Tampilkan postingan dengan label Iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iman. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Juli 2010

Al Baqoroh ayat 62

AYAT 62: Innal ladziina aamanuu wal ladziina haaduu wan nashooroo wash shoobi-iina man aamana billaahi wal yaumil aakhiri wa 'amila shoolihan fa lahum ajruhum 'inda robbihim, wa laa khoufun 'alaihim wa laa hum yahzanuuna
  • Inna = sesungguhnya → berarti alladziina aamanuu adalah ism inna
  • Alladziina = those who/yang → berarti kalimat setelahnya akan dikatabendakan, yaitu aamanuu
  • Amina = he felt secure/dia telah mempercayakan → aamana (wazan 4: causative) = he believed/dia telah percaya → aamanuu = they believed/mereka telah percaya
  • Wa = dan
  • Alladziina = those who/yang → berarti kalimat setelahnya akan dikatabendakan, yaitu haaduu
  • Haada = he became Jews/dia telah menjadi Yahudi → haaduu = they became Jews/mereka telah menjadi Yahudi
  • Nashoro = he helped/dia telah menolong → nashrooniyyan = a Christian/seorang Nasrani → nashooroo = Christians (bentuk jamak) → an-nashooroo = THE Christians (jamak definit)
  • As-shoobi-uuna = THE Sabians
  • Man = who/yang (ism maushul/relative pronoun)
  • Aamana (wazan 4 dari amina) = he believed/dia telah percaya
  • Bi = with/dengan → bi adalah preposisi, maka Allah majrur jadi Allaahi
  • Yaumun = a day/suatu hari → al-yaumu = THE day → bi adalah preposisi, maka al-yaumu majrur jadi al-yaumi
  • Al-aakhiru = the last/yang terakhir → sama-sama majrur (berakhiran "i" jadi al-aakhiri), definit (berawalan "al"), maskulin, dan singular seperti al-yaumi, berarti al-aakhiru adalah na'at (sifat) dari al-yaumi
  • 'Amila = he did/dia telah melakukan
  • Sholaha = he were righteous/dia telah saleh → shoolihan = righteous deeds
  • Fa = then/maka
  • La = for/bagi
  • Hum = them/mereka
  • Ajrun = a reward/sebuah ganjaran → ajrun hilang tanwin jadi ajru, berarti hum adalah mudlof ilaih dari ajru → lahum adalah mubtadak, ajruhum adalah khobar, sehingga di terjemahannya ditambahkan "adalah"
  • 'Inda = with/di sisi
  • Robbun = lord → 'inda adalah preposisi, maka robbun majrur jadi robbin → robbin hilang tanwin jadi robbi, dan hum majrur jadi him, berarti him adalah mudlof ilaih dari robbi
  • Laa = laa nafiyah (negasi)
  • Khoofa = he feared/dia telah takut → khoufun = a fear/sebuah ketakutan
  • 'Alaa = upon/atas → 'alaa adalah preposisi, maka hum majrur jadi him'alaa+him = 'alaihim
  • Hum = they/mereka
  • Hazana = he grieved/dia telah bersedih → yahzanuuna = they grieve/mereka bersedih (fi'l mudloorik = kata kerja present tense)
Innal ladziina aamanuu wal ladziina haaduu wan nashooroo wash shoobi-iina man aamana billaahi wal yaumil aakhiri wa 'amila shoolihan fa lahum ajruhum 'inda robbihim, wa laa khoufun 'alaihim wa laa hum yahzanuuna

Inggris: Verily, those who believed and those who became Jews and Christians and Sabians, he who believed in Allah and the last day and he did good deeds, then for them is their rewards with Allah, and no fear upon them and they don't grieve.
Indonesia: Sesungguhnya, orang-orang yang telah percaya dan orang-orang yang menjadi Yahudi dan Nasrani dan Shobi'in, dia yang percaya kepada Allah dan hari akhir dan berbuat baik maka bagi mereka adalah ganjaran di sisi Robb mereka, dan tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka tidak bersedih.

