Tampilkan postingan dengan label Perumpamaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perumpamaan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Juli 2010

Al Baqoroh ayat 74

AYAT 74: Tsumma qosat quluubukum min ba'di dzaalika fa hiya kal hijaaroti au a-syaddu qoswata, wa inna minal hijaaroti la maa yatafajjaru minhul anhaaru, wa inna minhaa lamaa yasysyaqqoqu fa yakhruju minhul maa-u, wa inna minhaa lamaa yahbi-thu min khosy-yatillaahi, wa maalloohu bi ghoofilin 'ammaa ta'maluuna
  • Tsumma = then/lalu
  • Qosaa = he became hard/dia telah mengeras → qosat = she became hard/dia telah mengeras → menjadi 'she' karena quluubukum berjenis kelamin perempuan, tanpa peduli tunggal/jamak
  • Qolbun = a heart/sebuah hati (jenis kelamin: wanita) → quluubun = hearts (bentuk jamaknya)
  • Kum = you-all/kalian → quluubun hilang tanwin jadi quluubu, berarti kum adalah mudlof ilaih (pemilik) dari quluubu
  • Min = from/dari
  • Ba'dun = after/setelah → min adalah preposisi, maka ba'dun majrur jadi ba'din
  • Dzaalika = that/itu → ba'din hilang tanwin jadi ba'di, berarti dzaalika adalah mudlof ilaih dari ba'di
  • Fa = then/lalu
  • Hiya = they/mereka (jenis kelamin: perempuan), yaitu mengacu pada quluubukum
  • Ka = like/seperti → hiya adalah mubtadak, kal hijaaroti adalah khobar, sehingga dalam terjemahannya ditambahkan kata "adalah"
  • Hajarun = a stone/sebuah batu (jenis kelamin: lelaki) → hijaarotun = a stone/sebuah batu (jenis kelamin: perempuan) → al-hijaarotu = THE stone (bentuk definitnya) → ka adalah preposisi, maka al-hijaarotu majrur jadi al-hijaaroti
  • Au = or/atau
  • Syadada = he strengthened/dia telah memperkuat → syadiidun = almighty/mahakuat → asyaddu = stronger/lebih kuat (ism tafdlil = comparatif/superlatif)
  • Qosaa = he became hard/dia telah mengeras → qoswatun = a hardness (tidak bisa diterjemahkan, karena kekerasan bukan hardness) → manshub, berarti posisinya adalah sebagai kata keterangan, yaitu jenis tamyiiz (spesifikasi), yaitu menjelaskan apanya yang asyaddu (lebih keras), sehingga qoswatan artinya in hardness/dalam hal kerasnya
  • Wa = dan
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti minal hijaaroti adalah ism inna, lamaa yatafajjaru minhul anhaaru adalah khobar inna
  • Min = from/dari → al-hijaaroti berawalan huruf vokal, maka min jadi mina → mina adalah preposisi, maka al-hijaarotu majrur jadi al-hijaaroti
  • La = surely/niscaya
  • Maa = one who/yang
  • Fajaro = he gushed forth/dia telah muncrat → tafajjaru (wazan 5: pasif dari causativenya) = he was gushed forth/dia telah terpancar → yatafajjaru = he is gushed forth/dia terpancar
  • Min = from/dari, hu = him/dia
  • Nahrun = a river/sebuah sungai (jenis kelamin: perempuan)→ anhaarun = rivers (bentuk jamaknya) → al-anhaaru = THE rivers (bentuk jamak definitnya)
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti minhaa adalah ism inna, la maa yasysyaqqoqu adalah khobar inna
  • Min = from/dari; haa = her/dia; la = surely/niscaya; maa = what/apa yang
  • Syaqoqu = he crossed/dia telah menyeberang → tasysyaqqoqu (wazan 5: pasif dari causative) = he splitted/dia telah membelah (made it be able to be crossed) → yasyaqqoqu = he splits/dia membelah
  • Khoroja = he went out/dia telah keluar → yakhruju = he goes out/dia keluar
  • Al-maa-u = THE water/air → marfu', berarti sebagai fa'il (subjek) dari yakhruju
  • Inna = verily/sesungguhnya → berarti minhaa adalah ism inna, la maa yahbi-thu adalah khobar inna
  • Haba-tho = he fell down/dia telah jatuh → yahbi-thu = he falls down/dia jatuh (fi'l mudloorik)
  • Khosya-a = he was humble/he was fearful/dia telah rendah hati/dia telah takut → khosy-yatun = fearful/takut (jenis kelamin = perempuan) → min adalah preposisi, maka khosy-yatun majrur jadi khosy-yatin
  • Allah majrur jadi allaahi, dan khosy-yatin hilang tanwin jadi khosy-yati, berarti Allah adalah mudlof ilaih (pemilik) dari khosy-yati
  • Wa = dan; maa → maa nafiyah (negasi)
  • Allah marfu' dalam bentuk alloohu, berarti posisinya adalah sebagai mubtadak (karena kata setelahnya bukan fi'l), dan kata setelahnya (bi ghoofilin 'ammaa ta'maluuna) adalah khobarnya.
  • Bi = with/dengan
  • Ghoofulu = he neglected/dia telah mengabaikan → ghoofilun = unaware/lengah → bi adalah preposisi, maka ghoofilun majrur jadi ghoofilin
  • 'An = of/dari; maa = what/apa yang → 'an+maa = 'ammaa
  • 'Amila = he did/dia telah melakukan → ta'maluuna = you-all do/kalian lakukan
Tsumma qosat quluubukum min ba'di dzaalika fa hiya kal hijaaroti au a-syaddu qoswata, wa inna minal hijaaroti la maa yatafajjaru minhul anhaaru, wa inna minhaa lamaa yasysyaqqoqu fa yakhruju minhul maa-u, wa inna minhaa lamaa yahbi-thu min khosy-yatillaahi, wa maalloohu bi ghoofilin 'ammaa ta'maluuna

Inggris: Then your hearts became hard after that, then they (your hearts) are like THE stone or mightier in hardness, and verily from THE stone is surely what THE river gush forth from it, and verily from her is surely what he splits, then THE water goes out from it, and verily from her is surely what falls down with fearful of Allah, and Allah is not unaware of what you-all do.
Indonesia: Lalu hati kalian telah mengeras setelah itu, lalu mereka (hati mereka) adalah seperti batu atau lebih kuat dalam hal kerasnya, dan sesungguhnya dari batu tersebut pasti terdapat apa yang sungai terpancar darinya, dan sesungguhnya darinya pastilah terdapat apa yang dia belah, lalu air keluar darinya, dan sesungguhnya darinya pastilah terdapat apa yang jatuh dengan rasa takut terhadap Allah, dan Allah tidak lengah dari apa yang kalian lakukan.

Tsumma qosat quluubukum min ba'di dzaalika

Tafsir Ibn Katsir: Allah mengecam Bani Isroil karena mereka telah menyaksikan mukjizat-mukjizat tersebut, termasuk menghidupkan orang mati, tapi lalu hati mereka seperti batu, tidak pernah melunak. Inilah kenapa Allah melarang orang-orang yang percaya (beriman) untuk meniru Bani Isroil.

Al Hadiid 16: A lam yakni lilladziina aamanuu an takhsya'a quluubuhum (apakah belum datang waktu bagi orang-orang yang percaya (beriman) bahwa hati mereka menjadi humble) li dzikrillaahi wa maa nazala minal haqq (atas mengingat Allah dan (atas) apa yang telah turun dari sang kebenaran?) wa laa yakuunuu kalladziina uutul kitaaba min qoblu (dan janganlah mereka menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab sebelumnya) fa thoola ‘alaihimul amadu (lalu ajal (term) telah diperpanjang bagi mereka) fa qosat quluubuhum (lalu hati mereka mengeras), wa ka-tsiirun minhum faasiquuna (dan banyak dari mereka adalah orang-orang fasiq (=penentang)).

Tafsir Ibn Katsir: Maksudnya, bukankah telah datang waktu untuk orang-orang yang percaya (beriman) untuk merasa humble (rendah hati) dengan mengingat Allah dan mendengar nasihat dari bacaan Quran, sehingga mereka bisa memahami Alqur-an dan tunduk kepadanya. Allah melarang orang yang percaya (beriman) meniru mereka yang pernah diberi kitab Allah, yaitu Yahudi dan Nasrani, yaitu yang mengubah kitab Allah yang mereka punya, lalu menjualnya untuk harga yang rendah, meninggalkan kitab Allah ke belakang, lalu malah terkesan dengan berbagai opini dan kepercayaan yang salah, dan menjadikan pemimpin agama mereka (kyai, ustad, pendeta, atau rahib) sebagai orang yang LEBIH mereka dengarkan dan turuti, ketimbang Allah, rosul, dan kitab Allah. Sehingga, hati mereka menjadi keras dan mereka tidak akan lagi bisa menerima nasihat. Hati mereka tidak akan menjadi rendah hati atas janji Allah.

Al Hadiid 17: I'lamuu annallooha yuhyil ardlo ba'da mautihaa (Kalian ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi setelah kematiannya), qod bayyannaa lakumul aayaati la'allakum ta'qiluuna (sungguh Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan kepada kalian, semoga kalian punya otak!)

Tafsir Ibn Katsir: Allah lalu melunakkan hati setelah mengeras, menunjukkan orang-orang yang bingung setelah mereka tersesat, dan melegakan kesusahan setelah berusaha keras. Seperti halnya Allah menghidupkan orang mati dan mengembalikan bumi yang kering dengan mengirim hujan yang banyak, Allah menunjukkan hati yang mengeras dengan bukti dari Alqur-an. Pujian adalah untuk Allah, yang menunjukkan (ke jalan yang benar) kepada siapa yang Dia maui setelah dia tersesat, dan yang menyesatkan kepada siapa yang Dia maui setelah dia di jalan yang lurus.

