lalu ajal (term) telah diperpanjang bagi mereka) fa qosat quluubuhum (lalu hati mereka mengeras), wa ka-tsiirun minhum faasiquuna (dan banyak dari mereka adalah orang-orang fasiq (=penentang)).

Tafsir Ibn Katsir: Maksudnya, bukankah telah datang waktu untuk orang-orang yang percaya (beriman) untuk merasa humble (rendah hati) dengan mengingat Allah dan mendengar nasihat dari bacaan Quran, sehingga mereka bisa memahami Alqur-an dan tunduk kepadanya. Allah melarang orang yang percaya (beriman) meniru mereka yang pernah diberi kitab Allah, yaitu Yahudi dan Nasrani, yaitu yang mengubah kitab Allah yang mereka punya, lalu menjualnya untuk harga yang rendah, meninggalkan kitab Allah ke belakang, lalu malah terkesan dengan berbagai opini dan kepercayaan yang salah, dan menjadikan pemimpin agama mereka (kyai, ustad, pendeta, atau rahib) sebagai orang yang LEBIH mereka dengarkan dan turuti, ketimbang Allah, rosul, dan kitab Allah. Sehingga, hati mereka menjadi keras dan mereka tidak akan lagi bisa menerima nasihat. Hati mereka tidak akan menjadi rendah hati atas janji Allah.

Al Hadiid 17: I'lamuu annallooha yuhyil ardlo ba'da mautihaa (Kalian ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi setelah kematiannya), qod bayyannaa lakumul aayaati la'allakum ta'qiluuna (sungguh Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan kepada kalian, semoga kalian punya otak!)

Tafsir Ibn Katsir: Allah lalu melunakkan hati setelah mengeras, menunjukkan orang-orang yang bingung setelah mereka tersesat, dan melegakan kesusahan setelah berusaha keras. Seperti halnya Allah menghidupkan orang mati dan mengembalikan bumi yang kering dengan mengirim hujan yang banyak, Allah menunjukkan hati yang mengeras dengan bukti dari Alqur-an. Pujian adalah untuk Allah, yang menunjukkan (ke jalan yang benar) kepada siapa yang Dia maui setelah dia tersesat, dan yang menyesatkan kepada siapa yang Dia maui setelah dia di jalan yang lurus.

Al Maa-idah 13: Fa bimaa naqdlihim miitsaaqohum (lalu karena mereka melanggar janji mereka) la'annaahum wa ja'alnaa quluubahum qoosiyatan (*Kami* melaknat mereka dan *Kami* menjadikan hati mereka mengeras), yuharrifuunal kalima 'an mawaa-dli'ihi (mereka mendistorsi perkataan dari tempat mereka) wa nasuu hadhdhon mimmaa dzukkiruu bihii (dan lupa dengan sebagian dari apa yang mereka diingatkan darinya) wa laa tazaalu taththoli'u 'alaa khoo-inatin minhum illaa qoliilan minhum (dan kalian tidak berhenti menemukan atas pengkhianatan dari mereka kecuali sedikit dari mereka) Fa'fu'anhum washfah, innallooha yuhibbul muhsiniina (lalu maafkan mereka dan lihatlah (overlook), sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang baik)

Tafsir Ibn Katsir: karena mereka melanggar janji yang Allah ambil dari mereka, Allah melaknat mereka, menjauhkan mereka dari kebenaran dan petunjuk, dan mereka tidak akan menggubris nasihat yang mereka dengar karena kerasnya hati mereka. Mereka merubah kitab dari makna sebenarnya, dan mendistorsinya, lalu mengatakan bahwa Allah yang mengatakannya, padahal tidak.

Atsar Al 'Aufi: dari Ibn 'Abbas: saat mayat itu ditimpa dengan sebagian dari sapi betina, mayat itu berdiri dan menjadi lebih hidup daripada sebelumnya. Dia ditanya, "Siapa yang membunuhmu?" Dia berkata "Keponakan-keponakanku membunuhku", lalu dia mati lagi. Setelah Allah mengambil nyawanya lagi, keponakan-keponakannya berkata, "Demi Allah, Kami tidak membunuhnya" dan menyangkal kebenarannya, padahal mereka tahu itu.

Fa hiya kal hijaaroti au a-syaddu qoswata

Tafsir Ibn Katsir: Seiring waktu, hati Bani Isroil tidak mungkin untuk menerima teguran, bahkan setelah semua mukjizat dan tanda kekuasaan Allah yang mereka saksikan. Hati mereka menjadi lebih keras dari batu, tidak ada harapan untuk bisa melunak. Kadang, mata air dan sungai memecah batu-batu, beberapa batu terbelah dan air keluar dari belahan itu. Bahkan kalaupun tidak ada mata air atau sungai di sekitar batu itu, kadang batu jatuh dari puncak gunung, takut kepada Allah.

Wa inna minal hijaaroti la maa yatafajjaru minhul anhaaru, wa inna minhaa lamaa yasysyaqqoqu fa yakhruju minhul maa-u, wa inna minhaa lamaa yahbi-thu min khosy-yatillaahi

Atsar Muhammad bin Ishaq: dari Ibn 'Abbas: Beberapa batu lebih lunak daripada hati kalian.

Tafsir Ar Rozi dan Al Qurthubi: Batu sebagai makhluk yang humble (rendah hati) dan takut Allah, itu bukan metafora, tapi Allah memang menciptakan batu dengan sifat rendah hati.

Al Ahzab 72: Innaa 'arodlnal amaanata 'alas samaawaati wal ardli wal jibaali (sesungguhnya Kami telah menawarkan Al-Amanah kepada langit dan bumi dan gunung) fa abaina an yahmilnahaa wa asyfaqna minhaa (maka mereka menolak untuk memikulnya dan mereka takut darinya (dari amanat)) wa hamalahal insaan (dan manusia memikulnya), innahu kaana dholuuman jahuulan (sesungguhnya dia adalah dholim dan bodoh).

Atsar Al Aufi: dari Ibn 'Abbas: Al-Amanah, yaitu ketaatan, ditawarkan kepada bumi, langit, dan gunung sebelum kepada Adam, dan mereka tidak bisa memikulnya. Lalu Allah berkata kepada Adam, "Aku telah menawarkan Al Amanah kepada mereka dan mereka tidak bisa memikulnya, maukah kamu mengambilnya?" Adam berkata "Ya Robb, meliputi apa saja?" Dia berkata "Kalau kamu berbuat baik kamu akan diganjar, kalau kamu berbuat salah kamu akan dihukum." Lalu Adam mengambil dan memikulnya.

Atsar Ali bin Abi Tholhah: dari Ibn Abbas, Mujahid, Sa'id bin Jubair, Adh Dhohhak, dan Al Hasan Al Bashri: Langit, bumi, dan gunung tidak mau memikul Al-Amanah, yaitu Al Faro'idl (kewajiban), dan mereka takut, bukan karena mereka ingin berbuat dosa, tapi karena mereka respek mereka terhadap agama Allah, mereka takut tidak bisa memenuhi kewajiban itu.

Al Isrook 44: Tusabbihu lahus samaawaatus sab'u wal ardlu wa man fiihinna (langit yang tujuh dan bumi dan apa yang di dalamnya bertasbih) wa in min syai-in illaa yusabbihu bi hamdihii (dan tidak ada sesuatu melainkan bertasbih dengan memujiNya) walaakin laa tafqohuuna tasbiihahum (tapi kalian tidak mengerti tasbih mereka), innahuu kaana haliiman ghofuuron (sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun Maha Pengampun).

Hadits shohih Bukhori: dari Ibn Mas'ud: Kami (Rosululloh juga) pernah mendengar tasbih dari makanan saat dia sedang dimakan.

Hadits shohih Imam Ahmad: dari Mu'adz bin Anas: Rosululloh mendatangi beberapa orang yang sedang duduk di atas tunggangan mereka dan saling bercakap-cakap. Dia berkata kepada mereka: Irkabuu haa saalimatan wa da'uu haa saalimatan (kalian kendarailah dia (tunggangan) dengan selamat, dan kalian tinggalkanlah dia dengan selamat) wa laa tatta-khidzuu haa karoosiyya li ahaadii-tsikum fith thuruqi wal aswaaqi (dan jangan kalian jadikan dia kursi untuk percakapan kalian di jalan dan pasar) fa rubba markuubatin khoirunmin rookibihaa (karena yang diduduki mungkin lebih baik daripada penumpangnya) wa aktsaru dzikron illaahi minhu (dan dia mungkin lebih banyak mengingat Allah daripada kalian)

Ar Rohmaan 6: Wan najmu wasy syajaru yasjudaan (Dan bintang dan pepohonan bersujud).

Al Hajj 18: A lam taro annallooha yasjudu lahu (Apakah kamu tidak melihat bahwa dia bersujud kepada Allah) man fis samaawaati wa man fil ardli ((dia adalah) barangsiapa di dalam langit dan barangsiapa di dalam bumi) wasy syamsu wal qomaru wan nujuumu wal jibaalu wasy syajaru (dan matahari, dan bulan, dan bintang, dan gunung, dan pohon) wad dawaabbu wa ka-tsiirun minan naasi (dan makhluk yang bergerak, dan banyak dari (golongan)manusia?)

Tafsir Ibn Katsir: Semuanya bersujud pada kekuasaanNya, ikhlas ataupun terpaksa, dan semua makhluk bersujud dengan cara yang sesuai dengan wujud alamiahnya. Allah menyebut bintang, bulan, dan bintang, karena mereka diibadahi, dan bukan Allah, padahal mereka juga bersujud kepada Pencipta mereka.

Hadits shohih Bukhori Muslim: dari Abu Dhorr: Rosululloh berkata kepadaku, A tadrii aina tadzhabu haadzihisy syamsu? (Apakah kamu tahu kemana perginya matahari ini?) Aku berkata, walloohu wa rusulihi 'alaam (Allah dan rosulNya lebih tahu), dia berkata: fa innahaa tadzhabu fa tasjudu tahtal 'arsyi (lalu sesungguhnya dia pergi dan bersujud di bawah Sang Tahta) tsumma tastakmiru (lalu dia menunggu perintah) fa yuu-syiku an yuqoola laharji'ii min haitsu jikta (lalu akan dikatakan kepadanya, "Kembalilah ke tempat kamu datang")

Hadits shohih At Tirmidzi, Ibn Majah, dan Ibn Hibban: dari Ibn Abbas: Seorang lelaki datang dan berkata, "Wahai Rosululloh aku melihat diriku dalam mimpi tadi malam, seolah-olah aku sedang sholat di belakang pohon. Aku bersujud, dan pohon itu bersujud saat aku melakukannya, dan aku mendengarnya berkata, "Wahai Allah, tetapkan sebuah ganjaran kepadaku atas perbuatanku ini, dan hilangkan dosa dariku atas ini, simpanlah denganMu seperti Engkau menerima dari hambaMu Dawud" Rosululloh membacakan ayat yang menyebutkan sujud, lalu dia sujud, dan aku mendengarnya mengatakan kata-kata yang sama bahwa laki-laki itu mengatakannya bahwa pohon itu berbicara.

An Nahl 48-49: A wa lam yarou ilaa maa kholaqolloohu min syai-in (dan apakah mereka tidak melihat kepada apa yang Allah ciptakan dari sesuatu) yatafayya-uu dhilaaluhuu 'anil yamiini wasy syamaa-ili sujjudan lillaahi (yang bayangannya condong ke kanan dan ke kiri bersujud kepada Allah) wa hum daa-khiruuna (dan mereka rendah hati), wa lillaahi yasjudu maa fis samaawaati wa maa fil ardli (dan kepada Allah bersujudnya apa yang di dalam langit dan apa yang di dalam bumi) min daabbatin wal malaa-ikatu wa hum laa yastakbiruuna (dari hewan yang bergerak dan para malaikat dan mereka tidak takabur).

Atsar Mujahid, Qotadah, Adh Dhohhak: saat matahari melewati puncaknya, semuanya bersujud kepada Allah.

Tafsir Ibn Katsir: semua benda ber-islam (berlapang dada) kepadaNya dan semua ciptaan (makhluk hidup ataupun benda mati, juga manusia, jin, dan malaikat) semua humble (merendah) di hadapanNya. Semua yang punya bayangan yang condong ke kanan dan kiri, yaitu di pagi hari dan sore hari, bersujud kepada Allah.

Atsar Mujahid: sujudnya segala benda adalah bayangannya. Begitu pula gunung.

Atsar Abu Gholib Asy Syaibani: ombak adalah sholatnya laut.

