Tampilkan postingan dengan label Kisah Nabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Nabi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Juli 2010

Al Baqoroh ayat 71

AYAT 71: Qoola innahu yaquulu innahaa baqorotun laa dzaluulun tu-tsiirul ardlo wa laa tasqil hartsa, musallamatun laa syiyata fiihaa, qoolul aana jikta bil haqqi fa dzabahuuhaa wa maa kaaduu yaf'aluuna


  • Qoola = he said/dia telah berkata → yaquulu = he says/dia berkata (fi'l mudloorik = kata kerja present tense)
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti hu adalah ism inna, yaquulu adalah khobar inna
  • Hu = he/dia
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti haa adalah ism inna, baqorotun adalah khobar inna
  • Haa = she/dia
  • Baqorotun = a cow/seekor sapi betina
  • Laa → laa nafiyah (negasi)
  • Dzalla = he was low/dia telah rendah → dzillatun = humiliation/kehinaan → dzaluulun = subservient/dimanfaatkan
  • Tsaaro = he raised/dia telah menyemburatkan → atsaaro (wazan 4 = causative) = he ploughed/dia telah membajak → tu-tsiiru = she ploughs/dia membajak
  • Al-ardlu = THE earth → manshub jadi al-ardlo, berarti sebagai maf'ul (objek) dari tu-tsiiru
  • Wa = dan
  • Laa → laa nafiyah (negasi)
  • Saqoo = he watered/dia telah mengairi → tasqii = she waters/dia mengairi
  • Harotsa = he tilled/dia telah menggarap → hartsun = a tilth/sebuah ladang → al-hartsu = THE tilth (bentuk definitnya) → manshub jadi al-hartsa, berarti sebagai maf'ul dari tasqii
  • Salima = he was safe/dia telah selamat → sallama (wazan 2: causative): he made safe/dia telah membuat jadi selamat → musallamatun = sound/layak/tidak cacat (ism maf'ul = yang di-)
  • Laa → laa nafiyah (negasi)
  • Wasyiya = he painted/dia telah mengecat → syiyatan = a blemish/sebuah noda
  • Fii = in/di dalam
  • Haa = her/dia
  • Qoola = he said/dia telah berkata → qooluu = they said/mereka telah berkata
  • Al-aana = now/sekarang (dlorof zamaan) → semua dlorof harus manshub
  • Jaa-a = he came/dia telah datang → jikta = you came/kamu telah datang
  • Bi = with/dengan
  • Haqqun = a truth/suatu kebenaran → al-haqqu = THE truth (bentuk definitnya) → bi adalah preposisi, maka al-haqqu majrur jadi al-haqqi
  • Fa = then/lalu
  • Dzabaha = he sacrificed/dia telah menyembelih → dzabahuu = they sacrificed/mereka telah menyembelih
  • Maa → maa nafiyah (negasi)
  • Kaada = he was almost/dia telah hampir → kaaduu = they were almost/mereka telah hampir
  • Fa'ala = he did/dia telah melakukan → yaf'aluuna = they do/mereka melakukan
Qoola innahu yaquulu innahaa baqorotun laa dzaluulun tu-tsiirul ardlo wa laa tasqil hartsa, musallamatun laa syiyata fiihaa, qoolul aana jikta bil haqqi fa dzabahuuhaa wa maa kaaduu yaf'aluuna

Inggris: He said, "Verily He says: Verily she is a cow that is non-subservient ploughing THE earth and she doesn't water THE tilth, sound, no blemish in her." They said "Now you have come with THE truth." Then, they sacrificed her and they were almost not doing
Indonesia: Dia telah berkata "Sesungguhnya Dia berkata: Sesungguhnya dia adalah seekor sapi betina yang tidak dimanfaatkan membajak tanah dan dia tidak mengairi ladang tersebut, layak (tidak cacat), tidak ada noda di dalamnya." Mereka telah berkata "Sekarang Engkau telah menerangkan dengan kebenaran." Lalu mereka menyembelihnya dan mereka hampir tidak melakukan.

Laa dzaluulun tu-tsiirul ardlo wa laa tasqil hartsa

Tafsir Ibn Katsir: yaitu tidak dipakai dalam bercocok tanam, atau mengairi sawah, tapi sapi itu harus terhormat dan kelihatan layak.

Tafsir Al Qurthubi: laa dzaluulun (tidak dimanfaatkan) tu-tsirul ardlo (dia membajak tanah). Ada beberapa penafsir yang mengarikannya "tidak dimanfaatkan, tapi dia membajak tanah", tapi yang benar adalah tu-tsirul ardlo menjelaskan laa dzaluulun, sehingga diartikan "tidak dimanfaatkan membajak tanah", dan agar amannya, kadang-kadang diletakkan kata "untuk" di antaranya. Ahli tafsir banyak yang salah di klausa ini, karena klausa ini memang menjerumuskan kalau tidak jeli.

Musallamah

Atsar 'Abdur Rozzaq: dari Ma'mar: dari Qotadah, Abul 'Aliyah, Ar Robi' bin Anas, dan Mujahid: yaitu sapi betina yang tidak ada cacatnya.

Atsar 'Atho' Al Khurosani: yaitu kaki dan tubuhnya bebas dari cacat fisik.

Qoolul aana jikta bil haqqi, wa maa kaaduu yaf'aluuna

Atsar Adh Dhohhak: dari Ibn 'Abbas: mereka tidak mau menyembelihnya. Meskipun setelah semua pertanyaan dan jawaban tentang deskripsi sapi betina ini, Bani Isroil tetap enggan menyembelih sapi betina itu. Ayat-ayat ini bertujuan mengutuk perilaku mereka yang tujuannya hanya untuk keras kepala, dan inilah kenapa mereka hampir tidak menyembelih sapi betina itu.

Atsar 'Ubaidah, Mujahid, Wahb bin Munabbih, Abul 'Aliyah, dan 'Abdurrohman bin Zaid bin Aslam: Bani Isroil membeli sapi betina tersebut dengan uang yang sangat banyak.

Rabu, 14 Juli 2010

Al Baqoroh ayat 70

AYAT 70: Qoolud'u lanaa robbaka yubayyin lanaa maa hiya, innal baqoro ta-syaabaha 'alaina, wa innaa in syaa-alloohu la muhtaduuna
  • Qoola = he said/dia telah berkata → qooluu = they said/mereka telah berkata
  • Da'aa = he invoked/dia telah menyeru/dia telah berdoa → ud'u = you invoke!/kamu serulah/kamu berdoalah
  • La = for/bagi
  • Naa = us/kami
  • Robbun = Lord → manshub jadi robban, berarti posisinya adalah maf'ul (objek) dari ud'u
  • Ka = you/kamu → robban hilang tanwin jadi robba, berarti ka adalah mudlof ilaih (pemilik) dari robba
  • Bayanu = he separated/dia telah membedakan → bayyanu (wazan 2: causative): he made clear/dia telah membuat jadi jelas → yubayyinu = he makes clear/dia membuat jadi jelas → karena klausa ini adalah jussive, maka yubayyinu berubah menjadi yubayyin
  • Maa = what/apa yang (ism maushul=relative pronoun)
  • Hiya = she/dia → jenis kelamin perempuan, yaitu mengacu pada baqorotun yang berjenis kelamin perempuan.
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti al-baqoro adalah ism inna, tasyaabaha 'alaina adalah khobar inna
  • Baqorotun = a cow/seekor sapi betina → baqorun = a cow/seekor sapi betina (kata benda ini berjenis kelamin lelaki, meskipun sapinya betina) → al-baqoru = THE cow (bentuk definitnya) → karena posisinya sebagai ism inna, maka harus manshub jadi al-baqoro
  • Syabaha = he was alike/dia telah mirip → syaabaha (wazan 6: saling) = he looked like each other/dia telah saling menyerupai → tasyaabaha = he looks like each other/dia saling menyerupai
  • 'Alaa = upon/atas
  • Naa = us/kami → 'alaa+naa = 'alaina
  • Wa = dan
  • Innaa = verily we/sesungguhnya kami → berarti "kami" adalah ism inna, la muhtaduuna adalah khobar inna
  • In = if/jika (ism syaroth = kata syarat)
  • Syaa-a = he willed/menghendaki → sehingga Allah marfu' jadi alloohu, karena sebagai fa'il (subjek) dari syaa-a
  • La = surely/pastilah (partikel empati)
  • Hadaa = he guided/dia telah menunjukkan → ihtadaa (wazan 8: refleksif/pasif) = he was guided/dia telah ditunjukkan → muhtadun = one who is guided/orang yang diberi petunjuk (ism fa'il = yang me-) → al-muhtaduuna = those who are guided (bentuk jamaknya)
Qoolud'u lanaa robbaka yubayyin lanaa maa hiya, innal baqoro ta-syaabaha 'alaina, wa innaa in syaa-alloohu la muhtaduuna

Inggris: They said, "You invoke your Lord for us (that) He made clear for us what is her (the cow)! Verily the cow looked alike upon us, and verily we, if Allah wills, surely be those who are guided."
Indonesia: Mereka telah berkata "Kamu berdoalah kepada Robbmu untuk kami (agar) Dia menjelaskan untuk kami (seperti) apa dia (sapi itu)! Sesungguhnya sapi betina tersebut telah nampak serupa atas kami, dan sesungguhnya kami, jika Allah menghendaki, pastilah menjadi orang-orang yang ditunjukkan (ke jalan yang benar)."

Innal baqoro ta-syaabaha 'alaina

Tafsir Ibn Katsir: karena sapi betina ada banyak, maka deskripsikan sapi ini lebih jauh lagi.

Wa innaa insyaa-alloohu

Tafsir Ibn Katsir: yaitu, jika Allah mendeskripsikan lebih jauh kepada kami.