Tujuan ayat

Tafsir Ibn Katsir: Setelah Allah menjelaskan seperti apa dan apa hukumannya orang-orang yang melanggar perintah dan laranganNya, dan melampaui batas dengan melakukan yang diharamkanNya, Dia menyatakan bahwa bangsa sebelumnya (dan bangsa-bangsa sampai hari kiamat) yang saleh dan taat mendapat ganjaran karena perbuatan baiknya. Maka siapa yang mengikuti nabi dan rosul yang ummii (butahuruf) akan mendapat kebahagiaan abadi dan takkan pernah takut terhadap masa depan dan takkan sedih terhadap masa lalu.

Yunus 62: Alaa inna auliyaa-allaahi (ingatlah sesungguhnya wali (sahabat, orang yang menuruti nasehat) Allah) laa khoufun 'alaihim (tidak ada rasa takut atas mereka) wa laa hum yahzanuun (dan mereka tidak bersedih).

Para malaikat berkata kepada orang beriman saat akan dicabut nyawanya:
Fushshilat 30: Innal ladziina qooluu robbunallaahu (sesungguhnya orang yg berkata "Robb kami adalah Allah") tsummas taqoomuu (lalu mereka konsisten) tatanazzalu 'alaihimul malaa-ikatu (malaikat turun kepada mereka malaikat) an laa takhoofuu wa laa tahzanuu (bahwa "Jangan kalian takut dan jangan kalian bersedih) wa absyiruu bil jannatil latii kuntum tuu'aduuna (dan kalian kabarkanlah berita gembira dengan surga yang kalian dijanjikan)

Innal ladziina aamanuu

Atsar 'Ali bin Abi Tholhah: dari Ibn 'Abbas: ayat ini turun sebelum Allah menurunkan Ali 'Imroon 85:
Ali Imron 85: Wa man yabtaghi ghoirol islaami diinan (dan dia yang mencari selain agama Islam) fa lan yuqbala minhu (maka dia tidak diterima darinya). Wa huwa fil aakhiroti minal khoosiriina (dan dia adalah tergolong orang-orang yang merugi di akhirat).

Tafsir Ibn Katsir: Allah takkan menerima perbuatan apapun dari siapapun kecuali jika sesuai dengan syari'at Muhammad, yaitu setelah Allah mengirim Muhammad. Sebelumnya, setiap orang yang mengikuti petunjuk rosulnya, maka dia berada dalam jalan yang benar, mengikuti petunjuk yang benar, dan terselamatkan.

Wal ladziina haaduu

Tafsir Ibn Katsir: Yahudi adalah pengikut Musa yang berhukum pada Taurot.

Al A'roof 156: Innaa hudnaa ilaika (sesungguhnya kami (Bani Isroil) bertobat kepada-Mu)

Wan Nashooroo

Asal kata nasrani adalah dari kata anshor, artinya penolong:
Ali Imron 52: Fa lamma ahassa 'iisaa minhumul kufro (lalu saat Isa telah menyadari keingkaran dari mereka (Bani Isroil)) qoola man anshoorii ilallaah (dia berkata "Siapa yang menjadi penolongku untuk Allah)? Qoolal hawaariyyuuna nahnu anshoorullaah (orang-orang Hawariyyun (sahabat Isa) berkata "Kamilah penolong Allah"), aamannaa billaahi (kami percaya kepada Allah), wasyhad bi annaa muslimuuna (dan saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berlapang dada)).

Atsar Qotadah, Ibn Juroij dan Ibn 'Abbas: mereka dipanggil Nashooroo karena mereka tinggal di daerah bernama An-Nashiroh (Nazareth).

Tafsir Ibn Katsir: Saat Allah mengirim Muhammad sebagai nabi dan rosul terakhir kepada semua keturunan Adam, seluruh manusia diwajibkan percaya kepadanya, menaatinya, dan menjauhi apa yang dilarangnya. Mereka yang melakukannya adalah orang yang percaya.

Wash Shoobi-iina

Atsar Mujahid, Wahb bin Munabbih, Ibn Abi Najih, 'Atho', dan Sa'id bin Jubair: Shobi-in bukan Majusi, Yahudi, Nasrani, dan bukan politheis, tapi mereka tidak punya agama tertentu karena mereka hidup dalam fitrah mereka (insting alam). Itulah kenapa orang musyrik memanggil pemeluk Islam sebagai Shobi-in, artinya mengabaikan semua agama yang ada saat itu.