Al Maa-idah 13: Fa bimaa naqdlihim miitsaaqohum (lalu karena mereka melanggar janji mereka) la'annaahum wa ja'alnaa quluubahum qoosiyatan (*Kami* melaknat mereka dan *Kami* menjadikan hati mereka mengeras), yuharrifuunal kalima 'an mawaa-dli'ihi (mereka mendistorsi perkataan dari tempat mereka) wa nasuu hadhdhon mimmaa dzukkiruu bihii (dan lupa dengan sebagian dari apa yang mereka diingatkan darinya) wa laa tazaalu taththoli'u 'alaa khoo-inatin minhum illaa qoliilan minhum (dan kalian tidak berhenti menemukan atas pengkhianatan dari mereka kecuali sedikit dari mereka) Fa'fu'anhum washfah, innallooha yuhibbul muhsiniina (lalu maafkan mereka dan lihatlah (overlook), sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang baik)

Tafsir Ibn Katsir: karena mereka melanggar janji yang Allah ambil dari mereka, Allah melaknat mereka, menjauhkan mereka dari kebenaran dan petunjuk, dan mereka tidak akan menggubris nasihat yang mereka dengar karena kerasnya hati mereka. Mereka merubah kitab dari makna sebenarnya, dan mendistorsinya, lalu mengatakan bahwa Allah yang mengatakannya, padahal tidak.

Atsar Al 'Aufi: dari Ibn 'Abbas: saat mayat itu ditimpa dengan sebagian dari sapi betina, mayat itu berdiri dan menjadi lebih hidup daripada sebelumnya. Dia ditanya, "Siapa yang membunuhmu?" Dia berkata "Keponakan-keponakanku membunuhku", lalu dia mati lagi. Setelah Allah mengambil nyawanya lagi, keponakan-keponakannya berkata, "Demi Allah, Kami tidak membunuhnya" dan menyangkal kebenarannya, padahal mereka tahu itu.

Fa hiya kal hijaaroti au a-syaddu qoswata

Tafsir Ibn Katsir: Seiring waktu, hati Bani Isroil tidak mungkin untuk menerima teguran, bahkan setelah semua mukjizat dan tanda kekuasaan Allah yang mereka saksikan. Hati mereka menjadi lebih keras dari batu, tidak ada harapan untuk bisa melunak. Kadang, mata air dan sungai memecah batu-batu, beberapa batu terbelah dan air keluar dari belahan itu. Bahkan kalaupun tidak ada mata air atau sungai di sekitar batu itu, kadang batu jatuh dari puncak gunung, takut kepada Allah.

Wa inna minal hijaaroti la maa yatafajjaru minhul anhaaru, wa inna minhaa lamaa yasysyaqqoqu fa yakhruju minhul maa-u, wa inna minhaa lamaa yahbi-thu min khosy-yatillaahi

Atsar Muhammad bin Ishaq: dari Ibn 'Abbas: Beberapa batu lebih lunak daripada hati kalian.

Tafsir Ar Rozi dan Al Qurthubi: Batu sebagai makhluk yang humble (rendah hati) dan takut Allah, itu bukan metafora, tapi Allah memang menciptakan batu dengan sifat rendah hati.

Al Ahzab 72: Innaa 'arodlnal amaanata 'alas samaawaati wal ardli wal jibaali (sesungguhnya Kami telah menawarkan Al-Amanah kepada langit dan bumi dan gunung) fa abaina an yahmilnahaa wa asyfaqna minhaa (maka mereka menolak untuk memikulnya dan mereka takut darinya (dari amanat)) wa hamalahal insaan (dan manusia memikulnya), innahu kaana dholuuman jahuulan (sesungguhnya dia adalah dholim dan bodoh).

Atsar Al Aufi: dari Ibn 'Abbas: Al-Amanah, yaitu ketaatan, ditawarkan kepada bumi, langit, dan gunung sebelum kepada Adam, dan mereka tidak bisa memikulnya. Lalu Allah berkata kepada Adam, "Aku telah menawarkan Al Amanah kepada mereka dan mereka tidak bisa memikulnya, maukah kamu mengambilnya?" Adam berkata "Ya Robb, meliputi apa saja?" Dia berkata "Kalau kamu berbuat baik kamu akan diganjar, kalau kamu berbuat salah kamu akan dihukum." Lalu Adam mengambil dan memikulnya.

Atsar Ali bin Abi Tholhah: dari Ibn Abbas, Mujahid, Sa'id bin Jubair, Adh Dhohhak, dan Al Hasan Al Bashri: Langit, bumi, dan gunung tidak mau memikul Al-Amanah, yaitu Al Faro'idl (kewajiban), dan mereka takut, bukan karena mereka ingin berbuat dosa, tapi karena mereka respek mereka terhadap agama Allah, mereka takut tidak bisa memenuhi kewajiban itu.

Al Isrook 44: Tusabbihu lahus samaawaatus sab'u wal ardlu wa man fiihinna (langit yang tujuh dan bumi dan apa yang di dalamnya bertasbih) wa in min syai-in illaa yusabbihu bi hamdihii (dan tidak ada sesuatu melainkan bertasbih dengan memujiNya) walaakin laa tafqohuuna tasbiihahum (tapi kalian tidak mengerti tasbih mereka), innahuu kaana haliiman ghofuuron (sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun Maha Pengampun).

Hadits shohih Bukhori: dari Ibn Mas'ud: Kami (Rosululloh juga) pernah mendengar tasbih dari makanan saat dia sedang dimakan.

Hadits shohih Imam Ahmad: dari Mu'adz bin Anas: Rosululloh mendatangi beberapa orang yang sedang duduk di atas tunggangan mereka dan saling bercakap-cakap. Dia berkata kepada mereka: Irkabuu haa saalimatan wa da'uu haa saalimatan (kalian kendarailah dia (tunggangan) dengan selamat, dan kalian tinggalkanlah dia dengan selamat) wa laa tatta-khidzuu haa karoosiyya li ahaadii-tsikum fith thuruqi wal aswaaqi (dan jangan kalian jadikan dia kursi untuk percakapan kalian di jalan dan pasar) fa rubba markuubatin khoirunmin rookibihaa (karena yang diduduki mungkin lebih baik daripada penumpangnya) wa aktsaru dzikron illaahi minhu (dan dia mungkin lebih banyak mengingat Allah daripada kalian)

Ar Rohmaan 6: Wan najmu wasy syajaru yasjudaan (Dan bintang dan pepohonan bersujud).

Al Hajj 18: A lam taro annallooha yasjudu lahu (Apakah kamu tidak melihat bahwa dia bersujud kepada Allah) man fis samaawaati wa man fil ardli ((dia adalah) barangsiapa di dalam langit dan barangsiapa di dalam bumi) wasy syamsu wal qomaru wan nujuumu wal jibaalu wasy syajaru (dan matahari, dan bulan, dan bintang, dan gunung, dan pohon) wad dawaabbu wa ka-tsiirun minan naasi (dan makhluk yang bergerak, dan banyak dari (golongan)manusia?)

Tafsir Ibn Katsir: Semuanya bersujud pada kekuasaanNya, ikhlas ataupun terpaksa, dan semua makhluk bersujud dengan cara yang sesuai dengan wujud alamiahnya. Allah menyebut bintang, bulan, dan bintang, karena mereka diibadahi, dan bukan Allah, padahal mereka juga bersujud kepada Pencipta mereka.

Hadits shohih Bukhori Muslim: dari Abu Dhorr: Rosululloh berkata kepadaku, A tadrii aina tadzhabu haadzihisy syamsu? (Apakah kamu tahu kemana perginya matahari ini?) Aku berkata, walloohu wa rusulihi 'alaam (Allah dan rosulNya lebih tahu), dia berkata: fa innahaa tadzhabu fa tasjudu tahtal 'arsyi (lalu sesungguhnya dia pergi dan bersujud di bawah Sang Tahta) tsumma tastakmiru (lalu dia menunggu perintah) fa yuu-syiku an yuqoola laharji'ii min haitsu jikta (lalu akan dikatakan kepadanya, "Kembalilah ke tempat kamu datang")

Hadits shohih At Tirmidzi, Ibn Majah, dan Ibn Hibban: dari Ibn Abbas: Seorang lelaki datang dan berkata, "Wahai Rosululloh aku melihat diriku dalam mimpi tadi malam, seolah-olah aku sedang sholat di belakang pohon. Aku bersujud, dan pohon itu bersujud saat aku melakukannya, dan aku mendengarnya berkata, "Wahai Allah, tetapkan sebuah ganjaran kepadaku atas perbuatanku ini, dan hilangkan dosa dariku atas ini, simpanlah denganMu seperti Engkau menerima dari hambaMu Dawud" Rosululloh membacakan ayat yang menyebutkan sujud, lalu dia sujud, dan aku mendengarnya mengatakan kata-kata yang sama bahwa laki-laki itu mengatakannya bahwa pohon itu berbicara.

An Nahl 48-49: A wa lam yarou ilaa maa kholaqolloohu min syai-in (dan apakah mereka tidak melihat kepada apa yang Allah ciptakan dari sesuatu) yatafayya-uu dhilaaluhuu 'anil yamiini wasy syamaa-ili sujjudan lillaahi (yang bayangannya condong ke kanan dan ke kiri bersujud kepada Allah) wa hum daa-khiruuna (dan mereka rendah hati), wa lillaahi yasjudu maa fis samaawaati wa maa fil ardli (dan kepada Allah bersujudnya apa yang di dalam langit dan apa yang di dalam bumi) min daabbatin wal malaa-ikatu wa hum laa yastakbiruuna (dari hewan yang bergerak dan para malaikat dan mereka tidak takabur).

Atsar Mujahid, Qotadah, Adh Dhohhak: saat matahari melewati puncaknya, semuanya bersujud kepada Allah.

Tafsir Ibn Katsir: semua benda ber-islam (berlapang dada) kepadaNya dan semua ciptaan (makhluk hidup ataupun benda mati, juga manusia, jin, dan malaikat) semua humble (merendah) di hadapanNya. Semua yang punya bayangan yang condong ke kanan dan kiri, yaitu di pagi hari dan sore hari, bersujud kepada Allah.