Ar Ro'd 15: Wa lillaahi yasjudu man fis samaawaati wal ardli thou'an wa karhan (dan siapapun yang di dalam langit dan bumi bersujud kepada Allah dengan taat maupun terpaksa) wa dhilaaluhum bil ghuduwwi wal a-shooli (begitu pula bayangan mereka di (waktu) pagi dan sore)

Al Fushshilat 11: Qoolataa atainaa thoo-i'iina (mereka berdua telah berkata "Kami datang dengan taat")

Al Hasyr 21: Lau anzalnaa haadzal qur-aana 'alaa jabalin (seandainya *Kami* menurunkan Alqur-an ini kepada gunung) la ro-aitahu khoo-syi’an muta-shoddi’an min khosyatillaahi (pasti kamu akan melihatnya rendah diri terpecah remuk takut Allah), wa tilkal umtsalu nadlribuhaa linnaasi la'allahum yatafakkaruuna (dan itu adalah permisalan yang Kami mengeluarkannya kepada manusia, semoga mereka berpikir).

Tafsir Ibn Katsir: kalau gunung yang besar dan keras diberi kemampuan memahami dan mengerti Alqur-an, gunung akan humble dan hancur karena takut Allah, lalu bagaimana dengan kalian, wahai manusia? Kenapa hati kalian tidak lembut dan humble takut pada Allah, meskipun mengerti dan memahami kitabNya?

Hadits mutawatir: dari Al Hasan Al Bashri: Rosululloh menyuruh seseorang membuatkan mimbar. Sebelumnya, dia berdiri di sebelah batang pohon di dalam masjid untuk khutbah. Saat mimbar dibuat dan diletakkan dalam masjid, Rosululloh datang memberi ceramah dan melewati batang pohon, menuju mimbar, batang pohon itu mulai menangis seperti bayi. Pohon itu merindukan mendengar tentang mengingat Allah dan wahyu yang dibacakan di sebelahnya.

Atsar Al Hasan Al Bashri: kalian, manusia, harusnya lebih pantas merindukan Rosululloh daripada pohon itu.

Fushshilat 21: Wa qooluu li juluudihim (dan mereka berkata kepada kulit mereka) lima syahidtum 'alainaa ("Kenapa kalian bersaksi atas kami?") qooluu an-thoqonalloohul ladzii an-thoqo kulla syai-in (mereka berkata "Allah membuat kami berbicara, yang membuat berbicara setiap sesuatu)

Hadits shohih Bukhori dan Muslim: dari Anas bin Malik dan Abu Humaid As Sa'idi: Dan saat Rosululloh melihat Madinah gunung Uhud, dia berkata "Gunung ini mencintai kita dan kita mencintainya."

Hadits shohih Muslim: dari Jabir bin Samuro: Innii la a'rifu hajaron bi makkata (sesungguhnya aku benar-benar mengenali batu tersebut di Makkah) kaana yusallimu 'alayya qobla an ub'a-tsa (dia pernah mendoakan keselamatan kepadaku sebelum aku diangkat (jadi rosul)) innii la-a'rifuhul aana (sesungguhnya aku sekarang benar-benar mengenalinya)

Makna "au" pada kal hijaaroti au asyaddu qoswata

Tafsir Ibn Katsir: beberapa ahli bahasa Arab klasik terbagi 3 kubu:

1. Tidak setuju bahwa "au" berarti "atau" (yang menunjukkan keraguan), tapi "au" di sini artinya "dan"

Al Insaan 24: Wa laa tuthi' minhum aa-tsiman au kafuuron (dan janganlah kamu mengikuti orang-orang yang berdosa DAN orang-orang yang ingkar dari mereka)

Al Mursalaat 6: 'Udzron au nudzron ((untuk) menolak alasan DAN memberi peringatan)

2. "Au" artinya malahan

An Nisaak 77: Fa lammaa kutiba 'alaihimul qitaalu (lalu saat ditetapkan berperang atas mereka) idzaa fariiqun minhum yakhsyaunan naasa (tiba-tiba sebagian dari mereka takut manusia) ka khosy-yatillaahi au asyadda khosy-yah (seperti takut Allah MALAHAN lebih takut (dari itu))

Ash Shoffaat 147: Wa arsalnaahu ilaa mii-ati alfin au yaziiduuna (dan *Kami* mengutus dia kepada seratus ribu, malahan lebih)
An Najm 9: Fa kaana qooba qousaini au adnaa (maka dia adalah jaraknya dua busur panah, malahan lebih dekat)

3. Hati mereka ada 2 jenis, dan hanya 2 kemungkinan, seperti batu atau lebih keras

Al Baqoroh 17 dan 19: Matsaluhum kama-tsalil ladzis tauqoda naaron (permisalan mereka seperti orang yg menyalakan api) au ka shoyyibin minas samaak (atau seperti (ditimpa) hujan lebat dari langit)

An Nuur 39 dan 40: Walladziina kafaruu a’maaluhum ka saroobin (dan amal orang-orang yang ingkar seperti fatamorgana) au ka dhulumaatin fii bahrin lujjiyyi (atau seperti kegelapan di dalam lautan yang dalam)

Al Baqoroh ayat 73

AYAT 73: Fa qulnadlribuuhu bi ba'dlihaa, ka dzaalika yuhyillaahul mautaa wa yuriikum aayaatihii la'allakum ta'qiluuna
  • Fa = then/lalu
  • Qoola = he said/dia telah berkata → qulnaa = we said/kami telah berkata
  • Dluriba = he struck/dia telah menimpa → idlribuu = you-all strike!/kalian timpakanlah
  • Hu = him/dia
  • Bi = with/dengan
  • Ba'dlun = a part/sebagian (arti lain: setelah, tapi tidak untuk konteks ini) → bi adalah preposisi, maka ba'dlun majrur jadi ba'dlin
  • Haa = her/dia → ba'dlin hilang tanwin jadi ba'dli, berarti haa adalah mudlof ilaih (pemilik) dari ba'dli
  • Ka = like/seperti
  • Dzaalika = that/itu
  • Hayiya = he lived/dia telah hidup → ahyaa (wazan 4: causative) = he revived/dia telah menghidupkan → yuhyii = he revives/dia menghidupkan
  • Allah marfu' (berakhiran "u") jadi Alloohu, berarti sebagai fa'il (subjek) dari yuhyii
  • Maata = he died/dia telah mati → mautun = a death/suatu kematian; mayyitun = a dead/seseorang yang mati → al-mayyitu = THE dead/yang mati (bentuk definitnya) → al-mautaa = THE deads (bentuk jamak definitnya)
  • Wa = dan
  • Roo-a = he saw/dia telah melihat → aroo = he showed/dia telah memperlihatkan → yurii = he shows/dia memperlihatkan
  • Kum = you-all/kalian
  • Ayatun = a sign/satu tanda kekuasaan/suatu mukjizat → aayaatun (jamaknya) = signs/tanda-tanda kekuasaan/mukjizat-mukjizat → manshub jadi aayaatin, berarti posisinya adalah sebagai maf'ul (objek) kedua dari yurii
  • Hu = him/dia → aayaatin hilang tanwin jadi aayaati, dan hu majrur jadi hi, berarti hi adalah mudlof ilaih dari aayaati
  • La'alla = perhaps/dengan harapan
  • Aqola = he had brain/dia telah punya otak → ta''qiluuna = you-all have brains/kalian punya otak
Fa qulnadlribuuhu bi ba'dlihaa, kadzaalika yuhyillaahul mautaa wa yuriikum aayaatihii la'allakum ta'qiluuna

Inggris: Then *We* said, "You all strike him with a part of her (the cow), like that is Allah revives THE deads and He showed you-all His signs, perhaps you-all have brains.
Indonesia: Lalu *Kami* berkata, "Kalian timpalah dia dengan sebagian darinya (sembelihan sapi betina), seperti itulah Allah menghidupkan orang-orang yang mati dan Dia memperlihatkan kalian mukjizat-mukjizatNya/tanda-tanda kekuasaanNya, semoga kalian punya otak.

Fa qulnadlribuuhu bi ba'dlihaa

Tafsir Ibn Katsir: bagian manapun dari sapi betina itu akan menunjukkan mukjizat tersebut (kalau mereka menimpai orang mati itu dengannya). Bagian mana dari sapi betina, Allah membuatnya samar-samar, jadi kita harus membiarkannya samar-samar.

Ka dzaalika yuhyillaahul mautaa

Tafsir Ibn Katsir: mereka memukul mayat itu dengannya, lalu mayat itu hidup kembali. Ayat ini menunjukkan kemampuan Allah untuk menghidupkan kembali orang mati. Allah membuat kejadian ini sebagai bukti kepada Bani Isroil bahwa kiamat pasti terjadi, dan bisa mengakhiri perselisihan dan keras kepala mereka terhadap orang mati tersebut.

Tafsir Ibn Katsir: Allah menyebutkan peristiwa menghidupkan kembali yang mati, di 5 ayat:
AYAT PERTAMA
Al Baqoroh 56: Tsumma ba'atsnaakum min ba'di mautikum (lalu Kami bangkitkan kalian sesudah kalian mati)

AYAT KEDUA
Al Baqoroh ayat 73 (ayat ini)

AYAT KETIGA
Al Baqoroh ayat 243: A lam taro ilal ladziina khorojuu min diyaarihim (apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang telah keluar dari negeri mereka) wa hum uluufun hadzarol mauti (dan mereka beribu-ribu, takut mati) fa qoola lahumulloohu muutuu (lalu Allah telah berkata "Kalian matilah!") tsumma ahyaahum (lalu Dia menghidupkan mereka) innallooha ladzuu fadl-lin 'alan naasi (sesungguhnya Allah adalah sang pemilik karunia atas manusia) walaakinna aktsaron naasi laa yasykuruuna (tapi banyak manusia yang tidak bersyukur)

Atsar Waki' bin Jarroh: dari Ibn Abbas: Ada 4000 orang melarikan diri dari wabah, mereka berkata "Kita harus pergi ke suatu tanah yang bebas dari kematian", saat mereka sampai di tempat itu, Allah berkata "Kalian matilah!" lalu seorang nabi melewati mereka dan berdoa kepada Allah untuk membangkitkan mereka, dan Allah telah menghidupkan mereka kembali.

Atsar Ibn Abi Hatim: dari Ibn Abbas: mereka adalah penduduk negeri Dawardan, di zaman Bani Isroil. Iklim di tanah mereka tidak cocok dengan mereka dan wabah sedang menyebar. Mereka keluar dari tanah mereka karena takut mati dan berlindung di dalam hutan belantara. Lalu mereka sampai di lembah subur dan mereka mengisi apa yang di antara dua sisinya. Lalu Allah menurunkan dua malaikat kepada mereka, satu dari bawah, satu dari atas lembah. Para malaikat berteriak satu kali dan semua orang mati mendadak, seperti matinya seorang lelaki. Mereka lalu dipindah ke tempat lain, dimana tembok dan kuburan dibangun di antara mereka. Mereka musnah, tubuh mereka membusuk dan terpisah-pisah. Lama setelah itu, Nabi Hizqil/Nabi Dzulkifli (Ezekiel) melewati mereka dan meminta Allah untuk menghidupkan mereka dengan tangannya. Allah menerima doanya dan menyuruhnya berkata, "Wahai tulang-tulang membusuk, Allah menyuruh kalian untuk datang bersama-sama." Tulang-tulang mereka datang bersama-sama. Lalu Allah menyuruhnya berkata "Wahai tulang-tulang, Allah menyuruh kalian diselimuti oleh daging, syaraf, dan kulit." Ini terjadi saat Hizqil mengamatinya. Allah lalu menyuruhnya berkata, "Wahai ruh-ruh, Allah menyuruh kalian untuk kembali, masing-masing ke tubuh yang dulu kalian tempati." Mereka semua dihidupkan kembali, melihat sekitar, dan menyatakan, "Alhamdulillaah wa laa ilaaha illallooh" (sang pujian adalah untuk Allah dan tidak ada sesembahan yang benar selain Allah). Allah menghidupkan mereka kembali setelah mereka lama musnah.

