Tampilkan postingan dengan label Science. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Science. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Juli 2010

Al Baqoroh ayat 74

AYAT 74: Tsumma qosat quluubukum min ba'di dzaalika fa hiya kal hijaaroti au a-syaddu qoswata, wa inna minal hijaaroti la maa yatafajjaru minhul anhaaru, wa inna minhaa lamaa yasysyaqqoqu fa yakhruju minhul maa-u, wa inna minhaa lamaa yahbi-thu min khosy-yatillaahi, wa maalloohu bi ghoofilin 'ammaa ta'maluuna
  • Tsumma = then/lalu
  • Qosaa = he became hard/dia telah mengeras → qosat = she became hard/dia telah mengeras → menjadi 'she' karena quluubukum berjenis kelamin perempuan, tanpa peduli tunggal/jamak
  • Qolbun = a heart/sebuah hati (jenis kelamin: wanita) → quluubun = hearts (bentuk jamaknya)
  • Kum = you-all/kalian → quluubun hilang tanwin jadi quluubu, berarti kum adalah mudlof ilaih (pemilik) dari quluubu
  • Min = from/dari
  • Ba'dun = after/setelah → min adalah preposisi, maka ba'dun majrur jadi ba'din
  • Dzaalika = that/itu → ba'din hilang tanwin jadi ba'di, berarti dzaalika adalah mudlof ilaih dari ba'di
  • Fa = then/lalu
  • Hiya = they/mereka (jenis kelamin: perempuan), yaitu mengacu pada quluubukum
  • Ka = like/seperti → hiya adalah mubtadak, kal hijaaroti adalah khobar, sehingga dalam terjemahannya ditambahkan kata "adalah"
  • Hajarun = a stone/sebuah batu (jenis kelamin: lelaki) → hijaarotun = a stone/sebuah batu (jenis kelamin: perempuan) → al-hijaarotu = THE stone (bentuk definitnya) → ka adalah preposisi, maka al-hijaarotu majrur jadi al-hijaaroti
  • Au = or/atau
  • Syadada = he strengthened/dia telah memperkuat → syadiidun = almighty/mahakuat → asyaddu = stronger/lebih kuat (ism tafdlil = comparatif/superlatif)
  • Qosaa = he became hard/dia telah mengeras → qoswatun = a hardness (tidak bisa diterjemahkan, karena kekerasan bukan hardness) → manshub, berarti posisinya adalah sebagai kata keterangan, yaitu jenis tamyiiz (spesifikasi), yaitu menjelaskan apanya yang asyaddu (lebih keras), sehingga qoswatan artinya in hardness/dalam hal kerasnya
  • Wa = dan
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti minal hijaaroti adalah ism inna, lamaa yatafajjaru minhul anhaaru adalah khobar inna
  • Min = from/dari → al-hijaaroti berawalan huruf vokal, maka min jadi mina → mina adalah preposisi, maka al-hijaarotu majrur jadi al-hijaaroti
  • La = surely/niscaya
  • Maa = one who/yang
  • Fajaro = he gushed forth/dia telah muncrat → tafajjaru (wazan 5: pasif dari causativenya) = he was gushed forth/dia telah terpancar → yatafajjaru = he is gushed forth/dia terpancar
  • Min = from/dari, hu = him/dia
  • Nahrun = a river/sebuah sungai (jenis kelamin: perempuan)→ anhaarun = rivers (bentuk jamaknya) → al-anhaaru = THE rivers (bentuk jamak definitnya)
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti minhaa adalah ism inna, la maa yasysyaqqoqu adalah khobar inna
  • Min = from/dari; haa = her/dia; la = surely/niscaya; maa = what/apa yang
  • Syaqoqu = he crossed/dia telah menyeberang → tasysyaqqoqu (wazan 5: pasif dari causative) = he splitted/dia telah membelah (made it be able to be crossed) → yasyaqqoqu = he splits/dia membelah
  • Khoroja = he went out/dia telah keluar → yakhruju = he goes out/dia keluar
  • Al-maa-u = THE water/air → marfu', berarti sebagai fa'il (subjek) dari yakhruju
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti minhaa adalah ism inna, la maa yahbi-thu adalah khobar inna
  • Haba-tho = he fell down/dia telah jatuh → yahbi-thu = he falls down/dia jatuh (fi'l mudloorik)
  • Khosya-a = he was humble/he was fearful/dia telah rendah hati/dia telah takut → khosy-yatun = fearful/takut (jenis kelamin = perempuan) → min adalah preposisi, maka khosy-yatun majrur jadi khosy-yatin
  • Allah majrur jadi allaahi, dan khosy-yatin hilang tanwin jadi khosy-yati, berarti Allah adalah mudlof ilaih (pemilik) dari khosy-yati
  • Wa = dan; maa → maa nafiyah (negasi)
  • Allah marfu' dalam bentuk alloohu, berarti posisinya adalah sebagai mubtadak (karena kata setelahnya bukan fi'l), dan kata setelahnya (bi ghoofilin 'ammaa ta'maluuna) adalah khobarnya.
  • Bi = with/dengan
  • Ghoofulu = he neglected/dia telah mengabaikan → ghoofilun = unaware/lengah → bi adalah preposisi, maka ghoofilun majrur jadi ghoofilin
  • 'An = of/dari; maa = what/apa yang → 'an+maa = 'ammaa
  • 'Amila = he did/dia telah melakukan → ta'maluuna = you-all do/kalian lakukan
Tsumma qosat quluubukum min ba'di dzaalika fa hiya kal hijaaroti au a-syaddu qoswata, wa inna minal hijaaroti la maa yatafajjaru minhul anhaaru, wa inna minhaa lamaa yasysyaqqoqu fa yakhruju minhul maa-u, wa inna minhaa lamaa yahbi-thu min khosy-yatillaahi, wa maalloohu bi ghoofilin 'ammaa ta'maluuna

Inggris: Then your hearts became hard after that, then they (your hearts) are like THE stone or mightier in hardness, and verily from THE stone is surely what THE river gush forth from it, and verily from her is surely what he splits, then THE water goes out from it, and verily from her is surely what falls down with fearful of Allah, and Allah is not unaware of what you-all do.
Indonesia: Lalu hati kalian telah mengeras setelah itu, lalu mereka (hati mereka) adalah seperti batu atau lebih kuat dalam hal kerasnya, dan sesungguhnya dari batu tersebut pasti terdapat apa yang sungai terpancar darinya, dan sesungguhnya darinya pastilah terdapat apa yang dia belah, lalu air keluar darinya, dan sesungguhnya darinya pastilah terdapat apa yang jatuh dengan rasa takut terhadap Allah, dan Allah tidak lengah dari apa yang kalian lakukan.

Tsumma qosat quluubukum min ba'di dzaalika

Tafsir Ibn Katsir: Allah mengecam Bani Isroil karena mereka telah menyaksikan mukjizat-mukjizat tersebut, termasuk menghidupkan orang mati, tapi lalu hati mereka seperti batu, tidak pernah melunak. Inilah kenapa Allah melarang orang-orang yang percaya (beriman) untuk meniru Bani Isroil.

Al Hadiid 16: A lam yakni lilladziina aamanuu an takhsya'a quluubuhum (apakah belum datang waktu bagi orang-orang yang percaya (beriman) bahwa hati mereka menjadi humble) li dzikrillaahi wa maa nazala minal haqq (atas mengingat Allah dan (atas) apa yang telah turun dari sang kebenaran?) wa laa yakuunuu kalladziina uutul kitaaba min qoblu (dan janganlah mereka menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab sebelumnya) fa thoola ‘alaihimul amadu (lalu ajal (term) telah diperpanjang bagi mereka) fa qosat quluubuhum (lalu hati mereka mengeras), wa ka-tsiirun minhum faasiquuna (dan banyak dari mereka adalah orang-orang fasiq (=penentang)).

Tafsir Ibn Katsir: Maksudnya, bukankah telah datang waktu untuk orang-orang yang percaya (beriman) untuk merasa humble (rendah hati) dengan mengingat Allah dan mendengar nasihat dari bacaan Quran, sehingga mereka bisa memahami Alqur-an dan tunduk kepadanya. Allah melarang orang yang percaya (beriman) meniru mereka yang pernah diberi kitab Allah, yaitu Yahudi dan Nasrani, yaitu yang mengubah kitab Allah yang mereka punya, lalu menjualnya untuk harga yang rendah, meninggalkan kitab Allah ke belakang, lalu malah terkesan dengan berbagai opini dan kepercayaan yang salah, dan menjadikan pemimpin agama mereka (kyai, ustad, pendeta, atau rahib) sebagai orang yang LEBIH mereka dengarkan dan turuti, ketimbang Allah, rosul, dan kitab Allah. Sehingga, hati mereka menjadi keras dan mereka tidak akan lagi bisa menerima nasihat. Hati mereka tidak akan menjadi rendah hati atas janji Allah.

Al Hadiid 17: I'lamuu annallooha yuhyil ardlo ba'da mautihaa (Kalian ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi setelah kematiannya), qod bayyannaa lakumul aayaati la'allakum ta'qiluuna (sungguh Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan kepada kalian, semoga kalian punya otak!)

Tafsir Ibn Katsir: Allah lalu melunakkan hati setelah mengeras, menunjukkan orang-orang yang bingung setelah mereka tersesat, dan melegakan kesusahan setelah berusaha keras. Seperti halnya Allah menghidupkan orang mati dan mengembalikan bumi yang kering dengan mengirim hujan yang banyak, Allah menunjukkan hati yang mengeras dengan bukti dari Alqur-an. Pujian adalah untuk Allah, yang menunjukkan (ke jalan yang benar) kepada siapa yang Dia maui setelah dia tersesat, dan yang menyesatkan kepada siapa yang Dia maui setelah dia di jalan yang lurus.

Al Maa-idah 13: Fa bimaa naqdlihim miitsaaqohum (lalu karena mereka melanggar janji mereka) la'annaahum wa ja'alnaa quluubahum qoosiyatan (*Kami* melaknat mereka dan *Kami* menjadikan hati mereka mengeras), yuharrifuunal kalima 'an mawaa-dli'ihi (mereka mendistorsi perkataan dari tempat mereka) wa nasuu hadhdhon mimmaa dzukkiruu bihii (dan lupa dengan sebagian dari apa yang mereka diingatkan darinya) wa laa tazaalu taththoli'u 'alaa khoo-inatin minhum illaa qoliilan minhum (dan kalian tidak berhenti menemukan atas pengkhianatan dari mereka kecuali sedikit dari mereka) Fa'fu'anhum washfah, innallooha yuhibbul muhsiniina (lalu maafkan mereka dan lihatlah (overlook), sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang baik)

Tafsir Ibn Katsir: karena mereka melanggar janji yang Allah ambil dari mereka, Allah melaknat mereka, menjauhkan mereka dari kebenaran dan petunjuk, dan mereka tidak akan menggubris nasihat yang mereka dengar karena kerasnya hati mereka. Mereka merubah kitab dari makna sebenarnya, dan mendistorsinya, lalu mengatakan bahwa Allah yang mengatakannya, padahal tidak.

Atsar Al 'Aufi: dari Ibn 'Abbas: saat mayat itu ditimpa dengan sebagian dari sapi betina, mayat itu berdiri dan menjadi lebih hidup daripada sebelumnya. Dia ditanya, "Siapa yang membunuhmu?" Dia berkata "Keponakan-keponakanku membunuhku", lalu dia mati lagi. Setelah Allah mengambil nyawanya lagi, keponakan-keponakannya berkata, "Demi Allah, Kami tidak membunuhnya" dan menyangkal kebenarannya, padahal mereka tahu itu.

Fa hiya kal hijaaroti au a-syaddu qoswata

Tafsir Ibn Katsir: Seiring waktu, hati Bani Isroil tidak mungkin untuk menerima teguran, bahkan setelah semua mukjizat dan tanda kekuasaan Allah yang mereka saksikan. Hati mereka menjadi lebih keras dari batu, tidak ada harapan untuk bisa melunak. Kadang, mata air dan sungai memecah batu-batu, beberapa batu terbelah dan air keluar dari belahan itu. Bahkan kalaupun tidak ada mata air atau sungai di sekitar batu itu, kadang batu jatuh dari puncak gunung, takut kepada Allah.

Wa inna minal hijaaroti la maa yatafajjaru minhul anhaaru, wa inna minhaa lamaa yasysyaqqoqu fa yakhruju minhul maa-u, wa inna minhaa lamaa yahbi-thu min khosy-yatillaahi

Atsar Muhammad bin Ishaq: dari Ibn 'Abbas: Beberapa batu lebih lunak daripada hati kalian.

Tafsir Ar Rozi dan Al Qurthubi: Batu sebagai makhluk yang humble (rendah hati) dan takut Allah, itu bukan metafora, tapi Allah memang menciptakan batu dengan sifat rendah hati.

Al Ahzab 72: Innaa 'arodlnal amaanata 'alas samaawaati wal ardli wal jibaali (sesungguhnya Kami telah menawarkan Al-Amanah kepada langit dan bumi dan gunung) fa abaina an yahmilnahaa wa asyfaqna minhaa (maka mereka menolak untuk memikulnya dan mereka takut darinya (dari amanat)) wa hamalahal insaan (dan manusia memikulnya), innahu kaana dholuuman jahuulan (sesungguhnya dia adalah dholim dan bodoh).

Atsar Al Aufi: dari Ibn 'Abbas: Al-Amanah, yaitu ketaatan, ditawarkan kepada bumi, langit, dan gunung sebelum kepada Adam, dan mereka tidak bisa memikulnya. Lalu Allah berkata kepada Adam, "Aku telah menawarkan Al Amanah kepada mereka dan mereka tidak bisa memikulnya, maukah kamu mengambilnya?" Adam berkata "Ya Robb, meliputi apa saja?" Dia berkata "Kalau kamu berbuat baik kamu akan diganjar, kalau kamu berbuat salah kamu akan dihukum." Lalu Adam mengambil dan memikulnya.

Atsar Ali bin Abi Tholhah: dari Ibn Abbas, Mujahid, Sa'id bin Jubair, Adh Dhohhak, dan Al Hasan Al Bashri: Langit, bumi, dan gunung tidak mau memikul Al-Amanah, yaitu Al Faro'idl (kewajiban), dan mereka takut, bukan karena mereka ingin berbuat dosa, tapi karena mereka respek mereka terhadap agama Allah, mereka takut tidak bisa memenuhi kewajiban itu.