Atsar Mujahid: sujudnya segala benda adalah bayangannya. Begitu pula gunung.

Atsar Abu Gholib Asy Syaibani: ombak adalah sholatnya laut.

Ar Ro'd 15: Wa lillaahi yasjudu man fis samaawaati wal ardli thou'an wa karhan (dan siapapun yang di dalam langit dan bumi bersujud kepada Allah dengan taat maupun terpaksa) wa dhilaaluhum bil ghuduwwi wal a-shooli (begitu pula bayangan mereka di (waktu) pagi dan sore)

Al Fushshilat 11: Qoolataa atainaa thoo-i'iina (mereka berdua telah berkata "Kami datang dengan taat")

Al Hasyr 21: Lau anzalnaa haadzal qur-aana 'alaa jabalin (seandainya *Kami* menurunkan Alqur-an ini kepada gunung) la ro-aitahu khoo-syi’an muta-shoddi’an min khosyatillaahi (pasti kamu akan melihatnya rendah diri terpecah remuk takut Allah), wa tilkal umtsalu nadlribuhaa linnaasi la'allahum yatafakkaruuna (dan itu adalah permisalan yang Kami mengeluarkannya kepada manusia, semoga mereka berpikir).

Tafsir Ibn Katsir: kalau gunung yang besar dan keras diberi kemampuan memahami dan mengerti Alqur-an, gunung akan humble dan hancur karena takut Allah, lalu bagaimana dengan kalian, wahai manusia? Kenapa hati kalian tidak lembut dan humble takut pada Allah, meskipun mengerti dan memahami kitabNya?

Hadits mutawatir: dari Al Hasan Al Bashri: Rosululloh menyuruh seseorang membuatkan mimbar. Sebelumnya, dia berdiri di sebelah batang pohon di dalam masjid untuk khutbah. Saat mimbar dibuat dan diletakkan dalam masjid, Rosululloh datang memberi ceramah dan melewati batang pohon, menuju mimbar, batang pohon itu mulai menangis seperti bayi. Pohon itu merindukan mendengar tentang mengingat Allah dan wahyu yang dibacakan di sebelahnya.

Atsar Al Hasan Al Bashri: kalian, manusia, harusnya lebih pantas merindukan Rosululloh daripada pohon itu.

Fushshilat 21: Wa qooluu li juluudihim (dan mereka berkata kepada kulit mereka) lima syahidtum 'alainaa ("Kenapa kalian bersaksi atas kami?") qooluu an-thoqonalloohul ladzii an-thoqo kulla syai-in (mereka berkata "Allah membuat kami berbicara, yang membuat berbicara setiap sesuatu)

Hadits shohih Bukhori dan Muslim: dari Anas bin Malik dan Abu Humaid As Sa'idi: Dan saat Rosululloh melihat Madinah gunung Uhud, dia berkata "Gunung ini mencintai kita dan kita mencintainya."

Hadits shohih Muslim: dari Jabir bin Samuro: Innii la a'rifu hajaron bi makkata (sesungguhnya aku benar-benar mengenali batu tersebut di Makkah) kaana yusallimu 'alayya qobla an ub'a-tsa (dia pernah mendoakan keselamatan kepadaku sebelum aku diangkat (jadi rosul)) innii la-a'rifuhul aana (sesungguhnya aku sekarang benar-benar mengenalinya)

Makna "au" pada kal hijaaroti au asyaddu qoswata

Tafsir Ibn Katsir: beberapa ahli bahasa Arab klasik terbagi 3 kubu:

1. Tidak setuju bahwa "au" berarti "atau" (yang menunjukkan keraguan), tapi "au" di sini artinya "dan"

Al Insaan 24: Wa laa tuthi' minhum aa-tsiman au kafuuron (dan janganlah kamu mengikuti orang-orang yang berdosa DAN orang-orang yang ingkar dari mereka)

Al Mursalaat 6: 'Udzron au nudzron ((untuk) menolak alasan DAN memberi peringatan)

2. "Au" artinya malahan

An Nisaak 77: Fa lammaa kutiba 'alaihimul qitaalu (lalu saat ditetapkan berperang atas mereka) idzaa fariiqun minhum yakhsyaunan naasa (tiba-tiba sebagian dari mereka takut manusia) ka khosy-yatillaahi au asyadda khosy-yah (seperti takut Allah MALAHAN lebih takut (dari itu))

Ash Shoffaat 147: Wa arsalnaahu ilaa mii-ati alfin au yaziiduuna (dan *Kami* mengutus dia kepada seratus ribu, malahan lebih)
An Najm 9: Fa kaana qooba qousaini au adnaa (maka dia adalah jaraknya dua busur panah, malahan lebih dekat)

3. Hati mereka ada 2 jenis, dan hanya 2 kemungkinan, seperti batu atau lebih keras

Al Baqoroh 17 dan 19: Matsaluhum kama-tsalil ladzis tauqoda naaron (permisalan mereka seperti orang yg menyalakan api) au ka shoyyibin minas samaak (atau seperti (ditimpa) hujan lebat dari langit)

An Nuur 39 dan 40: Walladziina kafaruu a’maaluhum ka saroobin (dan amal orang-orang yang ingkar seperti fatamorgana) au ka dhulumaatin fii bahrin lujjiyyi (atau seperti kegelapan di dalam lautan yang dalam)

Jumat, 09 Januari 2009

Al Baqoroh ayat 26

AYAT 26: Innallooha laa yastahyii an yadlriba matsalan maa ba’uudlotan fa maa fauqohaa. Fa ammal ladziina aamanuu fa ya’lamuuna annahul haqqu min robbihim. Wa ammal ladziina kafaruu fa yaquuluuna maadzaa aroodallahu bihaadzaa matsala? Yudlillu bihii katsiiron wa yahdii bihii katsiiron. Wamaa yudlillu bihii illal faasiqiin.

I'rob

  • Inna = verily/sesungguhnya → maka Allah adalah ism inna dan laa yastahyii adalah khobar inna
  • Allah → manshub jadi Allooha karena ism inna
  • Laa → Laa nafiyah (negasi)
  • Hayiya = he lived/he was ashamed/dia telah hidup/dia telah malu → istahyaa (wazan 10: meminta/berpikir bahwa itu harus terjadi)= he became ashamed → laa yastahyii = he doesn't become ashamed
  • An = that/bahwa
  • Dloroba = he put forth/dia telah membuat → (arti dloroba ada banyak, tapi yang pas untuk konteks ini adalah membuat) → yadlribu = he makes (fi'l mudloorik = present tense) → an mengubah yadlribu jadi yadlriba (bentuk subjunctive)
  • Matsala = he applied a proverb/dia telah memisalkan → matsalun = a parable --> matsalun manshub jadi matsalan, berarti matsalan adalah objek dari yadlriba
  • Maa → maa masdariyah = bahwa kata berikutnya adalah masdar
  • Ba'uudlotun = a mosquito/seekor nyamuk → karena maa masdariyah, manshub jadi ba'uudlotan
  • Fa = dan → karena konteksnya menambahkan
  • Maa = what/apa yang
  • Faaqo/Fauqo = he was beyond/dia telah melebihi
  • Haa = her/dia
  • Fa = then/lalu
  • Ammaa = as for/adapun
  • Alladziina = those who/yang → berarti kata setelahnya adalah kalimat yg ingin diubah jadi kata benda, dan subjeknya jamak, yaitu aamana, karena setelah amma harus kata benda
  • Aamana = he believed/dia telah beriman → aamanuu = they believed/mereka telah beriman (fi'l ma-dlii = past tense)
  • Fa = maka
  • 'Alima = he knew/dia telah tahu → ya'lamuuna = they know/mereka tahu (fi'l mudloorik)
  • Anna = that/bahwa → maka hu adalah ism inna dan al-haqqu adalah khobar inna, dan di terjemahannya ditambahkan "adalah"
  • Hu = him/dia
  • Haqqun = a truth/sebuah kebenaran → al-haqqu = THE truth
  • Min = from/dari
  • Robbun = Lord → min adalah preposisi, maka robbun majrur jadi robbin
  • Hum = mereka → hum majrur jadi him, dan robbin hilang tanwin jadi robbi, maka him adalah mudlof ilaih dari robbi.
  • Wa = dan
  • Alladziina = those who/yang → karena amma harus diikuti kata benda, dan kafaruu adalah kalimat, dan kafaruu bersubjek jamak.
  • Kafaro = he disbelieved/dia telah ingkar → kafaruu = they disbelieved/mereka telah ingkar
  • Qoolu = he said/dia telah berkata → yaquuluuna = they say/mereka berkata
  • Maadzaa = what/apa yang → ism istifham (kata tanya)
  • Rooda = he sought/he asked/dia telah mencari/dia telah meminta → Arooda/Iroodatan (wazan 4: causative) = he willed/dia telah menghendaki
  • Allah marfu' (berakhiran "u"), berarti posisinya adalah subjek dari arooda.
  • Bi = with/dengan
  • Haadzaa = this/ini
  • Dlolla = he went ashtray/dia telah sesat → yadlillu = he goes ashtray/dia sesat → yudlillu = he misleads/dia menyesatkan (fi'l mudloorik majhul/present tense pasif)
  • Bihi Bi = with/dengan, hu = him/dia → bi adalah preposisi, maka hu harus majrur jadi hi
  • Katsiirun = many/banyak → katsiirun manshub jadi katsiiron, maka posisinya adalah maf'ul (objek) kedua dari yudlillu dan yahdii (bihii adalah objek pertama)
  • Hadaa = he guided/dia telah menunjukkan → yahdii = he guides/dia menunjukkan (fi'l mudloorik = present tense)
  • Wa = dan
  • Maamaa nafiyah (negasi)
  • Illa = but/kecuali
  • Fasaqo = he committed disobedience/dia telah fasiq → faasiqun = a rebellious person/orang fasiq → al-faasiquuna = the rebellious people/orang-orang fasiq → illa adalah preposisi, maka al-faasiquuna majrur jadi al-faasiqiina