AYAT KEEMPAT
Al Baqoroh ayat 259: Au kalladzii marro 'alaa qoryatin wa hiya khoowiyatun 'alaa 'uruu-syihaa (atau seperti orang yang melewati atas suatu negeri dan dia (negeri itu) roboh atas atapnya) qoola annaa yuhyii haa-dzihillaahu ba'da mautihaa (dia telah berkata, "Bagaimana Allah menghidupkan ini (negeri ini) setelah kematiannya?) fa ammaatahulloohu mii-ata 'aamin tsumma ba'atsahu (lalu Allah telah mematikannya 100 tahun lalu Dia membangkitkannya) qoola kam labitsta (Dia telah berkata, "Berapa lama kamu telah tinggal?") qoola labitstu yauman au ba'dlo yaumin (dia telah berkata, "Aku telah tinggal sehari atau setengah hari") qoola bal labitsta mii-ata 'aamin (Dia telah berkata, "Tidak! Kamu telah tinggal 100 tahun) fandhur ilaa tho'aamika wa syaroobika lam yatasannah (lalu kamu lihatlah kepada makananmu dan minumanmu, mereka tidak berubah) wandhur ilaa himaarika wa li naj'alaka aayaatan lin naasi (dan kamu lihatlah kepada keledaimu, dan pastilah *Kami* menjadikanmu suatu mukjizat/suatu tanda-tanda kekuasaan bagi manusia) wandhur ilal 'idhoomi kaifa nunsyiruhaa tsumma naksuuhaa lahman (dan kamu lihatlah kepada tulang-tulang tersebut, bagaimana *Kami* Nunshizuhaa lalu *Kami* menutupi mereka dengan daging), fa lammaa tabayyana lahu qoola a'lamu annallooha 'alaa kulli syai-in qodiirun (lalu saat dia telah menjadi jelas atasnya, dia telah berkata "Aku menjadi tahu bahwa Allah adalah maha menakdirkan atas segala sesuatu)

Atsar Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim: dari Ali bin Abi Tholib, Ibn Abbas, Al Hasan Al Bashri, Qotadah, As Suddi, dan Sulaiman bin Buroidah: yaitu tentang Uzair.

Atsar Mujahid bin Jabr: yaitu seorang lelaki Bani Isroil di negeri Jerusalem, setelah Nebuchadnezzar menghancurkannya sampai atap dan temboknya runtuh ke tanah, dan membunuh penduduknya sampai tidak ada orang. Uzair berdiri merenungkan apa yang terjadi dengan kota itu padahal sebelumnya sebuah peradaban besar adalah yang mendiaminya. Lalu Uzair bertanya kepada Allah bagaimana Allah bisa menghidupkan negeri itu setelah kematiannya, karena tidak mungkin bisa mengembalikannya seperti semula. Lalu Allah mematikan Uzair 100 tahun, lalu membangkitkannya. Kota itu dibangun 70 tahun setelah Uzair mati, dan penduduknya bertambah, dan Bani Isroil kembali mendiaminya. Saat Allah membangkitkan Uzair setelah kematiannya, organ pertama yang Dia bangitkan adalah matanya, sehingga dia bisa menyaksikan apa yang Allah lakukan terhadapnya, bagaimana Dia menghidupkan tubuhnya lagi. Saat dia telah dibangkitkan secara sempurna, Allah berkata kepadanya lewat malaikat, "Berapa lama kamu tinggal (mati)?" "Mungkin aku tinggal (mati) sehari atau setengah hari". Dia mati di pagi hari dan Allah membangkitkannya di jam setelahnya, saat matahari masih nampak, dia mengira mataharinya di hari yang sama. Lalu Allah menunjukkan bahwa buah anggurnya, buah aranya, dan jusnya masih utuh, jusnya tidak tumpah, buah aranya tidak jadi pahit, dan anggurnya tidak membusuk. Lalu Allah menunjukkan bagaimana keledainya dibangkitkan kembali.

Atsar As Suddi: Uzair mengamati tulang-tulang keledainya yang berserakan di sekitarnya di kiri kanannya, lalu Allah mengirim angin yang mengumpulkan tulang-tulang dari seluruh tempat, lalu Allah membawa setiap tulang ke tempatnya sampai membentuk keledai utuh tanpa daging. Lalu Allah menutup tulang-tulang ini dengan daging, syaraf, pembuluh darah, dan kulit. Allah mengirim seorang malaikat yang meniupkan kehidupan ke lubang hidung keledai, dan keledai itu meringkik atas izin Allah.

AYAT KELIMA
Al Baqoroh 260: Wa idz qoola ibroohiimu (dan (ingatlah) saat Ibrahim berkata) robbi arinii kaifa tuhyil mautaa ("Robb, perlihatkanku bagaimana Engkau menghidupkan yang mati!") qoola a wa lam yukmin (Dia berkata "Dan apakah kamu belum percaya?") Qoola balaa walaakin liyathma-inna qolbii (Dia berkata "Ya, tapi untuk memuaskan hatiku") Qoola fa khudz arba'atan minath thoiri fa shurhunna ilaika (Dia berkata "Maka kamu ambillah 4 dari burung-burung tersebut, lalu kamu bentuklah mereka kepadamu) tsummaj'al 'alaa kulli jabalin min hunna juz-an (lalu kamu jadikanlah dari mereka sebagian di atas setiap gunung) tsummad 'uhunna yaktiinaka sa'yan (lalu kamu panggillah mereka, mereka mendatangimu terburu-buru) wa'lam annallooha 'aziizun hakiimun (dan kamu ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa Maha Bijaksana)

Atsar Ibn Abbas, Ikrimah, Sa'id bin Jubair, Abu Malik, Abul Aswad Ad Dili, Wahb bin Munabbih, Al Hasan Al Bashri, dan As Suddi: kamu bentuklah mereka kepadamu, yaitu mutilasilah 4 burung itu.

Atsar Ibn Abbas: Ibrahim memegang kepala mereka di tangannya, lalu Allah menyuruhnya memanggil burung-burung itu kepadanya, dan dia melakukannya. Ibrahim menyaksikan bulu-bulu, darah dan daging burung-burung itu saling beterbangan, dan masing-masing bagian terbang ke tubuh mereka, sampai setiap burung hidup kembali dan datang cepat-cepat menuju Ibrahim, sehingga contoh yang Ibrahim saksikan lebih impresif. Setiap burung datang meminta kepalanya dari tangan Ibrahim, dan kalau dia memberi suatu burung dengan kepala burung lain, burung itu menolaknya. Saat Ibrahim telah memberikan kepala dari setiap burung, kepala-kepala itu diletakkan ke tubuh mereka, atas izin dan kuasa Allah.

Kamis, 15 Juli 2010

Al Baqoroh ayat 72

AYAT 72: Wa idz qotaltum nafsan fad daaroktum fiiha, walloohu mukhrijun maa kuntum taktumuuna
  • Wa = dan
  • Idz = when/saat (past tense)
  • Qotala = he killed/dia telah membunuh → qotaltum = you-all killed/kalian telah membunuh
  • Nafsun = a self/suatu diri → manshub jadi nafsan, berarti sebagai maf'ul (objek) dari qotaltum
  • Fa = then/lalu
  • Daro-a = he repelled/dia menolak → iddaro-a (wazan 4: causative) = he made repel/dia telah membuat jadi menolak/dia telah berselisih → iddaroktum = you-all made repel/kalian telah berselisih
  • Fii = in/di dalam
  • Haa = her/dia
  • Allah marfu' jadi Alloohu, berarti posisinya sebagai mubtadak dari khobar mukhrijun
  • Khoroja = he went out/dia telah keluar → akhroja (wazan 4: causative) = he brought forth/dia telah mengeluarkan → mukhrijun = one who brought forth/yang mengeluarkan (ism fa'il = yang me-)
  • Maa = what/apa yang
  • Kaana = he was/dia → kuntum = you-all were/kalian → berarti kalian adalah ism kaana, taktumuuna adalah khobar kaana
  • Katama = he concealed/dia telah menyembunyikan → taktumuuna = you-all conceal/kalian menyembunyikan → karena kuntum adalah past tense, maka kuntum taktumuuna adalah past tense juga, yaitu you-all concealed/kalian telah menyembunyikan
Wa idz qotaltum nafsan fad daaroktum fiiha, walloohu mukhrijun maa kuntum taktumuuna

Inggris: And (remember) when you-all killed a self, then you-all made repel in it, and Allah is One who brought forth what you-all concealed.
Indonesia: Dan (ingatlah) saat kalian telah membunuh suatu diri, lalu kalian telah berselisih di dalamnya, dan Allah adalah yang mengeluarkan apa yang kalian sembunyikan.

Wa idz qotaltum nafsan faddaroktum fiihaa

Tafsir Bukhori dan Mujahid: faddaroktum fiihaa maksudnya berselisih.
Atsar 'Atho' Al Khurosani dan Adh Dhohhak: yaitu berselisih tentang masalah ini.

Atsar Ibn Juroij dan 'Abdurrohman bin Zaid bin Aslam: beberapa dari mereka berkata "Kamu telah membunuhnya", sedangkan yang lainnya berkata "Tidak, kamu yang membunuhnya".

Maa kuntum taktumuuna

Atsar Mujahid: yaitu apa yang kalian sembunyikan.

Sabtu, 10 Juli 2010

Al Baqoroh ayat 64

AYAT 64: Tsumma tawallaitum min ba’di dzaalika falau laa fadl-lullaahi 'alaikum wa rohmatuhuu lakuntum minal khoosiriina
  • Tsumma = then/lalu
  • Walla = he was near/dia telah dekat → wallaa (wazan 5: dilakukan untuk seseorang) = he turned/dia telah berpaling → tawallaitum = you-all turned/kalian telah berpaling
  • Min = from/dari
  • Ba'dun = after/setelah → min adalah preposisi, maka ba'dun majrur jadi ba'din
  • Dzaalika = that → ba'din hilang tanwin jadi ba'di, berarti dzaalika adalah mudlof ilaih (pemilik) dari ba'di
  • Fa = then/lalu
  • Lau = if/kalau
  • Laa → laa nafiyah (negasi)
  • Fadl-lun = a grace/suatu karunia
  • Allah majrur jadi Alloohi, dan fadl-lun hilang tanwin jadi fadl-lu, berarti Allah adalah mudlof ilaih (pemilik) dari fadl-lu
  • 'Alaa = upon/atas
  • Kum = you-all/kalian → 'alaa+kum = 'alaikum
  • Wa = dan
  • Rohmatun = a mercy/suatu rahmat
  • Hu = him/dia → rohmatun hilang tanwin jadi rohmatu, berarti hu adalah mudlof ilaih dari rohmatu
  • La = surely/niscaya
  • Kaana = he was/dia → kuntum = you-all were
  • Min = from/dari → al-khoosiriina berawalan vokal, maka min jadi mina
  • Khosiro = he lost/dia telah rugi → khoosiru = a loser/seorang yang merugi → al-khoosiruuna = THE losers (bentuk jamak definitnya) → min adalah preposisi, maka al-khoosiruuna majrur jadi al-khoosiriina
Tsumma tawallaitum min ba'di dzaalika falau laa fadl-lullaahi 'alaikum wa rohmatuhuu lakuntum minal khoosiriina

Inggris: Then you-all turned after that, then if Allah's grace is not upon you-all, as well as His mercy, surely you-all were from THE losers.
Indonesia: Lalu kalian berpaling setelah itu, lalu jika karunia Allah tidak atas kalian, begitu pula rahmatNya, niscaya kalian tergolong orang-orang yang merugi.

Tsumma tawallaitum min ba'di dzaalika

Tafsir Ibn Katsir: setelah perjanjian tegas yang Bani Isroil berikan, mereka masih menyimpang dan melanggar janji mereka.

Falau laa fadl-lullaahi 'alaikum wa rohmatuhuu

Tafsir Ibn Katsir: karunia dan rahmat Allah di sini adalah berupa mengampuni Bani Isroil dan menurunkan para nabi dan rosul untuk mereka.

La kuntum minal khoosiriina

Tafsir Ibn Katsir: yaitu THE losers di dunia dan akhirat karena mereka melanggar janji itu.