Al Isrook 44: Tusabbihu lahus samaawaatus sab'u wal ardlu wa man fiihinna (langit yang tujuh dan bumi dan apa yang di dalamnya bertasbih) wa in min syai-in illaa yusabbihu bi hamdihii (dan tidak ada sesuatu melainkan bertasbih dengan memujiNya) walaakin laa tafqohuuna tasbiihahum (tapi kalian tidak mengerti tasbih mereka), innahuu kaana haliiman ghofuuron (sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun Maha Pengampun).

Hadits shohih Bukhori: dari Ibn Mas'ud: Kami (Rosululloh juga) pernah mendengar tasbih dari makanan saat dia sedang dimakan.

Hadits shohih Imam Ahmad: dari Mu'adz bin Anas: Rosululloh mendatangi beberapa orang yang sedang duduk di atas tunggangan mereka dan saling bercakap-cakap. Dia berkata kepada mereka: Irkabuu haa saalimatan wa da'uu haa saalimatan (kalian kendarailah dia (tunggangan) dengan selamat, dan kalian tinggalkanlah dia dengan selamat) wa laa tatta-khidzuu haa karoosiyya li ahaadii-tsikum fith thuruqi wal aswaaqi (dan jangan kalian jadikan dia kursi untuk percakapan kalian di jalan dan pasar) fa rubba markuubatin khoirunmin rookibihaa (karena yang diduduki mungkin lebih baik daripada penumpangnya) wa aktsaru dzikron illaahi minhu (dan dia mungkin lebih banyak mengingat Allah daripada kalian)

Ar Rohmaan 6: Wan najmu wasy syajaru yasjudaan (Dan bintang dan pepohonan bersujud).

Al Hajj 18: A lam taro annallooha yasjudu lahu (Apakah kamu tidak melihat bahwa dia bersujud kepada Allah) man fis samaawaati wa man fil ardli ((dia adalah) barangsiapa di dalam langit dan barangsiapa di dalam bumi) wasy syamsu wal qomaru wan nujuumu wal jibaalu wasy syajaru (dan matahari, dan bulan, dan bintang, dan gunung, dan pohon) wad dawaabbu wa ka-tsiirun minan naasi (dan makhluk yang bergerak, dan banyak dari (golongan)manusia?)

Tafsir Ibn Katsir: Semuanya bersujud pada kekuasaanNya, ikhlas ataupun terpaksa, dan semua makhluk bersujud dengan cara yang sesuai dengan wujud alamiahnya. Allah menyebut bintang, bulan, dan bintang, karena mereka diibadahi, dan bukan Allah, padahal mereka juga bersujud kepada Pencipta mereka.

Hadits shohih Bukhori Muslim: dari Abu Dhorr: Rosululloh berkata kepadaku, A tadrii aina tadzhabu haadzihisy syamsu? (Apakah kamu tahu kemana perginya matahari ini?) Aku berkata, walloohu wa rusulihi 'alaam (Allah dan rosulNya lebih tahu), dia berkata: fa innahaa tadzhabu fa tasjudu tahtal 'arsyi (lalu sesungguhnya dia pergi dan bersujud di bawah Sang Tahta) tsumma tastakmiru (lalu dia menunggu perintah) fa yuu-syiku an yuqoola laharji'ii min haitsu jikta (lalu akan dikatakan kepadanya, "Kembalilah ke tempat kamu datang")

Hadits shohih At Tirmidzi, Ibn Majah, dan Ibn Hibban: dari Ibn Abbas: Seorang lelaki datang dan berkata, "Wahai Rosululloh aku melihat diriku dalam mimpi tadi malam, seolah-olah aku sedang sholat di belakang pohon. Aku bersujud, dan pohon itu bersujud saat aku melakukannya, dan aku mendengarnya berkata, "Wahai Allah, tetapkan sebuah ganjaran kepadaku atas perbuatanku ini, dan hilangkan dosa dariku atas ini, simpanlah denganMu seperti Engkau menerima dari hambaMu Dawud" Rosululloh membacakan ayat yang menyebutkan sujud, lalu dia sujud, dan aku mendengarnya mengatakan kata-kata yang sama bahwa laki-laki itu mengatakannya bahwa pohon itu berbicara.

An Nahl 48-49: A wa lam yarou ilaa maa kholaqolloohu min syai-in (dan apakah mereka tidak melihat kepada apa yang Allah ciptakan dari sesuatu) yatafayya-uu dhilaaluhuu 'anil yamiini wasy syamaa-ili sujjudan lillaahi (yang bayangannya condong ke kanan dan ke kiri bersujud kepada Allah) wa hum daa-khiruuna (dan mereka rendah hati), wa lillaahi yasjudu maa fis samaawaati wa maa fil ardli (dan kepada Allah bersujudnya apa yang di dalam langit dan apa yang di dalam bumi) min daabbatin wal malaa-ikatu wa hum laa yastakbiruuna (dari hewan yang bergerak dan para malaikat dan mereka tidak takabur).

Atsar Mujahid, Qotadah, Adh Dhohhak: saat matahari melewati puncaknya, semuanya bersujud kepada Allah.

Tafsir Ibn Katsir: semua benda ber-islam (berlapang dada) kepadaNya dan semua ciptaan (makhluk hidup ataupun benda mati, juga manusia, jin, dan malaikat) semua humble (merendah) di hadapanNya. Semua yang punya bayangan yang condong ke kanan dan kiri, yaitu di pagi hari dan sore hari, bersujud kepada Allah.

Atsar Mujahid: sujudnya segala benda adalah bayangannya. Begitu pula gunung.

Atsar Abu Gholib Asy Syaibani: ombak adalah sholatnya laut.

Ar Ro'd 15: Wa lillaahi yasjudu man fis samaawaati wal ardli thou'an wa karhan (dan siapapun yang di dalam langit dan bumi bersujud kepada Allah dengan taat maupun terpaksa) wa dhilaaluhum bil ghuduwwi wal a-shooli (begitu pula bayangan mereka di (waktu) pagi dan sore)

Al Fushshilat 11: Qoolataa atainaa thoo-i'iina (mereka berdua telah berkata "Kami datang dengan taat")

Al Hasyr 21: Lau anzalnaa haadzal qur-aana 'alaa jabalin (seandainya *Kami* menurunkan Alqur-an ini kepada gunung) la ro-aitahu khoo-syi’an muta-shoddi’an min khosyatillaahi (pasti kamu akan melihatnya rendah diri terpecah remuk takut Allah), wa tilkal umtsalu nadlribuhaa linnaasi la'allahum yatafakkaruuna (dan itu adalah permisalan yang Kami mengeluarkannya kepada manusia, semoga mereka berpikir).

Tafsir Ibn Katsir: kalau gunung yang besar dan keras diberi kemampuan memahami dan mengerti Alqur-an, gunung akan humble dan hancur karena takut Allah, lalu bagaimana dengan kalian, wahai manusia? Kenapa hati kalian tidak lembut dan humble takut pada Allah, meskipun mengerti dan memahami kitabNya?

Hadits mutawatir: dari Al Hasan Al Bashri: Rosululloh menyuruh seseorang membuatkan mimbar. Sebelumnya, dia berdiri di sebelah batang pohon di dalam masjid untuk khutbah. Saat mimbar dibuat dan diletakkan dalam masjid, Rosululloh datang memberi ceramah dan melewati batang pohon, menuju mimbar, batang pohon itu mulai menangis seperti bayi. Pohon itu merindukan mendengar tentang mengingat Allah dan wahyu yang dibacakan di sebelahnya.

Atsar Al Hasan Al Bashri: kalian, manusia, harusnya lebih pantas merindukan Rosululloh daripada pohon itu.

Fushshilat 21: Wa qooluu li juluudihim (dan mereka berkata kepada kulit mereka) lima syahidtum 'alainaa ("Kenapa kalian bersaksi atas kami?") qooluu an-thoqonalloohul ladzii an-thoqo kulla syai-in (mereka berkata "Allah membuat kami berbicara, yang membuat berbicara setiap sesuatu)

Hadits shohih Bukhori dan Muslim: dari Anas bin Malik dan Abu Humaid As Sa'idi: Dan saat Rosululloh melihat Madinah gunung Uhud, dia berkata "Gunung ini mencintai kita dan kita mencintainya."

Hadits shohih Muslim: dari Jabir bin Samuro: Innii la a'rifu hajaron bi makkata (sesungguhnya aku benar-benar mengenali batu tersebut di Makkah) kaana yusallimu 'alayya qobla an ub'a-tsa (dia pernah mendoakan keselamatan kepadaku sebelum aku diangkat (jadi rosul)) innii la-a'rifuhul aana (sesungguhnya aku sekarang benar-benar mengenalinya)

Makna "au" pada kal hijaaroti au asyaddu qoswata

Tafsir Ibn Katsir: beberapa ahli bahasa Arab klasik terbagi 3 kubu:

1. Tidak setuju bahwa "au" berarti "atau" (yang menunjukkan keraguan), tapi "au" di sini artinya "dan"

Al Insaan 24: Wa laa tuthi' minhum aa-tsiman au kafuuron (dan janganlah kamu mengikuti orang-orang yang berdosa DAN orang-orang yang ingkar dari mereka)

Al Mursalaat 6: 'Udzron au nudzron ((untuk) menolak alasan DAN memberi peringatan)

2. "Au" artinya malahan

An Nisaak 77: Fa lammaa kutiba 'alaihimul qitaalu (lalu saat ditetapkan berperang atas mereka) idzaa fariiqun minhum yakhsyaunan naasa (tiba-tiba sebagian dari mereka takut manusia) ka khosy-yatillaahi au asyadda khosy-yah (seperti takut Allah MALAHAN lebih takut (dari itu))

Ash Shoffaat 147: Wa arsalnaahu ilaa mii-ati alfin au yaziiduuna (dan *Kami* mengutus dia kepada seratus ribu, malahan lebih)
An Najm 9: Fa kaana qooba qousaini au adnaa (maka dia adalah jaraknya dua busur panah, malahan lebih dekat)

3. Hati mereka ada 2 jenis, dan hanya 2 kemungkinan, seperti batu atau lebih keras

Al Baqoroh 17 dan 19: Matsaluhum kama-tsalil ladzis tauqoda naaron (permisalan mereka seperti orang yg menyalakan api) au ka shoyyibin minas samaak (atau seperti (ditimpa) hujan lebat dari langit)

An Nuur 39 dan 40: Walladziina kafaruu a’maaluhum ka saroobin (dan amal orang-orang yang ingkar seperti fatamorgana) au ka dhulumaatin fii bahrin lujjiyyi (atau seperti kegelapan di dalam lautan yang dalam)

Kamis, 15 Juli 2010

Al Baqoroh ayat 71

AYAT 71: Qoola innahu yaquulu innahaa baqorotun laa dzaluulun tu-tsiirul ardlo wa laa tasqil hartsa, musallamatun laa syiyata fiihaa, qoolul aana jikta bil haqqi fa dzabahuuhaa wa maa kaaduu yaf'aluuna


  • Qoola = he said/dia telah berkata → yaquulu = he says/dia berkata (fi'l mudloorik = kata kerja present tense)
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti hu adalah ism inna, yaquulu adalah khobar inna
  • Hu = he/dia
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti haa adalah ism inna, baqorotun adalah khobar inna
  • Haa = she/dia
  • Baqorotun = a cow/seekor sapi betina
  • Laa → laa nafiyah (negasi)
  • Dzalla = he was low/dia telah rendah → dzillatun = humiliation/kehinaan → dzaluulun = subservient/dimanfaatkan
  • Tsaaro = he raised/dia telah menyemburatkan → atsaaro (wazan 4 = causative) = he ploughed/dia telah membajak → tu-tsiiru = she ploughs/dia membajak
  • Al-ardlu = THE earth → manshub jadi al-ardlo, berarti sebagai maf'ul (objek) dari tu-tsiiru
  • Wa = dan
  • Laa → laa nafiyah (negasi)
  • Saqoo = he watered/dia telah mengairi → tasqii = she waters/dia mengairi
  • Harotsa = he tilled/dia telah menggarap → hartsun = a tilth/sebuah ladang → al-hartsu = THE tilth (bentuk definitnya) → manshub jadi al-hartsa, berarti sebagai maf'ul dari tasqii
  • Salima = he was safe/dia telah selamat → sallama (wazan 2: causative): he made safe/dia telah membuat jadi selamat → musallamatun = sound/layak/tidak cacat (ism maf'ul = yang di-)
  • Laa → laa nafiyah (negasi)
  • Wasyiya = he painted/dia telah mengecat → syiyatan = a blemish/sebuah noda
  • Fii = in/di dalam
  • Haa = her/dia
  • Qoola = he said/dia telah berkata → qooluu = they said/mereka telah berkata
  • Al-aana = now/sekarang (dlorof zamaan) → semua dlorof harus manshub
  • Jaa-a = he came/dia telah datang → jikta = you came/kamu telah datang
  • Bi = with/dengan
  • Haqqun = a truth/suatu kebenaran → al-haqqu = THE truth (bentuk definitnya) → bi adalah preposisi, maka al-haqqu majrur jadi al-haqqi
  • Fa = then/lalu
  • Dzabaha = he sacrificed/dia telah menyembelih → dzabahuu = they sacrificed/mereka telah menyembelih
  • Maa → maa nafiyah (negasi)
  • Kaada = he was almost/dia telah hampir → kaaduu = they were almost/mereka telah hampir
  • Fa'ala = he did/dia telah melakukan → yaf'aluuna = they do/mereka melakukan
Qoola innahu yaquulu innahaa baqorotun laa dzaluulun tu-tsiirul ardlo wa laa tasqil hartsa, musallamatun laa syiyata fiihaa, qoolul aana jikta bil haqqi fa dzabahuuhaa wa maa kaaduu yaf'aluuna

Inggris: He said, "Verily He says: Verily she is a cow that is non-subservient ploughing THE earth and she doesn't water THE tilth, sound, no blemish in her." They said "Now you have come with THE truth." Then, they sacrificed her and they were almost not doing
Indonesia: Dia telah berkata "Sesungguhnya Dia berkata: Sesungguhnya dia adalah seekor sapi betina yang tidak dimanfaatkan membajak tanah dan dia tidak mengairi ladang tersebut, layak (tidak cacat), tidak ada noda di dalamnya." Mereka telah berkata "Sekarang Engkau telah menerangkan dengan kebenaran." Lalu mereka menyembelihnya dan mereka hampir tidak melakukan.