Innallooha laa yastahyii an yadlriba matsalan maa ba’uudlotan fa maa fauqohaa. Fa ammal ladziina aamanuu fa ya’lamuuna annahul haqqu min robbihim. Wa ammal ladziina kafaruu fa yaquuluuna maadzaa aroodallahu bi haadzaa matsala? Yudlillu bihii katsiiron wa yahdii bihii katsiiron. Wamaa yudlillu bihii illal faasiqiin

Inggris: Verily, Allah doesn't become ashamed that He puts forth a parable of a mosquito and what beyond him (the mosquito). And then as for those who believed, then they know that he (the parable) is THE truth from their Lord. And for those who disbelieved, then they say "What did Allah will with this parable?" He misleads many with him (the parable) and He guides many with him, and He doesn't mislead, but the rebellious people, with it.
Indonesia: Sesungguhnya Allah tidak menjadi malu bahwa Dia membuat sebuah perumpamaan dari sebuah nyamuk dan apa yang melebihinya, lalu adapun orang-orang yang telah beriman, maka mereka tahu bahwa dia (perumpamaan) adalah sang kebenaran dari Robb mereka. Dan adapun mereka yang telah tidak percaya, maka mereka berkata "Apa yang Allah telah inginkan dengan perumpamaan ini?" Dia menyesatkan banyak (orang) dengannya (dengan perumpamaan), Dia menunjukkan (ke jalan yang benar) banyak (orang) dengannya, dan Dia tidak menyesatkan, selain orang-orang fasiq, dengannya.

Kapan ayat ini diturunkan?

Atsar As Suddi: dari Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud: Saat Allah memberi 2 contoh orang munafik (perumpamaan api dan hujan lebat), orang munafik berkata bahwa Allah itu terlalu mulia untuk membuat perumpamaan, maka turunlah ayat 26 dan 27.

Atsar Sa'id: dari Qotadah: Allah tidak malu saat menceritakan sesuatu sebagai perumpamaan, baik signifikan ataupun tidak. Saat Allah menyebutkan lalat dan laba2 dalam Qur-an, orang kafir berkata "Kenapa Allah menceritakan hal-hal seperti ini?" Lalu turunlah ayat ini sampai ayat 27.

Ayat perumpamaan yang membuat turunnya ayat 26-27

Al Hajj 73: Yaa ayyuhan naasu dluriba matsalun fastami'uu lahu (Wahai manusia, satu perumpamaan telah dibuat, maka kalian dengarkan padanya). Innal ladziina tad'uuna min duunillaahi lan yakhluquu dzubaaban walawij tama'uu lahu (Sesungguhnya mereka, yang kalian berdoa (kepadanya) dari selain Allah, takkan (bisa) mereka menciptakan seekor lalat walau mereka berkumpul untuknya (untuk menciptakannya)) Wa in yaslubhumudz dzubaabu syai-an laa yastanqidzuuhu minhu (dan jika lalat itu merampas sesuatu (dari) mereka, mereka tidak (bisa) merebutnya darinya). Dlo'ufath thoolibu wal mathluubu ((betapa) lemahnya yang mencari (beribadah) dan yang dicari (diibadahi)).

Al Ankabut 41: Matsalul ladziinat takhodzuu min duunillaahi auliyaa-a kamatsalil 'ankabuut (Perumpamaan mereka yang mengambil wali (orang yang didengarkan nasihatnya) dari selain Allah adalah seperti perumpamaan laba-laba). Ittakhodzat baitan (dia membuat rumah). Wa inna auhanal buyuuti la baitul 'ankabuut (dan sesungguhnya rumah-rumah yang paling lemah adalah niscaya rumah laba-laba) lau kaanuu ya'lamuuna (kalau mereka tahu).

Ibrohim 24-25: A lam taro kaifa dloroballoohu matsalan kalimatan thoyyibatan (Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kata yang baik) ka syajarotin thoyyibatin ashluhaa tsaabitun wa far'uhaa fis samaak (seperti pohon yang baik akarnya kokoh dan cabangnya (menjulang) di langit). Tuktii ukulahaa kulla hiinin bi idzni robbihaa (dia (pohon itu) memberikan makanannya (buahnya) setiap masa (musim) dengan izin Robbnya). Wa yadlribulloohul amtsaala lin naasi la'allahum yatadzakkaruun (dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia, agar mereka selalu ingat).

Ibrohim 26-27: Wa matsalu kalimatin khobii-tsatin ka syajarotin khobiitsatin ijtutstsat min fauqil ardli maa lahaa min qoroor (dan perumpamaan kata yang buruk seperti pohon yang buruk yang telah dicabut dari permukaan bumi, darinya tidak ada dari ketetapan (ketegakan)). Yutsabbitulloohul ladziina aamanuu bil qoulits tsaabiti fil hayawaatid dun-yaa wa fil aakhiroh (Allah meneguhkan mereka yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan akhirat) Wa yudlillulloohudh dhoolimiin (dan Allah menyesatkan orang-orang dholim) wa yaf'alulloohu maa yasyaak (dan Dia melakukan apa yang Dia menghendaki)

An Nahl 75: Dloroballoohu matsalan 'abdan mamluukan laa yaqdiru 'alaa syai-in (Allah membuat perumpamaan seorang hamba yang dimiliki (hamba sahaya), dia tidak berkuasa atas sesuatu) wa man rozaqnaahu minnaa rizqon hasanan fa huwa yunfiqu minhu sirron wa jahron (dan barangsiapa yang Kami rizqikan dia dari Kami rizqi yang baik, lalu dia menafkahkan/menginfakkan sebagiannya sembunyi-sembunyi dan terang-terangan). Hal yastawuun? (Apakah mereka sama?) Alhamdulillah (segala puji bagi Allah). Bal aktsaru hum laa ya'lamuun (tetapi kebanyakan mereka tidak tahu).

An Nahl 76: Wa dloroballoohu matsalan rojulaini (Dan Allah membuat perumpamaan dua lelaki) ahaduhumaa abkamu laa yaqdiru 'alaa syai-in (salah satu dari keduanya bisu (perumpamaan berhala), dia tidak berkuasa atas sesuatu) wa huwa kallun 'alaa maulaahu (dan dia bergantung atas tuannya). Ainamaa yuwajjihhu laa yakti bi khoir (kemana saja menghadapkannya dia tidak mendatangkan kebaikan) Hal yastawii huwa wa man yakmuru bil 'adli wa huwa 'alaa shiroothim mustaqiim (Apakah dia sama dengan barangsiapa yang menyuruh pada keadilan dan dia (di) atas jalan yg lurus)?

Ar Ruum 28: Dloroba lakum matsalan min anfusikum (Dia membuat perumpamaan bagi kalian dari diri kalian sendiri). Hal lakum min maa malakat aimaanukum min syurokaa-a fii maa rozaqnaakum (Apakah dari apa yang tangan kanan kalian miliki (hamba sahaya kalian) adalah dari sekutu-sekutu bagi kalian dalam apa yg Kami telah rizqikan kepada kalian) fa antum fiihi sawaa-un takhoofuunahum ka-khiifatikum anfusakum (sehingga kalian di dalamnya sama, kalian takut pada mereka seperti kalian takut (pada) diri kalian sendiri?) Ka dzaalika nufashshilul aayaati li qoumin ya'qiluun (Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat bagi kaum yg punya akal/otak)

Ba'uudlotan

Atsar Abu Ja’far Ar Rozi: dari Ar Robi’ bin Anas: Ini adalah perumpamaan Allah untuk kehidupan dunia. Nyamuk bisa hidup selama dia perlu makanan, tapi setelah gemuk, nyamuk mati. Ini juga perumpamaan untuk kaum yg disebut Allah di Alqur-an: saat mereka memperoleh dan mengumpulkan kesenangan di dunia, Allah akan mengambilnya.

Al An’aam 44: Fa lammaa nasuu maa dzukkiruu bihi (maka setelah mereka melupakan apa yg diperingatkan kepada mereka dengannya) fa tahnaa 'alaihim abwaaba kulli syai-in (Kami membukakan atas mereka pintu-pintu segala sesuatu). Hattaa idzaa farihuu bi maa uutuu, akhodznaa hum baghtatan (sehingga saat mereka bergembira dengan apa yg diberikan untuk mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba), fa idzaa hum mublisuun (maka saat itu mereka adalah orang-orang yang putus asa).

Famaa fauqoha

Hadits Muslim: dari Aswad: beberapa lelaki muda Quroisy mengunjungi 'Aisyah karena dia sedang di Mina, dan mereka tertawa. Dia berkata "Kenapa kamu tertawa?" Mereka berkata "Si fulan tersandung tali tenda dan dia antara akan mematahkan lehernya atau kehilangan matanya". Dia berkata "Jangan tertawa, karena aku mendengar Rosululloh berkata: Maa min muslimin yusyaaku syaukatan famaa fauqohaa illaa kutiba lahu bihaa darojatun. Wa muhiyat ‘anhu bihaa khothii-ah. (Jika seorang muslim tertusuk duri, fama fauqoha (bahkan melebihinya = lebih parah), dijamin baginya satu derajat dan dosa-dosanya dihapuskan).

Perumpamaan

Atsar Ibn Abi Hatim: dari 'Amr bin Murroh: aku tidak pernah mendapati satupun ayat dalam Alqur-an yang aku tidak paham, melainkan itu membuatku menangis, karena Surat Al Ankabut 43.

Al Ankabut 43: Wa tilkal lumtsaalu nadlribuhaa lin naasi (Dan perumpamaan2 itu Kami buat untuk manusia). Wa maa ya'qiluhaa illal 'alimuun (dan tidak ada yang bisa memahaminya (memakai otaknya) kecuali orang2 yg berilmu).