Atsar Abul Aliyah, Ar Robi’ bin Anas, As Suddi, Jabir bin Zaid, Adh Dhohhak, dan Ishaq bin Rohawaih: Shobi-in adalah kelompok Ahli Kitab yang membaca kitab Psalm (Zabur).

Atsar Abdurrohman bin Mahdi: dari Mu'awiyah bin Abdul Karim: dari Al Hasan Al Bashri: Shobi-in adalah kaum penyembah malaikat.

Atsar Ar Rozi: Shobi-in adalah kaum penyembah bintang karena menurut mereka Allah menjadikan bintang sebagai kiblat untuk ibadah dan doa, Allah menyerahkan pengaturan urusan alam ini kepada bintang.

Jumat, 30 Januari 2009

Al Baqoroh ayat 38-39

AYAT 38: Qulnah bithuu minhaa jamii'an. Fa immaa yaktiyannakum minnii hudan faman tabi'a hudaaya falaa khoufun 'alaihim walaa hum yahzanuuna

I'rob

  • Qoola = he said/dia telah berkata → qulnaa = we said/kami berkata (fi'l ma-dlii = past tense)
  • Habatho = he descended/dia telah turun → ihbithuu = (you-all) descend!/kalian turunlah! (fi'l 'amr = kata kerja perintah)
  • Min = from/dari
  • Haa = her/dia (surga)
  • Jama'a = he gathered/dia mengumpulkan → Jamii'an = entirely (sebagai Haal/kata keterangan, maka harus manshub/berakhiran "an")
  • Fa = then/lalu
  • Immaa = if/jika
  • Ataa = he came/dia telah datang → yaktii = he comes (fi'l mudloorik = present tense) → yaktiyanna = he comes (energetic mood)
  • Kum = you-all/kalian
  • Min (=from) + nii (=me) = minnii = from me/dariku
  • Hadaa = he guided/dia telah menunjukkan → hudan = a guidance
  • Man = who → karena tabi'a bersubjek "he", maka man = he who
  • Tabi'a = he followed/dia mengikuti
  • Hudan (a guidance) + akhiran "y" (=my) = hudaaya = my guidance/petunjukku
  • Laa → Laa nafiyah (negasi)
  • Khowafa = he feared/dia telah takut → khoufun = a fear/sebuah ketakutan → laa khoufun = no fear/tiada ketakutan
  • 'Alaa = on/atas
  • Hum = them/mereka → 'alaa adalah preposisi, maka hum majrur jadi him'alaa+him='alaihim
  • Hazana = he grieved/dia telah bersedih → yahzanuuna = they grieve/mereka bersedih (fi'l mu-dloorik = present tense) → laa yahzanuuna = they don't grieve/mereka tidak bersedih
Qulnah bithuu minhaa jamii'an, fa immaa yaktiyannakum minnii hudan faman tabi'a hudaaya falaa khoufun 'alaihim walaa hum yahzanuuna

Inggris: *We* said "Descend you-all from her (the garden) entirely, then if there comes to you a guidance from me, then one who followed My guidance then no fear on them and they doesn't grieve."
Indonesia: *Kami* berkata, "Turunlah kalian darinya (surga) semuanya, lalu jika datang kepada kalian sebuah petunjuk dariKu, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjukKu, lalu tiada ketakutan atas mereka dan mereka tidak bersedih."

Qulnah bithuu minhaa jamii'an

Tafsir Ibn Katsir: Allah menurunkan Adam, Hawa, dan iblis dari surga ke bumi

Fa immaa yaktiyannakum minnii hudan

Tafsir Ibn Katsir: Allah mengingatkan mereka bertiga bahwa Dia akan menurunkan kitab-kitab dan mengutus para nabi dan rosul kepada keturunan mereka.

Atsar Abul 'Aliyah: Hudan maksudnya para nabi dan rosul, ayat/tanda-tanda kekuasaan yang jelas, dan penjelasan yang terang.