Laa dzaluulun tu-tsiirul ardlo wa laa tasqil hartsa

Tafsir Ibn Katsir: yaitu tidak dipakai dalam bercocok tanam, atau mengairi sawah, tapi sapi itu harus terhormat dan kelihatan layak.

Tafsir Al Qurthubi: laa dzaluulun (tidak dimanfaatkan) tu-tsirul ardlo (dia membajak tanah). Ada beberapa penafsir yang mengarikannya "tidak dimanfaatkan, tapi dia membajak tanah", tapi yang benar adalah tu-tsirul ardlo menjelaskan laa dzaluulun, sehingga diartikan "tidak dimanfaatkan membajak tanah", dan agar amannya, kadang-kadang diletakkan kata "untuk" di antaranya. Ahli tafsir banyak yang salah di klausa ini, karena klausa ini memang menjerumuskan kalau tidak jeli.

Musallamah

Atsar 'Abdur Rozzaq: dari Ma'mar: dari Qotadah, Abul 'Aliyah, Ar Robi' bin Anas, dan Mujahid: yaitu sapi betina yang tidak ada cacatnya.

Atsar 'Atho' Al Khurosani: yaitu kaki dan tubuhnya bebas dari cacat fisik.

Qoolul aana jikta bil haqqi, wa maa kaaduu yaf'aluuna

Atsar Adh Dhohhak: dari Ibn 'Abbas: mereka tidak mau menyembelihnya. Meskipun setelah semua pertanyaan dan jawaban tentang deskripsi sapi betina ini, Bani Isroil tetap enggan menyembelih sapi betina itu. Ayat-ayat ini bertujuan mengutuk perilaku mereka yang tujuannya hanya untuk keras kepala, dan inilah kenapa mereka hampir tidak menyembelih sapi betina itu.

Atsar 'Ubaidah, Mujahid, Wahb bin Munabbih, Abul 'Aliyah, dan 'Abdurrohman bin Zaid bin Aslam: Bani Isroil membeli sapi betina tersebut dengan uang yang sangat banyak.

Rabu, 14 Juli 2010

Al Baqoroh ayat 69

AYAT 69: Qoolud'u lanaa robbaka yubayyin lanaa maa launuhaa, qoola innahuu yaquulu innahaa baqorotun shofroo-u faaqi'un launuhaa tasurrun naa-dhiriina
  • Qoola = he said/dia telah berkata → qooluu = they said/mereka telah berkata
  • Da'aa = he invoked/dia telah menyeru/dia telah berdoa → ud'u = you invoke!/kamu serulah/kamu berdoalah (fi'l 'amr = kata kerja perintah)
  • La = for/bagi
  • Naa = us/kami
  • Robbun = Lord → manshub jadi robban, berarti posisinya adalah maf'ul (objek) dari ud'u
  • Ka = you/kamu → robban hilang tanwin jadi robba, berarti ka adalah mudlof ilaih (pemilik) dari robba
  • Bayanu = he separated/dia telah membedakan → bayyanu (wazan 2: causative): he made clear/dia telah membuat jadi jelas → yubayyinu = he makes clear/dia membuat jadi jelas → karena klausa ini adalah jussive, maka yubayyinu berubah menjadi yubayyin
  • Maa = what/apa yang (ism maushul=relative pronoun)
  • Launun = a color/suatu warna (jamaknya = alwaanun)
  • Haa = her/dia → jenis kelamin perempuan, mengacu pada baqorotun yang berjenis kelamin perempuan → launun hilang tanwin jadi launu, berarti haa adalah mudlof ilaih (pemilik) dari launu
  • Qoola = he said/dia telah berkata
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti hu adalah ism inna, yaquulu adalah khobar inna
  • Qoola = he said/dia telah berkata → yaquulu = he says/dia berkata
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti haa adalah ism inna, baqorotun shofroo-u faaqi'un launuhaa tasurrun nadhiriina adalah khobar inna
  • Baqorotun = a cow/seekor sapi betina
  • Shofroo-u = yellow/kuning → sama-sama naqiroh (definit noun), mufrod (tunggal), mudzakkar (lelaki), dan marfu' dengan baqorotun, berarti shofroo-u adalah na'at (sifat) dari baqorotun
  • Faaqi'un = bright/cerah → sama-sama naqiroh, mufrod, mudzakkar, dan marfu' dengan shofroo-u, berarti faaqi'un adalah na'at kedua dari shofroo-u
  • Sarro = he pleased/dia telah menarik → tasurru = she pleases/dia menarik
  • Nadhoro = he observed/dia telah mengamati → nadhirun = an observer/yang memandang → an-nadhiruuna = THE observers (bentuk jamak definitnya)
Qoolud'u lanaa robbaka yubayyin lanaa maa launuhaa, qoola innahuu yaquulu innahaa baqorotun shofroo-u faaqi'un launuhaa tasurrun naa-dhiriina

Inggris: They said "You invoke your Lord for us (that) He makes clear for us what is her color." He said, "Verily He said: Verily she is a bright yellow colored cow, she pleases THE observers.
Indonesia: Mereka telah berkata "Kamu berdoalah kepada Robbmu untuk kami (agar) Dia menjelaskan untuk kami apa warnanya. Dia telah berkata, "Sesungguhnya Dia berkata: Sesungguhnya dia adalah sapi betina yang warnanya kuning cerah, dia menarik (bagi) orang-orang yang mengamati.

Innahaa baqorotun shofroo-u faaqi'un launuhaa

Atsar Al 'Aufi: dari Ibn 'Abbas: putih yang sangat kekuning-kuningan.

Tafsir Ibn Katsir: Taurot modern mengatakan warna sapinya merah, dan ini salah.

Tasurrun naa-dhiriina

Atsar As Suddi, Abul 'Aliyah, Qotadah, dan Ar Robi' bin Anas: sapi itu menarik bagi orang-orang yang melihatnya.

Atsar Wahb bin Munabbih: Kalau kulitnya dilihat, kamu akan mengira sinar matahari memancar melalui kulitnya.

Al Baqoroh ayat 68

AYAT 68: Qoolud'u lanaa robbaka yubayyin lanaa maa hiya, qoola innahuu yaquulu innahaa baqorotun laa faari-dlun wa laa bikrun, 'awaanun baina dzaalika, faf'aluu maa tukmaruuna
  • Qoola = he said/dia telah berkata → qooluu = they said/kami telah berkata
  • Da'aa = he invoked/dia telah menyeru/dia telah berdoa → ud'u = you invoke!/kamu serulah/kamu berdoalah
  • La = for/bagi
  • Naa = us/kami
  • Robbun = Lord → manshub jadi robban, berarti posisinya adalah maf'ul (objek) dari ud'u
  • Ka = you/kamu → robban hilang tanwin jadi robba, berarti ka adalah mudlof ilaih (pemilik) dari robba
  • Bayanu = he separated/dia telah membedakan → bayyanu (wazan 2: causative): he made clear/dia telah membuat jadi jelas → yubayyinu = he makes clear/dia membuat jadi jelas → karena klausa ini adalah jussive, maka yubayyinu berubah menjadi yubayyin
  • Maa = what/apa yang (ism maushul=relative pronoun)
  • Hiya = she/dia → jenis kelamin perempuan, yaitu mengacu pada baqorotun yang berjenis kelamin perempuan.
  • Qoola = he said/dia telah berkata
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti hu adalah ism inna, yaquulu adalah khobar inna
  • Qoola = he said/dia telah berkata → yaquulu = he says/dia berkata
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti haa adalah ism inna, baqorotun laa faari-dlun wa laa bikrun 'awaanun baina dzaalika adalah khobar inna.
  • Haa = her/dia → jenis kelamin perempuan, yaitu baqorotun
  • Baqorotun = a cow/seekor sapi betina
  • Laa → laa nafiyah (negasi)
  • Farodlo = he ordained/dia telah mewajibkan → fariidlotun = an obligation/suatu kewajiban, sedangkan faaridlun = an old/tua
  • Wa = dan
  • Bukrotun = morning/pagi (setelah fajar shiddiq, sebelum matahari terbit) → bikrun = young/muda
  • 'Awaanun = a middle age/suatu usia pertengahan
  • Bayanu = he separated/dia telah memisahkan → bainun = between (dlorof makaan = kata keterangan tempat) → majrur jadi bainan, karena sebagai dlorof
  • Dzaalika = that/itu → bainan hilang tanwin jadi baina, berarti dzaalika adalah mudlof ilaih dari baina
  • Fa = then/lalu
  • Fa'ala = he did/dia telah melakukan → if'aluu = you-all do!/kalian lakukanlah! (fi'l 'amr = kata kerja perintah)
  • Maa = what/apa yang
  • Amaro = he commanded/dia telah menyuruh → takmuruuna = you-all command/kalian menyuruh → tukmaruuna = you-all are commanded/kalian disuruh
Qoolud'u lanaa robbaka yubayyin lanaa maa hiya, qoola innahu yaquulu innahaa baqorotun laa faari-dlun wa laa bikrun, 'awaanun baina dzaalika, faf'aluu maa tukmaruuna

Inggris: They said, "You invoke your Lord for us, (that) he makes clear for us what is her (what kind of cow)!" He said, "Verily He says: Verily she is a cow, not old and not young, middle-aged between that. Then you-all do what you-all are commanded!"
Indonesia: Mereka telah berkata "Kamu berdoalah kepada Robbmu untuk kami (agar) Dia menjelaskan bagi kami (seperti) apa dia (sapinya)." Dia berkata, "Sesungguhnya Dia berkata: Sesungguhnya dia adalah seekor sapi betina, tidak tua dan tidak muda, usia pertengahan antara itu. Lalu kalian kerjakanlah apa yang kalian disuruh!"

Qoolud'u lanaa robbaka yubayyin lanaa maa hiya

Tafsir Ibn Katsir: yaitu sapi betina apa ini dan seperti apa deskripsinya.

Atsar Ibn Abbas dan 'Ubaidah: Allah menyebutkan keras kepalanya Bani Isroil dan banyaknya pertanyaan tidak penting yang mereka tanyakan kepada rosul-rosul mereka. Saat mereka keras kepala, Allah membuat ketetapan yang sulit untuk mereka. Kalau mereka menyembelih sembarang sapi betina, itu sudah cukup bagi mereka. Tapi mereka membuat permasalahannya jadi sulit, dan inilah kenapa Allah membuatnya lebih sulit bagi mereka.

Qoola innahu yaquulu innahaa baqorotun laa faari-dlun wa laa bikrun

Atsar Abul 'Aliyah, As Suddi, Mujahid, 'Ikrimah, 'Atiyah Al 'Afwi, 'Atho', Al Khurosani, Wahb bin Munabbih, Adh Dhohhak, Al Hasan Al Bashri, Qotadah, dan Ibn 'Abbas: yaitu sapi yang tidak tua, dan tidak di bawah usia reproduksi.

'Awaanun baina dzaalika

Atsar Adh Dhohhak: dari Ibn 'Abbas: tidak tua dan tidak muda, tapi di usia saat sapi betina itu paling kuat dan paling sehat.

Minggu, 11 Juli 2010

Al Baqoroh ayat 65

AYAT 65: Wa laqod 'alimtumul ladziina' tadau minkum fis sabti faqulnaa lahum kuunuu qirodatan khoosi-iina
  • Wa = dan
  • La = indeed/pastilah (emphatic particle)
  • Qod = verily/sungguh
  • 'Alima = he knew/dia telah tahu → 'alimtum = you-all knew/kalian telah tahu → alladziina berawalan huruf vokal, maka 'alimtum jadi 'alimtumu
  • Alladziina = those who/yang → berarti kalimat setelahnya (bersubjek jamak) dikatabendakan, yaitu i'tadau
  • 'Aduu = he transgressed/dia telah melampaui batas → i'tadaa (wazan 8: refleksif/pasif): he transgressed to each other/dia telah saling melampaui batas → i'tadau = they transgressed to each other/mereka telah saling melampaui batas
  • Min = from/dari
  • Kum = you-all/kalian
  • Fii = in/di dalam
  • As-sabtu = THE saturday/THE sabbath/sang hari sabtu → fii adalah preposisi, maka as-sabtu majrur jadi as-sabti
  • Fa = then/lalu
  • Qoolu = he said/dia telah berkata → qulnaa = we said/kami telah berkata
  • La = to/kepada
  • Hum = them/mereka
  • Kaana = he WAS/dia → kuunuu = All of you be!/kalian jadilah (fi'l 'amr = kata kerja perintah)
  • Qirodun = an ape → qiroodatun = apes (jamaknya) → manshub jadi qiroodatan, berarti qiroodatan adalah maf'ul (objek) dari kuunuu
  • Khosa-a = he repelled/dia telah diusir → khoosi-un = a despised/sesuatu yang dibenci → khoosi-uuna = bentuk jamaknya → manshub jadi khoosi-iina (qiroodatan juga manshub), lalu sama-sama berjenis kelamin lelaki jamak, sama-sama naqiroh (indefinit), berarti khoosi-iina adalah na'at (sifat) dari qiroodatan
Wa laqod 'alimtumul ladziina' tadau minkum fis sabti faqulnaa lahum kuunuu qirodatan khoosi-iina

Inggris: And indeed verily you-all knew those who transgressed to each other from you-all in THE Sabbath, then *We* said to all of you, "You-all be despised apes!"
Indonesia: Dan sungguh pastilah kalian telah tahu orang-orang yang saling melampaui batas dari kalian dalam hari Sabtu, lalu *Kami* berkata pada mereka "Kalian jadilah kera yang dibenci"

Wa laqod 'alimtumul ladziina'tadau minkum fis sabti

Tafsir Ibn Katsir: Allah mengingatkan Bani Isroil bahwa Dia telah mengirim adzab ke desa yang tidak menaatiNya dan melanggar janjinya untuk menghormati kesucian hari Sabbath (Sabtu). Mereka membuat akal-akalan untuk menghindari menghormati hari Sabtu dengan menaruh jala, pancing, dan kolam air buatan untuk memancing sebelum Sabtu. Saat ikan-ikan banyak berdatangan di hari Sabtu seperti biasa, ikan-ikan tertangkap dalam jala dan pancing selama hari Sabtu. Malam harinya setelah Sabbath berakhir (setelah Sabtu Maghrib) mereka mengambil ikan. Saat mereka melakukannya, Allah mengubah mereka dari manusia menjadi monyet, yaitu hewan yg paling mirip manusia. Perbuatan mereka nampaknya halal, tapi sebenarnya akal-akalan saja. Oleh karena itu, hukuman mereka adalah pantas dengan kejahatan mereka.