"Yudlillu bihii katsiiron" wa "Yahdii bihii katsiiron"

Atsar As Suddi: dari Ibnu Abbas, Murroh, Ibnu Mas’ud: banyak yang disesatkan dengan perumpamaan-perumpamaan, yaitu orang-orang munafik. Dia menunjukkan (jalan lurus) banyak (orang), yaitu orang-orang beriman.

Al-faasiqiina

Orang fasik = orang yg keluar dari ketaatan.
Dalam bahasa Arab ada "fasaqotir ruthbah", yaitu jika kurma (ruthbah) keluar dari kulitnya.
Tikus juga disebut “fuwaisiqoh” artinya selalu keluar dari persembunyiannya untuk merusak.

Tafsir As Suddi: yaitu orang munafik.

Tafsir Ibnu Katsir: yaitu orang kafir dan durhaka.

Hadits Bukhori Muslim: Lima fawaasiqo (hewan fasik) yuqtalna (mereka boleh dibunuh), baik di tanah halal maupun di tanah haram, yaitu Ghuroobu (gagak), Hada-ah (elang), ‘Aqrob (kalajengking), Fakroh (tikus), dan Kalbul ‘Ukuur (anjing gila).

Selasa, 23 Desember 2008

Al Baqoroh ayat 20

AYAT 20: Yakadul barqu yakhthofu abshoorohum. Kullamaa adloo-a lahum masyau fiih. Wa idzaa adhlama ‘alaihim qoomuu. Walaw syaa-allohu ladzahaba bisam’ihim wa abshoorihim. Innallaha ‘alaa kulli syai-in qodiir.

I'rob

  • Kaada = he was about to/dia hampir → Yakaadu = he is about to/dia hampir (fi’l mudloorik = present tense)
  • Baroqo = he shined/dia telah bercahaya → barqun = a lightning/sebuah kilat (ism masdar = gerund) → al-barqu = THE lightning → al-barqu marfu', berarti fa'il (subjek) dari yakaadu, menggantikan kata "dia".
  • Khothifa = he seized by force/dia telah merampas → yakhthofu = he seizes by force/dia merampas (fi’l mudloorik)
  • Bashuro = he saw/dia telah melihat → bashorun = a sight/sebuah penglihatan → abshoorun = bentuk jamaknya/sights → abshoorun manshub jadi abshooron, berarti merupakan maf'ul (objek) dari yakhthofu
  • Hum = they/mereka → abshooron hilang tanwin jadi abshooro, berarti hum adalah mudlof ilaih (pemilik) dari absooron → hum tidak majrur menjadi him karena abshoorohum tidak diawali preposisi.
  • Kullamaa = everytime/setiap kali → dhorf zamaan (keterangan waktu)
  • Dloo-a = he brought to light/dia telah bersinar → a-dloo-a (wazan 4: causative) = he flashed/dia telah jadi bersinar (fi’l ma-dlii = past tense)
  • La = for/bagi
  • Hum = they/mereka
  • Masyaa = he walked/dia telah berjalan → masyauu = they walked/mereka telah berjalan (fi'l ma-dlii)
  • Fii = in/didalam
  • Hu = he/dia → fii adalah preposisi, maka hu majrur jadi hi.
  • Wa = dan
  • Idzaa = when/saat → klausa setelahnya otomatis menjadi bentuk present tense
  • Dholima = it was dark/dia telah gelap → adhlama (wazan 4: causative) = he darkened/dia telah membuat jadi gelap (fi’l ma-dlii) → karena idzaa, maka diterjemahkan : he darkens → ada yang menerjemahkan he (the lightning), he (the dark cloud), dan He (Allah), dan belum ada kesepakatan mengenai itu.
  • 'Alaa = upon/atas
  • Hum = they/mereka
  • Qooma = he stood/dia telah berdiri → qoomuu = they stood/mereka telah berdiri (fi’l ma-dlii) → karena idzaa, berarti diterjemahkan: they stand/mereka berdiri
  • Wa = dan
  • Lau = if/kalau
  • Syaa-a = he willed/dia telah ingin (fi’l ma-dlii)
  • Allah marfu' (berakhiran "u"), berarti fa'il dari syaa-a, menggantikan posisi "he".
  • La = certainly/niscaya
  • Dzahaba = he went/dia telah pergi (fi'l ma-dli)
  • Bi = with/dengan
  • Sami’a = he heard/dia telah mendengar → sam’un = a hearing/sebuah pendengaran (ism masdar/gerund) → asmaa’un = bentuk jamaknya/hearings
  • Hum = they/mereka → bi adalah preposisi, maka sam'un dan hum majrur jadi sam'in dan him → him adalah mudlof ilaih (pemilik) dari sam'in, maka sam'in harus buang tanwin jadi sam'i → bi adalah preposisi, maka abshoorun dan hum majrur jadi abshoorin dan him → him adalah mudlof ilaih dari abshoorin, maka abshoorin harus buang tanwin jadi abshoori.
  • Inna = sesungguhnya → maka Allah adalah ism inna (dan Allah harus manshub jadi Allooha), dan 'alaa kulli syai-in qodiirun adalah khobar inna → di terjemahan, ditambahkan "adalah".
  • 'Alaa = atas/upon
  • Kullun = setiap
  • Syai-un = sesuatu → 'alaa adalah preposisi, maka kullun dan syai-un majrur jadi kullin dan syai-in → syai-in adalah mudlof ilaih (pemilik) dari kullin, kullin harus hilang tanwin jadi kulli.
  • Qodaro = he had power (dia telah menetapkan/menakdirkan) → qodiirun = Most Omnipotent (Maha Penakdir).

Yakaadul barqu yakhthofu abshoorohum, kullamaa a-dloo-a lahum masyauu fiihi, wa idzaa adhlama 'alaihim qoomuu, wa lau syaa-alloohu, la dzahaba bi sam'ihim wa abshoorihim, innallooha 'alaa kulli syai-in qodiirun

Inggris: THE lightning is about to seize their sightings by force, everytime he (the lightning) flashed upon them, they walked in it, and when he (Allah/the lightning/the dark cloud) darkens upon them, they stand, and if Allah willed, He surely went with their hearings and their sightings, verily, Allah is Most Omnipotent upon everything.
Indonesia: Sang kilat hampir merampas penglihatan mereka, setiap kali dia (sang kilat) telah menjadi bersinar kepada mereka, mereka telah berjalan di dalamnya, dan saat dia (Allah/sang kilat/sang awan hitam) membuat jadi gelap kepada mereka, mereka berdiri, dan jika Allah mau, pasti Dia telah pergi dengan pendengaran mereka dan penglihatan mereka, sesungguhnya Allah adalah Maha Penakdir atas segala sesuatu.

Yakaadul barqu yakhthofu abshoorohum

Tafsir Ibnu Katsir: karena kilat memang kuat dan karena lemahnya pemahaman sehingga tidak memungkinkan mereka untuk percaya (beriman).

Kullamaa a-dloo-a lahum masyauu fiihi

Atsar Ali bin Abi Tholhah: dari Ibnu Abbas: waktu orang munafik mendapat bagian dari kejayaan Islam, mereka puas, tapi waktu Islam mengalami malapetaka, mereka siap kembali kafir.

Al Hajj 11: Wa minan naasi man ya'budullooha 'alaa harf (dan di antara manusia barangsiapa menyembah Allah di tepian (tidak penuh keyakinan) fa in a-shoobahu khoirun ithma-anna bihi (maka jika dia mendapat kebaikan, dia tetap dalam keadaan itu) wa in a-shoobat-hu fitnatun inqolaba 'alaa wajhihi (dan jika dia mendapat fitnah (cobaan), dia berbalik ke belakang (kembali kafir)) khosirod dun-yaa wal aakhirooh (dia rugi dunia dan akhirat) dzaalika huwal khusroonul mubiin (demikian itu adalah kerugian yg nyata).

Atsar Muhammad bin Ishaq, Qotadah, Abul 'Aliyah, Al Hasan Al Bashri, Ar Robi' bin Anas, dan As Suddi: dari Ibnu Abbas: mereka tahu Islam jalan yg benar, dan mereka berbicara tentang itu dengan tulus, tapi waktu mereka kembali ingkar, mereka bingung.

Tafsir Ibnu Katsir: di hari pembalasan, Allah memberi cahaya sesuai tingkat keimanannya di Shiroothol Mustaqiim (jembatan di atas neraka). Ada yg cahayanya menerangi sampai beberapa mil, ada yg kurang, ada yg lebih dari itu. Ada cahaya yg kadang nyala kadang mati, sehingga ia kadang jalan kadang berhenti. Orang munafik tidak mendapat cahaya sama sekali.

Al Hadiid 12-13: Yauma tarol mukminiina wal mukminaati ((yaitu pada) hari kamu melihat lelaki beriman dan perempuan beriman) yas'aa nuuruhum baina aidiihim wa bi aimaanihim (cahaya mereka bersinar di depan mereka dan di kanan mereka) busyrookumul yauma jannatun tajrii min tahtihal anhaaru khoolidiina fiiha ((dikatakan pada mereka): Hari ini adalah berita gembira untuk kalian, (yaitu) surga yang mengalir dari bawahnya sungai2, mereka kekal di dalamnya) dzaalika huwal fauzul 'adhiim (demikianlah keuntungan yg besar). Yauma yaquulul munaafiquuna wal munaafiqootu lil ladziina aamanuu ((pada) hari lelaki munafik dan perempuan munafik berkata kepada orang2 yg beriman) indhuruunaa naqtabis min nuurikum (Tunggu kami, kami ingin mengambil dari cahaya kalian) qiilarji'uu waroo-akum fal tamisuu nuuron (dikatakan (kepada mereka): Kembalilah ke belakang kalian dan carilah cahaya (sendiri)) fa dluriba bainahum bi suurin lahuu baab (lalu diantara mereka dipasang dinding (pemisah) yang berpintu) baathinuhu fiihir rohmatu wa dhoohiruhu min qibalihil adzaab (didalamnya ada rahmat dan diluarnya ada azab).