Rabu, 07 Juli 2010

Al Baqoroh ayat 62

AYAT 62: Innal ladziina aamanuu wal ladziina haaduu wan nashooroo wash shoobi-iina man aamana billaahi wal yaumil aakhiri wa 'amila shoolihan fa lahum ajruhum 'inda robbihim, wa laa khoufun 'alaihim wa laa hum yahzanuuna
  • Inna = sesungguhnya → berarti alladziina aamanuu adalah ism inna
  • Alladziina = those who/yang → berarti kalimat setelahnya akan dikatabendakan, yaitu aamanuu
  • Amina = he felt secure/dia telah mempercayakan → aamana (wazan 4: causative) = he believed/dia telah percaya → aamanuu = they believed/mereka telah percaya
  • Wa = dan
  • Alladziina = those who/yang → berarti kalimat setelahnya akan dikatabendakan, yaitu haaduu
  • Haada = he became Jews/dia telah menjadi Yahudi → haaduu = they became Jews/mereka telah menjadi Yahudi
  • Nashoro = he helped/dia telah menolong → nashrooniyyan = a Christian/seorang Nasrani → nashooroo = Christians (bentuk jamak) → an-nashooroo = THE Christians (jamak definit)
  • As-shoobi-uuna = THE Sabians
  • Man = who/yang (ism maushul/relative pronoun)
  • Aamana (wazan 4 dari amina) = he believed/dia telah percaya
  • Bi = with/dengan → bi adalah preposisi, maka Allah majrur jadi Allaahi
  • Yaumun = a day/suatu hari → al-yaumu = THE day → bi adalah preposisi, maka al-yaumu majrur jadi al-yaumi
  • Al-aakhiru = the last/yang terakhir → sama-sama majrur (berakhiran "i" jadi al-aakhiri), definit (berawalan "al"), maskulin, dan singular seperti al-yaumi, berarti al-aakhiru adalah na'at (sifat) dari al-yaumi
  • 'Amila = he did/dia telah melakukan
  • Sholaha = he were righteous/dia telah saleh → shoolihan = righteous deeds
  • Fa = then/maka
  • La = for/bagi
  • Hum = them/mereka
  • Ajrun = a reward/sebuah ganjaran → ajrun hilang tanwin jadi ajru, berarti hum adalah mudlof ilaih dari ajru → lahum adalah mubtadak, ajruhum adalah khobar, sehingga di terjemahannya ditambahkan "adalah"
  • 'Inda = with/di sisi
  • Robbun = lord → 'inda adalah preposisi, maka robbun majrur jadi robbin → robbin hilang tanwin jadi robbi, dan hum majrur jadi him, berarti him adalah mudlof ilaih dari robbi
  • Laa = laa nafiyah (negasi)
  • Khoofa = he feared/dia telah takut → khoufun = a fear/sebuah ketakutan
  • 'Alaa = upon/atas → 'alaa adalah preposisi, maka hum majrur jadi him'alaa+him = 'alaihim
  • Hum = they/mereka
  • Hazana = he grieved/dia telah bersedih → yahzanuuna = they grieve/mereka bersedih (fi'l mudloorik = kata kerja present tense)
Innal ladziina aamanuu wal ladziina haaduu wan nashooroo wash shoobi-iina man aamana billaahi wal yaumil aakhiri wa 'amila shoolihan fa lahum ajruhum 'inda robbihim, wa laa khoufun 'alaihim wa laa hum yahzanuuna

Inggris: Verily, those who believed and those who became Jews and Christians and Sabians, he who believed in Allah and the last day and he did good deeds, then for them is their rewards with Allah, and no fear upon them and they don't grieve.
Indonesia: Sesungguhnya, orang-orang yang telah percaya dan orang-orang yang menjadi Yahudi dan Nasrani dan Shobi'in, dia yang percaya kepada Allah dan hari akhir dan berbuat baik maka bagi mereka adalah ganjaran di sisi Robb mereka, dan tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka tidak bersedih.

Tujuan ayat

Tafsir Ibn Katsir: Setelah Allah menjelaskan seperti apa dan apa hukumannya orang-orang yang melanggar perintah dan laranganNya, dan melampaui batas dengan melakukan yang diharamkanNya, Dia menyatakan bahwa bangsa sebelumnya (dan bangsa-bangsa sampai hari kiamat) yang saleh dan taat mendapat ganjaran karena perbuatan baiknya. Maka siapa yang mengikuti nabi dan rosul yang ummii (butahuruf) akan mendapat kebahagiaan abadi dan takkan pernah takut terhadap masa depan dan takkan sedih terhadap masa lalu.

Yunus 62: Alaa inna auliyaa-allaahi (ingatlah sesungguhnya wali (sahabat, orang yang menuruti nasehat) Allah) laa khoufun 'alaihim (tidak ada rasa takut atas mereka) wa laa hum yahzanuun (dan mereka tidak bersedih).

Para malaikat berkata kepada orang beriman saat akan dicabut nyawanya:
Fushshilat 30: Innal ladziina qooluu robbunallaahu (sesungguhnya orang yg berkata "Robb kami adalah Allah") tsummas taqoomuu (lalu mereka konsisten) tatanazzalu 'alaihimul malaa-ikatu (malaikat turun kepada mereka malaikat) an laa takhoofuu wa laa tahzanuu (bahwa "Jangan kalian takut dan jangan kalian bersedih) wa absyiruu bil jannatil latii kuntum tuu'aduuna (dan kalian kabarkanlah berita gembira dengan surga yang kalian dijanjikan)

Innal ladziina aamanuu

Atsar 'Ali bin Abi Tholhah: dari Ibn 'Abbas: ayat ini turun sebelum Allah menurunkan Ali 'Imroon 85:
Ali Imron 85: Wa man yabtaghi ghoirol islaami diinan (dan dia yang mencari selain agama Islam) fa lan yuqbala minhu (maka dia tidak diterima darinya). Wa huwa fil aakhiroti minal khoosiriina (dan dia adalah tergolong orang-orang yang merugi di akhirat).

Tafsir Ibn Katsir: Allah takkan menerima perbuatan apapun dari siapapun kecuali jika sesuai dengan syari'at Muhammad, yaitu setelah Allah mengirim Muhammad. Sebelumnya, setiap orang yang mengikuti petunjuk rosulnya, maka dia berada dalam jalan yang benar, mengikuti petunjuk yang benar, dan terselamatkan.

Wal ladziina haaduu

Tafsir Ibn Katsir: Yahudi adalah pengikut Musa yang berhukum pada Taurot.

Al A'roof 156: Innaa hudnaa ilaika (sesungguhnya kami (Bani Isroil) bertobat kepada-Mu)

Wan Nashooroo

Asal kata nasrani adalah dari kata anshor, artinya penolong:
Ali Imron 52: Fa lamma ahassa 'iisaa minhumul kufro (lalu saat Isa telah menyadari keingkaran dari mereka (Bani Isroil)) qoola man anshoorii ilallaah (dia berkata "Siapa yang menjadi penolongku untuk Allah)? Qoolal hawaariyyuuna nahnu anshoorullaah (orang-orang Hawariyyun (sahabat Isa) berkata "Kamilah penolong Allah"), aamannaa billaahi (kami percaya kepada Allah), wasyhad bi annaa muslimuuna (dan saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berlapang dada)).

Atsar Qotadah, Ibn Juroij dan Ibn 'Abbas: mereka dipanggil Nashooroo karena mereka tinggal di daerah bernama An-Nashiroh (Nazareth).

Tafsir Ibn Katsir: Saat Allah mengirim Muhammad sebagai nabi dan rosul terakhir kepada semua keturunan Adam, seluruh manusia diwajibkan percaya kepadanya, menaatinya, dan menjauhi apa yang dilarangnya. Mereka yang melakukannya adalah orang yang percaya.

Wash Shoobi-iina

Atsar Mujahid, Wahb bin Munabbih, Ibn Abi Najih, 'Atho', dan Sa'id bin Jubair: Shobi-in bukan Majusi, Yahudi, Nasrani, dan bukan politheis, tapi mereka tidak punya agama tertentu karena mereka hidup dalam fitrah mereka (insting alam). Itulah kenapa orang musyrik memanggil pemeluk Islam sebagai Shobi-in, artinya mengabaikan semua agama yang ada saat itu.

Atsar Abul Aliyah, Ar Robi’ bin Anas, As Suddi, Jabir bin Zaid, Adh Dhohhak, dan Ishaq bin Rohawaih: Shobi-in adalah kelompok Ahli Kitab yang membaca kitab Psalm (Zabur).

Atsar Abdurrohman bin Mahdi: dari Mu'awiyah bin Abdul Karim: dari Al Hasan Al Bashri: Shobi-in adalah kaum penyembah malaikat.

Atsar Ar Rozi: Shobi-in adalah kaum penyembah bintang karena menurut mereka Allah menjadikan bintang sebagai kiblat untuk ibadah dan doa, Allah menyerahkan pengaturan urusan alam ini kepada bintang.

Minggu, 08 Maret 2009

Al Baqoroh ayat 48

AYAT 48: Wat taquu yauman laa tajzii nafsun 'an nafsin syai-an wa laa yuqbalu minhaa syafaa'atun wa laa yuk-khodzu minhaa 'adlun wa laa hum yunshoruun

I'rob

  • Wa = dan
  • Taqoo = he feared/dia telah takut → ittaquu = (you-all) fear!/kalian takutlah
  • Yaumun = a day → yaumun manshub jadi yauman, berarti yauman adalah maf'ul (objek) dari ittaquu
  • Laa = tidak → laa nafiyah (negasi)
  • Jazaa (akhiran "y" yang memanjangkan "a") = he availed/dia telah berguna→ tajziy = she avails/dia berguna
  • Nafsun = self/diri → tetap marfu' (berakhiran "u"), berarti nafsun adalah fa'il (subjek) dari tajziy, menempati posisi "she" dari tajziy, karena nafsun bergender perempuan
  • 'An = from/dari
  • Nafsun = self/dari → 'an adalah preposisi, maka nafsun majrur jadi nafsin
  • Syai-un = a thing/sesuatu → syai-un manshub jadi syai-an, berarti syai-an adalah maf'ul dari tajziy
  • Laa = tidak → laa nafiyah
  • Qobila = he accepted/dia telah menerima → yuqbalu = he is accepted/dia diterima (fi'l mudloorik majhul = present tense pasif)
  • Min = from/dari
  • Haa = her/dia (nafsun)
  • Syafa'a = he interceded/dia memberi syafa'at → syafaa'atun = intercession/syafa'at → tetap marfu', berarti syafaa'atun adalah naa-ibun faa'il (subjek dari kata kerja pasif) dari yuqbalu
  • Laa = tidak → laa nafiyah
  • Akhodza = he received/dia telah menerima → yukkhodzu = he is received/dia diterima (fi'l mudloorik majhul=present tense pasif)
  • 'Adala = he acted justly/dia telah adil → 'adlun = a ransom/suatu tebusan
  • Laa = tidak → laa nafiyah
  • Hum = they/mereka
  • Nashoro = he assisted/dia telah menolong → yunshoruuna = they are helped/mereka ditolong
Wat taquu yauman laa tajzii nafsun 'an nafsin syai-an wa laa yuqbalu minhaa syafaa'atun wa laa yuk-khodzu minhaa 'adlun wa laa hum yunshoruuna

Inggris: And (you-all) fear a day (that) a self doesn't avails anything to (another) self, and an intercession from the self isn't accepted, and a ransom from the self isn't received, and they aren't helped.
Indonesia: Dan kalian takutlah (pada) suatu hari (saat) suatu diri tidak berguna sesuatupun pada diri yang lain, dan suatu syafa'at darinya (orang lain) tidak diterima, dan suatu tebusan darinya (orang lain) tidak diterima dan mereka tidak ditolong.

Tujuan ayat

Setelah Bani Isroil diingatkan atas nikmatnya, mereka diingatkan tentang lamanya siksaan di hari kiamat.

Wat taquu yauman

Tafsir Ibn Katsir: yaitu hari kiamat

Laa tajzii nafsun 'an nafsin syai-an

Tafsir Ibn Katsir: di hari kiamat, tidak ada yang bisa saling membantu.

Al An’aam 164: Wa laa taksibu kullu nafsin illaa ’alaihaa (dan setiap seseorang tidak mengerjakan kecuali atas (diri) nya (sendiri)), wa laa taziru waazirotun wizro ukhroo (dan dia tidak memikul beban dosa orang lain)

Fathiir 18: Wa laa taziru waazirotun wizro ukhroo (dan dia tidak memikul beban dosa orang lain), wa in tad’u mutsqolatun (dan jika orang yg berat (dosanya) memanggil (orang lain)) ilaa himlihaa (untuk memikulnya) laa yuhmal minhu syai-un (takkan (mau) dipikul sedikitpun darinya) wa lau kaana dzaa qurbaa (meskipun dia punya hubungan kerabat)

'Abasa 37: Likullim ri-in minhum yaumaidzin syaknun yughniihi (Bagi setiap seseorang dari mereka pada hari itu adalah urusan (masing-masing) yang menyibukkannya)

Luqman 33: Yaa ayyuhan naasut taquu robbakum (wahai manusia takutlah (pada) Robb kalian) wakhsyau yauman (dan takutlah (pada) suatu hari (dimana)) laa yajzii waalidun ’an waladihii (seorang bapak tidak berguna (untuk menolong) kepada anaknya), wa laa mauluudun huwa jaazin ’an waalidihii syai-an (dan anaknya bukan penolong dari bapaknya sedikitpun)

Al Baqoroh 254: Min qobli an yaktiya yaumun (sebelum datangnya hari dimana) laa bai'un fiihi (tidak ada jual beli di dalamnya) wa laa khullatun (dan tidak ada persahabatan) wa laa syafaa'ah (dan tidak ada syafa'at).