Al A'roof 163: Was-alhum (dan tanyakan mereka) 'anil qoryatil latii kaanat haa-dlirotal bahr (tentang negeri yang dekat laut), idz ya'duuna fis sabti (saat mereka melampaui batas dalam Sabbat) idz taktiihim hiitaanuhum yauma sabtihim syarro'an (saat ikan-ikan mereka datang pada mereka pada hari Sabtu mereka secara terang-terangan (terapung)) wa yauma laa yasbituuna laa taktiihim (padahal pada hari selain Sabtu mereka tidak mendatangi mereka), ka dzaalika nabluuhum (seperti itu *Kami* menguji mereka) bimaa kaanuu yafsuquun (karena mereka adalah orang-orang fasiq)

Tafsir Ibn Katsir: yaitu Allah menyuruh Muhammad bertanya kepada Yahudi yang bersamanya, tentang kisah Yahudi yang tidak taat kepada perintah Allah, sehingga adzabNya menimpa mereka tiba-tiba karena kejahatan mereka, pelampauan batas, dan keingkaran dengan cara akal-akalan. Ingatkan juga Yahudi (wahai Muhammad) agar tidak menyembunyikan deskripsimu di kitab-kitab mereka, sehingga mereka tidak mengalami seperti yang dialami nenek moyang mereka. Negeri yang dimaksud adalah Eilah (Aylah), di pesisir Al Qulzum (Laut Merah). Mereka telah melanggar hari Sabbath.

Atsar Muhammad bin Ishaq: dari Dawud bin Abu Al Husain: dari Ikrimah: dari Ibn 'Abbas (begitu pula dari Mujahid, Qotadah, dan As Suddi): Sebuah desa bernama Aylah di antara Madyan dan Ath Thuur (yaitu di Sinai).

Atsar Adh Dhohhak: dari Ibn 'Abbas: Ikan di hari Sabtu nampak jelas di permukaan air, sementara di hari lain sulit bahkan hampir tidak bisa didapat.

Atsar Ibn Jarir: Allah menguji mereka dengan membuat ikan berenang dekat permukaan air di hari mereka dilarang mencari ikan. Ikan tersembunyi dari mereka di hari mereka diperbolehkan mencari ikan.

Hadits shohih Abu 'Abdullah Ibn Baththoh: dari Abu Huroiroh: dari Rosululloh: Laa tartakibuu martakabatil yahuudu (jangan kalian mengulangi apa yang dilakukan Yahudi) fa tastahiluu mahaarimallaahi bi idnal hiyal (dan melanggar larangan Allah dengan akal-akalan)

Golongan yg Melanggar, Golongan yg Mengingatkan, Golongan yg Diam Saja

Al A'roof 164: Wa idz qoolat ummatun minhum (dan saat suatu umat dari mereka berkata) lima ta'i-dhuuna qouman allaahu mauhlikuhum ("Mengapa kalian menasihati kaum yang Allah membinasakan mereka) au mu'adzdzibuhum 'adzaaban syadiidan (atau yang Dia mengadzab mereka adzab yg sangat keras?") qooluu ma'dzirotan ilaa robbikum qa la'allahum yattaquuna (Mereka telah berkata "Sebagai alasan kepada Robb kalian, dan semoga mereka jadi takut (Allah)").

Tafsir Ibn Katsir: penduduk desa ini terbagi tiga kelompok:
1. Kelompok yang melanggar larangan menangkap ikan di hari Sabtu.
2. Kelompok yang melarang mereka melampaui batas dan menjauhi mereka.
3. Kelompok yang tidak melarang tapi tidak ikut melanggar.
Kelompok ketiga bertanya kepada kelompok kedua, "Kenapa kalian melarang mereka dari berbuat jahat, padahal kalian telah tahu mereka dibinasakan dan diadzab Allah? Itu tidak ada gunanya." Kelompok kedua menjawab, "Karena kami diperintahkan untuk 'amar ma'ruf (menyuruh berbuat baik) nahii munkar (mencegah perbuatan jahat) dengan harapan bahwa karena nasehat kami, mereka menghentikan perbuatan jahat ini dan bertobat kepada Allah. Sesungguhnya kalau mereka bertobat kepada Allah, Allah akan menerima tobat mereka dan merahmati mereka.

Al A'roof 165: Fa lammaa nasuu maa dzukkiruu bihii (maka saat mereka lupa dengan apa yang mereka telah diperingatkan dengannya) anjainaal ladziina yanhauna anis suu-i (*Kami* telah menyelamatkan orang-orang yang mencegah dari kejahatan) wa akhodznal ladziina dholamuu bi 'adzaabin ba-iisin (dan Kami menimpakan orang-orang yang dholim dengan adzab yang keras) bimaa kaanuu yafsuquuna (karena mereka adalah orang-orang fasiq).

Tafsir Ibn Katsir: Mereka yang menyuruh kebaikan diselamatkan, mereka yang melampaui batas dihancurkan, tapi Allah tidak menyebutkan akhir dari kelompok ketiga (yang pasif), dan ganjaran setimpal dengan perbuatan.Golongan pertama lupa apa yg telah dilarang Allah, dan menolak saran golongan kedua. Allah menyelamatkan golongan kedua dan mengadzab golongan pertama.

Atsar Ikrimah: Aku pernah mendiskusikannya dengan Ibn 'Abbas tentang ini, tadinya aku tidak tahu apakah mereka diselamatkan atau tidak, lalu aku melanjutkan diskusi dengannya sampai aku meyakinkan dia bahwa mereka diselamatkan. Lalu dia memberiku (hadiah) pakaian.

Fa qulnaa lahum kuunuu qirodatan khoosi-iina

Al A'roof 166: Fa lammaa 'atau 'an maa nuhuu 'anhu (maka saat mereka telah melanggar dari apa yang mereka dilarang darinya) qulnaa lahum kuunuu qirodatan khoosi-iina (Kami berkata kepada mereka "Kalian jadilah kera yang dibenci!")

Al Maa-idah 60: Qul hal unabbi-ukum (kamu katakanlah, maukah aku beritahu kalian) bi syarrin min dzaalika ma-tsuubatan 'indalloohi (tentang yang lebih buruk dari itu (orang fasik) dalam hal pembalasannya di sisi Allah)? Man la'anahulloohu wa gho-dliba 'alaihi ((Yaitu) orang yang dilaknat dan dimurkai Allah) wa ja'ala minhumul qirodata wal khonaaziiro (dan Dia telah menjadikan kera-kera dan babi-babi dari mereka) wa 'abadath thoo-ghuut (dan penyembah Thoghut (alternatif apapun selain Allah)). Ulaa-ika syarrun makaanan (mereka itu lebih buruk tempatnya) wa a-dlollu 'an sawaa-is sabiil (dan itu lebih sesat dari jalan yg lurus)

Hadits Muslim: dari Ibn Mas'ud: Rosululloh pernah ditanya apakah kera-kera dan babi zaman sekarang adalah orang-orang yang Allah telah rubah? Dia berkata: Innallooha lam yuhlik qouman au lam yamsakh qouman fa yaj'ala lahum naslan wa laa 'aqiban (sesungguhnya Allah tidak pernah menghancurkan suatu kaum atau merubah suatu kaum lalu Dia menjadikan atas mereka keturunan dan tidak pula penerus). Wa innal qiroodatan wal khonaaziiro kaanat qobla dzaalika (dan sesungguhnya kera-kera dan babi-babi telah ada sebelum itu).

Atsar Al 'Aufi: dari Ibn 'Abbas: Allah mengubah tubuh mereka menjadi kera-kera dan babi-babi. Anak mudanya menjadi kera, orang tuanya menjadi babi.

Atsar Syaiban An Nahwi: dari Qotadah: mereka diubah jadi kera berekor yang meraung-raung, baik lelaki ataupun perempuan.

Atsar Ibnu Abi Hatim: dari Ibn 'Abbas: Mereka yang melanggar kesucian hari Sabbath dirubah jadi kera-kera, lalu mereka binasa tanpa keturunan.

Atsar Adh Dhohhak: dari Ibn 'Abbas: Allah mengubah mereka jadi kera-kera karena dosa-dosa mereka. Mereka hanya hidup di bumi 3 hari saja, karena tidak ada orang yang dirubah bisa hidup lebih dari 3 hari. Mereka tidak makan, tidak minum, ataupun punya keturunan. Allah mengubah wujud mereka jadi kera, dan Dia melakukan apa yang Dia mau, dengan siapa Dia mau, dan Dia mengubah bentuk siapapun yang Dia mau. Di sisi lain, Allah menciptakan kera, babi, dan ciptaan lain selama 6 hari penciptaan.