At Tahriim 8: Yaa ayyuhal ladziina aamanuu tuubuu ilalloohi taubatan na-shuuhan (wahai orang2 yg percaya (beriman), bertobatlah kepada Allah dengan tobat yg semurni-murninya) 'asaa robbukum an yukaffiro 'an kum sayyi-aatikum (semoga Robb-kalian menutupi kesalahan2 kalian) wa yudkhilakum jannaatin tajrii min tahtihal anhaaru (dan memasukkan kalian ke surga yg mengalir di dalamnya sungai2) yauma laa yukhzillaahun nabiyya walladziina aamanuu ma'ahu (di hari Allah tidak menghinakan nabi dan orang2 yg percaya yang bersama dia) nuuruhum yas'aa baina aidiihim wa bi aimaanihim (cahaya mereka memancar di depan mereka dan di kanan mereka) yaquuluuna robbanaa atmim lanaa nuuronaa waghfir lanaa (mereka berkata: Robb kami, sempurnakan bagi kami cahaya kami dan ampuni kami) innaka 'alaa kulli syai-in qodiir (sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas setiap sesuatu)

Atsar Ibnu Abi Hatim: dari Ibnu Mas'ud: nuuruhum yas'aa baina aidiihim (cahaya memancar di depan mereka) artinya mereka akan melewati Shirotol Mustaqim berdasarkan amalnya. Cahayanya bisa sebesar gunung, bisa sebesar pohon kurma. Orang yg cahayanya paling sedikit adalah yg telunjuknya kadang2 bercahaya, kadang2 padam.

Atsar Ibnu Abi Hatim: dari Ibnu Abbas: setiap orang yg meng-esa-kan Allah (yang benar2 menerapkan iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin) akan mendapat cahaya di hari kebangkitan, dan cahaya orang munafik akan dipadamkan. Saat orang beriman melihat cahaya orang munafik padam, mereka cemas dan berdoa robbanaa atmim lanaa nuuronaa (Robb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami).

Atsar Adh Dhohhak: di hari kebangkitan, setiap orang yg beriman diberi cahaya. Saat sampai Shiroothol Mustaqiim, cahaya orang munafik akan padam, dan orang2 beriman akan cemas dan berdoa seperti di atas.

Jenis-jenis manusia

Tafsir Ibnu Katsir: manusia ada 3 golongan, percaya (beriman), ingkar (kafir), dan munafik (pura2 percaya, padahal hatinya ingkar). Orang munafik ada 2 jenis, yaitu munafik murni (perumpamaan api) dan separo munafik (cahaya keimanannya kadang menyala, kadang padam).

Al Hajj 3: Wa minan naasi man yujaadilu fillaahi bi ghoiri 'ilmin wa yattabi'u kulla syaithoonin mariid (dan di antara manusia ada yg membantah tentang Allah tanpa ilmu (kafir murni) dan hanya mengikuti para setan yg sangat jahat (kafir ikut-ikut)).

Al Hajj 8: Wa minan naasi man yujaadilu fillaahi bi ghoiri 'ilmin wa laa hudan wa laa kitaabin muniir (dan di antara manusia ada yg membantah tentang Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk, dan tanpa kitab yg menerangkan).

An Nuur 39: Wal ladziina kafaruu a'maluhum ka saroobin bi qii'atin yahsabuhudh dhom-aanu maa-an hattaa idzaa jaa-ahu lam yajid-hu syai-an (dan orang2 yg kafir, amal2 mereka seperti fatamorgana di padang pasir, yg dikira air oleh orang2 yg haus, sehingga kalau didatangi mereka tidak mendapatkan sesuatu)

An Nuur 40: Au ka dhulumaatin fii bahrin lujjiyyin yaghsyaahu maujun min fauqihi maujun min fauqihi sahaabun (atau (keadaan orang2 kafir) seperti kegelapan didalam laut yg dalam, yg diliputi ombak di atas ombak, di atasnya lagi ada awan gelap) dhulumaatun ba'dluhaa fauqo ba'dlin (itulah gelap gulita yg berlapis-lapis) idz akhroja yadahu lam yakad yarooha (kalau dia mengeluarkan tangannya hampir dia tidak bisa melihatnya) wa man lam yaj'alillaahu lahu nuuron famaa lahuu min nuur (dan barangsiapa tidak diberi cahaya oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya)

Ayat 39 tentang orang kafir murni, ayat 40 tentang kafir ikut2.

Al Waaqi’ah 7-10: Wa kuntum azwaajan tsalaatsah (Dan kalian menjadi 3 golongan) fa ash-haabul maimanati maa ash-haabul maimanah (maka golongan (yg menerima buku catatan amal dengan tangan) kanan, betapa (mulianya) golongan kanan) wa ash-haabul masy-amati maa ash-haabul masy-amah (dan golongan kiri, betapa (sengsaranya) golongan kiri) was saabiquunas saabiquun (dan orang2 yg paling dahulu (beriman) mereka paling dahulu (masuk surga))

Jadi ada 3 golongan nanti di hari kiamat: Maimanah (golongan kanan), Masy-amah (golongan kiri), dan Assaabiquun (orang2 yg paling dahulu (beriman))

Al Waqiah 88-94: Fa ammaa in kaana minal muqorrobiin (maka adapun jika dia (orang mati) adalah tergolong orang2 yg didekatkan) fa rouhun wa roihaanun wa jannatu na'iim (maka (dia mendapat) ketenteraman, kepuasan dan surga (yg penuh) kenikmatan) wa ammaa in kaana min ash-haabil yamiin (dan adapun jika dia adalah tergolong golongan kanan) fa salaamun laka min ash-haabil yamiin (maka bagimu adalah keselamatan (karena kamu) dari golongan kanan)) wa ammaa in kaana minal mukadzdzibiinadl dloolliin (dan adapun jika dia tergolong orang2 yg mendustakan (dan) orang2 sesat) fa nuzulun min hamiim (maka (dia mendapat) hidangan dari air mendidih) wa tashliyatu jahiim (dan (dia) dimasukkan neraka).

Menurut ayat-ayat ini ada 3 golongan: Muqorrobiin (orang yg didekatkan kepada Allah), Ashaabul Yamiin (golongan kanan), dan Mukadzdzibiina (orang2 yg mendustakan)

Al Insaan 3: Innaa hadainaahus sabiila immaa syaakiron wa immaa kafuuron (sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan lurus, ada yg bersyukur dan ada pula yg kafir)

Tafsir Ibnu Katsir: Orang beriman ada 2 (muqorrobiin dan abror (orang soleh)), orang kafir ada 2 (sesungguhnya dan ikut2), orang munafik ada 2 (murni munafik dan sedikit munafik).

Hadits Bukhori & Muslim: dari Abdullah bin Amr: dari Rosululloh: Tsalaatsun man kunna fiihi kaana munaafiqon khoolishon (Tiga hal, barangsiapa ketiganya ada di dalamnya, jadilah ia munafik murni) wa man kaanat fiihi waahidatun minhunna kaanat fiihi khoshlatun minan nafaaqi hattaa yada'ahaa (dan barangsiapa salah satu ada di dalamnya, maka pada dirinya ada satu sifat kemunafikan sehingga ia meninggalkannya) man idzaa haddatsa kadzab (barangsiapa kalau berkata berdusta) wa idzaa wa’ada akhlafa (dan kalau berjanji (dia) khilaf) wa idzaktumina khoona (dan kalau dipercaya berkhianat)

Tafsir Ibnu Katsir: Setiap orang bisa punya sebagian iman, sebagian munafik baik perbuatan atau dalam hati saja.

Hadits jayyid hasan Imam Ahmad: dari Abu Sa'id: dari Rosululloh: Alquluubu arba'ah (hati itu ada 4 (macam)) qulbun ajrodu fiihi mitslus sirooji yazharu (hati yg bersih yg di dalamnya ada semacam lampu yg bersinar) wa qolbun aghlafu marbuuthun 'alaa ghilaafihi (hati yg tertutup dengan tali terikat disekitar tutupannya) wa qolbun mankuusun (hati yg berbalik) wa qolbun mushfahun (dan hati yg berlapis) fa ammal qolbul ajrodu fa qolbul mukmini (maka adapun hati yg bersih maka (adalah) hati orang mukmin) fa siroojuhu fiihi nuuruhu (dan lampu yg di dalamnya adalah cahayanya) wa amml qolbul aghlafu fa qolbul kaafiri (dan hati yg tertutup adalah hati orang kafir) wa ammal qolbul mankuusu fa qolbul munaafiqil khoolishi 'arofa tsumma ankaro (dan hati yg berbalik adalah hati orang munafik (murni), ia tahu Islam lalu ingkar) wa ammal qolbul mushfahu fa qolbun fiihi iimaanun wa nifaaqun (dan hati yg berlapis adalah hati yg di dalamnya ada iman dan kemunafikan) wa matsalul iimaani fiihi kamatsalil baqlati yamudduhal maa-uth thoyyibu (dan perumpamaan iman didalamnya adalah seperti sayuran disiram air bersih) wa matsalun nifaaqi fiihi kamatsalil qurhati yamudduhal qoihu waddamu (dan perumpamaan kemunafikan didalamnya adalah seperti luka yg dilumuri nanah & darah) fa ayyul maaddataini gholabat 'alal ukhroo gholabat 'alaih (dan mana di antara keduanya (iman vs kemunafikan) yg mengalahkan yg lainnya, maka dialah yg mendominasi).

Wa lau syaa-alloohu, la dzahaba bi sam’ihim wa abshoorihim

Atsar Muhammad bin Ishaq: dari Ibnu Abbas: pendengaran dan penglihatan mereka berhak diambil Allah karena mereka meninggalkan kebenaran setelah mengetahuinya.

Innallooha ‘alaa kulli syai-in qodiirun

Atsar Ibnu Abbas: Allah berkuasa menghukum dan mengampuni hambaNya kalau Dia berkehendak

Tafsir Ibnu Jarir dan Qurthubi: "au" (atau) di ayat 18 dan 19 maksudnya "dan" (yaitu dua-duanya perumpamaan itu sama saja, orang munafik bisa digambarkan di ayat 18 dan 19).