Al Baqoroh ayat 69

AYAT 69: Qoolud'u lanaa robbaka yubayyin lanaa maa launuhaa, qoola innahuu yaquulu innahaa baqorotun shofroo-u faaqi'un launuhaa tasurrun naa-dhiriina
  • Qoola = he said/dia telah berkata → qooluu = they said/mereka telah berkata
  • Da'aa = he invoked/dia telah menyeru/dia telah berdoa → ud'u = you invoke!/kamu serulah/kamu berdoalah (fi'l 'amr = kata kerja perintah)
  • La = for/bagi
  • Naa = us/kami
  • Robbun = Lord → manshub jadi robban, berarti posisinya adalah maf'ul (objek) dari ud'u
  • Ka = you/kamu → robban hilang tanwin jadi robba, berarti ka adalah mudlof ilaih (pemilik) dari robba
  • Bayanu = he separated/dia telah membedakan → bayyanu (wazan 2: causative): he made clear/dia telah membuat jadi jelas → yubayyinu = he makes clear/dia membuat jadi jelas → karena klausa ini adalah jussive, maka yubayyinu berubah menjadi yubayyin
  • Maa = what/apa yang (ism maushul=relative pronoun)
  • Launun = a color/suatu warna (jamaknya = alwaanun)
  • Haa = her/dia → jenis kelamin perempuan, mengacu pada baqorotun yang berjenis kelamin perempuan → launun hilang tanwin jadi launu, berarti haa adalah mudlof ilaih (pemilik) dari launu
  • Qoola = he said/dia telah berkata
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti hu adalah ism inna, yaquulu adalah khobar inna
  • Qoola = he said/dia telah berkata → yaquulu = he says/dia berkata
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti haa adalah ism inna, baqorotun shofroo-u faaqi'un launuhaa tasurrun nadhiriina adalah khobar inna
  • Baqorotun = a cow/seekor sapi betina
  • Shofroo-u = yellow/kuning → sama-sama naqiroh (definit noun), mufrod (tunggal), mudzakkar (lelaki), dan marfu' dengan baqorotun, berarti shofroo-u adalah na'at (sifat) dari baqorotun
  • Faaqi'un = bright/cerah → sama-sama naqiroh, mufrod, mudzakkar, dan marfu' dengan shofroo-u, berarti faaqi'un adalah na'at kedua dari shofroo-u
  • Sarro = he pleased/dia telah menarik → tasurru = she pleases/dia menarik
  • Nadhoro = he observed/dia telah mengamati → nadhirun = an observer/yang memandang → an-nadhiruuna = THE observers (bentuk jamak definitnya)
Qoolud'u lanaa robbaka yubayyin lanaa maa launuhaa, qoola innahuu yaquulu innahaa baqorotun shofroo-u faaqi'un launuhaa tasurrun naa-dhiriina

Inggris: They said "You invoke your Lord for us (that) He makes clear for us what is her color." He said, "Verily He said: Verily she is a bright yellow colored cow, she pleases THE observers.
Indonesia: Mereka telah berkata "Kamu berdoalah kepada Robbmu untuk kami (agar) Dia menjelaskan untuk kami apa warnanya. Dia telah berkata, "Sesungguhnya Dia berkata: Sesungguhnya dia adalah sapi betina yang warnanya kuning cerah, dia menarik (bagi) orang-orang yang mengamati.

Innahaa baqorotun shofroo-u faaqi'un launuhaa

Atsar Al 'Aufi: dari Ibn 'Abbas: putih yang sangat kekuning-kuningan.

Tafsir Ibn Katsir: Taurot modern mengatakan warna sapinya merah, dan ini salah.

Tasurrun naa-dhiriina

Atsar As Suddi, Abul 'Aliyah, Qotadah, dan Ar Robi' bin Anas: sapi itu menarik bagi orang-orang yang melihatnya.

Atsar Wahb bin Munabbih: Kalau kulitnya dilihat, kamu akan mengira sinar matahari memancar melalui kulitnya.

Al Baqoroh ayat 68

AYAT 68: Qoolud'u lanaa robbaka yubayyin lanaa maa hiya, qoola innahuu yaquulu innahaa baqorotun laa faari-dlun wa laa bikrun, 'awaanun baina dzaalika, faf'aluu maa tukmaruuna
  • Qoola = he said/dia telah berkata → qooluu = they said/kami telah berkata
  • Da'aa = he invoked/dia telah menyeru/dia telah berdoa → ud'u = you invoke!/kamu serulah/kamu berdoalah
  • La = for/bagi
  • Naa = us/kami
  • Robbun = Lord → manshub jadi robban, berarti posisinya adalah maf'ul (objek) dari ud'u
  • Ka = you/kamu → robban hilang tanwin jadi robba, berarti ka adalah mudlof ilaih (pemilik) dari robba
  • Bayanu = he separated/dia telah membedakan → bayyanu (wazan 2: causative): he made clear/dia telah membuat jadi jelas → yubayyinu = he makes clear/dia membuat jadi jelas → karena klausa ini adalah jussive, maka yubayyinu berubah menjadi yubayyin
  • Maa = what/apa yang (ism maushul=relative pronoun)
  • Hiya = she/dia → jenis kelamin perempuan, yaitu mengacu pada baqorotun yang berjenis kelamin perempuan.
  • Qoola = he said/dia telah berkata
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti hu adalah ism inna, yaquulu adalah khobar inna
  • Qoola = he said/dia telah berkata → yaquulu = he says/dia berkata
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti haa adalah ism inna, baqorotun laa faari-dlun wa laa bikrun 'awaanun baina dzaalika adalah khobar inna.
  • Haa = her/dia → jenis kelamin perempuan, yaitu baqorotun
  • Baqorotun = a cow/seekor sapi betina
  • Laa → laa nafiyah (negasi)
  • Farodlo = he ordained/dia telah mewajibkan → fariidlotun = an obligation/suatu kewajiban, sedangkan faaridlun = an old/tua
  • Wa = dan
  • Bukrotun = morning/pagi (setelah fajar shiddiq, sebelum matahari terbit) → bikrun = young/muda
  • 'Awaanun = a middle age/suatu usia pertengahan
  • Bayanu = he separated/dia telah memisahkan → bainun = between (dlorof makaan = kata keterangan tempat) → majrur jadi bainan, karena sebagai dlorof
  • Dzaalika = that/itu → bainan hilang tanwin jadi baina, berarti dzaalika adalah mudlof ilaih dari baina
  • Fa = then/lalu
  • Fa'ala = he did/dia telah melakukan → if'aluu = you-all do!/kalian lakukanlah! (fi'l 'amr = kata kerja perintah)
  • Maa = what/apa yang
  • Amaro = he commanded/dia telah menyuruh → takmuruuna = you-all command/kalian menyuruh → tukmaruuna = you-all are commanded/kalian disuruh
Qoolud'u lanaa robbaka yubayyin lanaa maa hiya, qoola innahu yaquulu innahaa baqorotun laa faari-dlun wa laa bikrun, 'awaanun baina dzaalika, faf'aluu maa tukmaruuna

Inggris: They said, "You invoke your Lord for us, (that) he makes clear for us what is her (what kind of cow)!" He said, "Verily He says: Verily she is a cow, not old and not young, middle-aged between that. Then you-all do what you-all are commanded!"
Indonesia: Mereka telah berkata "Kamu berdoalah kepada Robbmu untuk kami (agar) Dia menjelaskan bagi kami (seperti) apa dia (sapinya)." Dia berkata, "Sesungguhnya Dia berkata: Sesungguhnya dia adalah seekor sapi betina, tidak tua dan tidak muda, usia pertengahan antara itu. Lalu kalian kerjakanlah apa yang kalian disuruh!"

Qoolud'u lanaa robbaka yubayyin lanaa maa hiya

Tafsir Ibn Katsir: yaitu sapi betina apa ini dan seperti apa deskripsinya.

Atsar Ibn Abbas dan 'Ubaidah: Allah menyebutkan keras kepalanya Bani Isroil dan banyaknya pertanyaan tidak penting yang mereka tanyakan kepada rosul-rosul mereka. Saat mereka keras kepala, Allah membuat ketetapan yang sulit untuk mereka. Kalau mereka menyembelih sembarang sapi betina, itu sudah cukup bagi mereka. Tapi mereka membuat permasalahannya jadi sulit, dan inilah kenapa Allah membuatnya lebih sulit bagi mereka.

Qoola innahu yaquulu innahaa baqorotun laa faari-dlun wa laa bikrun

Atsar Abul 'Aliyah, As Suddi, Mujahid, 'Ikrimah, 'Atiyah Al 'Afwi, 'Atho', Al Khurosani, Wahb bin Munabbih, Adh Dhohhak, Al Hasan Al Bashri, Qotadah, dan Ibn 'Abbas: yaitu sapi yang tidak tua, dan tidak di bawah usia reproduksi.

'Awaanun baina dzaalika

Atsar Adh Dhohhak: dari Ibn 'Abbas: tidak tua dan tidak muda, tapi di usia saat sapi betina itu paling kuat dan paling sehat.

Selasa, 13 Juli 2010

Al Baqoroh ayat 67

AYAT 67: Wa idz qoola muusaa li qoumihi innallaaha yakmurukum an tadzbahuu baqorotan, qooluu atatta-khi-dzunaa huzuwan, qoola a'uudzubillaahi an akuuna minal jaahiliina
  • Wa = dan
  • Idz = when/saat (past tense)
  • Qoola = he said/dia telah berkata
  • Muusaa → maf'ul (subjek) dari qoola
  • Li = to/kepada
  • Qoumun = a people/suatu kaum → li adalah preposisi, maka qoumun majrur jadi qoumin
  • Hu = him/dia → qoumin hilang tanwin jadi qoumi, dan hu majrur jadi hi, berarti hi adalah mudlof ilaih (pemilik) dari qoumi
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti Allah adalah ism inna, yakmurukum adalah khobar inna, dan di terjemahannya ditambahkan kata "adalah"
  • Allah manshub jadi Allooha karena posisinya sebagai ism inna
  • Amaro = he commanded/dia telah menyuruh → yakmuru = he commands/dia menyuruh (fi'l mudloorik = kata kerja present tense)
  • Kum = you-all/kalian
  • An = that/bahwa
  • Dzabaha = he sacrificed/dia telah menyembelih → tadzbahuuna = you-all sacrifice/kalian menyembelih (fi'l mudloorik) → karena ada an, maka tadzbahuuna harus dalam format subjunctive menjadi tadzbahuu
  • Baqorotun = a cow/seekor sapi betina → manshub jadi baqorotan, berarti posisinya adalah maf'ul (objek) dari tadzbahuu
  • Qoola = he said/dia telah berkata → qooluu = they said/mereka telah berkata
  • A = apakah (ism istifham=kata tanya)
  • Akhodza = he seized/dia telah mengambil → ittakhodza (wazan 8=pasif/refleksif) = he took/dia telah mengambil → tattakhidzu = you take/kamu mengambil
  • Naa = us/kami
  • Haza-a = he mocked/dia telah mengolok-olok → huzuwun = mockery/olok-olokan
  • 'Aadza = he seek protection/dia berlindung → a'uudzu = I seek protection/aku telah berlindung
  • Bi = with/kepada
  • Allah majrur jadi allaahi karena bi adalah preposisi
  • An = that/bahwa
  • Kaana = he was/dia → akuunu = I am (fi'l mudloorik = present tense verb) → karena ada an, maka akuunu harus format subjunctive menjadi akuuna
  • Min = from/dari → karena al-jaahiliina berawalan vokal, maka min jadi mina
  • Jahala = he was ignorant/dia telah bodoh → jaahilun = an ignorant/seorang yang bodoh → al-jaahilu = THE ignorant (bentuk definitnya) → al-jaahiluuna = THE ignorants (bentuk jamaknya) → min adalah preposisi, maka al-jaahiluuna majrur jadi al-jaahiliina
Wa idz qoola muusaa li qoumihi innallaaha yakmurukum an tadzbahuu baqorotan, qooluu atatta-khi-dzunaa huzuwan, qoola a'uudzubillaahi an akuuna minal jaahiliina


Inggris: And (remember) when Musa said to his people, "Verily Allah commands you-all that you-all sacrifice a cow." They said "Do you take us a mockery?" He said "I seek refuge to Allah that I am from THE ignorants".
Indonesia: Dan (ingatlah) saat Musa telah berkata kepada kaumnya, "Sesungguhnya Allah menyuruh kalian bahwa kalian menyembelih seekor sapi betina". Mereka telah berkata "Apakah kamu menjadikan kami olok-olokan?" Dia telah berkata "Aku telah berlindung kepada Allah bahwa aku adalah dari orang-orang yang bodoh."