Senin, 05 Juli 2010

Al Baqoroh ayat 61

AYAT 61: Wa idz qultum yaa muusaa lan nashbiro 'alaa thoo'amin waahidin, fad'u lanaa robbaka yukhrij lanaa mimmaa tunbitul ardlu min baqlihaa wa qitstsaa-ihaa wa fuumihaa wa adasihaa wa ba-shoolihaa, qoola a tastabdiluunal ladzii huwa adnaa billadzii huwa khoirun, ihbithuu mishron, fa inna lakum maa sa-altum, wa dluribat 'alaihimudz dzillatu wal maskanatu wa baa-uu bi gho-dlobin minalloohi, dzaalika bi annahum kaanuu yakfuruuna bi aayaatillaahi wa yaqtuluunan nabiyyiina bi ghoiril haqq, dzaalika bimaa 'a-shou wa kaanuu ya'taduuna
  • Wa = dan
  • Idz = when/saat (untuk past tense)
  • Qoola = he said/dia telah berkata → qultum = you-all said/kalian telah berkata
  • Yaa = O/wahai → kata nidak, untuk memanggil dalam bahasa Arab
  • Lan = will never/takkan
  • Shobaro = he endured/dia telah bersabar → nashbiru = we endure/kami bersabar (fi'l mudloorik) → karena ada lan, maka kalimatnya menjadi subjunctive, sehingga menjadi nashbiro
  • 'Alaa = on/atas
  • Tho'ima = he ate/dia telah makan → tho'aamun = an eater/seorang pemakan (ism fa'il = yang me-) → 'alaa adalah preposisi, maka tho'aamun majrur jadi tho'aamin
  • Waahidan = wahiidan = one/satu → majrur jadi waahidin (sama dengan tho'aamin), sama-sama berjenis kelamin lelaki, dan sama-sama naqiroh (indefinit) dengan tho'aamin, berarti waahidin adalah na'at dari tho'aamin
  • Fa = then/lalu
  • Da'aa = he invoked/dia telah menyeru/dia telah berdoa → ud'u = you invoke!/kamu doakanlah
  • La = for/bagi
  • Naa = us/kami
  • Robbun → manshub jadi robban, berarti posisinya adalah maf'ul (objek) dari ud'u
  • Ka = you/kamu → robban hilang tanwin jadi robba, berarti ka adalah mudlof ilaih dari robba
  • Khoroja = he came out/dia telah keluar → akhroja (wazan 4: causative) = he brought forth/dia telah mengeluarkan → yukhriju = you bring forth/kamu mengeluarkan → karena posisinya dalam kalimat adalah jussive, maka harus berubah jadi yukhrij
  • Min = from/dari
  • Maa = what/apa yang → min + maa = mimmaa
  • Nabata = he produces/dia telah menghasilkan → anbata (wazan 4: causative) = he grew/dia telah tumbuh → tunbitu = she grows/dia telah tumbuh
  • Al-ardlu = THE earth → jenis kelamin = wanita, dan marfu' (berakhiran "u"), sehingga posisinya adalah fa'il (subjek) dari tunbitu
  • Baqlun = a herb/sebuah sayuran → min adalah preposisi, maka baqlun majrur jadi baqlin
  • Haa = her/dia → berjenis kelamin wanita, berarti mengacu pada al-ardlu → baqlin hilang tanwin jadi baqli, berarti haa adalah mudlof ilaih dari baqli
  • Qitstsaa-un = a cucumber/sebuah mentimun → min adalah preposisi, maka qitstsaa-un majrur jadi qitstsaa-inqitstsaa-in hilang tanwin jadi qitstsaa-i, berarti haa adalah mudlof ilaih dari qitstsaa-i
  • Fuumun min adalah preposisi, maka fuumun majrur jadi fuumin fuumin hilang tanwin jadi fuumi, berarti haa adalah mudlof ilaih dari fuumi
  • 'Adasun = a lentil/sebuah kacang adas → min adalah preposisi, maka 'adasun majrur jadi 'adasin'adasin hilang tanwin jadi 'adasi, berarti haa adalah mudlof ilaih dari 'adasi
  • Basholun = an onion/sebuah bawang berah → min adalah preposisi, maka basholun majrur jadi basholinbasholin hilang tanwin jadi basholi, berarti haa adalah mudlof ilaih dari basholi
  • Qoola = he said/dia telah berkata (fi'l ma-dlii = kata kerja past tense)
  • A = apakah → ism istifhaam/kata tanya: mengubah kalimat selanjutnya jadi kalimat tanya
  • Badala = he changed/dia telah berubah → istabdilu (wazan 10: meminta agar badala dilakukan) = he exchanged/dia telah menukar → tastabdiluuna = you-all exchange (fi'l mudloorik = kata kerja present tense)
  • Alladzii = one which/yang → berarti kalimat setelahnya dikatabendakan
  • Huwa = he/dia
  • Danaa (akhiran "a" yang memanjangkan "na") = he approached/dia telah menjangkau → adnaa (akhiran "y" yang memanjangkan "na") = an inferior/suatu yang lebih rendah → adnaa adalah khobar, dan huwa adalah mubtadak
  • Bi = upon/atas
  • Khoirun = better/lebih baik → khoirun adalah khobar, huwa adalah mubtadak
  • Habathu = he went down/dia telah pergi turun → ihbithuu = you-all go down!/kalian pergi turunlah
  • Mishrun = a city/sebuah kota, sedangkan Mishro artinya Mesir → mishrun manshub jadi mishron, berarti posisinya adalah maf'ul (objek) dari ihbithuu
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti lakum adalah ism inna, maa sa-altum adalah khobar inna → sehingga di terjemahannya diberikan "adalah" di tengah-tengahnya
  • Kum = you-all/kalian
  • Sa-ala = he asked/dia telah meminta → sa-altum = you-all asked/kalian telah meminta
  • Dloroba = he set forth/dia telah menimpakan → dluriba = he was set forth/dia telah ditimpakan → dluribat = she was set forth/dia telah ditimpakan
  • Hum = they/mereka → 'alaa adalah preposisi, maka hum majrur jadi him 'alaa+him='alaihim
  • Dzulila = he was humiliated/dia telah mempermalukan → dzillatun = a humiliation/sebuah kehinaan (jenis kelamin: wanita) → adz-dzillatu = THE humiliation (bentuk definitnya) → menduduki posisi naa'ibun fa'il (subjek) dari dluribat
  • Sakana = he dwelt/dia telah tinggal → maskanun = a poor/seorang miskin (jenis kelamin: lelaki) → maskanatun = a poverty/suatu kemiskinan (jenis kelamin: wanita) → al-maskanatu = THE poverty (bentuk definitnya)
  • Baa-a = he drew/dia telah menarik → baa-uu = they drew/mereka telah menarik
  • Bi = with/dengan
  • Ghodliba = he was angry/dia telah marah → ghodlobun = an anger/sebuah kemarahan → bi adalah preposisi, maka ghodlobun majrur jadi ghodlobin
  • Allah diawali huruf vokal, maka min berubah jadi mina → mina adalah preposisi, maka Allah majrur jadi alloohi
  • Dzaalika = that/itu → dzaalika adalah mubtadak, bi annahum kaanuu yakfuruuna bi aayaatillaahi adalah khobarnya, sehingga diberikan kata "adalah" di terjemahannya.
  • Bi = because/karena
  • Anna (semacam inna)= that/bahwa → hum adalah ism inna, kaanuu yakfuruuna bi aayaatillaahi adalah khobar inna
  • Kaana = he was/dia → kaanuu = they were
  • Kafaro = he disbelieve/dia telah tidak percaya → yakfuruuna = they disbelieve/mereka tidak percaya
  • Bi = with/dengan
  • Aayatun = a sign/a miracle/sebuah tanda/sebuah mukjizat → aayaatun = signs/miracles (bentuk jamaknya) → bi adalah preposisi, maka aayaatun majrur jadi aayaatin
  • Allah majrur jadi Allaahi, dan aayaatin hilang tanwin jadi aayaati, berarti Allaahi adalah mudlof ilaih dari aayaati
  • Qotala = he killed/dia telah membunuh → yaqtuluuna = they kill/mereka membunuh
  • Nabaa = he informed/dia telah memberitahu → nabiyyun = a prophet/seorang nabi → an-nabiyyuuna = THE prophets (jamak definit) → manshub jadi an-nabiyyiina, berarti posisinya adalah sebagai maf'ul (objek) dari yaqtuluuna
  • Bi (with) + ghoirun (no) = bi ghoirin (without), ghoirun majrur jadi ghoirin karena bi adalah preposisi
  • Haqqun = a right/sebuah hak → al-haqqu = THE right (bentuk definitnya) → al-haqqu majrur jadi al-haqqi, ghoirin hilang tanwin jadi ghoiri, berarti al-haqqi adalah mudlof ilaih dari ghoiri
  • Bimaa = because/karena → dzaalika adalah mubtadak, bimaa 'ashou adalah khobar, sehingga di terjemahannya, ditambahkan "adalah"
  • 'Ashoo (akhiran "y" memanjangkan "sho") = he disobeyed/dia telah durhaka → 'ashouu (akhiran "a" memanjangkan "w") = they disobeyed/mereka telah durhaka
  • 'Aduu = he transgressed/dia telah melampaui batas → i'tadaa (wazan 8: refleksif/pasif) = he transgressed/dia telah melampaui batas → ya'taduuna = they transgress/mereka melampaui batas
Wa idz qultum yaa muusaa lan nashbiro 'alaa thoo'amin waahidin, fad'u lanaa robbaka yukhrij lanaa mimmaa tunbitul ardlu min baqlihaa wa qitstsaa-ihaa wa fuumihaa wa adasihaa wa ba-shoolihaa, qoola a tastabdiluunal ladzii huwa adnaa billadzii huwa khoirun, ihbithuu mishron, fa inna lakum maa sa-altum, wa dluribat 'alaihimudz dzillatu wal maskanatu wa baa-uu bi gho-dlobin minalloohi, dzaalika bi annahum kaanuu yakfuruuna bi aayaatillaahi wa yaqtuluunan nabiyyiina bi ghoiril haqq, dzaalika bimaa 'a-shou wa kaanuu ya'taduuna

Inggris: And (remember) when you-all said "O Musa, we will never be patient on one (type of food) eater, then invoke your Lord to us, 'you bring forth to us from what THE earth grows from her (the earth's) herbs, and her cucumber, and her Fuum, and her lentil, and her onion'." He said "Do you-all exchange one which is inferior for one which is better? You all go down to a town! Then verily for you-all are what you-all asked." And THE humiliation, as well as poverty, WAS set forth upon you, and you-all drew with an anger from Allah, that is because that you-all disbelieved with Allah's signs/miracles and you-all killed THE prophets without the right, that is because you disobeyed and you transgressed".

Indonesia: Dan (ingatlah) saat kalian berkata "Wahai Musa, kami takkan bersabar atas makanan yang satu (macam saja), maka serulah Robbmu untuk kami 'kamu keluarkan untuk kami dari apa yang bumi tumbuh dari sayurannya, dan mentimunnya, dan Fuumnya, dan kacang adasnya, dan bawang merahnya'." Dia berkata "Apakah kalian mengganti dengan yang lebih rendah dari yang lebih baik? Turunlah kalian ke sebuah kota! Lalu sesungguhnya bagi kalian adalah apa yang kalian telah minta." Dan sang kehinaan, dan juga sang kemiskinan, ditimpakan atas mereka, dan mereka telah menarik sebuah kemarahan dari Allah, itu karena mereka telah tidak percaya dengan tanda-tanda/mukjizat-mukjizat Allah dan mereka telah membunuh para nabi tanpa sang kebenaran. Itu adalah karena mereka telah tidak taat dan mereka telah melampaui batas.

Wa idz qultum yaa muusaa lan nashbiro 'alaa thoo'amin waahidin, fad'u lanaa robbaka yukhrij lanaa mimmaa tunbitul ardlu min baqlihaa wa qitstsaa-ihaa wa fuumihaa wa adasihaa wa ba-shoolihaa

Tafsir Ibn Katsir: Allah mengingatkan Bani Isroil saat Dia menurunkan al-manna dan burung puyuh kepada mereka, makanan yang baik, asli, bermanfaat, dan mudah didapat, tapi mereka tidak bersyukur atas itu, malah meminta Musa menukar makanan ini dengan makanan yang lebih inferior seperti sayuran, dll.

Atsar Al Hasan Al Bashri: Bani Isroil bosan dan tidak sabar dengan tipe makanan yang dirizqikan kepada mereka. Mereka teringat dulunya mereka hidup dengan makan kacang adas, bawang merah, bawang putih, dan sayuran.

Tafsir Ibn Katsir: 'alaa tho'aamin waahidin, yaitu al-manna dan burung puyuh, karena setiap hari mereka makan itu.

Fuum

Atsar Ibn Mas'ud, Ibn Abi Hatim, Al Hasan Al Bashri: maksudnya tsuum (bawang putih)

Atsar Ibn Abbas: maksudnya bawang putih, tapi bisa juga berarti dalam bahasa kuno, Fuumuulanaa artinya "buatkan roti untuk kami".

Tafsir Ibnu Jarir: kalau fuum artinya tsuum, maka dalam Arab Klasik, huruf "f" bisa diubah-ubah. Contohnya
Wa qo'uu fii 'aa-tsuurin syarri = Wa qo'uu fii 'aafuurin syarri (mereka terlibat dalam perkara kejahatan)
A-tsaafii = A-tsaa-syi (batu penyangga untuk memasak)
Maghoofiirun = Maghoo-tsiirun (pelapis topi perang dari besi)

Atsar Ibn Jarir, Ibn Abu Hatim, Ali bin Abu Tholhah, Adh Dhohhak, dan 'Ikrimah: dari Ibn 'Abbas: Fuum artinya gandum.

Atsar 'Atho' dan Qotadah: Fuum artinya setiap biji-bijian yg bisa dibuat roti.

Tafsir Al Bukhori: Fuum adalah semua biji-bijian yang bisa dimakan.

Qoola a tastabdiluunal ladzii huwa adnaa billadzii huwa khoiru

Tafsir Ibn Katsir: Musa menyindir Bani Isroil karena meminta makanan yang kualitas rendah, meskipun mereka menjalani hidup enak, makan enak, bergizi, dan asli.

Ihbithuu mishron

Atsar Ibn 'Abbas: Mishron artinya suatu kota.

Atsar Ibn Jarir: dari Abul 'Aliyah dan Ar Robi' bin Anas: Mishro adalah Mesir, kotanya Fir’aun. Ini berdasarkan qiroah (cara membaca) Ubay bin Ka'b dan Ibnu Mas’ud, yang tanpa tanwin (dibaca Mishro, bukan Mishron).

Tafsir Ibn Katsir: Musa berkata, "Apa yang kalian minta itu mudah, karena tersedia berlimpah di kota manapun yang kamu masuki. Karena itu, aku tidak akan minta Allah untuk memberikannya, terutama karena semua itu adalah makanan yang lebih rendah." Permintaan mereka adalah karena bosan dan arogan dan ini tidak perlu dipenuhi, maka permintaan ini ditolak.

Wa dluribat 'alaihimudz dzillatu wal maskanatu

Tafsir Ibn Katsir: Bani Isroil dilanda kehinaan oleh siapapun, dan tidak akan pernah berhenti. dan kemiskinan ditimpakan dan ditetapkan atas mereka sesuai takdir dan syari’at. Mereka akan selalu dihinakan. Tiap orang yg bertemu mereka akan memandang mereka hina dan rendah.

Atsar Al Hasan Al Bashri: Allah mempermalukan mereka, mereka tidak punya pelindung. Allah meletakkan mereka di bawah kaki kaum Muslim, dan sempat kaum Majusi (Zorroaster) memungut jizyah (pajak) dari Yahudi.

Atsar Abul 'Aliyah, Ar Robi' bin Anas, dan As Suddi: Al maskanah artinya kemiskinan.

Atsar 'Athiyah al-'Aufi: Al maskanah artinya membayar khorroj (pajak).

Wa baa-uu bi gho-dlobin minalloohi

Atsar Adh Dhohhak: mereka berhak mendapat kemarahan Allah.

Tafsir Ibn Jarir: mereka kembali dengan kemarahan Allah.

Dzaalika bi annahum kaanuu yakfuruuna bi aayaatillaahi wa yaqtuluunan nabiyyiina bi ghoiril haqqi

Tafsir Ibn Katsir: Kehinaan dan kemiskinan adalah ganjaran dari Allah kepada Bani Isroil. Kemarahan Allah kepada mereka adalah sebagian dari kehinaan yang mereka dapat, karena mereka mengingkari kebenaran, tidak percaya dengan tanda-tanda/mukjizat Allah, dan meremehkan pembawa syariah Allah, yaitu para nabi dan pengikutnya. Bani Isroil menolak para rosul dan membunuhnya. Tidak percaya kepada tanda-tanda/mukjizat Allah dan membunuh para nabi adalah bentuk kafir yang paling buruk.

Hadits Bukhori Muslim: dari Rasulullah: Al kibru bathorul haqqi wa ghomthun naas (Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan (meremehkan) orang lain)

Hadits Imam Ahmad: dari Ibn Mas'ud: Saat datang menemui Rasulullah, Ibnu Mas'ud menemui akhir pembicaraan Rosululloh dengan Malik Bin Maroroh Ar Rohawai, Malik berkata, "Wahai Rosululloh, aku telah mendapat bagian ternak unta seperti yang engkau lihat sendiri, maka aku tidak suka kalau ada seseorang dari mereka punya bagian yang lebih dariku dua ekor ternak atau lebih. Akan tetapi bukankah perasaan ini disebut sombong?" Rosululloh berkata

Laa. Laisa dzaalika minal baghyi. Wa laakinnal baghyu min bathorin au qoola safahul haqqi wa ghomthun naas (Bukan, itu bukan kesombongan, tapi kesombongan adalah angkuh atau berkata meremehkan kebenaran dan merendahkan orang lain)

Hadits Imam Ahmad: dari Ibn Mas'ud: dari Rosululloh: Asyaddun naasi 'adzaaban yaumal qiyaamati (orang yg diadzab paling kejam di hari kiamat) rojulun qotalahu nabiyyun au qotala nabiyyan (adalah lelaki yang dibunuh nabi atau dia yang membunuh nabi) wa imaamu dlolaalatun (dan pemimpin yang dholim) wa mumatstsilun minal mumatstsiliin (dan orang yg memutilasi orang mati)

Dzaalika bimaa 'a-shou wa kaanuu ya'taduuna

Tafsir Ibn Katsir: Ini adalah alasan lain mereka dibalas seperti itu oleh Allah, yaitu karena mereka durhaka (melanggar larangan Allah) dan melampaui batas (melanggar batas ketentuan yang diizinkan dan dilarang).

Senin, 12 Januari 2009

Al Baqoroh ayat 29

AYAT 29: Huwalladzii kholaqo lakum maa fil ardli jamii’an tsummas tawaa ilas samaa-i fa sawwaahunna sab’a samaawaat. Wa huwa bi kulli syai-in ‘aliim.