Faman tabi'a hudaaya

Tafsir Ibn Katsir: yaitu barangsiapa menerima isi kitab-kitab Allah dan menerima para rosul yg diutusNya.

Falaa khoufun 'alaihim walaa hum yahzanuun

Tafsir Ibn Katsir: ketakutan maksudnya akhirat, kesedihan maksudnya kesedihan dalam kehidupan dunia.

Thoohaa 123: Fa immaa yaktiyannakum minnii hudan (maka jika datang pada kalian sebuah petunjuk dariku) fa manittaba'a hudaaya fa laa yadlillu wa laa yasyqoo (lalu barangsiapa yang mengikuti petunjukKu maka dia takkan tersesat dan dia takkan celaka)


AYAT 39: Walladziina kafaruu wa kadzdzabuu bi aayaatinaa ulaa-ika ashhaabun naar. Hum fiihaa khooliduun.

I'rob


  • Wa = and/dan
  • Alladziina = those who = yang (ism maushul=relative pronoun) → berarti kalimat berikutnya (yaitu kafaruu wa kadzdzabuu bi aayaatinaa) akan dijadikan kata benda
  • Kafaro = he disbelieved/dia telah tidak percaya → kafaruu = they disbelieved/mereka telah tidak percaya
  • Kadzaba = he lied/dia telah berbohong → kadzdzaba (wazan 2: causative) = he denied/dia telah mengingkari → kadzdzabuu = they denied/mereka telah mengingkari
  • Bi = with/dengan
  • Aayatun = verse/miracle/ayat/tanda-tanda kekuasaan/mukjizat → Aayaatun = bentuk jamaknya/verses/miracles → bi adalah preposisi, maka aayaatun majrur jadi aayaatin
  • -naa = us/kami → aayaatin hilang tanwin jadi aayaati, berarti -naa adalah mudlof ilaih (pemilik) dari aayaati
  • Ulaa-ika = those
  • Shohaba = he companied/dia bersahabat → saahibun = a companion/seorang sahabat → ashhaabu = bentuk jamaknya/companions
  • Naarun = A hell/sebuah neraka (jenis kelamin: perempuan) → an-naaru = THE hell (bentuk definitnya) → an-naaru majrur jadi an-naari, berarti posisinya adalah sebagai mudlof ilaih dari ashhaabu → ashhaabun naari adalah khobar, dan ulaa-ika adalah mubtadak
  • Hum = they/mereka
  • Fii = in/di dalam
  • Haa = her/dia (the hell)
  • Kholida = he remained forever/dia tinggal selamanya → khooliduuna = they remained forever/mereka tinggal selamanya (fi'l ma-dlii)
Jadi, Walladziina kafaruu wa kadzdzabuu bi aayaatinaa ulaa-ika ashhaabun naari, hum fiihaa khooliduuna = And those who disbelieved and denied with *Our* verses/miracles, they are companions of THE hell, they remained forever in her (the hell) = Dan orang-orang yang tidak percaya (tidak beriman) dan ingkar dengan ayat-ayat/mukjizat-mukjizat *Kami*, mereka adalah sahabat-sahabat neraka, mereka telah tinggal selamanya di dalamnya.

Khooliduuna (kekal)

Tafsir Ibn Katsir: mereka tinggal di neraka selamanya, tidak bisa mencari jalan keluarnya.

Hadits Muslim: dari Ibnu Jarir: dari Abu Sa'id Alkhudri: dari Rosululloh: Ammaa ahlun naaril ladziina hum ahluhaa (adapun penghuni neraka yang memang penghuninya) falaa yamuutuuna fiihaa walaa yahyauna (maka mereka tidak mati di dalamnya dan tidak hidup) walaakin aqwaamun a-shoobat humun naaru bi khothooyaa hum (tapi kaum-kaum yang mereka adalah sahabat-sahabat neraka karena dosa-dosa mereka) fa amaatat hum imaatatan (lalu benar-benar matilah mereka) hattaa idzaa shooruu fahmaa u-dzina fisy syafaa'ah (sampai saat mereka jadi arang, lalu mereka diizinkan mendapat syafa'at)