Tujuan ayat

Tafsir Ibn Katsir: Allah mengingatkan Bani Isroil bagaimana Dia merahmati mereka dengan mukjizat sapi betina sebagai sarana untuk menemukan identitas pembunuh, saat orang yang dibunuh dihidupkan kembali.

Kisah di balik penyembelihan sapi betina

Atsar Ibn Abi Hatim dan Ibn Jarir: dari 'Ubaidah As Salmani: Ada seorang lelaki Bani Isroil yang impoten tapi kaya dan hanya satu keponakannya (anak lelaki dari saudara lelakinya) yang akan mendapat warisannya. Lalu keponakannya membunuhnya dan memindah mayatnya malam hari, ditaruh di depan pintu rumah seseorang. Paginya, sang keponakan menangis ingin balas dendam dan orang-orang mengambil senjata mereka dan hampir saling membunuh. Seorang bijaksana di antara mereka berkata "Mengapa kamu saling membunuh padahal rosul Allah masih di antara kita" lalu mereka mendatangi Musa dan menceritakan permasalahannya ke dia, dan Musa berkata "Sesungguhnya, Allah menyuruh kalian agar kalian menyembelih seekor sapi betina."Mereka bertanya "Apakah kamu menjadikan kami olok-olokan?" Dia berkata "Aku telah berlindung kepada Allah bahwa aku adalah dari orang-orang bodoh". Seandainya mereka tidak berselisih, akan cukup bagi mereka untuk menyembelih sembarang sapi betina. Tapi mereka berselisih, dan permasalahannya dijadikan lebih sulit bagi mereka, sampai mereka berakhir mencari sapi tertentu yang lalu mereka disuruh menyembelih. Mereka menemukan sapi betina yang dimaksud bersama seorang lelaki yang satu-satunya pemilik sapi betina itu. Dia berkata "Demi Allah, Aku hanya menjualnya seharga emas yang memenuhi kulitnya". Lalu mereka membayar seluas kulit sapi betina itu dengan emas, menyembelihnya dan menyentuhkan orang mati itu dengan sebagian darinya. Dia berdiri, dan mereka menanyainya, "Siapa yang membunuhmu?" Dia berkata "Lelaki itu" dan menunjuk keponakannya. Dia mati lagi dan keponakannya tidak diizinkan mendapat warisannya.

Minggu, 04 Juli 2010

Al Baqoroh ayat 60

Nikmat Allah kepada Bani Isroil: 7. Memancarnya 12 mata air dari batu

AYAT 60: Wa idzis tasqoo muusaa li qoumihii faqulnadlrib bi 'ashookal hajaro, fanfajarot minhuts nataa'asyrota 'ainan. Qod 'alima kullu unaasin masyrobahum. Kuluu wasyrobuu min rizqillaahi walaa ta'tsau fil ardli mufsidiina

  • Wa = dan
  • Idz = when/saat (untuk past tense)
  • Saqoo = he watered/dia telah memberi minum → istasqoo (wazan 10: meminta agar saqoo terlaksana) = he asked for water/dia telah minta minum
  • Muusaa → sebagai fa'il (subjek) dari istasqoo
  • Li = for/untuk
  • Qoumun = a people/suatu kaum → li adalah preposisi, maka qoumun majrur jadi qoumin
  • Hu = he/dia → hu majrur jadi hi dan qoumin hilang tanwin jadi qoumi, berarti hu adalah mudlof ilaih (pemilik) dari qoumi
  • Fa = then/lalu
  • Qoola = he said/dia telah berkata → qulnaa = we said/kami telah berkata
  • Dluriba = he set forth/dia telah mengemukakan → idlrib = you strike!/kamu pukullah (fi'l 'amr = kata kerja perintah)
  • Bi = with/dengan
  • 'Ashoo (akhiran "y" memanjangkan "sho") = he disobey/dia telah durhaka → 'Ashoo (dalam penulisan yang sama) = sebuah staff/tongkat → bi adalah preposisi, maka 'ashoo (akhiran "y") majrur jadi 'ashoo (akhiran "a", meskipun bacanya sama-sama 'ashoo, beda di penulisan)
  • Ka = you/kamu → ka adalah mudlof ilaih dari 'ashoo (dengan akhiran "a") meskipun 'ashoo tidak bisa hilang tanwin
  • Hajarun = a stone/sebuah batu → al-hajaru = THE stone (bentuk definitnya) → manshub jadi al-hajaro, berarti posisinya adalah sebagai maf'ul (objek) dari idlrib
  • Fajaro = he gushed forth/dia telah muncrat → Infajarot (wazan 7: pasif) = SHE was gushed forth/dia telah terpancar
  • Min = from/dari
  • Hu = he/dia
  • Itsnaa 'asyaro = 12 (jenis kelamin: lelaki) → itsnataa 'asyarota = 12 (jenis kelamin: wanita) → menjadi fa'il, yaitu "she", dari infajarot
  • 'Ainun = a spring/sebuah mata air → jenis kelamin: wanita, sehingga cocok dengan itsnataa 'asyarota (wanita) → 'ainun manshub jadi 'ainan, berarti posisinya adalah sebagai Haal (kata keterangan)
  • Qod = indeed/sungguh
  • 'Alima = he knew/dia telah tahu (fi'l ma-dlii = kata kerja past tense)
  • Kullun = every/setiap → tetap marfu' (berakhiran "u") berarti posisinya adalah fa'il dari 'alima
  • Insanun = a mankind/seorang manusia → unaasun = mankinds (bentuk jamaknya) → unaasun majrur jadi unaasin, kullun hilang tanwin jadi kullu, berarti unaasin adalah mudlof ilaih dari kullu
  • Syariba = he drank/dia telah minum → masyrobun = drinking place (ism makan, kata benda tempat) → manshub jadi masyroban, berarti posisinya adalah maf'ul dari 'alima
  • Hum = they/mereka → masyroban hilang tanwin jadi masyroba, berarti hum adalah mudlof ilaih dari masyroba
  • Akala = he ate/dia telah makan → kuluu = you-all eat!/kalian makanlah
  • Syariba = he drank/dia telah minum → isyrobuu = you-all drink!/kalian minumlah
  • Rizqun = a provision/suatu rizqi → min adalah preposisi, maka rizqun majrur jadi rizqin
  • Allah majrur jadi alloohi dan rizqin hilang tanwin jadi rizqi, berarti alloohi adalah mudlof ilaih dari rizqi
  • Laa → laa nahiyah (larangan)
  • 'Atsaa (akhiran "w" yang memanjangkan "tsa") = he acted wickedly/dia telah berbuat jahat → ta'tsau = you-all act wickedly/kalian berbuat jahat (fi'l mudloorik = kata kerja present tense) → karena ada laa, maka berubah jadi jussive, sehingga ta'tsau ditambahkan alif di akhir (yang tetap dibaca ta'tsau)
  • Fii = in/di dalam
  • Al-ardlu = THE earth (bentuk definit) → fii adalah preposisi, maka al-ardlu majrur jadi al-ardli
  • Fasada = he made mischief/dia telah berbuat kerusakan → mufsiduuna = mischief-makers/pembuat kerusakan (ism fa'il = yang me-) → manshub jadi mufsidiina, berarti posisinya adalah haal (kata keterangan), artinya mischief-makersly/secara pembuat kerusakan
Wa idzis tasqoo muusaa li qoumihii faqulnadlrib bi 'ashookal hajaro, fanfajarot minhuts nataa 'asyrota 'ainan, qod 'alima kullu unaasin masyrobahum. Kuluu wasyrobuu min rizqillaahi walaa ta'tsau fil ardli mufsidiina

Inggris: And (remember) when Musa asked for water for his people, then *We* said "You strike THE stone with your staff", then 12 springs gushed forth from him (the stone), indeed every mankinds knew their drinking place. You all eat and you-all drink from Allah's provision! And don't you-all act wickedly in THE earth mischief-makersly
Indonesia: Dan (ingatlah) saat Musa telah minta minum untuk kaumnya, lalu *Kami* berkata "Kamu pukullah batu tersebut dengan tongkatmu," lalu 12 mata air memancar darinya (batu itu), sungguh setiap orang telah tahu tempat minum mereka. Kalian makanlah dan kalian minumlah dari rizqi Allah, dan kalian jangan berbuat jahat di bumi dengan berbuat kerusakan.

Makna ayat

Tafsir Ibn Katsir: Ingatlah nikmatKu kepada kalian saat Aku menjawab doa rosul kalian, Musa, saat dia memintaKu air untuk kalian. Aku menjadikan air tersedia untuk kalian membuatnya memancar lewat sebuah batu. 12 mata air memancar dari batu itu, masing-masing untuk setiap suku kalian. Kalian makan Al-Manna dan burung puyuh dan minum dari air yang Aku sediakan untuk kalian, tanpa kalian perlu berupaya atau kesulitan. Maka, beribadahlah kepada Yang Mahaesa yang melakukannya untuk kalian.