Ibrohim 31: Min qobli an yaktiya yaumun laa bai'un fiihi wa laa khilaalun (sebelum datangnya hari dimana tidak ada jual beli di dalamnya dan tidak ada persahabatan)

Wa laa yuqbalu minhaa syafaa'atun

Tafsir Ibn Katsir: syafa'at orang yang ingkar tidak akan diterima. Kalau mereka tidak percaya kepada Rosululloh dan tidak mengikuti ajarannya, maka di hari kiamat syafa'at dari kerabat dan tuannya tidak akan menolongnya.

Al Mudatstsir 48: Famaa tanfa’uhum syafaa’atusy syaafi’iin (Maka syafaatnya pemberi syafa'at tidak bermanfaat bagi mereka)

Asy Syu’aroo 100-101: Famaa lanaa min syaafi’iina (Maka kami (penyembah berhala dan orang sesat yang dimasukkan neraka) tidak punya pemberi syafa’at). Wa laa shodiiqin hamiim (Dan tidak ada teman yang akrab (yang akan membantu))

Wa laa yukkhodzu minhaa 'adlun

Tafsir Ibn Katsir: Allah tidak menerima tebusan dari orang yang tidak percaya/beriman, meskipun mereka membayar emas sepenuh bumi sebagai tebusan.

Hadits shohih Ibn Jarir: dari Amr bin Qois Al Mala-i: dari seorang lelaki Bani Umayyah di Syam: pernah ditanyakan kepada Rasulullah SAW: Yaa rosuulallooh, Mal 'Adl? Qoola Al 'Adlul fidyah (Ya Rasulullah, apa itu Al 'Adl? Al 'Adl adalah tebusan)

Ali 'Imron 91: Innalladziina kafaruu (sesungguhnya orang-orang yang tidak percaya) wa maatuu wa hum kaffaarun (dan mati dalam keingkaran) fa lan yuqbala (maka takkan diterima) min ahadihim (dari seorang diantara mereka) mil-ul ardli dzahaban (emas sepenuh bumi) wa lawif tadaa bihii (walaupun dia menebus (diri) dengannya). Ulaa-ika lahum 'adzaabun aliimun (bagi mereka adalah siksa yg pedih) wa maa lahum min naashiriin (dan bagi mereka tidak ada penolong)

Al Maa-idah 36: Innal ladziina kafaru (sesungguhnya orang-orang yang tidak percaya) lau anna (kalau sekiranya) lahum maa fil ardli jamii'an (bagi mereka apa yg di bumi seluruhnya) wa mitslahuu (dan semisalnya) ma'ahuu (ada bersamanya) liyaftaduu bihii (untuk menebus diri dengannya) min 'adzaabi yaumil qiyaamati (dari siksaan hari kiamat) maa taqubbila minhum ((pasti) tidak diterima dari mereka). Wa lahum ‘adzaabun aliim (Dan bagi mereka adalah siksa yg pedih).

Al An’aam 70: Laisa lahaa (baginya tiada) min duunillaahi (selain dari Allah) waliyyun walaa syafii'un (pelindung dan tiada pemberi syafa'at). Wa in ta’dil (dan jika dia menebus) kulla 'adlin (segala tebusan) laa yukkhodz minhaa (pasti tidak diambil darinya).

Al Hadiid 15: Fal yauma (maka (pada) hari tersebut) laa yuk-khodzu minkum fidyatun (takkan diambil tebusan dari kalian) wa laa minal ladziina kafaruu (dan tidak (pula) dari orang2 yg kafir), mak wa waakumun naar (tempat tinggal kalian adalah neraka). Hiyaa maulaakum (itu adalah kawan kalian)

Wa laa hum yunshoruun

Tafsir Ibn Katsir: tidak ada seorangpun yang akan marah atau cemas membelanya, atas namanya, atau menawarkan bantuan atau menyelamatkannya dari hukuman Allah.

Al Mukminuun 88: Wa huwa yujiiru (dan Dia melindungi) wa laa yujaaru ‘alaihi (dan tidak ada yang melindungi atasnya)

Al Fajr 25-26: Fa yaumaidzin laa yu’adzdzibu 'adzaabahuu ahadun (Maka pada hari itu tidak ada seseorang yang menyiksa (seperti) siksaNya). Wa laa yuu-tsiqu watsaaqohuu ahadun (Dan tiada seseorang yg mengikat (seperti) ikatanNya)

Ash Shooffaat 25-26: Maa lakum laa tanaashoruun ((Mengapa) bagi kalian tidak ada tolong menolong?) Bal humul yauma mustaslimuun (Bahkan mereka pada hari itu berserah diri)

Tafsir Adh Dhohhak: dari Ibnu Abbas: Maa lakum laa tanaashoruun, artinya di hari kiamat kalian takkan tolong menolong. Tidak di hari kiamat.

Tafsir Ibnu Jarir: di hari kiamat mereka tidak ditolong atau diberi syafa'at, tidak ada tebusan yang akan diterima, semua haknya akan hilang bersama dengan pertolongan-pertolongan, tidak ada bantuan atau kerja sama bagi mereka di hari itu. Pengadilan akan terserah pada Allah Mahabesar Mahaadil, tidak ada penolong yang bisa membantu. Dia akan membalas perbuatan buruk dan melipatgandakan perbuatan baik.

Al Ahqoof 28: Fa lau laa nashoro humul ladziinat takhodzuu min duunillaahi qurbaanan aalihah (lalu mengapa mereka yang mereka jadikan sesembahan selain dari Allah untuk mendekatkan diri tidak menolong?) Bal dlulluu ‘anhum (bahkan mereka telah lenyap dari mereka), wa dzaalika ifkuhum (dan itulah kebohongan mereka) wa maa kaanuu yaftaruun (dan itu adalah apa yang mereka ada-adakan)

Ath Thooriq 9-10: Yauma tublas saroo-ir (Pada hari dibuka semua rahasia), famaa lahuu min quwwatin wa laa naashir (Maka tiada baginya kekuatan dan tiada (seorangpun) penolong)

Senin, 02 Maret 2009

Al Baqoroh ayat 40

Di Al Baqoroh ayat 40 sampai ayat 123 Allah bercerita panjang lebar tentang kisah Bani Isroil. Ayat 40-48 bercerita tentang perintah dan larangan Allah kepada Bani Isroil.

AYAT 40: Yaa banii isroo-iiladz kuruu ni'matiyal latii an'amtu 'alaikum wa aufuu bi 'ahdii uufi bi 'ahdikum. Wa iyyaaya farhabuun.

I'rob


  • Yaa = wahai (kata nidak=panggilan) → di Arab kalau memanggil orang harus diawali Yaa
  • Ibnun = a son/seorang putra lelaki → banii = children/keturunan
  • Isroo-iila = Isroil → mudlof ilaih dari banii
  • Dzakaro = he remembered/dia telah mengingat → udzkuruu = (you-all) remember!/kalian ingatlah
  • Na'ama = he favoured/dia telah memberi nikmat → ni'matun = favour/nikmat (gender: perempuan)
  • Ni'matun (=nikmat) + akhiran "y" (=my) = ni'matiya
  • Allatii = she who/yang → berarti kalimat setelahnya (an'amtu 'alaikum) akan dijadikan kata benda, berarti an'amtu 'alaikum adalah na'at (sifat) dari ni'matiya
  • Na'ama = he favoured → an'amtu (wazan 2: causative) = I bestowed/aku telah memberi nikmat
  • 'Alaa (=on/atas) + kum (you-all/kalian) = 'alaikum
  • Wa = and/dan
  • Wafaa (akhiran -y untuk memanjangkan a)= he kept the promise/dia memenuhi janji → aufuu = (you-all) fulfil!/kalian penuhilah
  • Bi = with/dengan
  • 'Ahdun = a covenant/sebuah perjanjian → bi adalah preposisi, maka 'ahdun majrur jadi 'ahdin
  • Akhiran -y = my/-ku → akhiran -y adalah mudlof ilaih dari 'ahdin, sehingga 'ahdin hilang tanwin jadi 'ahdi
  • Wafaa = he kept the promise → uufi = I fulfil/aku penuhi (bentuk jussive fi'l mudloorik)
  • Keterangan: jussive dipakai untuk permintaan, desakan, permohonan, self-encouragement, keinginan, harapan, niat, perintah, tujuan, atau akibat. Dan i'robnya ada bentuk khususnya.
  • Kum = kalian → kum adalah mudlof ilaih dari 'ahdin, maka 'ahdin hilang tanwin jadi 'ahdi.
  • Iyyaa = unto/kepada
  • Iyyaa+ nii (=me) = iyyaaya = only unto me/hanya kepadaku
  • Fa = then/maka
  • Rohiba = he feared/dia telah takut → irhabuuni = frighten you-all!/takutlah kalian (fi'l 'amr = kata kerja perintah)
Yaa banii isroo-iiladz kuruu ni'matiyal latii an'amtu 'alaikum, wa aufuu bi 'ahdii uufi bi 'ahdikum, wa iyyaaya farhabuuna

Inggris: O Children of Israil, (you-all) remember my favour which I bestowed upon you-all! And (you-all) fulfill My covenant, I will fulfill your covenant! And unto Me alone, then (you-all) fear!
Indonesia: Wahai keturunan Isroil, (kalian) ingatlah nikmatKu yang Aku telah memberikan kepada kalian, dan kalian penuhilah perjanjianKu, aku akan penuhi perjanjian kalian, dan hanya kepadaKu maka kalian takutlah!

Yaa banii isroi-iila

Hadits Abu Dawud: dari Ibn 'Abbas: Ha-dlorot 'i-shoobatun minal yahuudi nabiyalloohi shollalloohu 'alaihi wa sallam (sekelompok Yahudi telah mendatangi Rosululloh yang semoga sholawat dan keselamatan adalah atasnya) fa qoola lahum (dan dia telah berkata kepada mereka) Hal ta’lamuuna inna isroo-iila ya'quub? (Apakah kalian tahu sesungguhnya Isroil adalah Yaqub?) Qooluu alloohumma na'am (mereka telah berkata "Ya Allah, ya (kami tahu)) fa qoolan nabiyyu sholalloohu 'alaihi wa sallam allohummasy had (Lalu nabi yang semoga sholawat dan keselamatan adalah atasnya telah berkata "Ya Allah, saksikanlah!")

Atsar Ath-Thobari: dari Ibnu Abbas: Isroil artinya sama dengan Abdulloh (hamba Allah)

Udzkuruu ni'matiyal latii an'amtu 'alaikum

Tafsir Ibn Katsir: Allah mengingatkan Bani Isroil dg mencontohkan leluhur mereka, Isroil/Ya'qub, seolah berkata "Wahai keturunan orang saleh, hamba Allah yang saleh yang menaati Allah! Jadilah seperti leluhur kalian (Ya'quub), mengikuti kebenaran".

Atsar Mujahid: Nikmat Allah kepada Yahudi adalah Allah membuat air memancar dari batu, mengirim manna dan salwa (makanan berkualitas tinggi di zaman itu) untuk mereka, dan menyelamatkan mereka dari diperbudak Firaun.

Atsar Abul 'Aliyah: Nikmat Allah di sini adalah banyaknya nabi dan rosul dari kalangan mereka (seperti Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Isa, Nabi Samuel, Nabi Joshua) dan diturunkannya kitab-kitab untuk mereka.

Tafsir Ibn Katsir: ayat ini serupa dengan Al Maa-idah 20.

Al Maa-idah 20: Wa idz qoola muusaa li qoumihii (dan saat Musa berkata kepada kaumnya) yaa qoumidzkuruu ni'matalloohi 'alaikum (wahai kaumku, ingatlah nikmat Allah atas kalian) idz ja'ala fiikum anbiyaa-a wa ja'alakum muluukan (saat Dia telah jadikan diantara kalian para nabi dan Dia telah jadikan kalian para penguasa) wa aataakum maa lam yukti ahadan minal 'aalamiin (dan Dia telah memberi kalian apa yg Dia tidak berikan kepada seorangpun dari seluruh alam (di zaman itu)).

Atsar Muhammad bin Ishaq: dari Ibn 'Abbas: yaitu dukungan Allah terhadap Bani Isroil dan leluhur mereka (Ya'qub), yaitu terselamatkan dari Firaun dan para pengikutnya.