Thoohaa 124: Wa man a'rodlo 'an dzikrii (Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingatKu) fa inna lahu ma'ii-syatan dlonkan (maka sesungguhnya baginya adalah kehidupan yang susah) wa nahsyuruhu yaumal qiyaamati a'maa (dan kami mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta)

Thoohaa 125-126: Qoola robbi lima hasyartanii a'maa (dia telah berkata, "Robbku, kenapa Engkau mengumpulkanku secara buta) wa qod kuntu ba-shiiron (padahal sesungguhnya aku bisa melihat) qoola kadzaalika atatka aayaatunaa fa nasiitahaa (Dia telah berkata, "Demikianlah, ayat-ayat/mukjizat-mukjizat Kami telah datang kepadamu lalu kamu melupakannya) wa kadzaalikal yauma tunsaa (dan demikianlah pada hari ini kalian dilupakan)

Jumat, 09 Januari 2009

Al Baqoroh ayat 26

AYAT 26: Innallooha laa yastahyii an yadlriba matsalan maa ba’uudlotan fa maa fauqohaa. Fa ammal ladziina aamanuu fa ya’lamuuna annahul haqqu min robbihim. Wa ammal ladziina kafaruu fa yaquuluuna maadzaa aroodallahu bihaadzaa matsala? Yudlillu bihii katsiiron wa yahdii bihii katsiiron. Wamaa yudlillu bihii illal faasiqiin.

I'rob

  • Inna = verily/sesungguhnya → maka Allah adalah ism inna dan laa yastahyii adalah khobar inna
  • Allah → manshub jadi Allooha karena ism inna
  • Laa → Laa nafiyah (negasi)
  • Hayiya = he lived/he was ashamed/dia telah hidup/dia telah malu → istahyaa (wazan 10: meminta/berpikir bahwa itu harus terjadi)= he became ashamed → laa yastahyii = he doesn't become ashamed
  • An = that/bahwa
  • Dloroba = he put forth/dia telah membuat → (arti dloroba ada banyak, tapi yang pas untuk konteks ini adalah membuat) → yadlribu = he makes (fi'l mudloorik = present tense) → an mengubah yadlribu jadi yadlriba (bentuk subjunctive)
  • Matsala = he applied a proverb/dia telah memisalkan → matsalun = a parable --> matsalun manshub jadi matsalan, berarti matsalan adalah objek dari yadlriba
  • Maa → maa masdariyah = bahwa kata berikutnya adalah masdar
  • Ba'uudlotun = a mosquito/seekor nyamuk → karena maa masdariyah, manshub jadi ba'uudlotan
  • Fa = dan → karena konteksnya menambahkan
  • Maa = what/apa yang
  • Faaqo/Fauqo = he was beyond/dia telah melebihi
  • Haa = her/dia
  • Fa = then/lalu
  • Ammaa = as for/adapun
  • Alladziina = those who/yang → berarti kata setelahnya adalah kalimat yg ingin diubah jadi kata benda, dan subjeknya jamak, yaitu aamana, karena setelah amma harus kata benda
  • Aamana = he believed/dia telah beriman → aamanuu = they believed/mereka telah beriman (fi'l ma-dlii = past tense)
  • Fa = maka
  • 'Alima = he knew/dia telah tahu → ya'lamuuna = they know/mereka tahu (fi'l mudloorik)
  • Anna = that/bahwa → maka hu adalah ism inna dan al-haqqu adalah khobar inna, dan di terjemahannya ditambahkan "adalah"
  • Hu = him/dia
  • Haqqun = a truth/sebuah kebenaran → al-haqqu = THE truth
  • Min = from/dari
  • Robbun = Lord → min adalah preposisi, maka robbun majrur jadi robbin
  • Hum = mereka → hum majrur jadi him, dan robbin hilang tanwin jadi robbi, maka him adalah mudlof ilaih dari robbi.
  • Wa = dan
  • Alladziina = those who/yang → karena amma harus diikuti kata benda, dan kafaruu adalah kalimat, dan kafaruu bersubjek jamak.
  • Kafaro = he disbelieved/dia telah ingkar → kafaruu = they disbelieved/mereka telah ingkar
  • Qoolu = he said/dia telah berkata → yaquuluuna = they say/mereka berkata
  • Maadzaa = what/apa yang → ism istifham (kata tanya)
  • Rooda = he sought/he asked/dia telah mencari/dia telah meminta → Arooda/Iroodatan (wazan 4: causative) = he willed/dia telah menghendaki
  • Allah marfu' (berakhiran "u"), berarti posisinya adalah subjek dari arooda.
  • Bi = with/dengan
  • Haadzaa = this/ini
  • Dlolla = he went ashtray/dia telah sesat → yadlillu = he goes ashtray/dia sesat → yudlillu = he misleads/dia menyesatkan (fi'l mudloorik majhul/present tense pasif)
  • Bihi Bi = with/dengan, hu = him/dia → bi adalah preposisi, maka hu harus majrur jadi hi
  • Katsiirun = many/banyak → katsiirun manshub jadi katsiiron, maka posisinya adalah maf'ul (objek) kedua dari yudlillu dan yahdii (bihii adalah objek pertama)
  • Hadaa = he guided/dia telah menunjukkan → yahdii = he guides/dia menunjukkan (fi'l mudloorik = present tense)
  • Wa = dan
  • Maamaa nafiyah (negasi)
  • Illa = but/kecuali
  • Fasaqo = he committed disobedience/dia telah fasiq → faasiqun = a rebellious person/orang fasiq → al-faasiquuna = the rebellious people/orang-orang fasiq → illa adalah preposisi, maka al-faasiquuna majrur jadi al-faasiqiina