Faqulnadlrib bi 'ashookal hajaro, fanfajarot minhuts nataa 'asyrota 'ainan, qod 'alima kullu unaasin masyrobahum

Atsar An Nasa-i, Ibn Jarir, dan Ibn Abi Hatim: dari Ibn 'Abbas: Musa diperintah memukul sebuah batu kotak dengan tongkatnya, dan hasilnya 12 mata air memancar dari batu itu, 3 di setiap sisinya. Setiap suku menunjuk mata air tertentu, dan mereka biasanya minum dari mata air mereka.

Al A'roof 160: Wa qoththo’naa humuts natai 'asyrota (dan Kami membagi mereka 12) asbaathon umaman (suku yg (masing2) berjumlah besar), wa auhainaa ilaa muusaa (dan Kami mewahyukan kepada Musa) idzis tasqoohu qoumuhuu (saat kaumnya minta air kepadanya) anidlrib bi ashookal hajaro (agar memukul batu dengan tongkatmu), fanbajasat minhuts nataa 'asyrota 'ainan (maka 12 mata air memancar darinya), qod 'alima kullu unaasin masyrobahum (sungguh setiap orang telah tahu tempat minum mereka)

Al A'roof 160 diturunkan di Makkah, sehingga Allah menyebut Bani Isroil sebagai mereka (orang ketiga). Sedangkan Al Baqoroh diturunkan di Madinah dan ditujukan untuk Yahudi Madinah sehingga menyebut Bani Isroil sebagai kalian (orang kedua).

Wa laa ta'tsau fil ardli mufsidiina

Tafsir Ibn Katsir: yaitu, jangan membalas kebaikan ini dengan berbuat maksiat yang membuat kebaikan itu dicabut.

Selasa, 17 Maret 2009

Al Baqoroh ayat 55

Nikmat Allah kepada Bani Isroil : 4. Allah mengampuni dosa mereka "ingin melihat Allah" dan mereka menyaksikan teman-temannya mati dihidupkan lagi

AYAT 55: Wa idz qultum yaa muusaa lan nukmina laka hattaa narollooha jahrotan fa akhodzatkumush shoo'iqotu wa antum tandhuruuna

  • Wa = dan
  • Idz = when/saat (untuk past tense)
  • Qoola = he said/dia telah berkata → qultum = you-all said/kalian telah berkata
  • Yaa = O/wahai → kata nidak, untuk memanggil dalam bahasa Arab
  • Lan = will never/takkan
  • Amina = he felt secure/dia merasa aman → aamana (wazan 4: causative) = he believed/dia telah percaya → nukminu = we believe/kami percaya (fi'l mudloorik = present tense) → karena ada lan, maka berubah jadi nukmina (bentuk subjunctive)
  • La = unto/kepada
  • Ka = you
  • Hattaa = until/sampai
  • Ro-aa (akhiran 'y' untuk memanjangkan 'a') = he saw/dia telah melihat → naroo = we see/kami melihat (fi'l mudloorik) → bentuk subjunctive-nya (karena lan) tetap naroo → Allah manshub jadi Allooha, berarti Allah sebagai maf'ul (objek) dari naroo
  • Jaharo = he publicized/dia menyatakan → jahrotan = publicly/dengan jelas (manshub, karena posisinya sebagai Haal/kata keterangan)
  • Fa = then/lalu
  • Akhodza = he seized/dia telah mengambil → Akhodzat = she seized/dia telah mengambil
  • Kum = you-all/kalian
  • Shoo'iqotun = a thunderbolt/sebuah halilintar → ash-shoo'iqotu = THE thunderbolt bentuk definitnya) → marfu' (berakhiran 'u') dan jenis kelamin perempuan (akhiran tak marbuthoh), berarti berposisi sebagai "she" dalam akhodzat
  • Antum = you-all/kalian
  • Nadhoro = he looked/dia telah mengamati → Tandhuruuna = you-all look/kalian mengamati
Wa idz qultum yaa muusaa lan nukmina laka hattaa narollooha jahrotan fa akhodzatkumush shoo'iqotu wa antum tandhuruuna

Inggris: And (remember) when you-all said "O Musa, We will never believe unto you until we see Allah publicly, then THE thunderbolt seized you-all and you-all look.
Indonesia: Dan (ingatlah) saat kalian berkata "Wahai Musa, kami takkan percaya kepadamu sampai kami melihat Allah dengan nyata", lalu halilintar telah mengambil (nyawa) kalian dan kalian mengamati.

Wa idz qultum yaa muusaa lan nukmina laka hattaa narollooha jahrotan

Atsar Ibn Juroij: Ingatlah nikmatKu kepada kalian saat membangkitkan kalian setelah kalian disambar halilintar saat kalian meminta melihatku langsung, dan kalian atau siapapun tidak akan menyaksikan atau melakukannya.

Atsar Ibn Abbas: yaitu sampai kami bisa menatap Allah.

An Nisaak 153: Fa qooluu arinallaaha jahrotan (Lalu mereka telah berkata "Perlihatkan kami Allah secara nyata!") fa akho-dzathumush shoo’iqotu bi dhulmihim (lalu mereka tertimpa petir karena kedholiman mereka).

Al A'roof 155: Wakhtaaro muusaa qoumahuu (dan Musa memilih (dari) kaumnya) sab'iina rojulan li miiqootinaa (70 lelaki untuk perjanjian Kami)

Tafsir Ibn Katsir: Allah memberitahu Musa, 70 orang itu adalah orang-orang yang menyembah anak sapi.

Atsar As Suddi: Allah menyuruh Musa datang dengan 70 lelaki Bani Isroil, meminta maaf karena menyembah anak sapi, dan Allah menjanjikan (appointment) mereka waktu dan tempat. Lalu mereka berkata ingin melihat Allah dengan nyata, lalu mereka disambar halilintar dan mati, Musa berdiri menangis, berdoa kepada Allah, "Wahai Robb, apa yang sebaiknya aku katakan kepada Bani Isroil saat aku kembali kepada mereka setelah Engkau menghancurkan orang-orang terbaik mereka?"

Atsar Abdurrohman bin Zaid bin Aslam: Musa kembali dari pertemuan dengan Robbnya, membawa lauh-lauh dimana dia menulis Taurot. Dia melihat mereka menyembah anak sapi saat dia tidak ada. Maka dia menyuruh mereka membunuh di antara mereka sendiri, lalu mereka menurut, dan Allah memaafkan mereka. Dia berkata kepada mereka, "Lauh-lauh ini berisi Kitab/Ketetapan Allah, berisi apa yang Dia perintah kepada kalian, dan apa yang Dia larang kepada kalian" Mereka berkata "Apakah kami sebaiknya percaya kalimat ini karena kamu mengatakan Demi Allah? Kami tidak akan percaya sampai kami melihat Allah secara nyata, sampai Dia menunjukkan diriNya sendiri dan berkata 'Ini adalah kitab/ketetapanKu, maka, taatilah dia'. Kenapa Dia tidak berkata kepada kami seperti Dia berkata kepadamu, wahai Musa?" Lalu Allah menurunkan murkanya kepada mereka, sebuah halilintar menyambar mereka, dan mereka semua mati. Lalu Allah menghidupkan mereka setelah Dia membunuh mereka. Lalu Musa berkata kepada mereka "Ambillah buku/ketetapan Allah!" Mereka berkata "Tidak!" Dia berkata "Ada apa dengan kamu?" Mereka berkata "Masalahnya, kami telah mati dan telah kembali hidup." Dia berkata "Tidak", lalu Allah mengirim beberapa malaikat yang membuat gunung berada di atas mereka.

Fa akhodzatkumush shoo'iqotu

Al A'roof 155: Fa lammaa akhodzathumur rojfatu (lalu saat mereka mengalami gempa bumi)qoola robbi lau syikta ahlakta hum min qoblu wa iyyaya (dia berkata "Robbku, seandainya Engkau mau, Engkau telah menghancurkan mereka dari sebelumnya dan aku) a tuhlikunaa bi maa fa'alas sufahaa-u minnaa (apakah Engkau menghancurkan kami karena apa yang orang-orang bodoh di antara kami itu telah lakukan?) In hiyaa illaa fitnatuka (itu bukanlah melainkan cobaanMu) tudlillu bihaa min tasyaa-u wa tahdi man tasyaa-u (Engkau menyesatkan dengannya barangsiapa yang Engkau mau, dan Engkau menunjukkan (ke jalan benar) dengannya barangsiapa yang Engkau mau) anta waliyyunaa (Engkau adalah kawan panutan yang didengarkan) faghfir lanaa warhamnaa wa anta khoirul ghoofiriina (lalu ampunilah kami dan rahmati kami dan Engkau adalah maha pemaaf yang terbaik)
Atsar Muhammad bin Ishaq: Musa memilih 70 lelaki terbaik Bani Isroil. Dia berkata kepada mereka "Pergilah kepada pertemuan dengan Allah, dan bertobatlah terhadap apa yang telah kalian lakukan. Mohonlah ampunanNya untuk mereka yang kalian tinggalkan. Puasalah, sucikan diri kalian, dan cucilah pakaian kalian." Lalu dia pergi dengan mereka ke Gunung Thur di Sinai dengan waktu dan tempat yang telah ditentukan Robbnya. Dia pergi ke sana hanya atas izin dan pengetahuan Allah. Saat 70 ini melakukan apa yang diperintahkan Musa, dan pergi dengannya untuk perjumpaan Musa dengan Robbnya, mereka berkata "Mintalah agar kami juga bisa mendengar kata-kata Robb kami!" Lalu dia menjawab "Oke". Saat Musa mencapai gunung, awan-awan semakin menutupi. Musa mendekatinya dan memasukinya. Dia berkata kepada orang-orang "Mendekatlah", tapi saat Allah berkata kepada Musa, jubahnya dikelilingi cahaya terang yang tidak ada manusia yang kuat melihatnya, maka dibawahnya diletakkan penghalang dan orang-orang mendekat. Saat mereka masuk awan, mereka jatuh tersujud dan mereka mendengarNya saat Dia berbicara kepada Musa, menyuruhnya, melarangnya, mengatakan apa yang harus dilakukan, apa yang jangan. Saat Dia selesai menyuruhnya, dan menghilangkan awan dari Musa, dia menghadap orang-orang dan mereka berkata "Wahai Musa, kami tidak akan percaya sama kamu kecuali kalau kami melihat Allah langsung." Lalu petir menyambar mereka, arwah mereka diambil dan mereka mati semua. Musa berdiri berdoa, memohon kepada Robbnya seperti Al A'roof 155 yang artinya "Mereka itu bodoh. Apakah Engkau akan menghancurkan barangsiapa yang datang setelahku dari Bani Isroil?"
Atsar Ibn Abbas, Qotadah, Mujahid, Ibn Jarir: Mereka disambar kilat karena mereka tidak menghindar maupun melarang kaum mereka yang menyembah anak sapi.