I'rob

  • Huwa = he/dia
  • Alladzii = one who/yang → ada ism maushul, berarti kalimat setelahnya dirubah jadi menduduki posisi kata benda, yaitu kalimat kholaqo lakum maa fil ardli → sehingga huwa adalah mubtadak dan alladzii kholaqo lakum maa fil ardli adalah khobar
  • Kholaqo = he created/dia telah menciptakan (fi'l ma-dlii = past tense)
  • La = for/bagi
  • Kum = you-all/kalian
  • Maa = what/apa yang (relative pronoun)
  • Fii = in/di dalam
  • Al-ardlu = THE earth → fii adalah preposisi, maka al-ardlu majrur jadi al-ardli
  • Jama'a = he gathered/dia telah menghimpun → jamii'un = sekalian/semuanya → manshub jadi jamii'an, berarti sebagai Haal (kata keterangan)
  • Tsumma = lalu
  • Sawiya = he balanced/dia telah seimbang → istawaa (wazan 8: refleksif/pasif) = he rose/dia telah naik → sawwaa (wazan 2: causative) = he made balanced/dia telah menyeimbangkan
  • Ilaa = towards/menuju
  • Samaa-un = A sky/sebuah langit → as-samaa-u = bentuk definitnya/THE sky → ilaa adalah preposisi, maka as-samaa-u majrur jadi as-samaa-i
  • Fa = then/lalu
  • Hunna = both of those women/mereka (>2 perempuan) → sudah digantikan oleh sab'a samaawatin, sehingga hunna tidak perlu diartikan
  • Sab'a = tujuh
  • Wa = dan
  • Huwa = he/dia
  • Bi = with/dengan
  • Kullun = every/setiap → bi adalah preposisi, maka kullun majrur jadi kullin
  • Syai-un = something/sesuatu → kullin hilang tanwin jadi kulli, syai-un majrur jadi syai-in, berarti syai-in adalah mudlof ilaih (pemilik) dari kulli
  • 'Alima = he knew/dia telah tahu → 'Aliimun = Most Knowledgeable/Mahatahu → huwa adalah mubtadak, 'aliimun adalah khobarnya, dan bi kulli syai-in adalah Haal Muqoddam (kata keterangan yang diawalkan) dari 'aliimun
Huwalladzii kholaqo lakum maa fil ardli jamii’an tsummas tawaa ilas samaa-i fa sawwaahunna sab’a samaawaat. Wa huwa bi kulli syai-in ‘aliim

Inggris: He is the one who created what are in THE earth for you entirely, and then He rose towards THE sky, then He made 7 skies balanced, and He is Most Knowledgeable over everything.
Indonesia: Dia adalah yang telah menciptakan untuk kalian apa yang di bumi semuanya, lalu Dia naik menuju sang langit lalu Dia menyamaratakan 7 langit. Dan Dia adalah Mahatahu pada setiap sesuatu.

Tujuan ayat

Tafsir Ibn Katsir: Pertama, Allah menyebutkan dalil tentang bagaimana manusia diciptakanNya, lalu dalil tentang apa yg mereka bisa saksikan sebagai buktinya, lalu dalil tentang apa yg mereka bisa saksikan: penciptaan langit dan bumi.

Atsar 'Ali bin Abi Tholhah: dari Ibn 'Abbas: Tsumma di ayat ini adalah urutan penceritaan, bukan urutan kejadian.

Kholaqo lakum maa fil ardli jamii'an

Tafsir Ibn Katsir: Dia menciptakan bumi dulu sebagai fondasinya, baru lalu menciptakan langit sebagai atapnya.

Allah menciptakan bumi dalam 2 hari.
Fushshilat 9: Qul a inna kum la takfuruuna bil ladzii kholaqol ardlo fii yaumaini wa taj'aluuna lahu andaadan? (Katakan, apakah sesungguhnya kalian benar-benar ingkar dengan yang telah menciptakan bumi dalam 2 hari dan kalian menjadikan tandingan-tandingan bagiNya (selain Allah yang juga diibadahi)?) Dzaalika robbul 'aalamiina (That is Lord of the universes).

Tafsir Ibn Katsir: 2 hari itu adalah Minggu dan Senin.

Fushshilat 10: Wa ja'ala fiiha rowaasiya min fauqihaa (Dan Dia jadikan di dalamnya (di dalam bumi) gunung2 dari atasnya) wa baaroka fiiha (dan Dia memberkati di dalamnya), wa qoddaro fiihaa aqwaatahaa fii arba'ati ayyaami sawaa-an lis saa-iliina (dan Dia menetapkan/ menakdirkan di dalamnya pangannya dalam 4 hari; sama rata untuk orang-orang yang menanyakannya.

Tafsir Ibn Katsir: gunung diberkati, diberikan potensi untuk bisa ditanami dengan benih dan bisa dipanen darinya. Allah menetapkan pangan manusia (rizqi dan tempat menanam tanaman yang bisa dipanen), di hari Selasa dan Rabu. Total sudah 4 hari, bagi yang menanyakannya.

Tsummas tawaa ilas samaa-i

Fushshilat 11: Tsummas tawaa ilas samaa-i wa hiya dukhoonun (lalu Dia naik ke arah langit dan ia (langit masih berupa) asap) fa qoola lahaa wa lil ardlis tiyaa thou'an au karhan (lalu Dia berkata kepadanya (langit) dan kepada bumi: Datanglah kalian berdua dengan sukahati atau terpaksa), qoolataa atainaa thoo-i'iina (mereka berdua berkata: kami datang dengan sukahati).
Tafsir Ibn Katsir: langit masih berupa asap adalah asap yang muncul dari langit saat bumi diciptakan.

Kesepakatan jamaah tentang makna Istawaa (naik): terima saja, tidak perlu menafsirkan esensinya, tidak perlu menyamakan dengan istawaa nya makhluk, menggantinya, apalagi menolaknya.

Fa sawwaahunna sab’a samaawaat

Fushshilat 12: Fa qodloohunna sab'a samaawaati fii yaumaini (Lalu Dia menciptakan 7 langit dalam 2 hari) wa auhaa fii kulli samaa-in amrohaa (dan Dia mewahyukan urusannya di setiap langit) wa zayyannas samaa-ad dun-yaa bi mashoobiiha wa hifdhon (dan Kami menghiasi langit dunia dengan bintang-bintang dan (Kami ciptakan itu untuk) memelihara (dari setan yang mencuri berita ghoib dari malaikat) dzaalika taqdiirul 'aziizil 'aliim (demikianlah takdir dari Mahaperkasa Mahatahu).

Tafsir Ibn Katsir: yaitu Kamis dan Jumat.

Berapa hari total penciptaan bumi dan langit?

6 hari, Minggu sampai Jumat. Tapi ada perbedaan pendapat apakah hari-hari itu sama dengan hari kita.

Al A'roof 54: Inna robbakumulloohul ladzii kholaqos samaawati wal ardlo fii sittati ayyaamin (sesungguhnya Robb kalian adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam 6 hari) tsummas tawaa 'alal 'arsyi (lalu Dia naik ke Tahta (The Throne)) yughsyil lailan nahaaro yathlubuhu (Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat) wasy syamsa wal qomaro wan nujuuma musakhkhorooti bi amrihi (dan matahari, bulan dan bintang tunduk dengan perintahNya) Alaa lahul kholqu wal amr (Sesungguhnya, milikNya (hak prerogatif) adalah penciptaan dan perintah) tabaarokalloohu robbu 'aalamiin (Terberkatilah Lord of THE universes)

Hadits shohih Imam Ahmad, Muslim: dari Abu Huroiroh: Rosululloh memegang kedua tanganku dan berkata Kholaqolloohu 'azza wa jallat turbata yaumas sabti (Allah 'Azza Wa Jalla menciptakan debu pada hari Sabtu) wa kholaqo fiihal jibaala yaumal ahaad (dan Dia menciptakan gunung di dalamnya pada hari Minggu) wa kholaqosy syajaro yaumal itsnain (dan Dia menciptakan pohon pada hari Senin), wa kholaqol makruuha yaumats tsalaatsaak (dan Dia menciptakan Al Makruh (hal-hal tidak menyenangkan) pada hari Selasa) wa kholaqon nuuro yaumal arbi'aak (dan Dia menciptakan cahaya pada hari Rabu), wa batstsa fiihad dawabba yaumal khomiis (dan Dia menyebarkan (propagate) hewan pada hari Kamis) wa kholaqo aadama 'alaihis salaam (dan Dia menciptakan Adam, semoga keselamatan adalah atasnya) ba'dal 'ashri min yaumil jumu'ah (setelah 'Ashr pada hari Jumat). Fii aakhiril kholqi, fii aakhiri saa'atin min saa'aatil jumu'ati, fii maa bainal 'ashri ilal lail (dia adalah ciptaan terakhir, di jam terakhir dari jam-jam Jumat, di antara 'Ashr dan malam itu).

Atsar Mujahid, Imam Ahmad: dari Adh Dhohhak: dari Ibn 'Abbas: sehari = 1000 tahun.

Tafsir Ibn Katsir: Sabtu tidak ada penciptaan karena hari ketujuh → As Sabt = istirahat/berhenti.

An Naazi’at 27-33: A antum a-syaddu kholqon amis samaak (Apakah kalian lebih sulit penciptaannya ataukah langit (yang lebih sulit?)) banaahaa (Dia membangun) rofa'a samkahaa fa sawwaaha ((yaitu) Dia telah meninggikan bangunannya lalu Dia menyamaratakannya (menyempurnakannya)) wa aghthosya lailahaa wa akhroja dluhaaha (dan Dia tutupkan malamnya (sehingga gelap) dan Dia keluarkan waktu Dhuhanya (sehingga terang)) wal ardlo ba'da dzaalika dahaaha (dan bumi lalu dihamparkan) akhroja minhaa maa-ahaa wa mar'aaha ((yaitu) dia mengeluarkan air dan tumbuhan darinya) wal jabaala arsaahaa (dan gunung-gunung Dia pancangkan dengan kokoh). Mataa'an lakum wa li an'aamikum (kesenangan adalah bagi kalian dan bagi hewan ternak kalian).

Urutan penciptaan: Bumi - Langit - Isi Bumi?

Hadits shohih Bukhori: dari Sa'id bin Jubair: Seorang lelaki berkata kepada Ibn 'Abbas "Aku menemukan beberapa hal dalam Alqur-an yang membingungkanku: di surat An Naazi'at 27-30 Allah menceritakan penciptaan langit sebelum bumi, lalu di surat Fushshilat 9-12 Allah menceritakan penciptaan bumi sebelum langit." Ibn Abbas berkata "Allah mencipta bumi dalam 2 hari, lalu Dia menciptakan langit, lalu Dia naik ke arah langit dan memberinya bentuk dalam 2 hari tambahan. Lalu Dia menghamparkan bumi, yaitu mengeluarkan air dan tumbuhannya. Dan Dia menciptakan gunung, pasir, benda mati, batu, bukit, dan apapun di antaranya, dalam 2 hari tambahan. Ini adalah apa yang Allah katakan "wal ardlo ba'da dzaalika dahaaha". Jadi Dia menciptakan bumi dan apapun di dalamnya dalam 4 hari, dan Dia menciptakan langit dalam 2 hari.

Tafsir Mujahid: Allah menciptakan bumi dulu baru langit. Saat menciptakan bumi lalu asap membumbung dari bumi.

An Naazi'at 30 → Dia menghamparkan (Dahaa) bumi = semua kekayaan bumi dibawa ke permukaan setelah menciptakan bumi dan langit. Yaitu mata air, tanaman, bintang dan planet berotasi.

Wahuwa bikulli syai-in ‘aliim

Tafsir Ibn Katsir: yaitu bahwa ilmu Allah meliputi semua ciptaanNya.

Al Mulk 14: A laa ya'lamu man kholaqo (apakah Dia belum tahu apa yang Dia ciptakan?)

Jumat, 09 Januari 2009

Al Baqoroh ayat 26

AYAT 26: Innallooha laa yastahyii an yadlriba matsalan maa ba’uudlotan fa maa fauqohaa. Fa ammal ladziina aamanuu fa ya’lamuuna annahul haqqu min robbihim. Wa ammal ladziina kafaruu fa yaquuluuna maadzaa aroodallahu bihaadzaa matsala? Yudlillu bihii katsiiron wa yahdii bihii katsiiron. Wamaa yudlillu bihii illal faasiqiin.