Innallooha laa yastahyii an yadlriba matsalan maa ba’uudlotan fa maa fauqohaa. Fa ammal ladziina aamanuu fa ya’lamuuna annahul haqqu min robbihim. Wa ammal ladziina kafaruu fa yaquuluuna maadzaa aroodallahu bi haadzaa matsala? Yudlillu bihii katsiiron wa yahdii bihii katsiiron. Wamaa yudlillu bihii illal faasiqiin

Inggris: Verily, Allah doesn't become ashamed that He puts forth a parable of a mosquito and what beyond him (the mosquito). And then as for those who believed, then they know that he (the parable) is THE truth from their Lord. And for those who disbelieved, then they say "What did Allah will with this parable?" He misleads many with him (the parable) and He guides many with him, and He doesn't mislead, but the rebellious people, with it.
Indonesia: Sesungguhnya Allah tidak menjadi malu bahwa Dia membuat sebuah perumpamaan dari sebuah nyamuk dan apa yang melebihinya, lalu adapun orang-orang yang telah beriman, maka mereka tahu bahwa dia (perumpamaan) adalah sang kebenaran dari Robb mereka. Dan adapun mereka yang telah tidak percaya, maka mereka berkata "Apa yang Allah telah inginkan dengan perumpamaan ini?" Dia menyesatkan banyak (orang) dengannya (dengan perumpamaan), Dia menunjukkan (ke jalan yang benar) banyak (orang) dengannya, dan Dia tidak menyesatkan, selain orang-orang fasiq, dengannya.

Kapan ayat ini diturunkan?

Atsar As Suddi: dari Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud: Saat Allah memberi 2 contoh orang munafik (perumpamaan api dan hujan lebat), orang munafik berkata bahwa Allah itu terlalu mulia untuk membuat perumpamaan, maka turunlah ayat 26 dan 27.

Atsar Sa'id: dari Qotadah: Allah tidak malu saat menceritakan sesuatu sebagai perumpamaan, baik signifikan ataupun tidak. Saat Allah menyebutkan lalat dan laba2 dalam Qur-an, orang kafir berkata "Kenapa Allah menceritakan hal-hal seperti ini?" Lalu turunlah ayat ini sampai ayat 27.