Atsar 'Ali bin Abi Tholhah: dari Ibn 'Abbas: Allah menyuruh Musa memilih 70 lelaki, lalu dia memilih mereka dan berjalan bersama mereka agar mereka berdoa kepada Robb mereka. Doa mereka salah satunya adalah "Ya Allah, berikan kami apa yang Engkau belum pernah beri kepada siapapun sebelum kami dan tidak akan beri kepada siapapun setelah kami!", lalu Allah tidak suka dengan doa ini dan mereka disambar gempa bumi yang dahsyat, lalu Musa mengatakan Al A'roof 155 ini.

Wa antum tandhuruun

Atsar 'Urwah bin Ruwaim: sebagian disambar kilat, sisanya menyaksikan. Allah membangkitkan mereka, dan menyambar yang lainnya dengan kilat.

Al Baqoroh ayat 54

Nikmat Allah kepada Bani Isroil : 2. Allah mengampuni dosa syirik waktu itu.

AYAT 54: Wa idz qoola muusaa li qoumihi yaa qoumi innakum dholamtum anfusakum bit tikhoodzikumul 'ijla fa tuubuu ilaa baari-ikum faqtuluu anfusakum. Dzaalikum khoirun lakum 'inda baari-ikum. Fa taaba 'alaikum. Innahuu huwat tawwaabur rohiimun
  • Wa = dan
  • Idz = when/saat (past tense)
  • Qoola = he said/dia telah berkata (fi'l ma-dlii = past tense)
  • Muusaa → berposisi sebagai fa'il (subjek)
  • Li = to/kepada
  • Qoumun = sebuah kaum → li adalah preposisi, maka qoumun majrur jadi qoumin
  • Hu = dia → hu majrur jadi hi, qoumin hilang tanwin jadi qoumi, berarti hu adalah mudlof ilaih (pemilik) dari qoumi
  • Yaa = O/wahai → kata nidak (panggilan) → di Arab, kalau memanggil harus diawali "Yaa" sebelum namanya
  • -y = I/aku → qoumun majrur jadi qoumin, -y adalah mudlof ilaih dari qoumin, sehingga qoumin+y = qoumii, lalu karena yaa, maka qoumii hilang -y jadi qoumi → yaa + qoumin + y = yaa qoumi
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti kum adalah ism inna, dhollamtum anfusakum adalah khobar inna, di tengah-tengahnya diberi terjemahan "adalah"
  • Kum = you-all/kalian
  • Dholama = he wronged/dia telah menganiaya → dholamtum = you-all wronged/kalian telah menganiaya
  • Nafsun = self/diri → anfusun = bentuk jamaknya/selves → anfusun manshub jadi anfusan, berarti anfusan maf'ul (objek) dari dholamtum → anfusan hilang tanwin jadi anfusa, berarti kum adalah mudlof ilaih dari anfusa → anfusakum = yourselves
  • Bi = by
  • Akhodza = he received/dia telah menerima → Ittakhodza (wazan 8: pasif) = he took/dia telah mengambil → ittikhoodzun = a taking/sebuah pengambilan → bi adalah preposisi, ittikhoodzun majrur jadi ittikhoodzin ittikhoodzin hilang tanwin jadi ittikhoodzi, berarti kum adalah mudlof ilaih dari ittikhoodzi
  • 'Ijlun = a calf/anak sapi → al-'ijlu = THE calf → al-'ijlu manshub jadi al-'ijla, berarti posisinya adalah maf'ul dari ittikhoodzikum
  • Fa = then/lalu
  • Taaba = he returned/dia telah bertobat → tuubuu = you-all return!/kalian bertobatlah (fi'l 'amr = kata kerja perintah)
  • Ilaa = unto/kepada
  • Baari-un = a creator/seorang pencipta → ilaa adalah preposisi, maka baari-un majrur jadi baari-in baari-in hilang tanwin jadi baari-i, berarti kum adalah mudlof ilaih dari baari-i
  • Qotala = he killed/dia telah membunuh → Iqtuluu = you-all kill!/kalian bunuhlah (fi'l 'amr)
  • Anfusukum manshub jadi anfusakum, berarti posisinya sebagai maf'ul dari iqtuluu
  • Dzaalikum = those
  • Khoirun = better/lebih baik → dzaalikum adalah mubtadak, khoirun adalah khobarnya, sehingga di terjemahannya ditambahkan "adalah"
  • La = for
  • 'Inda = near/di sisi → baari-ukum majrur jadi baari-ikum karena 'inda adalah preposisi
  • 'Alaa = upon/atas → 'Alaa + Kum = 'Alaikum
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti hu adalah ism inna, huwat tawwaabur rohiimun adalah khobar inna
  • Huwa = Hu = he/dia
  • At-tawwaabu = the oft-returning/the acceptor of repentance/maha penerima tobat
  • Ar-rohiimun = the oft-merciful/maha pemberi rahmat
Wa idz qoola muusaa li qoumihi yaa qoumi innakum dholamtum anfusakum bit tikhoodzikumul 'ijla fa tuubuu ilaa baari-ikum faqtuluu anfusakum. Dzaalikum khoirun lakum 'inda baari-ikum. Fa taaba 'alaikum. Innahuu huwat tawwaabur rohiimun

Inggris: And (remember) when Musa said to his people, "O my people, verily you-all wronged yourselves by your taking-THE-calf, then you-all return (=repent) to your Creator! Then you-all kill yourselves! Those are better for you-all with your creator. Then He returned upon you-all. Verily, He is the oft-returning, the oft-merciful
Indonesia: Dan (ingatlah) saat Musa telah berkata kepada kaumnya, "Wahai kaumku, sesungguhnya kalian telah menganiaya diri kalian sendiri dengan kalian mengambil anak sapi tersebut, lalu kembalilah (bertobatlah) kalian kepada pencipta kalian, lalu kalian bunuhlah diri kalian sendiri. Itu adalah lebih baik untuk kalian di sisi pencipta kalian. Lalu Dia telah kembali (=menerima tobat) atas kalian. Sesungguhnya, Dia adalah maha tempat kembali (penerima tobat) dan maha pemberi rahmat.

Wa idz qoola muusaa li qoumihi yaa qoumi innakum dholamtum anfusakum bit tikhoodzikumul 'ijla

Atsar Al Hasan Al Bashri: yaitu saat di pikiran mereka terbersit untuk menyembah anak sapi, dan saat mereka menyesal dan melihat bahwa mereka telah tersesat, mereka berkata "jika Robb kami tidak merahmati kami dan memaafkan kami" (wa lammaa suqitho fii aidiihim wa ro-au annahum qod dlolluu la-in lam yarhamnaa robbunaa wa yaghfir lanaa - Al A'roof 149), lalu Musa mengatakan yaa qoumi innakum dholamtum anfusakum bit tikhoodzikumul 'ijla.

Al A'roof 152: Innal ladziinat takhodzul 'ijla (sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak sapi) sayanaa luhum gho-dlobun min robbihim (kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Robb mereka) wa dzillatun fil hayaatid dun-yaa (dan kehinaan di dalam kehidupan dunia), wa kadzaalika najzil muftariin (dan demikianlah *Kami* membalas orang-orang yg berbohong)

Tafsir Ibn Katsir: "berbohong" disini bukan hanya untuk kasus Musa, tapi juga yang mengada-ada dalam agama (=bid'ah). Aib akan diletakkan dalam hati, lalu menuju pundak.

Atsar Al Hasan Al Bashri: aib karena mengada-ada dalam agama akan terbebani di pundak pelakunya, meskipun berlari kencang di baghol (hewan hasil perkawinan keledai jantan dan kuda betina) atau berjalan cepat di kuda kerja mereka.

Atsar Ayyub As Sakhtiyani: dari Abu Qilabah Al Jarmi: Demi Allah, Al A'roof 152 adalah untuk semua yang mengada-ada dalam agama hingga hari kiamat.

Atsar Sufyan bin 'Uyainah: Setiap orang yang mengada-ada dalam agama akan merasakan aib.

Fa tuubuu ilaa baari-ikum faqtuluu anfusakum, dzaalikum khoirun lakum 'inda baari-ikum fa taaba 'alaikum, innahu huwat tawwaabur rohiimu

Atsar Abul 'Aliyah, Sa'id bin Jubair, dan Ar Robi'bin Anas: yaitu Allah mengingatkan Bani Isroil betapa besar kesalahan mereka, maka Allah berkata "Bertobatlah kepada pencipta kalian setelah kalian partnerkan Dia dengan yang lain dalam hal ibadah"

Atsar Imam Nasa-i, Ibn Jarir, dan Ibnu Abu Hatim: dari Ibn 'Abbas: Allah berkata pada Bani Isroil bahwa cara tobat mereka adalah dengan saling membunuh dengan pedang setiap orang yang dia temui, meskipun dia ayah atau anaknya. Mereka tidak boleh peduli siapa yang mereka bunuh. Mereka bersalah, mereka mengakui, dan melakukan perintah Allah itu. Lalu Allah mengampuni pembunuh dan yang dibunuh.

Atsar Ibn Jarir: dari Ibn 'Abbas: Allah menyuruh Musa untuk menyuruh kaumnya saling membunuh. Dia menyuruh yang menyembah anak sapi duduk yang tidak menyembah berdiri memegang pisau. Saat mereka mulai membunuh, tiba-tiba gelap sekali. Setelah gelapnya hilang, mereka telah membunuh 70000 orang. Yang terbunuh dan yang masih hidup diampuni.