Aufuu bi 'ahdii, uufi bi 'ahdikum

Tafsir Ibn Katsir: Perjanjian yang diambil Allah dari Bani Isroil adalah tentang Muhammad saat dia nantinya dikirim kepada mereka, janji untuk percaya kepada Muhammad dan mengikutinya. Janji Allah kepada Bani Isroil adalah untuk menghilangkan rantai dan batasan-batasan yang "mengalungi leher mereka" karena dosa-dosa mereka. Allah akan memenuhinya kalau mereka memenuhinya juga.

Atsar Al Hasan Al Bashri: yaitu Al Maa-idah 12.

Al Maa-idah 12: Wa laqod akho-dzalloohu mii-tsaaqo banii isro-iil (dan sungguh Allah telah mengambil perjanjian Bani Isroil), wa ba'atsnaa min humutsnai 'a-syaro naqiiba (dan Kami telah mengangkat dari mereka 12 pemimpin). Wa qoolalloohu innii ma'akum (dan Allah telah berkata, "sungguh Aku bersama kalian"), la in aqomtumush sholaata wa aataitumuz zakaata (sungguh jika kalian telah mendirikan sholat dan kalian telah menunaikan zakat) wa aamantum bi rusulii wa 'azzartumuuhum wa aqrodltumullooha qordlon hasanan (dan kalian telah beriman dengan rosul-rosulKu dan kalian telah membantu mereka dan kalian telah meminjamkan Allah pinjaman yg baik) la ukaffironna 'ankum sayyi-aatikum (sungguh Aku akan menghapus kesalahan2 kalian) wa la udkhilannakum jannaatin tajrii min tahtihal anhaar (dan sungguh Aku akan memasukkan kalian ke surga yg mengalir dari bawahnya sungai2), faman kafaro ba'da dzaalika minkum (dan barangsiapa yang ingkar sesudah itu dari kalian) fa qod dholla sawaa-as sabiil (maka sungguh dia telah sesat (dari) jalan yg lurus)

Atsar Abul 'Aliyah: yaitu, janji semua hambaNya kepada Allah, untuk memeluk Islam dan mengikutinya.

Atsar As Suddi, Adh Dhohhak, Abul 'Aliyah, Ar Robi' bin Anas: dari Ibnu Abbas: janji dari Allah kepada kalian adalah bahwa Allah akan ridlo/puas kepada kalian dan memasukkan kalian ke surga.

Wa iyyaaya farhabuun (Dan hanya kepada-Ku kalian harus takut)

Atsar Ibnu Abbas: takutlah kalian akan siksaan yg bisa diturunkan Allah kepada kalian, seperti yg Allah lakukan kepada para leluhur mereka, seperti mutasi menjadi kera dan babi, dll.

Targhib dan Tahrib

Tafsir Ibn Katsir: Ayat ini mengandung targhib (anjuran, yaitu meng-encourage Bani Isroil tentang nikmat Allah kepada leluhur mereka) dilanjut dengan tarhib (ancaman, agar mereka kembali kepada kebenaran, mengikuti Rosululloh, menaati perintah dan larangan Alqur-an, dan percaya kepada isinya).

Selasa, 27 Januari 2009

Al Baqoroh ayat 37

AYAT 37: Fa talaqqoo aadamu min robbihii kalimaatin fataaba ‘alaihi. Innahuu huwat tawwaabur rohiim.

I'rob
  • Fa = then/lalu
  • Laqiya = he met/dia telah bertemu → talaqqoo (wazan V: causative yang dilakukan untuk seseorang, oleh orang lain/dirinya sendiri) = he is received/dia disambut (fi'l mudloorik = present tense)
  • Aadamu → berakhiran "u", berarti subjek dari talaqqoo
  • Robb = Lord → majrur jadi robbi karena preposisi "min"
  • Hi = him/dia
  • Kalama = he conversed/dia telah bercakap-cakap, → Kalimatun = a word → kalmun/kalimaatun = bentuk jamaknya/words -->
  • Taaba = he repented/dia telah bertobat
  • 'Alaa = on
  • Hu = him/dia → preposisi 'alaa membuat hu majrur jadi hi 'alaa+hi = 'alaihi
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti hu adalah ism inna dan at-tawwaabu ar-rohiimu adalah khobar inna (harus marfu')
  • Huwa = dia --> dlorof fashl (penguat)
  • At-Tawwaabu = Oft-Forgiving/maha penerima tobat
  • Ar-Rohiimu = Oft-Merciful Unto THE Universes/maha pemberi rahmat untuk semesta.
Fa talaqqoo aadamu min robbihii kalimaatin fataaba 'alaihi. Innahu huwat tawwaabur rohiimu

Inggris: Then Adam receives words from Allah then He repented on it. Verily, He is Oft-Forgiving Oft-Merciful Unto THE Universes.
Indonesia: Lalu Adam disambut Robbnya dengan kata-kata, lalu dia bertobat atasnya. Sesungguhnya Dia adalah maha pemberi tobat maha pemberi rahmat untuk semesta.

Fa talaqqoo aadamu min robbihii kalimaatin fataaba ‘alaihi

Atsar Mujahid, Sa'id bin Jubair, Abul 'Aliyah, Robi' bin Anas, Al Hasan Al Bashri, Qotadah, Muhammad bin Ka'ab Alqurodzi, Kholid bin Ma'dan, 'Atho' Al Khurosani, dan Abdurrohman bin Zaid bin Aslam: yaitu Al A'roof 23.

Al A'roof 23: Qoolaa robbunaa dhollamnaa anfusanaa (Mereka berdua berkata, "Robb kami, kami telah mendholimi diri kami sendiri) wa in lam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khoosiriina (dan kalau Engkau tidak memaafkan atas kami dan Engkau tidak merahmati kami, niscaya kami adalah tergolong mereka yang rugi).

Atsar shohih Al Hakim: dari As Suddi, Al Aufi, Sa'id bin Jubair, dan Sa'id bin Ma'bad: dari Ibnu Abbas: Adam berkata "Wahai Robb, apakah Engkau yang menciptakanku dengan TanganMu sendiri?" Dia berkata, "Ya", Adam berkata "Dan Engkau meniupkan kehidupan kedalamku?" Dia berkata "Ya", Adam berkata, "Dan saat aku bersin, Engkau berkata 'Semoga Allah merahmatimu'. Bukankah rahmatmu mendahului kemarahanmu?", Dia berkata, "Ya", Adam berkata, "Dan Engkau menakdirkanku melakukan perbuatan jahat ini?" Dia berkata "Ya". Dia berkata "Jika aku bertobat, apakah Engkau mengirimku kembali ke surga?" Allah berkata, "Ya".
Innahu huwat tawwaabur rohiimu

Tafsir Ibn Katsir: Allah mengampuni mereka yang menyesali kesalahannya dan kembali kepadaNya dalam keadaan bertobat. Dia mengampuni dosa-dosa mereka yang bertobat. Ini menunjukkan Dia maha baik dan maha merahmati ciptaanNya dan hambaNya.

At Taubah 104: A lam ya'lamuu annallooha huwa yaqbalut taubata 'an 'ibaadihi (Apakah mereka tidak tahu bahwa Dia, Allah, menerima tobat dari hamba-hambaNya)

An Nisaak 110: Wa man ya'mal suu-an au yadhlim nafsahu (Dan barangsiapa yang berbuat kejahatan atau mendholimi dirinya sendiri) tsumma yastaghfirillaaha yajidillaaha ghofuuron rohiiman (lalu dia meminta maaf (pada) Allah, dia mendapati Allah maha pengampun maha pemberi rahmat kepada semesta).

Al Furqoon 71: Wa man taaba wa 'amila shoolihan fa innahu yatuubu ilalloohi mataaban (Dan barangsiapa yang bertobat dan berbuat baik maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan sebenar-benarnya).

Sabtu, 17 Januari 2009

Al Baqoroh ayat 33

AYAT 33: Qoola yaa aadamu anbikhum bi asmaa-ihim. Fa lammaa anba-ahum bi asmaa-ihim, qoola a lam aqul lakum innii a’lamu ghoibas samaawaati wal ardl. Wa a’lamu maa tubduuna wamaa kuntum taktumuun.

I'rob

  • Qoola = he said/dia telah berkata (fi'l ma-dlii = past tense)
  • Yaa = O/wahai
  • Naba-a = he informed/dia telah mengabarkan → Anba-a (wazan 4: causative) = he made informed --> anbik = (you) inform! (fi'l 'amr = kata kerja perintah)
  • Hum = them/mereka
  • Bi = with/dengan
  • Asmaa-un = names/nama-nama → Bi adalah preposisi, maka asmaa-un majrur jadi asmaa-in → asmaa-in hilang tanwin jadi asmaa-i, dan setelahnya ada hum yang majrur jadi him, menandakan bahwa hum adalah mudlof ilaih (pemilik) dari asmaa-in.
  • Lammaa = when/saat
  • A = apakah
  • Lam → lam nafiyah (negasi) → maka aqoola (wazan dari qoola) harus jazm jadi aqul.
  • La = bagi
  • Kum = kalian
  • Inna = verily/sesungguhnya → Innii = Inna + yy artinya "aku"
  • 'Alima = he knew/dia telah tahu → a'lamu = knower/knowest (ism tafdlil = lebih/paling)
  • Ghoibun = an unseen/sesuatu yang ghoib
  • Samaa-un = a sky/sebuah langit → samaawaatu/samawaatu = bentuk jamaknya/skies → as-samaawaatu = THE skies (bentuk definitnya)
  • Wa = dan
  • Al-ardlu = THE earth
  • Badaa = he revealed/dia telah nyata → tubduuna = you-all reveal/kalian menyatakan (fi'l mudloorik = present tense)
  • Kuntum = you-all were --> kaana, mengandung subjek "kalian" → "kalian" adalah ism kaana, taktumuuna adalah khobar kaana.
  • Katama = he concealed/dia telah menyembunyikan → taktumuuna = you-all conceal/kalian menyembunyikan (fi'l mudloorik) --> kuntum membuat klausa setelahnya jadi past-tense, sehingga taktumuuna (meskipun present tense) harus berubah jadi past tense = you-all concealed.

Qoola yaa aadamu anbikhum bi asmaa-ihim. Fa lammaa anba-ahum bi asmaa-ihim, qoola a lam aqul lakum innii a'lamu ghoibas samaawaati wal ardli, wa a'lamu maa tubduuna wa maa kuntum taktumuuna

Inggris: He said "O Adam, inform them with their names!" Then, when he informed them with their names, He said, "Haven't I said to you, verily I'm more knowledgeable about an unseen of THE skies and THE earth?" And He is most knowledgeable about what you-all reveal and what you-all concealed
Indonesia: Dia telah berkata "Wahai Adam, kabarkan mereka dengan nama-nama mereka!" Lalu saat dia telah memberitahu mereka dengan nama-nama mereka, Dia berkata "Bukankah aku sudah berkata, sesungguhnya Aku lebih tahu sesuatu yang ghoib dari langit dan bumi?" Dan Dia paling tahu apa yang kalian nyatakan dan apa yang kalian telah sembunyikan.

Qoola yaa aadamu anbikhum bi asmaa-ihim

Atsar Zaid bin Aslam: Adam berkata kamu adalah Jibril, kamu Mikail, kamu Isrofil, sampai menyebut burung gagak".

Atsar Mujahid, Sa'id bin Jubair, Al Hasan, Qotadah: merpati, burung gagak, dan semuanya.

Fa lammaa anba-ahum bi asmaa-ihim, qoola a lam aqul lakum innii a’lamu ghoibas samaawaati wal ardl

Tafsir Ibn Katsir: Setelah kelebihan Adam diperlihatkan pada para malaikat, Allah berkata kepada mereka "Aku tahu hal yang nampak dan yang tidak nampak".

Wa a’lamu maa tubduuna wamaa kuntum taktumuun

Atsar Adh Dhohhak: dari Ibnu Abbas: Allah tahu rahasia-rahasia, sebagaimana Allah tahu hal yang terang-terangan, seperti apa yang iblis sembunyikan dalam hatinya.

Atsar Abu Ja’far Arrozi: dari Arrobi’ bin Anas: Kuntum taktumuuna adalah pertanyaan malaikat "Apakah Engkau akan menciptakan kholifah yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah?" Maa tubduuna adalah dalam hati malaikat "kami lebih tahu banyak daripada ciptaan yang Allah akan buat".