Ayat perumpamaan yang membuat turunnya ayat 26-27

Al Hajj 73: Yaa ayyuhan naasu dluriba matsalun fastami'uu lahu (Wahai manusia, satu perumpamaan telah dibuat, maka kalian dengarkan padanya). Innal ladziina tad'uuna min duunillaahi lan yakhluquu dzubaaban walawij tama'uu lahu (Sesungguhnya mereka, yang kalian berdoa (kepadanya) dari selain Allah, takkan (bisa) mereka menciptakan seekor lalat walau mereka berkumpul untuknya (untuk menciptakannya)) Wa in yaslubhumudz dzubaabu syai-an laa yastanqidzuuhu minhu (dan jika lalat itu merampas sesuatu (dari) mereka, mereka tidak (bisa) merebutnya darinya). Dlo'ufath thoolibu wal mathluubu ((betapa) lemahnya yang mencari (beribadah) dan yang dicari (diibadahi)).

Al Ankabut 41: Matsalul ladziinat takhodzuu min duunillaahi auliyaa-a kamatsalil 'ankabuut (Perumpamaan mereka yang mengambil wali (orang yang didengarkan nasihatnya) dari selain Allah adalah seperti perumpamaan laba-laba). Ittakhodzat baitan (dia membuat rumah). Wa inna auhanal buyuuti la baitul 'ankabuut (dan sesungguhnya rumah-rumah yang paling lemah adalah niscaya rumah laba-laba) lau kaanuu ya'lamuuna (kalau mereka tahu).

Ibrohim 24-25: A lam taro kaifa dloroballoohu matsalan kalimatan thoyyibatan (Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kata yang baik) ka syajarotin thoyyibatin ashluhaa tsaabitun wa far'uhaa fis samaak (seperti pohon yang baik akarnya kokoh dan cabangnya (menjulang) di langit). Tuktii ukulahaa kulla hiinin bi idzni robbihaa (dia (pohon itu) memberikan makanannya (buahnya) setiap masa (musim) dengan izin Robbnya). Wa yadlribulloohul amtsaala lin naasi la'allahum yatadzakkaruun (dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia, agar mereka selalu ingat).

Ibrohim 26-27: Wa matsalu kalimatin khobii-tsatin ka syajarotin khobiitsatin ijtutstsat min fauqil ardli maa lahaa min qoroor (dan perumpamaan kata yang buruk seperti pohon yang buruk yang telah dicabut dari permukaan bumi, darinya tidak ada dari ketetapan (ketegakan)). Yutsabbitulloohul ladziina aamanuu bil qoulits tsaabiti fil hayawaatid dun-yaa wa fil aakhiroh (Allah meneguhkan mereka yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan akhirat) Wa yudlillulloohudh dhoolimiin (dan Allah menyesatkan orang-orang dholim) wa yaf'alulloohu maa yasyaak (dan Dia melakukan apa yang Dia menghendaki)

An Nahl 75: Dloroballoohu matsalan 'abdan mamluukan laa yaqdiru 'alaa syai-in (Allah membuat perumpamaan seorang hamba yang dimiliki (hamba sahaya), dia tidak berkuasa atas sesuatu) wa man rozaqnaahu minnaa rizqon hasanan fa huwa yunfiqu minhu sirron wa jahron (dan barangsiapa yang Kami rizqikan dia dari Kami rizqi yang baik, lalu dia menafkahkan/menginfakkan sebagiannya sembunyi-sembunyi dan terang-terangan). Hal yastawuun? (Apakah mereka sama?) Alhamdulillah (segala puji bagi Allah). Bal aktsaru hum laa ya'lamuun (tetapi kebanyakan mereka tidak tahu).

An Nahl 76: Wa dloroballoohu matsalan rojulaini (Dan Allah membuat perumpamaan dua lelaki) ahaduhumaa abkamu laa yaqdiru 'alaa syai-in (salah satu dari keduanya bisu (perumpamaan berhala), dia tidak berkuasa atas sesuatu) wa huwa kallun 'alaa maulaahu (dan dia bergantung atas tuannya). Ainamaa yuwajjihhu laa yakti bi khoir (kemana saja menghadapkannya dia tidak mendatangkan kebaikan) Hal yastawii huwa wa man yakmuru bil 'adli wa huwa 'alaa shiroothim mustaqiim (Apakah dia sama dengan barangsiapa yang menyuruh pada keadilan dan dia (di) atas jalan yg lurus)?