I'rob

  • Inna = verily/sesungguhnya → maka Allah adalah ism inna dan laa yastahyii adalah khobar inna
  • Allah → manshub jadi Allooha karena ism inna
  • Laa → Laa nafiyah (negasi)
  • Hayiya = he lived/he was ashamed/dia telah hidup/dia telah malu → istahyaa (wazan 10: meminta/berpikir bahwa itu harus terjadi)= he became ashamed → laa yastahyii = he doesn't become ashamed
  • An = that/bahwa
  • Dloroba = he put forth/dia telah membuat → (arti dloroba ada banyak, tapi yang pas untuk konteks ini adalah membuat) → yadlribu = he makes (fi'l mudloorik = present tense) → an mengubah yadlribu jadi yadlriba (bentuk subjunctive)
  • Matsala = he applied a proverb/dia telah memisalkan → matsalun = a parable --> matsalun manshub jadi matsalan, berarti matsalan adalah objek dari yadlriba
  • Maa → maa masdariyah = bahwa kata berikutnya adalah masdar
  • Ba'uudlotun = a mosquito/seekor nyamuk → karena maa masdariyah, manshub jadi ba'uudlotan
  • Fa = dan → karena konteksnya menambahkan
  • Maa = what/apa yang
  • Faaqo/Fauqo = he was beyond/dia telah melebihi
  • Haa = her/dia
  • Fa = then/lalu
  • Ammaa = as for/adapun
  • Alladziina = those who/yang → berarti kata setelahnya adalah kalimat yg ingin diubah jadi kata benda, dan subjeknya jamak, yaitu aamana, karena setelah amma harus kata benda
  • Aamana = he believed/dia telah beriman → aamanuu = they believed/mereka telah beriman (fi'l ma-dlii = past tense)
  • Fa = maka
  • 'Alima = he knew/dia telah tahu → ya'lamuuna = they know/mereka tahu (fi'l mudloorik)
  • Anna = that/bahwa → maka hu adalah ism inna dan al-haqqu adalah khobar inna, dan di terjemahannya ditambahkan "adalah"
  • Hu = him/dia
  • Haqqun = a truth/sebuah kebenaran → al-haqqu = THE truth
  • Min = from/dari
  • Robbun = Lord → min adalah preposisi, maka robbun majrur jadi robbin
  • Hum = mereka → hum majrur jadi him, dan robbin hilang tanwin jadi robbi, maka him adalah mudlof ilaih dari robbi.
  • Wa = dan
  • Alladziina = those who/yang → karena amma harus diikuti kata benda, dan kafaruu adalah kalimat, dan kafaruu bersubjek jamak.
  • Kafaro = he disbelieved/dia telah ingkar → kafaruu = they disbelieved/mereka telah ingkar
  • Qoolu = he said/dia telah berkata → yaquuluuna = they say/mereka berkata
  • Maadzaa = what/apa yang → ism istifham (kata tanya)
  • Rooda = he sought/he asked/dia telah mencari/dia telah meminta → Arooda/Iroodatan (wazan 4: causative) = he willed/dia telah menghendaki
  • Allah marfu' (berakhiran "u"), berarti posisinya adalah subjek dari arooda.
  • Bi = with/dengan
  • Haadzaa = this/ini
  • Dlolla = he went ashtray/dia telah sesat → yadlillu = he goes ashtray/dia sesat → yudlillu = he misleads/dia menyesatkan (fi'l mudloorik majhul/present tense pasif)
  • Bihi Bi = with/dengan, hu = him/dia → bi adalah preposisi, maka hu harus majrur jadi hi
  • Katsiirun = many/banyak → katsiirun manshub jadi katsiiron, maka posisinya adalah maf'ul (objek) kedua dari yudlillu dan yahdii (bihii adalah objek pertama)
  • Hadaa = he guided/dia telah menunjukkan → yahdii = he guides/dia menunjukkan (fi'l mudloorik = present tense)
  • Wa = dan
  • Maamaa nafiyah (negasi)
  • Illa = but/kecuali
  • Fasaqo = he committed disobedience/dia telah fasiq → faasiqun = a rebellious person/orang fasiq → al-faasiquuna = the rebellious people/orang-orang fasiq → illa adalah preposisi, maka al-faasiquuna majrur jadi al-faasiqiina

Innallooha laa yastahyii an yadlriba matsalan maa ba’uudlotan fa maa fauqohaa. Fa ammal ladziina aamanuu fa ya’lamuuna annahul haqqu min robbihim. Wa ammal ladziina kafaruu fa yaquuluuna maadzaa aroodallahu bi haadzaa matsala? Yudlillu bihii katsiiron wa yahdii bihii katsiiron. Wamaa yudlillu bihii illal faasiqiin

Inggris: Verily, Allah doesn't become ashamed that He puts forth a parable of a mosquito and what beyond him (the mosquito). And then as for those who believed, then they know that he (the parable) is THE truth from their Lord. And for those who disbelieved, then they say "What did Allah will with this parable?" He misleads many with him (the parable) and He guides many with him, and He doesn't mislead, but the rebellious people, with it.
Indonesia: Sesungguhnya Allah tidak menjadi malu bahwa Dia membuat sebuah perumpamaan dari sebuah nyamuk dan apa yang melebihinya, lalu adapun orang-orang yang telah beriman, maka mereka tahu bahwa dia (perumpamaan) adalah sang kebenaran dari Robb mereka. Dan adapun mereka yang telah tidak percaya, maka mereka berkata "Apa yang Allah telah inginkan dengan perumpamaan ini?" Dia menyesatkan banyak (orang) dengannya (dengan perumpamaan), Dia menunjukkan (ke jalan yang benar) banyak (orang) dengannya, dan Dia tidak menyesatkan, selain orang-orang fasiq, dengannya.

Kapan ayat ini diturunkan?

Atsar As Suddi: dari Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud: Saat Allah memberi 2 contoh orang munafik (perumpamaan api dan hujan lebat), orang munafik berkata bahwa Allah itu terlalu mulia untuk membuat perumpamaan, maka turunlah ayat 26 dan 27.

Atsar Sa'id: dari Qotadah: Allah tidak malu saat menceritakan sesuatu sebagai perumpamaan, baik signifikan ataupun tidak. Saat Allah menyebutkan lalat dan laba2 dalam Qur-an, orang kafir berkata "Kenapa Allah menceritakan hal-hal seperti ini?" Lalu turunlah ayat ini sampai ayat 27.

Ayat perumpamaan yang membuat turunnya ayat 26-27

Al Hajj 73: Yaa ayyuhan naasu dluriba matsalun fastami'uu lahu (Wahai manusia, satu perumpamaan telah dibuat, maka kalian dengarkan padanya). Innal ladziina tad'uuna min duunillaahi lan yakhluquu dzubaaban walawij tama'uu lahu (Sesungguhnya mereka, yang kalian berdoa (kepadanya) dari selain Allah, takkan (bisa) mereka menciptakan seekor lalat walau mereka berkumpul untuknya (untuk menciptakannya)) Wa in yaslubhumudz dzubaabu syai-an laa yastanqidzuuhu minhu (dan jika lalat itu merampas sesuatu (dari) mereka, mereka tidak (bisa) merebutnya darinya). Dlo'ufath thoolibu wal mathluubu ((betapa) lemahnya yang mencari (beribadah) dan yang dicari (diibadahi)).

Al Ankabut 41: Matsalul ladziinat takhodzuu min duunillaahi auliyaa-a kamatsalil 'ankabuut (Perumpamaan mereka yang mengambil wali (orang yang didengarkan nasihatnya) dari selain Allah adalah seperti perumpamaan laba-laba). Ittakhodzat baitan (dia membuat rumah). Wa inna auhanal buyuuti la baitul 'ankabuut (dan sesungguhnya rumah-rumah yang paling lemah adalah niscaya rumah laba-laba) lau kaanuu ya'lamuuna (kalau mereka tahu).

Ibrohim 24-25: A lam taro kaifa dloroballoohu matsalan kalimatan thoyyibatan (Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kata yang baik) ka syajarotin thoyyibatin ashluhaa tsaabitun wa far'uhaa fis samaak (seperti pohon yang baik akarnya kokoh dan cabangnya (menjulang) di langit). Tuktii ukulahaa kulla hiinin bi idzni robbihaa (dia (pohon itu) memberikan makanannya (buahnya) setiap masa (musim) dengan izin Robbnya). Wa yadlribulloohul amtsaala lin naasi la'allahum yatadzakkaruun (dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia, agar mereka selalu ingat).

Ibrohim 26-27: Wa matsalu kalimatin khobii-tsatin ka syajarotin khobiitsatin ijtutstsat min fauqil ardli maa lahaa min qoroor (dan perumpamaan kata yang buruk seperti pohon yang buruk yang telah dicabut dari permukaan bumi, darinya tidak ada dari ketetapan (ketegakan)). Yutsabbitulloohul ladziina aamanuu bil qoulits tsaabiti fil hayawaatid dun-yaa wa fil aakhiroh (Allah meneguhkan mereka yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan akhirat) Wa yudlillulloohudh dhoolimiin (dan Allah menyesatkan orang-orang dholim) wa yaf'alulloohu maa yasyaak (dan Dia melakukan apa yang Dia menghendaki)

An Nahl 75: Dloroballoohu matsalan 'abdan mamluukan laa yaqdiru 'alaa syai-in (Allah membuat perumpamaan seorang hamba yang dimiliki (hamba sahaya), dia tidak berkuasa atas sesuatu) wa man rozaqnaahu minnaa rizqon hasanan fa huwa yunfiqu minhu sirron wa jahron (dan barangsiapa yang Kami rizqikan dia dari Kami rizqi yang baik, lalu dia menafkahkan/menginfakkan sebagiannya sembunyi-sembunyi dan terang-terangan). Hal yastawuun? (Apakah mereka sama?) Alhamdulillah (segala puji bagi Allah). Bal aktsaru hum laa ya'lamuun (tetapi kebanyakan mereka tidak tahu).

An Nahl 76: Wa dloroballoohu matsalan rojulaini (Dan Allah membuat perumpamaan dua lelaki) ahaduhumaa abkamu laa yaqdiru 'alaa syai-in (salah satu dari keduanya bisu (perumpamaan berhala), dia tidak berkuasa atas sesuatu) wa huwa kallun 'alaa maulaahu (dan dia bergantung atas tuannya). Ainamaa yuwajjihhu laa yakti bi khoir (kemana saja menghadapkannya dia tidak mendatangkan kebaikan) Hal yastawii huwa wa man yakmuru bil 'adli wa huwa 'alaa shiroothim mustaqiim (Apakah dia sama dengan barangsiapa yang menyuruh pada keadilan dan dia (di) atas jalan yg lurus)?

Ar Ruum 28: Dloroba lakum matsalan min anfusikum (Dia membuat perumpamaan bagi kalian dari diri kalian sendiri). Hal lakum min maa malakat aimaanukum min syurokaa-a fii maa rozaqnaakum (Apakah dari apa yang tangan kanan kalian miliki (hamba sahaya kalian) adalah dari sekutu-sekutu bagi kalian dalam apa yg Kami telah rizqikan kepada kalian) fa antum fiihi sawaa-un takhoofuunahum ka-khiifatikum anfusakum (sehingga kalian di dalamnya sama, kalian takut pada mereka seperti kalian takut (pada) diri kalian sendiri?) Ka dzaalika nufashshilul aayaati li qoumin ya'qiluun (Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat bagi kaum yg punya akal/otak)

Ba'uudlotan

Atsar Abu Ja’far Ar Rozi: dari Ar Robi’ bin Anas: Ini adalah perumpamaan Allah untuk kehidupan dunia. Nyamuk bisa hidup selama dia perlu makanan, tapi setelah gemuk, nyamuk mati. Ini juga perumpamaan untuk kaum yg disebut Allah di Alqur-an: saat mereka memperoleh dan mengumpulkan kesenangan di dunia, Allah akan mengambilnya.

Al An’aam 44: Fa lammaa nasuu maa dzukkiruu bihi (maka setelah mereka melupakan apa yg diperingatkan kepada mereka dengannya) fa tahnaa 'alaihim abwaaba kulli syai-in (Kami membukakan atas mereka pintu-pintu segala sesuatu). Hattaa idzaa farihuu bi maa uutuu, akhodznaa hum baghtatan (sehingga saat mereka bergembira dengan apa yg diberikan untuk mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba), fa idzaa hum mublisuun (maka saat itu mereka adalah orang-orang yang putus asa).

Famaa fauqoha

Hadits Muslim: dari Aswad: beberapa lelaki muda Quroisy mengunjungi 'Aisyah karena dia sedang di Mina, dan mereka tertawa. Dia berkata "Kenapa kamu tertawa?" Mereka berkata "Si fulan tersandung tali tenda dan dia antara akan mematahkan lehernya atau kehilangan matanya". Dia berkata "Jangan tertawa, karena aku mendengar Rosululloh berkata: Maa min muslimin yusyaaku syaukatan famaa fauqohaa illaa kutiba lahu bihaa darojatun. Wa muhiyat ‘anhu bihaa khothii-ah. (Jika seorang muslim tertusuk duri, fama fauqoha (bahkan melebihinya = lebih parah), dijamin baginya satu derajat dan dosa-dosanya dihapuskan).

Perumpamaan

Atsar Ibn Abi Hatim: dari 'Amr bin Murroh: aku tidak pernah mendapati satupun ayat dalam Alqur-an yang aku tidak paham, melainkan itu membuatku menangis, karena Surat Al Ankabut 43.

Al Ankabut 43: Wa tilkal lumtsaalu nadlribuhaa lin naasi (Dan perumpamaan2 itu Kami buat untuk manusia). Wa maa ya'qiluhaa illal 'alimuun (dan tidak ada yang bisa memahaminya (memakai otaknya) kecuali orang2 yg berilmu).

"Yudlillu bihii katsiiron" wa "Yahdii bihii katsiiron"

Atsar As Suddi: dari Ibnu Abbas, Murroh, Ibnu Mas’ud: banyak yang disesatkan dengan perumpamaan-perumpamaan, yaitu orang-orang munafik. Dia menunjukkan (jalan lurus) banyak (orang), yaitu orang-orang beriman.

Al-faasiqiina

Orang fasik = orang yg keluar dari ketaatan.
Dalam bahasa Arab ada "fasaqotir ruthbah", yaitu jika kurma (ruthbah) keluar dari kulitnya.
Tikus juga disebut “fuwaisiqoh” artinya selalu keluar dari persembunyiannya untuk merusak.

Tafsir As Suddi: yaitu orang munafik.

Tafsir Ibnu Katsir: yaitu orang kafir dan durhaka.

Hadits Bukhori Muslim: Lima fawaasiqo (hewan fasik) yuqtalna (mereka boleh dibunuh), baik di tanah halal maupun di tanah haram, yaitu Ghuroobu (gagak), Hada-ah (elang), ‘Aqrob (kalajengking), Fakroh (tikus), dan Kalbul ‘Ukuur (anjing gila).

Kamis, 01 Januari 2009

Al Baqoroh ayat 22

AYAT 22: Alladzii ja'ala lakumul ardlo firoosyan wassamaa-a binaa-an wa anzala minas samaa-i maa-an fa akhroja bihii minats tsamarooti rizqol lakum. Falaa taj’aluu lillaahi andaadaw wa antum ta’lamuun.