Senin, 16 Maret 2009

Al Baqoroh ayat 53

Nikmat Allah kepada Bani Isroil : 3. Taurot (ketetapan dan pembeda baik buruk)

AYAT 53: Wa idz aatainaa muusal kitaaba wal furqoona la’allakum tahtaduuna
  • Wa = dan
  • Idz = when/saat (untuk past tense)
  • Ataa = he came/dia telah datang → Aatainaa (wazan 4: causative) = we brought/kami telah mendatangkan (fi'l ma-dlii/past tense)
  • Kataba = he wrote/he determine/dia telah menulis/dia telah menetapkan → Kitaabun = a book/sebuah buku/sebuah ketetapan → al-kitaabu = THE book (bentuk definitnya) → manshub jadi al-kitaaba, berarti al-kitaaba adalah objek kedua dari aatainaa setelah muusaa
  • Faroqo = he distinguished/dia telah membedakan → furqoonun = a distinguisher/a criterion/sebuah pembeda baik-buruk → al-furqoonu = THE distinguisher (bentuk definitnya) → manshub jadi al-furqoona, berarti al-furqoona adalah objek ketiga dari aatainaa
  • La'alla = hopefully/semoga → bentuk lain dari inna; maka kum adalah ism inna, tahtaduuna adalah khobar inna
  • Kum = you-all/kalian
  • Hadaa = he guided/dia menunjukkan → tahtaduuna = those who are guided
Wa idz aatainaa muusal kitaaba wal furqoona la’allakum tahtaduuna

Inggris: And (remember) when *We* brought Musa THE book and THE distinguisher, hopefully you-all are those who are guided
Indonesia: Dan (ingatlah) saat *Kami* mendatangkan Musa buku/ketetapan dan pembeda baik-buruk, semoga kalian adalah mereka yang ditunjukkan (ke jalan yang benar)

Wa idz aatainaa muusal kitaaba wal furqoona

Tafsir Ibn Katsir: Al Kitab (ketetapan) adalah Taurot, Al Furqon adalah pembeda benar-salah, petunjuk-kesesatan.

Al A'roof 154: Wa fii nuskhotihaa hudan warohmatun (dan di dalam tulisannya adalah petunjuk dan rahmat) lilladziina hum li robbihim yarhabuuna (bagi orang-orang yang takut kepada Robb mereka).

La'allakum tahtaduuna

Al Qoshosh 43: Wa laqod aataina muusal kitaaba (dan sungguh *Kami* telah memberi Musa Al-Kitab) min ba’di maa ahlaknal quruunal uulaa (dari setelah apa yg Kami telah binasakan (dari) kurun awal (generasi terdahulu, yaitu Fir’aun dan pengikut2nya)) ba-shoo-iro linnaasi wa hudan warohmatal (sebagai "mata" bagi manusia dan petunjuk dan rahmat) la'allahum yatadzakkaruun (semoga mereka adalah orang-orang yang ingat (pada Allah))

Jumat, 13 Maret 2009

Al Baqoroh ayat 51

Nikmat Allah kepada Bani Isroil : 2. Allah mengampuni dosa syirik di waktu itu

AYAT 51: Wa idz waa'adnaa muusaa arba'iina lailatan tsummat takhodztumul 'ijla min ba'dihii wa antum dhoolimuuna

  • Wa = dan
  • Idz = when (past tense)
  • Wa'ada = he promised/dia telah berjanji --> waa'ada (wazan 3: berupaya) = he made an appointment --> waa'adnaa = we made an appointment (fi'l ma-dlii = past tense)
  • Muusaa --> mabni karena proper noun/nama orang, posisinya adalah maf'ul (objek) dari waa'adnaa
  • Arbaa'atun = 4 --> arbaa'uuna = 40 --> manshub jadi arba'iina, berarti posisinya adalah maf'ul kedua dari waa'adnaa
  • Lailun = a night/satu malam --> lailatun = bentuk jamaknya/nights --> manshub, berarti posisinya adalah tamyiz (penjelas) dari arba'iina
  • Tsumma = then/lalu
  • Takhodza = he took/dia telah mengambil --> ittakhodza (wazan 8: saling)= he took each other --> ittakhodztum = you-all took each other (fi'l ma-dlii) --> al-'ijla berawalan huruf vokal, maka ittakhodztum jadi ittakhodztumu
  • 'Ijlun = a calf/anak sapi --> al-'ijlu = THE calf --> manshub jadi al-'ijla, berarti posisinya sebagai maf'ul dari ittakhodztumu
  • Min = from/dari
  • Ba'dlun = after/sesudah --> min adalah preposisi, maka ba'dlun majrur jadi ba'dlin
  • Hu = him/dia --> hu majrur jadi hi, dan ba'dlin hilang tanwin jadi ba'dli, berarti hi adalah mudlof ilaih dari ba'dli
  • Antum = you-all/kalian
  • Dholama = he wronged/dia telah dholim --> dhoolima = a wrongdoer/orang dholim --> dhoolimuuna = bentuk jamaknya/wrongdoers --> antum adalah mubtadak, dhoolimuuna adalah khobar (karena dua-duanya harus membentuk kalimat, dan dua-duanya kata benda)
Wa idz waa'adnaa muusaa arba'iina lailatan tsummat takhodztumul 'ijla min ba'dihii wa antum dhoolimuuna

Inggris: And (remember) when *We* made Musa an appointment (for) 40 days, then you-all took THE calf each other from after it, and you-all were wrongdoers.
Indonesia: Dan (ingatlah) saat *Kami* membuat appointment (dengan) Musa (selama) 40 hari, lalu kalian saling mengambil sang anak sapi dari setelahnya, dan kalian adalah orang-orang dholim.

Wa idz waa'adnaa muusaa arba’iina lailatan

Al A'roof 142: Wa waa'adnaa muusaa (dan Kami telah menjanjikan Musa) tsalaa-tsiina lailatan (30 malam) wa atmamnaahaa bi 'asyrin (dan Kami sempurnakannya dengan sepuluh) fa tamma miiqootu robbihii (maka sempurnalah waktu yg ditentukan Tuhannya) arba'iina lailatan (40 malam), wa qoola muusaa li akhiihi haaruunakhlufnii fii qoumii (dan Musa telah berkata kepada brothernya Harun "Lanjutkan/gantikan aku dalam kaumku) wa ashlih wa laa tattabi' sabiilal mufsidiina (dan perbaikilah dan jangan kamu mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan)

Tafsir Ibn Katsir: Kejadian ini setelah Bani Isroil dibebaskan Allah dari Firaun, dan mereka selamat melintasi laut. Musa berpuasa 30 hari siang dan malam (di bulan Dzulqo'idah), lalu menggosok gigi dengan ranting, lalu Allah menyuruhnya menyempurnakannya, yaitu plus 10 hari lagi (bulan Dzulhijjah), lalu dia kembali ke bukit Thur dengan terburu-buru. Dia meninggalkan adiknya, Harun, bersama Bani Isroil dan memakai kebijaksanaannya dan menjauhi berbuat kerusakan.

Apa yg terjadi saat Nabi Musa di Gunung Sinai?

Al A'roof 145: Wa katabnaa lahuu (dan telah *Kami* tetapkan/tuliskan untuknya (Musa)) fil alwaahi (di dalam lauh-lauh (the Tablets)) kulli syai-in mau'i-dhotan (segala sesuatu (sebagai) pelajaran) wa tafshiilan likulli syai-in (dan penjelasan bagi segala sesuatu). Fa khudzhaa bi quwwatin (maka ambillah dengan kuat (taatilah Taurot)) wakmur qoumaka (dan suruhlah kaummu) yak-khudzuu bi ahsanihaa ((agar) mereka berpegang dengan sebaik-baiknya). Sa-uuriikum daarol faasiqiin (Aku akan memperlihatkan kalian negeri orang2 yg fasik).

Thoohaa 83: Wa maa a'jalaka 'an qoumika yaa muusaa ((Allah berkata) "Dan kenapa kamu lebih cepat daripada kaummu wahai Musa?")

Tafsir Ibn Katsir: Lalu Allah memberitahu Musa bahwa sepeninggal Musa, kaumnya di bawah sana sedang diberi cobaan oleh Allah dengan disesatkan oleh Samiri. Kaumnya mentuhankan anak sapi yang dibuatkan Samiri.

Thoohaa 85: Qoola fa inna (Aku berkata "Maka sesungguhnya *Kami*) qod fatanna qoumaka (sungguh telah menguji kaummu) min ba'dika (dari sesudahmu (sesudah kau tinggalkan)) wa a-dlol-lahumus saamirii (dan Samiri telah menyesatkan mereka)

Tsummat takhodztumul 'ijla ba'dihii

Al A'roof 148: Wat takhodza qoumu muusaa min ba'dihii (dan kaumnya Musa menjadikan dari sesudahnya (selama Musa pergi 40 hari)) min huliyyihim 'ijlan (perhiasan-perhiasan mereka (untuk patung) anak lembu) jasadan lahuu khuwaar ((punya) tubuh dan suara)

Tafsir Ibn Katsir: Setelah ditinggal 40 hari oleh Musa ke Gunung Sinai, kaumnya disesatkan oleh As-Samiri yang membuat patung anak sapi yg terbuat dari perhiasan-perhiasan yang dipinjam dari orang Koptik. Lalu dia melempar segenggam debu jejak kuda yg ditunggangi Malaikat Jibril ke patung itu, lalu patung itu melenguh (patung itu jadi hidup dan bisa melenguh). Atau seperti atsar dari Ibn Abbas. Saat patung melenguh, kaum Musa menari-nari mengelilinginya dan menjadi sesat karena mereka mengagumi patung itu.

Atsar Ibnu Abbas: patung itu tetap perhiasan tapi udara yang masuk patung dari belakang seperti suara melenguh karena keluar dari mulut.

Atsar Al Hasan Al Bashri: Nama patung anak sapi itu adalah Bahmut.

Thoohaa 86: Fa roja'a muusaa ilaa qoumihii (lalu Musa kembali kepada kaumnya) ghodlbaana asifan (secara marah (dan) bersedih), qoolaa yaa qoumi (Dia berkata "Wahai kaumku,) alam ya'idkum robbukum (bukankah Robb kalian menjanjikan kalian) wa'dan hasana (suatu janji yg baik?) A fa thoola 'alaikumul 'ahdu (apakah lalu terlalu lama perjanjian tersebut (40 malam) atas kalian) am arodtum an (atau kalian mau agar) yahilla 'alaikum gho-dlobun min robbikum (kemurkaan dari Robb kalian menimpa atas kalian) fa akhlaftum mau'idii (lalu kalian menyalahi perjanjianku?)

Al A'roof 150: Wa lammaa roja'a muusaa ilaa qoumihii (Dan saat Musa telah kembali kepada kaumnya) ghodlbaana asifan (secara marah (dan) bersedih) qoola biksamaa kholaftumuunii min ba’dii (dia telah berkata "Keburukan apa (saat) kamu menggantikanku sesudahku). A 'ajiltum amro robbikum (Apakah kalian mendahului urusan Robb kalian (yaitu agar Musa cepat kembali, padahal Allah menyuruh Musa 40 hari))?