Tapi Tafsir Ibnu Katsir: "au" (atau) disini maksudnya "ada dua jenis" (perumpamaan ayat 18 adalah munafik murni, perumpamaan ayat 19 adalah munafik yg masih ada imannya).

Al Baqoroh ayat 19

AYAT 19: Au ka shoyyibim minas samaa-i fiihi dhulumaatuw waro’duw wabarq. Yaj’aluuna ashoobi’ahum fii aadzaanihim minash showaa’iqi hadzarol mauut. Wallahu muhiithum bil kaafiriin.

I'rob


  • Au = or/atau
  • Ka = like/seperti
  • Shooba = he rained/dia telah hujan → shoyyibun/shoubun = a dark cloud/sebuah awan gelap → ka adalah preposisi, maka shoyyibun majrur jadi shoyyibin
  • Min = from/dari
  • Samaa-un = a sky/sebuah langit → samaawaatu/samawaatu = bentuk jamaknya/skies → as-samaa-u = THE sky → as-samaa-u diawali huruf vokal, maka min jadi mina → mina adalah preposisi, maka as-samaa-u majrur jadi as-samaa-i.
  • Fii = in/di dalam
  • Hu = him/dia → fii adalah preposisi, maka hu majrur jadi hi
  • Dhulmatu/dhulumatu = a darkness/kegelapan → dhulumaatun = bentuk jamaknya/darknesses
  • Wa = dan
  • Ro’ada = he thundered/dia telah menggelegar → ro'dun = a thunder/sebuah petir (ism masdar = gerund)
  • Baroqo = he shined/dia telah bercahaya → barqun = a lightning/sebuah kilat (ism masdar) → fiihi adalah mubtadak dan dhulumaatun wa ro'dun wa barqun adalah khobar, maka di terjemahannya ditambahkan kata "adalah".
  • Ja'ala = he made/dia telah menjadikan → yaj'aluuna = they make/mereka menjadikan (fi'l mudloorik = present tense)
  • Shoba'a = he pointed/dia telah menunjuk → ashba'un/ushbu'un/ishba'u = a finger/sebuah jari → ashoobi'u = bentuk jamaknya/fingers → a-shoobi’u adalah maf'ul (objek) dari yaj'aluuna, maka a-shoobi’u manshub jadi a-shoobi'a.
  • Hum = they/mereka
  • Fii = in/didalam
  • Adzina = he listened/dia telah mendengar → udzunun = an ear/sebuah telinga → aadzaanun = bentuk jamaknya/ears → fii adalah preposisi, maka aadzaanun majrur jadi aadzaanin → hum yang kedua adalah mudlof ilaih dari aadzaanin, maka aadzaanin harus menghilangkan tanwin jadi aadzaani, dan hum majrur jadi him.
  • Min = because of/karena → karena kata/klausa setelahnya adalah penyebab dari klausa sebelumnya, dan kata/klausa setelahnya berupa kata benda
  • Sho'iqo = he was loud /dia telah keras → ash-shoo'iqoh = THE thunderclap/sang halilintar → ash-showaa’iqu = bentuk jamaknya (thunderclaps)
  • Hadziro = he bewared/dia telah waspada → hadzaro = a wariness/kewaspadaan (ism masdar)
  • Mautun = A death/sebuah kematian → al-mautu = THE death → al-mautu adalah mudlof ilaih (pemilik) dari hadzaron, maka hadzaron buang tanwin jadi hadzaro dan al-mautu majrur jadi al-mauti.
  • Wa = dan
  • Allah marfu' (berakhiran "u") dan setelahnya adalah kata benda juga yang marfu', berarti Allah adalah mubtadak dan muhii-thun adalah khobar, maka dalam terjemahannya ditambahkan kata "adalah"
  • Haa-tho = he guarded/dia telah menjaga → ihtaa-tho (wazan 4: causative) = he encompassed/dia telah mengawasi → muhii-thun = Most Encompasser/Maha Mengawasi(ism fa’il)
  • Bi = with/dengan
  • Kafaro = he disbelieved/dia telah tidak percaya → kaafirun = a disbeliever/seorang yang tidak percaya (ism fa'il) → kaafiruuna = bentuk jamaknya/disbelievers → al-kaafiruuna = THE disbelievers → bi adalah preposisi, maka al-kaafiruuna majrur jadi al-kaafiriina
Au ka shoyyibin minas samaa-i, fiihi dhulumaatun wa ro'dun wa barqun, yaj'aluuna a-shoobi'ahum fii aadzaanihim minash showaa'iqi hadzarol mauti, walloohu muhii-thun bil kaafiriina

Inggris: Or like a dark cloud from THE sky, in it are darknesses and thunder and lightning, they make their fingers in their ears because of THE thunderclaps, a wariness of THE death, and Allah is Most Encompasser with THE disbelievers.

Indonesia: Atau seperti sebuah awan hitam dari sang langit, di dalamnya adalah kegelapan-kegelapan dan petir dan kilat, mereka menjadikan jari-jari mereka di dalam telinga-telinga mereka karena sang halilintar, suatu kewaspadaan terhadap sang kematian, dan Allah adalah Maha Mengawasi semua orang yang tidak percaya.

Au ka shoyyibin minas samaa-i

Tafsir Ibn Katsir: tentang perumpamaan orang munafik, yang kadang2 percaya dengan Islam, kadang2 meragukannya. Saat hati mereka ragu2, bingung, dan ingkar, hati mereka seperti shoyyib.

Atsar Ibn Mas'ud, Ibn 'Abbas, Abul 'Aliyah, Mujahid, Sa'id bin Jubair, 'Atho', Al Hasan Al Bashri, Qotadah, 'Athiyah Al Afwi, 'Atho' Al Khurosani, As Suddi, dan Ar Robi' bin Anas: shoyyib artinya hujan.

Atsar Ad Dhohhak: shoyyib artinya awan.

Fiihi dhulumaatun

Tafsir Ibnu Katsir: Dhulumaatu (kegelapan) artinya keraguan, ketidakpercayaan, dan kemunafikan terhadap Islam.

Wa ro'dun

Tafsir Ibnu Katsir: Ro'dun (petir) mengejutkan hati mereka dengan rasa takut, karena orang munafik itu hatinya selalu takut dan khawatir.

Al Munaafiqun 4: Yahsabuuna kulla shoihatin 'alaihim (mereka mengira setiap teriakan yg keras ditujukan kepada mereka).

At Taubah 56-57: Wa yahlifuuna billaahi (dan mereka (orang2 munafik) bersumpah dengan (nama) Allah) innahum la minkum (sesungguhnya mereka adalah golongan kalian) wa maa hum minkum (padahal mereka bukan golongan kalian) wa laakinna hum qoumun yafroquun (melainkan mereka orang2 yg sangat takut (kepada kalian)). Lau yajiduuna malja-an au maghoorootin au muddakholan (kalau mereka mendapat tempat perlindungan atau gua2 atau lubang2) lawallau ilaihi wa hum yajmahuun (niscaya mereka berpaling kepadanya dan mereka lari secepat-cepatnya (kesana)).

Wa barqun

Tafsir Ibnu Katsir: Barqun (kilat) artinya cahaya keimanan yg kadang2 ada di hati orang munafik.

Yaj'aluuna a-shoobi'ahum fii aadzaanihim minash showaa'iqi hadzarol maut, wallohu muhii-thun bil kaafiriina

Tafsir Ibnu Katsir: mereka menyumbat telinga mereka dengan jari2 mereka, maksudnya kehati-hatian mereka tidak membawa manfaat bagi mereka karena Allah Maha Meliputi/Mengawasi mereka melalui kekuasaan dan keputusanNya.

Al Buruuj 17-20: Hal ataaka hadiitsul junuud (sudahkah datang padamu berita tentang bala tentara (penentang)?) Fir'auna wa tsamuud ((yaitu) Fir’aun & Tsamud). Balil ladziina kafaruu fii takdziib (memang orang2 yg ingkar selalu berdusta). Walloohu min waroo-ihim muhiith (padahal Allah mengawasi dari belakang mereka).

Senin, 22 Desember 2008

Al Baqoroh ayat 17-18

AYAT 17: Ma-tsaluhum kama-tsalil ladzis tauqoda naaron, falammaa adloo-at maa haulahuu dzahaballahu binuurihim watarokahum fii dhulumaatin laa yubshiruun.

I'rob

  • Matsalun = a parable/sebuah perumpamaan
  • Hum = they/mereka --> hum adalah mudlof ilaih dari matsalun, sehingga matsalun hilang tanwin jadi matsalu
  • Ka = like/seperti --> ka adalah preposisi, maka matsalun harus majrur jadi matsalin
  • Alladzii = one who/yang --> berarti klausa setelahnya ingin dibendakan, dan matsalin hilang tanwin jadi matsali --> berarti alladziis tauqoda naaron adalah mudlof ilaih dari matsali.
  • Waqoda = he kindled/dia telah menyala --> istauqoda (wazan 10: meminta agar 'menyala' dapat terjadi) = dia telah menyalakan/he kindled (fi’l ma-dlii = past tense)
  • Naarun = a fire/suatu api --> naarun manshub jadi naaron, berarti naaron adalah maf'ul dari istauqoda --> matsaluhum adalah mubtadak, kamatsalil ladzis tauqoda naaron adalah khobarnya, sehingga diberikan "adalah" dalam terjemahannya.
  • Fa = then/lalu
  • Lamma = when/saat --> hanya untuk past tense
  • Dloo-a = he brought to light/dia telah membawa cahaya --> a-dloo-a (wazan 4: causative) = he illuminated/dia telah menerangi --> a-dloo-at = she illuminated (fi'l ma-dlii) --> she di sini adalah naarun.
  • Maa = what/apa yang (ism maushul = relative pronoun)
  • Haula = surrounding/di sekitaran (biasanya berupa lingkaran)
  • Hu = him/dia
  • Dzahaba = he went out/dia telah pergi (fi’l ma-dlii)
  • Allah marfu' (berakhiran "u"), berarti Allah adalah fa'il (subjek) dari dzahaba.
  • Bi = with/dengan
  • Nuurun = a light/sebuah cahaya --> bi adalah preposisi, maka nuurun majrur jadi nuurin.
  • Hum = they/mereka --> hum majrur jadi him, nuurin hilang tanwin jadi nuuri, berarti hum adalah mudlof ilaih dari nuurin --> bi nuurihim adalah pelengkap dari dzahaba
  • Wa = dan
  • Taroka = he left/dia telah meninggalkan (fi’l ma-dlii)
  • Hum = they/mereka
  • Fii = in/di dalam
  • Dholima = he is dark/dia telah gelap --> dhulmatu/dhulumatu = a darkness/sebuah kegelapan --> dhulumaatun = bentuk jamaknya, darknesses --> fii adalah preposisi, maka dhulumaatun majrur jadi dhulumaatin.
  • Laa --> laa nafiyah (negator)
  • Bashuro = he saw/dia melihat --> abshoro (wazan 4: causative) = he could see/dia bisa melihat --> yubshiruuna = they could see/mereka bisa melihat (fi’l mudloorik = present tense)
Matsaluhum kamatsalil ladzis tauqoda naaron, fa lammaa a-dloo-at maa haulahu, dzahaballoohu bi nuurihim wa tarokahum fii dhulumaatin, laa yubshiruuna