I'rob

  • Alladzii = one who/yang (ism maushul) → dilihat dari kalimat setelahnya, alladzii bertujuan mengubah kalimat setelahnya jadi na'at (kata sifat) dari Robbakum di ayat 21.
  • Ja'ala = he made (fi’l ma-dlii = past tense)
  • La = upon/atas
  • Kum = kalian
  • Al-ardlu = THE earth (bentuk kata benda definit)
  • Farosya = he spread/dia telah membentangkan → firoosyan (Haal = kata keterangan "secara") = spreadingly
  • Al-ardlu manshub jadi al-ardlo → berarti al-ardlo adalah maf'ul (objek) kedua dari ja'ala setelah lakum
  • Wa = dan
  • Samaa-un = a sky/suatu langit → samaawaatu/samawaatu = bentuk jamaknya/skies → as-samaa-u = THE sky → as-samaa-u manshub jadi as-samaa-a, berarti as-samaa-a adalah maf'ul kedua dari ja’ala lakum
  • Banaa = he established/dia telah membangun → Binaa-an (Haal) = establishly
  • Wa = dan
  • Nazala = he descended/dia telah turun → Anzala (wazan 4: causative) = he sent down/dia telah menurunkan
  • Min = from/dari
  • As-samaa-u → min adalah preposisi, maka as-samaa-u majrur jadi as-samaa-i → as-samaa-i berawalan huruf vokal, maka min jadi mina.
  • Maa-un = water/air → maa-un manshub jadi maa-an, berarti maa-an adalah maf'ul dari anzala
  • Fa = then/lalu
  • Khoroja = he went out/dia telah keluar → akhroja (wazan 4: causative) = he brought forth/dia telah mengeluarkan.
  • Bi = with/dengan
  • Hu = he/dia → bi adalah preposisi, maka hu majrur jadi hi
  • Tsamaro = he bore fruits → tsamarootun = fruits (noun jamak) → ats-tsamarootu = THE fruits → min adalah preposisi, maka ats-tsamarootu majrur jadi ats-tsamarooti → ats-tsamarooti berawalan huruf vokal, maka min jadi mina
  • Rozaqo = he brought provision/dia telah merizqikan → rizqun = A provision/sebuah rizqi → rizqun manshub jadi rizqon, berarti objek dari akhroja.
  • Fa = then/maka → karena ada hubungan sebab akibat
  • Laa → laa nahiyah (larangan)
  • Ja'ala = he made/dia telah menjadikan → yaj'aluu = you-all make/kalian menjadikan → laa taj'aluu = Don't you all make (fi'l nahii = kata kerja larangan)
  • Li = unto
  • Allah majrur jadi Allaahi karena li adalah preposisi
  • Niddun = a rival/suatu tandingan → andaadun = bentuk jamaknya/rivals → andaadun manshub jadi andaadan, berarti andaadan adalah maf'ul dari taj’aluu
  • Wa = while/padahal → karena menjelaskan situasi dari larangan
  • Antum = you-all → dlomir fasl (penguat)
  • 'Alima = he knew/dia telah tahu → ta’lamuuna = you-all know/kalian tahu (fi’l mudloorik = present tense)

Alladzii ja’ala lakumul ardlo firoo-syan was samaa-a binaa-an wa anzala minas samaa-i maa-an fa akhroja bihi minats tsamarooti rizqon lakum fa laa taj’aluu lillaahi andaadan wa antum ta’lamuuna

Inggris: The one who created for you-all THE earth spreadingly and THE sky establishly, and He sent down water from THE sky and then He brought forth a provision from fruits by it (water) for you-all. Thus, don't you-all set up rivals unto Allah while you know.
Indonesia: Yang menciptakan bagi kalian bumi secara spreadingly dan langit secara establishly, dan Dia telah menurunkan air dari langit lalu Dia telah mengeluarkan rizqi dari sang buah-buahan dengannya (air dari langit) untu kalian. Maka kalian jangan menjadikan tandingan-tandingan atas Allah padahal kalian tahu.

Alladzii ja'ala lakumul ardlo firoo-syan was samaa-a binaa-an

Tafsir Ibnu Katsir: disamping menciptakan manusia (ayat 21), Allah juga menciptakan rizqi untuk manusia, berupa bumi dan langit (Ayat 22). Bumi diciptakan spreadingly (secara terbentang), artinya bagaikan tempat untuk tidur dan dikokohkan dengan gunung2. Langit dibangun establishly, artinya langit sebagai atapnya (kanopi).

Al Anbiyaak 32: Wa ja'alnas samaa-a saqfan mahfuudhon (dan Kami telah menjadikan langit sebagai atap yang aman (dan) terpelihara) wa hum 'an aayaatihaa mu'ridluun (tapi mereka berpaling dari ayat2 (tanda2 kekuasaan) Kami).

Al Mukmin 64: Alladzii ja'ala lakumul ardlo qorooron was samaa-a binaa-an ((Dialah) yg menjadikan bumi sebagai tempat menetap bagi kalian dan langit sebagai kanopi) wa showwarokum fa ahsana shuwarokum (dan Dia membentuk kalian lalu memperindah bentuk kalian) wa rozaqokum minath thoyyibaati (dan memberi rizki kalian dari yg baik-baik) dzaalikumulloohu robbukum fa tabarokalloohu robbul 'aalamiin (demikianlah Allah, Robb kalian, maka terpujilah Allah, Robb (Maha Pemilik) seluruh alam).

Wa anzala minas samaa-i maa-an fa akhroja bihi minats tsamarooti rizqon lakum

Tafsir Ibnu Katsir: Allah menurunkan air hujan dari langit melalui awan dan menumbuhkan berbagai macam tumbuhan dan buah2an sebagai rizki untuk manusia dan ternak mereka.

Fa laa taj’aluu lillaahi andaadan, wa antum ta'lamuuna

Tafsir Ibnu Katsir: Diceritakan sebelumnya bahwa Allah Maha Pencipta, Maha Penjaga kelangsungan hidup makhlukNya, dan Maha Pemilik, sehingga hanya Dia yg berhak disembah, tidak ada yg lain sebagai partner sesembahan selain Dia.

Hadits Bukhori & Muslim: dari Ibnu Mas’ud: aku pernah bertanya: Ya Rosululloh, dosa apa yg paling buruk disisi Allah? Beliau menjawab an taj'alalloohi niddan wa huwa kholaqoka (menjadikan tandingan (sesuatu yang diibadahi juga selain Allah) bagi Allah, padahal hanya Dia yg menciptakanmu).

Hadits Mu'adz: dari Rosululloh: A tadrii maa haqqulloohi 'alaa 'ibaadihi? (Apakah kamu tahu hak Allah atas hambaNya?) An ya'buduuhu wa laa yusyrikuu bihi syai-an (mereka harus beribadah kepadaNya saja dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu (mencarikan partner sesembahan selain Dia))

Hadits An Nasa-i, Ibnu Murdawaih, Ibnu Majah: dari Ibnu Abbas: qoola rojulun lin nabiyyi maa syaa-alloohu wa-syikta (Seseorang berkata kepada Nabi: atas kehendak Allah dan kehendakmu) fa qoola a ja'altanii lillaahi niddan? Qul maa syaa-alloohu wahdah (maka dia berkata: apakah kamu menjadikan aku sebagai tandingan bagi Allah? Katakanlah atas kehendak Allah saja).

Tafsir Qotadah & Muhammad bin Ishaq: dari Ibnu Abbas: artinya, jangan menyekutukan-Nya dengan mengadakan tandingan2 yg tidak dapat memberikan mudhorot maupun manfaat, sedangkan kalian tahu bahwa tiada sesembahan yg benar bagi kalian selain Dia Sang Pemberi Rizki. Dan kalian juga tahu tanpa ragu lagi bahwa yg diserukan untuk diesakan adalah Allah.

5 perintah Allah

Hadits hasan dari Imam Ahmad: dari Al Harits Al Asy’ari: dari Rosululloh: Innallooha ‘azza wa jalla amaro yahyabna zakariyyaa ‘alaihissalaamu bi khomsi kalimaatin an ya’mala bihinna wa an yakmuro banii isroo-iila an ya’maluu bihinna (sesungguhnya Allah 'azza wa jalla telah memerintahkan Yahya bin Zakaria a.s. dengan 5 perkara yg harus ia amalkan dan memerintahkan Bani Isroil agar mereka mengamalkannya) wa annahu kadaa an yubthi-a bihaa (Tapi (Yahya bin Zakaria) lamban menyampaikannya) Faqoola lahu ‘iisaa ‘alaihissalaamu: Innaka qod amirta bi khomsi kalimaatin an ta’mala bihinna wa takmuro banii isro-iila an ya’maluu bihinna (maka 'Isa a.s. berkata kepadanya: sesungguhnya kamu telah diperintahkan dengan 5 perkara agar kamu mengamalkannya dan memerintahkan Bani Isroil mengamalkannya) fa immaa an tuballagho-hunna wa immaa uballagho-hunna? (maka apakah kau sendiri menyampaikannya atau aku yg menyampaikannya?) faqoola: yaa akhii innii akhsyaa in sabaqtanii an u’adzdzaba au yukhsafa bii (lalu (Yahya) berkata, “Hai saudaraku sesungguhnya aku takut jika engkau mendahuluiku, aku akan diadzab atau aku ditenggelamkan kedalam bumi) fa jama’a yahyabnu zakariyyaa banii isro-iila fii baitil maqdisi hattam tala-al masjidu (lalu Yahya bin Zakaria mengumpulkan Bani Isroil di Baitul Maqdis, sehingga mereka memenuhi masjid) faqo’ada ‘alaasy syarofi fahamidallaha wa atsna ‘alaihi (lalu ia duduk di tempat yg tinggi, lalu memuji dan mengagungkan Allah) tsumma qoola innallaha amaronii bikhomsi kalimaatin an a’mala bihinna waamurokum an ta’maluu bihinna (lalu dia berkata, "Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepadaku 5 perkara yg harus aku amalkan dan aku perintahkan kalian utk mengamalkannya) awwaluhunna an ta’budullaaha walaa tusyrikuu bihi syai-an (pertama, beribadahlah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu) fa inna matsala dzaalika kamatsali rojulin isytaroo ‘abdan min khoolishi maalihi bi wariqin au dzahabin (maka sesungguhnya perumpamaan (hal) itu seperti perumpamaan orang yg membeli seorang budak dari hartanya yg murni dengan uang perak atau emas) fa ja’ala ya’malu wa yu-addii ghollatahu ilaa ghoiri sayyidihi (lalu orang itu menyuruh (budak itu) bekerja tapi budak itu menyerahkan penghasilannya kepada selain tuannya) fa ayyukum yasurruhu an yakuuna ‘abdahu kadzaalika? (maka siapa diantara kalian yg ingin budaknya berbuat demikian?) wa innallaaha kholaqokum warozaqokum fa’buduuhu walaa tusyrikuu bihi syai-an (dan sesungguhnya Allah telah menciptakan kalian dan memberi rizki kepada kalian maka beribadahlah kepada Allah dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu) wa amarokum bish-sholaati fa innallaha yanshobu wajhahu liwajhi ‘abdihi maa lam yaltafit fa idzaa shollaitum falaa taltafituu (dan Dia memerintahkan kalian untuk sholat, karena sesungguhnya Allah mengarahkan wajahNya ke wajah hambaNya selama ia tidak berpaling, maka saat kalian mengerjakan sholat jangan memalingkan wajah kalian) wa amarokum bish shiyaami fa inna matsala dzaalika kamatsali rojulin ma’ahu shorrotun min miskin fii ‘ishoobatin kulluhum yajidu riihal miski (dan Dia memerintahkan kalian agar berpuasa, sesungguhnya perumpamaan (hal) itu seperti perumpamaan orang membawa wadah minyak kasturi berada di tengah2 kelompok orang yg semuanya mencium aroma kasturi) wa inna kholuufa famish shoo-imi athyabu ‘indallaahi mir riihil miski (dan sesungguhnya bau mulut orang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi) wa amarokum bish shodaqoti fa inna matsala dzaalika kamatsali rojulin asarohul ‘aduwwu, fasyadduu yadaihi ilaa ‘unuqihi, wa qoddamuuhu liyadl-ribuu ‘unuqohu (dan Allah memerintahkan kalian agar bersedekah, karena sesungguhnya perumpamaan (hal) itu seperti perumpamaan orang ditawan musuh, lalu mereka mengikat kedua tangannya pada lehernya, lalu dibawa ke depan untuk dipenggal kepalanya) wa qoola lahum: Hal lakum an aftadiya nafsii minkum? (lalu dia (orang itu) berkata kepada mereka, "Apakah kalian mengizinkan aku menebus diriku dari kalian?") fa ja’ala yaftadii nafsahu minhum bil qoliili wal katsiiri hattaa fakka nafsahu (maka dia (orang itu) menebus dirinya dengan segala harta miliknya, sehingga ia berhasil membebaskan dirinya) wa amarokum bidzikrillaahi katsiiron, wa inna matsala dzaalika kamatsali rojulin tholabahul ‘aduwwu siroo’an fii atsarihi fa ataa hishnan hashiinan fatahash-shana fiihi (dan Dia memerintahkan kalian untuk banyak mengingat Allah karena sesungguhnya perumpamaan (hal) itu seperti perumpamaan orang dikejar musuh dengan melacak jejak kakinya, lalu ia mendatangi sebuah benteng yg terjaga ketat, lalu ia berlindung di dalamnya) wa innal ‘abda ahshonu maa yakuuna minasy syaithooni idzaa kaana fii dzikrillaahi (dan sesungguhnya seorang hamba yang baik lebih terlindungi dari setan saat ia mengingat Allah)
(Lalu Rasulullah sendiri bersabda:) Wa anaa murukum bi khomsin, Allahu amaronii bi-hinna: Al-jamaa’atu was sam’u, wath thoo’atu wal hijrotu wal jihaadu fii sabiilillaahi (dan aku memerintahkan kalian dengan lima (perkara), (sebagaimana) Allah telah memerintahkan kepadaku: yaitu jama’ah, patuh, taat, hijrah, dan jihad di jalan Allah) fa innahu man khoroja minal jamaa’ati qiida syibrin faqod khola’a ribqotal islaami min ‘unuqihi illaa an yarji’a (karena sesungguhnya barangsiapa keluar dari jama’ah sejengkal, maka dia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya kecuali jika ia kembali) wa man da’aa bi da’waa jaahiliyyatin fa huwa min jitsiyyi jahannam (dan barangsiapa menyeru dg seruan jahiliyah maka ia tergolong penghuni jahannam)
(Lalu para sahabat bertanya:) Wa in shooma wa sholaa? (Meskipun ia berpuasa dan sholat?)
(Rasulullah menjawab:) Wa in sholaa wa shooma wa za’ama annahu muslimun fad’ul muslimiina bi asmaa-ihim ‘alaa maa sammaa humullaahu ‘azza wa jallal muslimiinal mukminiina ‘ibaadallahi (meskipun ia sholat dan berpuasa dan mengaku bahwa dia muslim. Maka serulah orang2 Islam dengan nama mereka masing2 sebagaimana Allah menyebut orang2 muslim yg beriman sebagai hamba Allah).

Ahli Tafsir Ar Rozi' menggunakan ayat 21 dan 22 sebagai dalil adanya Maha Pencipta.