Thoohaa 7: Wa in tajhar bil qouli (dan kalau kamu keras dengan kata-katamu (doa teriak-teriak)), fa innahu ya'lamus sirro wa akhfaa (maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi).

Tafsir Ibn Katsir: Rahasia adalah apa yang disembunyikan tiap manusia dalam hatinya. Yang lebih tersembunyi adalah perbuatan manusia yang disembunyikan Allah sebelum mereka melakukannya.

An Naml 25: Wa ya'lamu maa tukhfuuna wa maa tu'linuuna (dan Dia tahu apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan)

Atsar 'Ali bin Abi Tholhah: dari Ibn Abbas: Allah tahu apa yang hambaNya katakan dan lakukan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Jumat, 16 Januari 2009

Al Baqoroh ayat 31-32

AYAT 31: Wa 'allama aadamal asmaa-a kullahaa tsumma 'arodlohum 'alal malaaikati fa qoola anbi-uunii bi asmaa-i haa-ulaa-i in kuntum shoodiqiina

I'rob

  • Wa = dan
  • 'Alima = he knew/dia telah tahu → 'allama (wazan 2: causative) = he taught/dia telah mengajarkan
  • Aadam manshub (berakhiran "a") → berarti berposisi sebagai maf'ul (objek) dari 'allama.
  • Ismun = a name/sebuah nama → asmaa-un = bentuk jamaknya/names → al-asmaa-u = THE names (definit jamak) → al-asmaa-u manshub menjadi Al-asmaa-a → berarti berposisi sebagai maf'ul (objek) kedua dari 'allama.
  • Kullun = every/setiap
  • Haa = her/dia → Kullun + haa = Kullahaa → berarti kullun adalah mudlof, haa adalah mudlof ilaih, sehingga kullun menghilangkan tanwin jadi kullu, dan kullu menjadi kulla karena posisinya sebagai Haal (kata keterangan) → sehingga, al-asmaa-a kullahaa (nama-nama, setiapnya) diterjemahkan sebagai semua nama.
  • Tsumma = then/lalu
  • 'Arodlo = he showed/dia telah memperlihatkan (fi'l ma-dlii = past tense)
  • Hum = them/mereka
  • 'Alaa = upon/atas
  • Malaka = he owned/dia telah memiliki → malakun = an angel/seorang malaikat → al-malaa-ikatu = THE angels (jamak definit) → 'alaa adalah preposisi, maka al-malaa-ikatu majrur jadi al-malaa-ikati.
  • Fa = then/lalu
  • Qoola = he said/dia telah berkata (fi'l ma-dlii)
  • Naba-a = he informed/dia telah memberitahu → Anbi-uu = (you all) inform! (fi'l amr = kata kerja perintah) → "kalian" = para malaikat
  • -Nii = me/aku
  • Bi = with/dengan → bi adalah preposisi, maka asmaa-un majrur jadi asmaa-in
  • Haa-ulaa-i = these/ini semua → Asmaa-in jadi asmaa-i, lalu ada haa-ulaa-i, berarti haa-ulaa-i adalah mudlof ilaih dari asmaa-i → maka, asmaa-i haa-ulaa-i diterjemahkan dengan menambahkan kata OF: names OF these.
  • In = if/jika
  • Kuntum = you-all were --> yaitu kaana dengan ism kaana "kalian" dan khobar kaana shoodiqiina.
  • Shodaqo = he was truthful → shoodiqun = truthful person (ism fa'il = pelaku) → shoodiquuna = bentuk jamaknya/truthful people → shoodiquuna adalah khobar kaana, maka manshub jadi shoodiqiina.
Wa 'allama aadamal asmaa-a kullahaa tsumma 'arodlohum 'alal malaaikati fa qoola anbi-uunii bi asmaa-i haa-ulaa-i in kuntum shoodiqiina

Inggris: And He taught Adam THE names of everything, then He showed them to THE angels, then He said "(You-all) inform me with the names of these if you are truthful people!"
Indonesia: Dan Dia telah mengajarkan Adam nama-nama setiapnya, lalu dia telah memperlihatkan mereka kepada para malaikat, lalu Dia berkata "Kalian beritahu Aku nama-nama ini semua, jika kalian adalah orang-orang yang benar!"

Tujuan ayat

Tafsir Ibn Katsir: Di ayat ini Allah menyatakan Adam lebih mulia daripada para malaikat, karena Dia mengajarkan Adam nama-nama semuanya, bukan kepada para malaikat. Ayat ini juga untuk memberi tahu para malaikat bahwa Dia tahu apa yang tidak mereka tahu.

Wa 'allama aadamal asmaa-a kullahaa

Atsar Ibn 'Abbas: yaitu nama segala benda, dzat, sifat, dan af'alnya (perbuatannya).

Atsar Adh Dhohhak: dari Ibn 'Abbas: Nama yang dipakai orang, seperti: manusia, hewan, langit, bumi, tanah, laut, kuda, keledai, dll, termasuk nama spesies lain.

Atsar Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir: dari 'Asim bin Kulaib: dari Sa'id bin Ma'bad: Ibnu Abbas pernah ditanya "Apakah Allah mengajarkannya nama-nama piring dan bejana?", dia menjawab "Ya, bahkan istilah-istilah untuk buang angin".

Hadits shohih Bukhori, Muslim, An Nasa-i dan Ibnu Majah: dari Anas bin Malik: dari Rosululloh: Yajtami'ul mukminuuna yaumal qiyaamati, fa yaquuluuna (orang-orang beriman (akan) berkumpul pada hari kiamat lalu mereka berkata) lawis tasyfa'naa ilar robbinaa ("Kita harus mencari syafaat kepada Rabb kita") fa yaktuunaa adama fa yaquuluuna (lalu mereka mendatangi Adam lalu mereka berkata) anta abunnaasi kholaqokalloohu baidihi wa asjada laka malaa-ikatahu wa 'allamaka asmaa-a kulli syai-in ("Kamu adalah ayah dari manusia, Allah telah menciptakanmu dengan tangan-Nya dan para malaikatNya telah bersujud kepadamu dan Dia telah mengajarkanmu nama-nama setiap sesuatu") fasyfa' lanaa 'inda robbika, hattaa yuriihanaa min makaaninaa haadzaa (maka berilah syafaat bagi kami di sisi Robbmu, sehingga Dia membebaskan kami dari tempat kami ini") fa yaquulu lastu hunaa kum wa yadzkuru dzanbahu (lalu dia berkata "Aku tidak bisa melakukannya untuk kalian" dan dia mengingat dosa-dosanya) fa yastahyiktuu nuuhan fa innahu awwalu rosuulin ba'atsahulloohu ilaa ahlil ardl (lalu dia malu "Pergilah (ke) Nuh, karena sesungguhnya dia rosul Allah pertama yang dikirim untuk orang-orang bumi") fa yaktuunahu fa yaquulu lastu hunnaa kum wa yadzkuru su-aalahu robbahu maa laisa lahu bihi 'ilmun (lalu mereka pergi ke dia lalu dia berkata, "Aku tidak bisa melakukannya untuk kalian", dan dia teringat meminta Allah apa yang dia tidak punya ilmunya) fa yastahyii fa yaquulu iktuu kholiilar rohmaan (lalu dia malu lalu dia berkata "Pergilah (ke) Kholil (kekasih) Ar-Rohman") fa yaktuunahu fa yaquulu lastu hunaa kum (lalu mereka pergi ke dia dan dia berkata "Aku tidak bisa melakukannya untuk kalian") fa yaquuluktuu muusaa 'abdan kallamahulloohu wa a'thoohut taurooh (lalu dia berkata, "Pergilah (ke) Musa, seorang hamba yang Allah berbicara kepadanya dan Dia memberinya Tauroh") fa yaquulu lastu hunaa kum fa yadzkuru qotlan nafsi bi ghoiri nafsin fa yastahyii min robbihi (lalu dia berkata "Aku tidak bisa melakukannya untuk kalian", lalu dia teringat dia telah membunuh seseorang tanpa justifikasi lalu dia malu dengan Robbnya) fa yaquuluktuu iisaa 'abdalloohi wa rosuulahu wa kalimataloohi wa ruuhahu, fa yaktuunahu (lalu dia berkata, "Pergilah (ke) Isa, hamba Allah dan rasulNya dan firman Allah dan ruhNya" lalu mereka pergi ke dia) fa yaquulu lastu hunaa kum, iktuu muhammadan 'abdan ghufiro lahu maa taqoddam min dzanbi wa maa ta-akhkhor (lalu dia berkata, "Aku tidak bisa melakukannya untuk kalian. Pergilah (ke) Muhammad, hamba yang diampuni dosa masalalunya dan yang di masa depannya.") fa yaktuunii fa antholiqu hattaa astakdzina 'alaa robbii fa yakdzanu lii (lalu mereka mendatangiku lalu aku pergi sehingga aku minta izin kepada Robbku lalu Dia mengizinkan kepadaku) fa idzaa ro-aitu robbii waqo'tu saajidan fa yada'unii maasyaa-alloohu (lalu saat aku melihat Robbku, aku bersujud lalu Allah mengizinkanku (bersujud) sampai kapan yang Allah kehendaki) tsumma yaquulurfa' roksaka wasal tu'thoh waqul yusma' wasyfa' tusyaffa' (lalu Dia berkata, "Angkat kepalamu, karena kamu diberikan apa yang kamu minta, dan berilah syafa'at karena syafa'atmu diterima.") fa arfa'u roksii fa ahmaduhu bi tahmiidin yu'allimuniihi (maka aku mengangkat kepala lalu memujinya dengan tahmid (pujian) yang Dia ajarkanku) tsumma asyfa'u fa yuhaddu lii haddan fa udkhiluhumul jannata (lalu aku memberi syafa'at lalu Dia membatasinya lalu Dia memasukkan mereka ke surga) tsumma a'uudu ilaihi fa idzaa ro-aitu robbii mitslahu tsumma asyfa'u fa yuhaddu lii haddan fa udkhiluhumul jannah (lalu aku kembali kepadaNya lalu saat aku melihat Robbku seperti itu) tsumma a'uuduts tsaalitsata tsumma a'uudur roobi'ata (lalu aku kembali ketiga (kalinya) lalu aku kembali keempat (kalinya)) fa aquulu maa baqiya fin naari ilaa man habasahul qur-aanu wa wajaba 'alaihil khuluud (lalu aku berkata "Tidak ada yang tersisa dalam neraka kecuali yang Qur-an telah memenjarakannya dan mereka kekal di dalamnya")

Tsumma 'arodlohum 'alal malaaikati

Atsar 'Abdurrozzaq: dari Ma'mar: dari Qotadah: Allah memperlihatkan benda-benda atau makhluk-makhlukNya di depan para malaikat.

In kuntum shoodiqiin

Tafsir Ibn Katsir: Allah berkata: Katakan padaku nama benda-benda ini, wahai para malaikat yang berkata "Apakah Engkau menjadikan di dalamnya orang-orang yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah?" Kalau kamu berkata benar (bahwa kalau aku menunjuk kholifah dari bukan kalangan malaikat ke bumi, mereka akan tidak taat kepadaKu, berbuat kerusakan, menumpahkan darah), maka Aku akan menjadikan kalian khalifah yang selalu menaatiKu, mengikuti perintahKu, selalu mengagungkanKu. Tapi karena kalian tidak tahu nama benda-benda ini, kalian tidak lebih tahu apa yang akan terjadi di bumi yang belum tercipta ini.

AYAT 32: Qooluu subhaanaka laa 'ilma lanaa illaa maa 'allamtanaa. Innaka antal 'aliimul hakiimu

I'rob
  • Qoola = he said/dia telah berkata → qooluu = they said/mereka telah berkata (fi'l ma-dlii = past tense)
  • Sabbaha = he glorified/dia telah memahasucikan → Subhaana = Glory/Mahasuci
  • Ka = you/kamu
  • 'Ilmun = knowledge/ilmu → Laa + kata benda nakiroh (indefinit) → berarti Laa = no, dan 'ilmun harus manshub dan hilang tanwin jadi 'ilma.
  • La = bagi
  • -naa = us/kami
  • Illaa = except/kecuali
  • Maa = what/apa yang (relative pronoun)
  • 'Alima = he knew/dia telah tahu → 'allama (wazan 2: causative) = he taught/dia telah mengajarkan → 'allamta = you taught/kamu telah mengajarkan (fi'l ma-dlii)
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti ka adalah ism inna, al-'aliimul hakiimu adalah khobar inna → khobar inna harus marfu' (berakhiran u).
  • Anta = you/kamu → Anta sebagai dlorof fashl/penguat
  • Al-'aliimu = The Most Knowledgeable/Mahatahu
  • Al-Hakiimu = The Most Wise/Mahabijaksana
Qooluu subhaanaka laa 'ilma lanaa illaa maa 'allamtanaa, innaka antal 'aliimul hakiimu

Inggris: They said "Glory (is to) you! no knowledge with us but what you taught us. Verily you are The Most Knowledgeable The Most Wise."
Indonesia: Mereka telah berkata "Mahasuci Engkau! Tiada ilmu bagi kami selain apa yang Engkau telah ajarkan kami. Sesungguhnya Engkau adalah Mahatahu Mahabijaksana."