Inggris: Their parable IS like A parable of one who kindled a fire, then when she (the fire) illuminate what surrounding him (the one who kindled it), Allah went with their light and He left them in darknesses, they couldn't see.
Indonesia: Perumpamaan mereka adalah seperti sebuah perumpamaannya orang yang telah menyalakan api, lalu saat dia (api) telah menerangi apa yang mengelilinginya (yang menyalakan api), Allah telah pergi dengan cahaya mereka dan Dia meninggalkan mereka dalam kegelapan, mereka tidak bisa melihat.

Kenapa Allah membuat permisalan?

Al ‘Ankabuut 43: Wa tilkal amtsaalu nadlribuhaa linnaas (dan perumpamaan2 ini Kami buat untuk manusia) wa maa ya'qiluhaa illal 'aalimuun (dan tiada yg memahaminya kecuali orang2 yg berilmu)

Arti permisalan di ayat ini

Tafsir Ibnu Katsir: Orang munafik itu membeli kesesatan dengan menjual petunjuk, lalu menjadi buta, bagaikan orang yg menyalakan api. Waktu api menyinari sekitarnya, dia diuntungkan dan merasa aman, tiba2 api itu padam sehingga mereka berada dalam kegelapan, tidak bisa melihat & tidak mendapat petunjuk atau penuntun. Orang ini juga tidak bisa mendengar dan berkata-kata dan jika ada api, dia juga tidak bisa melihat.

Dzahaballoohu binuurihim

Tafsir Ibnu Katsir: Allah menghilangkan apa yg menguntungkan untuk mereka, yaitu cahaya, lalu meninggalkan mereka dengan apa yg membahayakan mereka, yaitu kegelapan dan kabut.

Wa tarokahum fii dhulumaatin

Tafsir Ibnu Katsir: yaitu membiarkan mereka ragu2, tidak percaya, dan munafik.

Laa yubshiruuna

Tafsir Ibnu Katsir: yaitu tidak bisa menemukan jalan dan arah yg benar.


AYAT 18: Shummum bukmun ‘umyun fahum laa yarji’uun.

I'rob
  • Shummun = deaf/tuli
  • Bukmun = dumb/bisu
  • 'Umyun = blind/buta
  • Fa = then/lalu
  • Hum = they/mereka --> berfungsi sebagai 'athof (penguat).
  • Laa --> laa nafiyah (negator)
  • Roja'a = he returned/dia telah kembali --> yarji'uuna = they returned/mereka kembali (fi’l mudloorik = present tense)
Shummun bukmun 'umyun fa hum laa yarji'uuna

Inggris: Deaf, dumb, blind, then they don't return
Indonesia: Tuli, bisu, buta, lalu mereka tidak kembali

Shummun bukmun 'umyun

Tafsir Ibnu Katsir: Orang munafik itu tuli (tidak bisa mendengar petunjuk), bisu (tidak bisa mengatakan kata-kata yg menguntungkan mereka), dan buta (dalam kegelapan dan kesesatan)

Jadi yg tersesat hatinya atau matanya?

Al Hajj 46: Fa innahaa laa ta'mal abshooru wa lakin ta'mal quluubul latii fish shuduur (Maka sesungguhnya bukan mata yang buta tapi hati yg di dalam dada yg buta)

Al Baqoroh ayat 16

AYAT 16: Ulaa-ikal ladziinasy tarowudl dlolaalata bil hudaa, famaa robihat tijaarotuhum wamaa kaanuu muhtadiin

I'rob

  • Ulaa-ika = those (ism isyaroh = kata tunjuk)
  • Alladziina = those who/yang (ism maushul = relative pronoun) → berarti kalimat setelahnya ingin dikatabendakan (yaitu isytarowudl dlolaalata bil hudaa) → berarti ulaa-ika adalah mubtadak, alladziina isytarowudl dlolaalata bil hudaa adalah khobar, sehingga dalam terjemahannya ditambahkan kata "adalah".
  • Syaroo = he bought/bartered/prefered/dia telah membeli → isytaroo (wazan 8: saling) = he bought each other → isytarowu = they bought each other/mereka telah saling membeli (fi’l ma-dlii = past tense)
  • Dlolla = he went ashtray/dia telah tersesat → Dlolaalatan = sebuah kesesatan/AN error (ism mashdar = gerund) → adl-dlolaalata = THE error
  • Bi = with/dengan
  • Hadaa = he guided/dia telah menunjukkan → hudan = a guidance/sebuah petunjuk (ism mashdar) → al hudaa = THE guidance
  • Fa = then/maka → karena ada hubungan sebab akibat antara sebelumnya dan sesudahnya
  • Maamaa nafiyah (negator) → maa sebagai negator hanya dipakai untuk fi’l ma-dlii.
  • Robiha = he profited/dia telah untung → robihat = she profited (fi’l ma-dlii)
  • Tajaro = he commerce/dia telah berdagang → tijaarotun = A commerce/sebuah perdagangan (ism mashdar), bergender perempuan, karena berakhiran tak marbuthoh → robihat adalah fi'l ma-dlii untuk perempuan dan tijaarotun juga perempuan, maka tak marbuthoh di tijaarotun harus berubah jadi tak taknis
  • Hum = they/mereka → hum adalah mudlof ilaih (pemilik) dari tijaarotun, maka tijaarotun harus menghilangkan tanwin jadi tijaarotu, hum harusnya majrur jadi him, tapi ternyata tetap hum, berarti tijaarotu dan hum adalah subjek dari robihat → tijaarotuhum menempati posisi "she" di robihat → maa robihat tijaarotuhum = their commerce didn't profit.
  • Wa = dan
  • Maa maa nafiyah (negator)
  • Kaanuu → kaana yang mengandung ism kaana "mereka" → muhtadiina adalah khobar kaana, klausa setelahnya jadi past tense, dan di terjemahannya ditambahkan "were".
  • Hadaa = he guided/dia telah menunjukkan → ihtadaa (wazan 8: saling/pasif) = he gained guidance/dia memperoleh petunjuk → muhtadu = A guidance gainer/seorang pemeroleh petunjuk (ism fa'il = pelaku) → muhtaduuna = guidance gainers (bentuk jamaknya) → karena muhtaduuna adalah khobar kaana, maka harus manshub jadi muhtadiina

Ulaa-ikal ladziinasy tarowudl dlolaalata bil hudaa, fa maa robihat tijaarotuhum wa maa kaanuu muhtadiin

Inggris: Those are those who barter/prefer THE error with THE guidance, then their commerce didn't profit and they were not guidance gainers.
Indonesia: Mereka adalah yang menjual kesesatan dengan petunjuk, lalu perdagangan mereka tidak untung dan mereka bukan para pemeroleh petunjuk.

Uulaa-ikal ladziinasy tarowudl dlolaalata bil hudaa

Atsar As Suddi (dari Ibnu Mas’ud) dan Qotadah: maksudnya, memilih kesesatan dan meninggalkan petunjuk.

Atsar Mujahid: maksudnya, mereka (awalnya) percaya (beriman), lalu ingkar (kafir).

Al Fushshilat 17: Wa ammaa tsamuudu fa hadainahum fastahabbul 'amaa 'alal hudaa (Dan adapun (kaum) Tsamud, Kami telah menunjukkan mereka (jalan yg benar), tapi mereka lebih suka kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk) fa akhodzat hum shoo'iqotul 'adzaabil huunii bimaa kaanuu yaksibuun (maka petir menyambar mereka sebagai adzab yg menghinakan karena apa yg telah mereka kerjakan)

Al Munaafiqun 3: Dzaalika bi annahum aamanuu tsumma kafaruu fa thubi'a 'alaa quluubihim fa hum laa yafqohuun (Itu karena sesungguhnya mereka telah percaya (beriman) lalu mereka ingkar (kafir), maka hati mereka dikunci sehingga mereka tidak bisa mengerti)

Fa maa robihat tijaarotuhum wa maa kaanuu muhtadiin

Tafsir Ibnu Katsir: perdagangan (menjual keimanan, membeli kesesatan) mereka tidak sukses (di dunia dan akhirat) dan mereka tidak mendapat petunjuk (ke jalan lurus).

Atsar Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim: dari Qotadah: Demi Allah aku telah menyaksikan mereka keluar dari petunjuk demi kesesatan, keluar dari jamaah (komunitas orang beriman) menuju perpecahan (sekte, partai, jamaah eksklusif), meninggalkan rasa aman demi rasa takut, meninggalkan sunnah (tradisi Rosululloh) demi bid’ah (inovasi dalam ibadah).