Tafsir Ibn Katsir: Pilihan kata asifan (bersedih) menunjukkan penekanan betapa marahnya Musa karena sepeninggalnya, mereka mentuhankan anak sapi. Wa'dan hasana (janji yg baik) maksudnya adalah janji Allah untuk kebaikan kepada mereka di dunia dan akhirat serta bantuan dari Allah yg disaksikan sendiri oleh Bani Isroil terhadap Firaun.

Atsar Mujahid: ghodlbaana asifan artinya khawatir.

Atsar Qotadah dan As Suddi: asifan artinya rasa sedih karena apa yang kaumnya Musa telah lakukan

Thoohaa 87: Qooluu maa akhlafna mau’idaka bimalkina (Mereka berkata "Kami tidak menyalahi perjanjianmu dengan kemauan kami) walaakinnaa hummilnaa (tapi kami disuruh membawa) auzaaron min ziinatil qoumi (beban berat dari kaum tersebut (Fir’aun)) fa khodzafnaahaa (lalu kami melemparkannya) fa kadzaalika (lalu demikian pula) alqos saamirii (Samiri melemparkannya)

Tafsir Ibn Katsir: Kemauan sendiri, maksudnya karena tiada kekuatan dan pilihan lain. Itu alasan mereka saja.

Thoohaa 88: Fa akhroja lahum (maka dia (Samiri) keluarkan untuk mereka) 'ijlan jasadan lahuu khowaarun (anak sapi yg bertubuh dan bersuara) fa qooluu (lalu mereka berkata) haadzaa ilaahukum wa ilaahu muusaa (ini adalah sesembahan kalian dan sesembahannya Musa), fanasii (lalu dia telah melupakan)

Tafsir Ibn Katsir: Masalah fanasii, ada 2 pendapat, pendapat pertama: dia yang melupakan adalah Musa (tapi Samiri yg mengucapkan itu), pendapat kedua: dia yang melupakan adalah Samiri (Samiri telah melupakan agama ajaran yg benar).

Patung anak sapi tidak masuk akal untuk disembah

Al A'roof 148: A lam yarou annahu laa yukallimuhum (apakah mereka tidak memperhatikan bahwa dia (patung anak sapi) tidak bicara dengan mereka) wa laa yahdiihim sabiilan (dan dia tidak menunjuki mereka suatu jalan?) ittakhodzuuhu wa kaanuu dhoolimiina (Mereka menjadikannya dan mereka adalah orang-orang dholim)

Thoohaa 89: A fa laa yarouna (maka apakah mereka tidak memperhatikan) allaa yarji'u ilaihim qoulan (bahwa dia (anak sapi) tidak mengembalikan kepada mereka perkataan (tidak bisa menjawab pertanyaan)) wa laa yamliku lahum (dan dia tidak berkuasa kepada mereka) dlorron wa laa naf’an ((untuk memberi) mudlorot dan tidak (pula bisa memberi) manfaat)

Padahal Harun disuruh menggantikan posisi Musa selama 40 hari

Al A'roof 142: Wa qoola muusaa li akhiihi haaruunakh lufnii fii qoumii wa ashlih (dan Musa telah berkata kepada brothernya, Harun, "Gantilah aku dalam kaumku dan perbaikilah") wa laa tattabi' sabiilal mufsidiin (dan kamu jangan mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan)

Tafsir Ibn Katsir: Setelah mereka menyembah anak sapi, Harun sudah memperingatkan mereka, tapi tidak dianggap.

Thoohaa 90: Wa laqod qoola lahum haaruunu min qoblu (dan sungguh Harun telah berkata kepada mereka dari sebelumnya) yaa qoumi innamaa futintum bihii ("Wahai kaumku sesungguhnya kalian telah diberi fitnah (=cobaan) dengannya (dengan anak sapi)). Wa inna robbakumur rohmaanu (dan sesungguhnya Robb kalian adalah Ar Rohmaan) fattabi'uunii (maka ikuti aku) wa athii'uu amrii (dan taatilah perintahku")

Thoohaa 91: Qooluu lan nabroha 'alaihi 'aakifiina (mereka telah berkata "Tidak mau, kami tetap atasnya (menyembah patung sapi) dengan tekun) hattaa yarji’a ilainaa muusaa (sampai Musa kembali kepada kami)

Musa marah besar kepada Harun

Tafsir Ibn Katsir: Melihat ini, Musa sampai menjatuhkan Tablet Tauratnya dari tangannya, lalu menarik kepala dan jenggot Harun dan marah, menyalahkan Harun.

Al A'roof 150: Wa alqol alwaaha (dan dia telah melemparkan lauh-lauh (Tablets)) wa akhodza bi roksi akhiihi (dan dia telah mengambil kepala saudaranya) yajurruhuu ilaihi (dia telah menariknya kepadanya (menarik jenggot Harun ke arahnya karena Musa takut Harun tidak benar-benar mencoba melarang mereka))

Thoohaa 92: Qoola yaa haaruunu maa mana'aka (Dia telah berkata "Wahai Harun apa yang menghalangimu) idz ro-aitahum dlolluu (saat kamu melihat mereka tersesat?")

Thoohaa 93: Allaa tattabi’an (bahwa (sampai2) kamu tidak mengikutiku)? A fa'ashoita amrii (apakah kamu telah mendurhakai perintahku (kepercayaanku)?)

Hadits Ibn Abi Hatim: dari Ibn 'Abbas: dari Rosululloh: Yarhamulloohu muusaa (Allah merahmati Musa) laisal mu'aayinu kalmukhbiri (dia yang melihat tidak sama dengan dia yang diberitahu) akhbarohu robbuhu 'azza wa jalla anna qoumahu futinuu ba'dahu (Robbnya yang Paling Mulia dan Terhormat memberitahunya bahwa kaumnya diuji setelahnya) fa lam yalqol alwaaha fa lammaa roohum wa'aayanahum alqol alwaah (lalu dia tidak melempar lauh-lauh tersebut, lalu saat dia melihat mereka dengan matanya dia melempar lauh-lauh tersebut)

Harun meredam kemarahan Musa

Tafsir Ibn Katsir: Harun mencoba meredam kemarahan Musa dengan berkata "Wahai anak ibuku", karena ibu sebagai simbol kelembutan, meskipun mereka satu ayah juga.

Thoohaa 94: Qoola yabna umma (Dia telah berkata "Wahai anak ibuku,) laa tak-khudz bi lihyatii wa laa bi roksii (jangan kamu mengambil jenggotku dan jangan kepalaku). Innii kho-syiitu (sesungguhnya aku khawatir) an taquula farroqta baina banii isroo-iila (bahwa kamu akan berkata 'Kamu telah memecah belah diantara Bani Isroil) wa lam tarqub qoulii (dan kamu tidak menjaga perkataanku')

Al A'roof 150: Qoolabna umma (dia telah berkata, "Anak ibuku,) innal qoumas tadl'afuunii (sesungguhnya kaum tersebut menjadikan aku lemah) wa kaaduu yaqtuluunanii (dan mereka hampir membunuhku). Fa laa tusymit biyal a'daa-a (maka kamu jangan menjadikan musuh-musuh bergembira terhadapku) walaa taj'alnii ma'al qoumidh dhoolimiin (dan jangan kamu menjadikan aku bersama (selevel, seolah aku adalah mereka) dengan kaum orang-orang dholim)
Tafsir Ibn Katsir: Harun tidak berani meninggalkan kaumnya untuk melapor kepada Musa karena kalau Nabi Harun melakukan itu, beliau akan dituduh meninggalkan Bani Isroil dan memecah belah dan tidak mengemban amanat untuk menggantikan Musa untuk sementara.

Atsar Ibnu Abbas: Harun menghormati dan menurut kepada Musa. Harun mengingatkan Musa untuk tidak menarik jenggotnya seolah-olah Harun bagian dari mereka yg bersalah. Akhirnya Musa pun beristighfar, mohon ampun atas emosinya.

Al A'roof 151: Qoola robbighfir lii wa li-akhii (Dia berkata "Robbku, ampunilah aku dan saudaraku) wa adkhilnaa fii rohmatika (dan masukkan kami dalam rahmatMu) wa anta arhamur roohimiin (dan Engkau adalah Maha Pemberi rahmat dari semua pemberi rahmat)

Musa marah besar kepada Samiri

Thoohaa 95: Qoola famaa khothbuka yaa saamirii? (Dia berkata "Lalu apa maksudmu wahai Samiri?")

Thoohaa 96: Qoola ba-shurtu bimaa lam yabshuruu bihii (Dia berkata aku melihat apa yg tak mereka lihat dengannya (melihat Jibril menghancurkan Fir'aun)) fa qobadl-tu qobdlotan min a-tsarir rosuuli (lalu aku menggenggam segenggam dari jejak rosul (jejak kuda Jibril)) fa nabadztuhaa (lalu aku melemparkannya (bersamaan dengan orang2 melempar perhiasan)) wa kadzaalika sawwalat lii nafsii (dan demikianlah nafsuku membujuk kepadaku (aku merasa benar))

Thoohaa 97: Qoola fadzhab (Dia berkata "Maka pergilah kamu,) fa inna laka fil hayaati (maka sesungguhnya (hukuman) bagimu dalam kehidupan ini (karena Samiri tidak berhak mengambil dan menyentuh jejak rosul)) an taquula laa masaas (adalah bahwa kamu berkata "Jangan menyentuhku!" (dikucilkan oleh Allah)). Wa inna laka mau’idan lan tukhlafahu (Dan sesungguhnya bagimu adalah perjanjian (hukuman yg dijanjikan Allah, berupa masuk neraka) yang kamu tidak menyalahinya (yg tak bisa kauhindari)) wandhur ilaa ilaahikal ladzii dholta ‘alaihi ‘aaqifa (dan lihat kepada sesembahanmu (patung anak sapi) yang kamu tetap bertekun atasnya). La nuharriqonnahu (sungguh kami akan bakar dia) tsumma lanansifannahuu (lalu sungguh kami akan hamburkan dia (abunya)) fil yammi nasfan (kedalam laut (secara) berhamburan (berserakan))

Atsar Muhammad bin Ishaq: dari Ibnu Abbas: As-Samiri berasal dari kaum Bajarma yang menyembah sapi. Dia dalam hati masih suka menyembah sapi tapi dia pura-pura berserah mengikuti Bani Isroil menyembah Allah dan ganti nama menjadi Musa bin Dhoffar.