Tujuan ayat

Tafsir Ibn Katsir: Malaikat memuji kesucian dan kesempurnaan Allah, tidak punya kekurangan, tidak ada makhluk yang bisa mendapatkan ilmu sedikitpun kecuali atas izin Allah atau diajarkan oleh Allah. Allah Mahatahu, Mahabijaksana (keputusanNya) atas semua ciptaanNya.

Al Baqoroh ayat 30

Ayat 30-39 bercerita tentang penciptaan manusia dan sejarah Nabi Adam.

AYAT 30: Wa idz qoola robbuka lil malaaikati innii jaa’ilun fil ardli kholiifah. Qooluu a taj’alu fiihaa mayyufsidu fiihaa wayasfikud dimaak. Wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqoddisu laka. Qoola innii a’lamu maa laa ta’lamuun.

I'rob

  • Wa = dan
  • Idz = when/saat --> idz menandakan past tense, idzaa menandakan present tense
  • Qoola = he said/dia telah berkata
  • Robb --> marfu' (berakhiran "u"), berarti subjek dari qoola
  • Ka = you/kamu
  • Li = unto/kepada
  • Malaka = he owned/dia telah memiliki --> malakun = an angel/seorang malaikat --> malaa-ikatun = bentuk jamaknya/angels --> Al-malaaikatu = THE angels (bentuk definitnya) --> li adalah preposisi, maka al-malaa-ikatu majrur jadi al-malaa-ikati.
  • Inna = verily/sesungguhnya --> akhiran -y (artinya aku) pada inna (sehingga menjadi innii), adalah ism inna, dan jaa'ilun adalah khobar inna --> di terjemahannya ditambahkan kata "adalah"
  • Ja'ala = he made/dia telah menjadikan --> Jaa’ilun = maker/pencipta (ism fa'il = yang me-)
  • Fii = in/di dalam
  • Al-Ardlu = THE earth --> fii adalah preposisi, maka al-ardlu majrur jadi al-ardli.
  • Kholafa = he succeeded/dia telah menggantikan --> kholiifatun = a successor/seorang pengganti/seorang penerus --> Khulafaa-u = bentuk jamaknya/successors --> kholiifatun manshub (berakhiran "a"), berarti sebagai objek dari jaa'ilun --> harusnya ja'ala, tapi karena inna harus berupa ism inna dan khobar inna (mubtadak-khobar), maka kholiifatan adalah objeknya, seandainya berupa jumlah fi'liyah (kalimat berkata kerja).
  • Qoola = he said/dia telah berkata --> qooluu = they said/mereka telah berkata
  • A = apakah (merubah klausa berikutnya jadi kalimat tanya)
  • Ja'ala = he made/dia telah menjadikan --> taj’alu = you make/kamu menjadikan (fi'l mudloorik = present tense)
  • Fii = in/di dalam
  • Haa = her/dia
  • Man = who/barangsiapa yang
  • Fasada = he made mischief/dia telah berbuat kerusakan--> yafsudu = yufsidu = he makes mischief/dia berbuat kerusakan (fi'l mudloorik)
  • Safaka = he spilled/dia telah menumpahkan --> yasfiku = he spills/dia menumpahkan (fi'l mudloorik)
  • Damiya = he blooded/dia telah berdarah --> dammaa = a blood/darah --> dimaa-un = bentuk jamaknya/bloods --> ad-dimaa-u = THE bloods (bentuk definitnya)
  • Wa --> multitafsir, ada yang menafsirkan "dan" (meskipun begitu), ada yang "padahal"
  • Nahnu = we/kami
  • Sabbaha = he glorified/dia telah memahasucikan --> nusabbihu = we glorify/kami memahasucikan (fi'l mudloorik) --> dipakai hanya untuk Allah, yaitu ucapan Subhaanalloh, berupa kekaguman terhadap Allah dan rasa humble yang ekstrim di hadapan Allah
  • Bi = dengan
  • Hamida = he praised/dia telah memuji --> Hamdun = a praise/sebuah pujian (ism mashdar = gerund)
  • Ka = you/kamu
  • Qoddasa = he holified/dia telah mengkuduskan --> nuqoddisu = we holify/kami mengkuduskan (fi'l mudloorik)
  • La = for/bagi
  • Qoola = he said/dia telah berkata (fi'l ma-dlii)
  • Inna + y = innii --> akhiran -y berarti "aku", dan "aku" sebagai ism inna, a'lamu adalah khobar inna, dan di terjemahannya ditambahkan kata "adalah"
  • Laa = laa nafiyah (negasi)
  • 'Alima = he knew/dia telah tahu --> A'lamu = more/most knowledgeable/lebih tahu/paling tahu(ism tafdlil = lebih/paling) --> ta'lamuuna = you-all know/kalian tahu (fi'l mudloorik) --> laa ta'lamuuna = you-all don't know/kalian tidak tahu
  • Maa = apa yang
Wa idz qoola robbuka lil malaaikati innii jaa'ilun fil ardli kholiifah. Qooluu a taj'alu fiihaa man yufsidu fiihaa wa yasfikud dimaak. Wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqoddisu laka. Qoola innii a'lamu maa laa ta’lamuun

Inggris: And when your Lord said to THE angels "Verily I am a Maker of a successor in THE earth," we said "Do you make in her (the earth) he (a successor) who makes mischief in it and spill the bloods, whereas/and we glorify-with-a-praise You and we holify You?" He said "Verily, I am more knowledgeable (on) what you-all don't know."
Indonesia: Dan saat Robbmu telah berkata kepada para malaikat "Sesungguhnya Aku adalah seorang pencipta dari seorang kholifah di bumi", mereka berkata "Apakah Engkau menjadikan di dalamnya (bumi) dia (seorang kholifah) yang berbuat kerusakan di dalamnya dan menumpahkan darah, padahal/dan kami memahasucikan dengan pujian (kepada) Mu dan kami mengkuduskanMu?" Dia telah berkata "Sesungguhnya, Aku lebih tahu apa yang kalian tidak tahu."

Tujuan ayat

Tafsir Ibn Katsir: Di sini Allah menceritakan-ulang kebaikan Allah atas penciptaan Adam, memuliakan manusia di depan malaikat sebelum diciptakanNya.

Wa idz qoola robbuka lil malaaikati

Tafsir Ibn Katsir: Ini adalah perintah Allah kepada Muhammad untuk menceritakannya kepada umatnya.

Innii jaa’ilun fil ardli kholiifah

Kholifah = generasi

Tafsir Ibnu Katsir: kholifah adalah kaum yg menggantikan satu kaum lainnya, generasi demi generasi. Kholifah di ayat ini bukan hanya Adam (meskipun kholifatan adalah bentuk tunggal), tapi juga semua keturunannya, karena setelahnya, diceritakan "berbuat kerusakan dan menumpahkan darah".

Al An’aam 165: Wa huwal ladzii ja'alakum kholaa-ifal ardli (dan Dia adalah yang menjadikan kalian kholifah-kholifah bumi) wa rofa'a ba'dlokum fauqo ba'dlin darojaatin (dan Dia meninggikan sebagian kalian melebihi sebagian lainnya beberapa derajat) li yabluwakum fii maa aataakum (karena Dia ingin menguji kalian didalam apa yang Dia telah berikan pada kalian)

Tafsir Ibn Zaid: kalian dijadikan kholifah di bumi, artinya Allah menjadikan kalian tinggal di bumi, generasi demi generasi abad demi abad.

Az Zukhruf 60: Wa lau nasyaa-u la ja'alnaa min kum malaa-ikatan fil ardli yakhlufuuna (dan kalau Kami menghendaki, benar-benar Kami menjadikan malaikat-malaikat yang menggantimu di bumi).

An Naml 62: Wa yaj’alukum khulafaa-al ardli (dan Dia menjadikan kalian kholifah-kholifah di bumi).

Perbedaan derajat dalam sesama manusia

Tafsir Ibn Katsir: derajat sebagian orang ditinggikan, sebagian lain direndahkan (rizqi, tabiat, kualitas, jahat/baiknya, bentuk tubuh, warna kulit dll) sebagai ujian atas apa yang diterimanya tersebut.

Az Zukhruf 32: Nahnu qosamnaa bainahum ma'ii-syatahum fil hayaatid dun-yaa (Kami telah membagi di antara mereka penghidupan mereka di kehidupan dunia) wa rofa'naa ba'dlohum fauqo ba'dlin darojaatin li yattakhidza ba'dluhum ba'dlon sukhriyyan (dan Kami telah meninggikan derajat sebagian orang melebihi sebagian lain agar sebagian mereka memanfaatkan (mempekerjakan) yang lain).

Tafsir As Suddi: saling memberdayakan, karena saling membutuhkan

Al An'aam 133: In yasyaak yudzhibkum wa yastakhlif min ba'di kum maa yasyaak (kalau Dia berkehendak, Dia (bisa) menghancurkan kalian dan menggantikan (yastakhlif dari kata kholifah) dari setelah kalian barangsiapa yang Dia kehendaki) kamaa ansya-akum min dzurriyati qoumin aakhoriina (seperti barangsiapa yang Dia jadikan kalian dari keturunan kaum yang lain)

Tafsir Ibn Katsir: yaitu hancurnya suatu bangsa, digantikan oleh bangsa penerusnya.

Al A’roof 169: Fa kholafa min ba'dihim kholfun wari-tsul kitaaba (lalu dia (generasi soleh maupun tidak soleh di zaman sebelumnya) digantikan setelahnya oleh generasi yang mewarisi Alkitab) yakkhudzuuna 'arodlo haadzal adnaa (mereka memilih harta dunia ini) wa yaquuluuna sayughfaru lanaa (dan mereka berkata "Dia akan mengampuni atas kami")

Qooluu a taj’alu fiihaa mayyufsidu fiihaa wayasfikud dimaak, wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqoddisu laka

Tafsir Ibn Katsir: Malaikat berpendapat "tabiat manusia khan biasanya berbuat kerusakan dan menumpahkan darah?" Malaikat tahu itu karena Allah mencipta manusia dari tanah liat, bukan karena menentang Allah atau iri dengan Bani Adam.

Tafsir Al Qurthubi: Malaikat tahu itu karena mendengar kata kholifah yang artinya "orang yang memutuskan pertikaian di antara sesamanya, melarang ketidakadilan dan dosa"

Atsar Qotadah: Pertanyaan ini muncul karena malaikat ingin mempelajari apa kebijaksanaan Allah di balik itu, karena kalau alasannya agar Allah disembah, para malaikat memuji, mengagungkanNya, tidak pernah berbuat kerusakan.

Innii a’lamu maa laa ta’lamuun

Atsar Qotadah: Malaikat tidak tahu bahwa penciptaan kholifah (manusia) lebih banyak manfaat daripada mudlorotnya. Allah akan mengirim nabi dan rosul kepada manusia, juga orang jujur, syuhadak, orang beriman, ahli ibadah, orang zuhud, orang soleh, para pelajar yang mengimplementasikan ilmunya, orang tawadluk, dan yang cinta Allah dan mengikuti rosul-rosulNya.

Hadits berikut menjelaskan arti penggalan ayat ini:
Hadits shohih Muslim: dari Abu Huroiroh: dari Rosululloh: Para malaikat bergantian terhadap kalian, malam dan siang, mereka berkumpul saat sholat Shubuh dan 'Ashr. Mereka yang menghabiskan malam dengan kalian, lalu naik, dan Robb mereka menanyai mereka, meskipun Dia Mahatahu (jawabannya), "Bagaimana kalian meninggalkan hamba-hambaKu?" Mereka berkata "Kami meninggalkan mereka saat mereka sedang sholat dan kami mendatangi mereka saat mereka sedang sholat."

Atsar Ar Rozi: yaitu malaikat me-request untuk diizinkan menempati bumi, daripada ditempati manusia. Lalu Allah berkata "Aku lebih tahu dari kalian, bahwa kalian tinggal di langit itu lebih baik atau lebih buruk untuk kalian".