Atsar Qotadah: As Samiri berasal dari desa Samarro.

Setelah marahnya reda, Musa mengambil lagi Taurotnya

Al A'roof 154: Wa lammaa sakata 'an muusal gho-dlobu (dan saat amarahnya Musa telah reda) akhodzal alwaaha (dia mengambil lauh-lauh tersebut) wa fii nuskhotihaa hudan wa rohmatun lil ladziina hum li robbihim yarhabuuna (dan di alam tulisannya adalah petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Robb mereka)

Tafsir Ibn Katsir: Bahkan tablet Taurot yg dijatuhkan itu pecah berkeping-keping, lalu Musa mengumpulkan pecahan2nya, tapi detail dari syariah Taurot sudah hilang. Pecahan2 Taurot itu disimpan oleh raja2 Israel sampai datangnya agama Islam.

Kamis, 12 Maret 2009

Al Baqoroh ayat 50

Nikmat Allah kepada Bani Isroil : 1. diselamatkan dari Firaun

AYAT 50: Wa idz faroqnaa bikumul bahro fa anjainaakum wa aghroqnaa aala fir’auuna wa antum tandhuruuna
  • Wa = dan
  • Idz = when/saat (past tense)
  • Faroqo = he splitted/dia telah membelah --> faroqnaa = we splitted/kami telah membelah (fi'l ma-dlii = past tense)
  • Bi = with/dengan
  • Kum = you-all/kalian --> al-bahro berawalan huruf vokal, maka kum jadi kumu
  • Bahrun = a sea/laut --> al-bahro = THE sea (bentuk definitnya)
  • Fa = then/lalu
  • Najaa = he was save/dia telah selamat --> anjaa (wazan 4: causative) = he rescued/dia telah menyelamatkan (fi'l ma-dlii) --> anjainaa = us/kami --> anjaa + naa = anjainaa (karena anjaa berakhiran "y" yang memanjangkan "a")
  • Kum adalah objek dari anjainaa
  • Ghoroqo = he drowned/dia telah tenggelam --> aghroqnaa (wazan 4: causative) = we sank/kami telah menenggelamkan
  • Aali = the people --> aali manshub jadi aala, berarti aala adalah maf'ul (objek) dari aghroqnaa --> fir'auuna adalah mudlof ilaih dari aala
  • Antum = you-all/kalian
  • Nadhoro = he observe/dia telah melihat --> tandhuruuna = you-all observe/kalian menyaksikan
Wa idz faroqnaa bikumul bahro fa anjainaakum wa aghroqnaa aala fir’auuna wa antum tandhuruuna

Inggris: And (remember) when *We* split THE sea with you, then *We* saved you-all and *We* sank the people of Firaun, and you-all observe.
Indonesia: Dan (ingatlah) saat *Kami* membelah laut tersebut bersama kalian, lalu *Kami* menyelamatkan kalian dan *Kami* menenggelamkan para pengikut Firaun dan kalian menyaksikan.

Tafsir ayat

Tafsir Ibn Katsir: anjainaakum artinya Allah menyelamatkan Bani Isroil dari para pengikut Firaun, menenggelamkan mereka sementara Bani Isroil menyaksikan, membuat hati Bani Isroil lega dan mempermalukan musuh.

Atsar Abdur Rozzaq: dari Amr bin Maimun Al Audi: Saat Musa dan Bani Isroil berangkat, kabar keberangkatan mereka terdengar Firaun. Firaun berkata "Jangan kalian mengejar mereka sebelum ayam berkokok". Tapi malam itu tidak ada seekor ayam pun berkokok sampai pagi. Lalu Firaun menyuruh didatangkan kambing, lalu kambing-kambing itu disembelih. Firaun berkata "Aku tidak akan mengambil hatinya sebelum 600,000 orang Koptik berkumpul di depanku". Ternyata sebelum dia mengambil hati kambing-kambing yang telah disembelih, 600,000 orang Koptik telah berkumpul di depannya. Saat Musa sampai di tepi laut, salah satu Bani Isroil, Yusya' bin Nun (Joshua) bertanya "Mana perintah Tuhanmu?" Musa berkata "Di depanmu" sambil mengisyaratkan ke laut. Lalu Joshua memacu kudanya ke laut sampai ke tempat yang besar ombaknya, lalu ombak menepikannya dan dia kembali ke tepi, lalu bertanya lagi "Mana perintah Tuhanmu, wahai Musa? Demi Allah engkau tak berdusta, tidak pula didustakan" (Joshua melakukannya 3x). Lalu Allah menurunkan wahyuNya ke Musa untuk memukul laut dengan tongkatnya. Ternyata laut terbelah, dan konon setiap belahan itu pemandangannya sama dengan bukit yg besar. Lalu Musa berjalan bersama Bani Isroil lalu Firaun dan pengikutnya masuk laut juga, maka Allah menenggelamkan mereka dengan menangkupkan kembali laut atas mereka.

Hari Asyuro

Hadits shohih dari Bukhori, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasa-i, Al Humaidi, Al Baihaqi, Abdurrozaq, Ad Darimi, Ath Thohawi, dan Ibnu Hibban: orang Quroisy biasa berpuasa pada hari Asyuro di zaman jahiliyyah, Rosululloh juga melakukannya. Saat beliau sampai di Madinah beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.

Hadits shohih dari Bukhori, Muslim, Abu Dawud, Nasa-i, Imam Ahmad, Abdurrozaq, Ibnu Majah, Baihaqi, Al Humaidi, dan Ath Thoyalisi: dari Ibnu Abbas: Qodima rosuululloohi shollalloohu 'alaihi wa sallamal madiinata (Rosululloh, yang semoga sholawat dan salam adalah atasnya, telah tiba di Madinah) fa ro-al yahuuda ya-shuumuuna yauma 'aa-syuuroo-a (lalu dia melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyuro) fa qoola maa haadzal yaumul ladzii ta-shuumuun (dia berkata "Puasa hari apa ini?")? Qooluu haadzaa yaumun shoolihuun (mereka berkata "Ini adalah hari yang baik) haadzaa yaumun najalloohu 'azza wa jalla fiihi banii isro-iila min 'aduwwihim (Ini adalah hari Allah 'Azza Wa Jalla menyelamatkan Bani Isroil dari musuh mereka), fa shoomahu muusaa ’alaihis salaam (maka berpuasalah Musa). Fa qoola rosuululloohi shollalloohu ’alaihi wa sallam anaa ahaqqu bimuusaa minkum (lalu Rosululloh berkata "Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian") Fa shoomahu rosuululloohi shollalloohu 'alaihi wa sallam wa amaro bi shoumihi (lalu Rosululloh berpuasa dan dia menyuruh berpuasa)

Hadits shohih Bukhori, Muslim, An Nasa-i, dan Al Baihaqi: dari Abu Musa: Asyuro adalah hari yang diagungkan orang Yahudi dan mereka menjadikannya hari raya, lalu Rosululloh berkata "Puasalah kalian pada hari itu".

Hadits dhoif (lemah) Abu Ya'la Al Maushuli: dari Abur Robi': dari Ibnu Sulaim: dari Zaid al Ama: dari Yazid Ar Roqqosyi: dari Anas: dari Rasulullah: Fa laqolloohul bahro li banii isro-iila yauma ’aasyuurook (maka Allah membelah laut bagi Bani Isroil di hari Asyuro).

Hadits di atas dhoif karena Zaid Al Ama orangnya dhoif dan Yazid Ar Roqqosyi lebih dhoif lagi.

Manfaat Puasa Asyuro

Hadits shohih Muslim, Abu Dawud, Ahmad, Baihaqi, dan Abdurrozaq: Rasulullah ditanya tentang puasa hari Asyura, maka beliau menjawab puasa itu bisa menghapuskan (dosa-dosa kecil) tahun kemarin.

Cara puasa Asyuro

Ada 3 pendapat:

Pendapat 1: Tanggal 9, 10, dan 11 Muharrom

Hadits Imam Ahmad: dari Ibnu Abbas: Selisihilah orang Yahudi dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya.

Hadits Ath Thohawi: Puasalah pada hari Asyura dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya dan janganlah kalian menyerupai orang Yahudi.

Sayangnya kedua hadits ini ada narator yang dipertanyakan, sehingga belum kuat untuk dijadikan dasar.

Pendapat 2: Tanggal 9 dan 10 Muharrom

Hadits shohih Muslim: Dari 'Atho': dari Ibnu Abbas: Selisihilah Yahudi, berpuasalah pada tanggal 9 dan 10.

Hadits shohih Muslim: Rosululloh berpuasa pada hari Asyuro (tanggal 10) dan memerintahkan berpuasa. Para sahabat berkata "Ya Rosululloh, sesungguhnya hari itu diagungkan Yahudi". Dia berkata "Tahun depan insya Allah kita berpuasa pada tanggal 9", tapi sebelum datang tahun depan Rosululloh telah wafat.

Hadits shohih Muslim, Ibnu Majah, Imam Ahmad, Ibnu Jarir: Jika aku masih hidup pada tahun depan, sungguh aku akan melaksanakan puasa pada hari ke-9.

Pendapat 3: Tanggal 9 dan 10 Muharrom ATAU 10 dan 11 Muharrom

Hadits dhoif Imam Ahmad, Ibnu Khuzaimah, dan Thohawi: Berpuasalah pada hari Asyuro dan selisihilah orang Yahudi, puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.

Cacat penyebab dhoifnya hadits ini adalah karena:
Ibnu Abi Laila hafalannya buruk.
Dawud bin Ali bin Abdulloh bin Abbas, tidak bisa dijadikan hujjah (argumen)

Bid'ah (inovasi ibadah) yang pernah terjadi dan harus dihindari di Hari Asyuro:
1. Sholat Asyuro dan dzikir/doa khusus
2. Mandi, bercelak, memakai minyak rambut, mewarnai kuku, menyemir rambut, khusus untuk menyambut hari Asyuro
3. Membuat makanan yg khusus tidak seperti biasanya
4. Bersusah-susah dalam kehausan dan menampakkan kesusahannya itu
5. Doa awal dan akhir tahun (Majmu' Syarif)
6. Berinfaq dan memberi makan orang miskin dalam rangka menyambut hari Asyuro
7. Memberi uang belanja lebih pada keluarga sebagai ibadah khusus hari Asyuro
8. Memotong kuku, ziarah, membaca al Fatihah 1000x, silaturahmi, semuanya khusus menyambut hari Asyuro