Ar Ruum 28: Dloroba lakum matsalan min anfusikum (Dia membuat perumpamaan bagi kalian dari diri kalian sendiri). Hal lakum min maa malakat aimaanukum min syurokaa-a fii maa rozaqnaakum (Apakah dari apa yang tangan kanan kalian miliki (hamba sahaya kalian) adalah dari sekutu-sekutu bagi kalian dalam apa yg Kami telah rizqikan kepada kalian) fa antum fiihi sawaa-un takhoofuunahum ka-khiifatikum anfusakum (sehingga kalian di dalamnya sama, kalian takut pada mereka seperti kalian takut (pada) diri kalian sendiri?) Ka dzaalika nufashshilul aayaati li qoumin ya'qiluun (Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat bagi kaum yg punya akal/otak)

Ba'uudlotan

Atsar Abu Ja’far Ar Rozi: dari Ar Robi’ bin Anas: Ini adalah perumpamaan Allah untuk kehidupan dunia. Nyamuk bisa hidup selama dia perlu makanan, tapi setelah gemuk, nyamuk mati. Ini juga perumpamaan untuk kaum yg disebut Allah di Alqur-an: saat mereka memperoleh dan mengumpulkan kesenangan di dunia, Allah akan mengambilnya.

Al An’aam 44: Fa lammaa nasuu maa dzukkiruu bihi (maka setelah mereka melupakan apa yg diperingatkan kepada mereka dengannya) fa tahnaa 'alaihim abwaaba kulli syai-in (Kami membukakan atas mereka pintu-pintu segala sesuatu). Hattaa idzaa farihuu bi maa uutuu, akhodznaa hum baghtatan (sehingga saat mereka bergembira dengan apa yg diberikan untuk mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba), fa idzaa hum mublisuun (maka saat itu mereka adalah orang-orang yang putus asa).

Famaa fauqoha

Hadits Muslim: dari Aswad: beberapa lelaki muda Quroisy mengunjungi 'Aisyah karena dia sedang di Mina, dan mereka tertawa. Dia berkata "Kenapa kamu tertawa?" Mereka berkata "Si fulan tersandung tali tenda dan dia antara akan mematahkan lehernya atau kehilangan matanya". Dia berkata "Jangan tertawa, karena aku mendengar Rosululloh berkata: Maa min muslimin yusyaaku syaukatan famaa fauqohaa illaa kutiba lahu bihaa darojatun. Wa muhiyat ‘anhu bihaa khothii-ah. (Jika seorang muslim tertusuk duri, fama fauqoha (bahkan melebihinya = lebih parah), dijamin baginya satu derajat dan dosa-dosanya dihapuskan).

Perumpamaan

Atsar Ibn Abi Hatim: dari 'Amr bin Murroh: aku tidak pernah mendapati satupun ayat dalam Alqur-an yang aku tidak paham, melainkan itu membuatku menangis, karena Surat Al Ankabut 43.

Al Ankabut 43: Wa tilkal lumtsaalu nadlribuhaa lin naasi (Dan perumpamaan2 itu Kami buat untuk manusia). Wa maa ya'qiluhaa illal 'alimuun (dan tidak ada yang bisa memahaminya (memakai otaknya) kecuali orang2 yg berilmu).

"Yudlillu bihii katsiiron" wa "Yahdii bihii katsiiron"

Atsar As Suddi: dari Ibnu Abbas, Murroh, Ibnu Mas’ud: banyak yang disesatkan dengan perumpamaan-perumpamaan, yaitu orang-orang munafik. Dia menunjukkan (jalan lurus) banyak (orang), yaitu orang-orang beriman.

Al-faasiqiina

Orang fasik = orang yg keluar dari ketaatan.
Dalam bahasa Arab ada "fasaqotir ruthbah", yaitu jika kurma (ruthbah) keluar dari kulitnya.
Tikus juga disebut “fuwaisiqoh” artinya selalu keluar dari persembunyiannya untuk merusak.

Tafsir As Suddi: yaitu orang munafik.

Tafsir Ibnu Katsir: yaitu orang kafir dan durhaka.

Hadits Bukhori Muslim: Lima fawaasiqo (hewan fasik) yuqtalna (mereka boleh dibunuh), baik di tanah halal maupun di tanah haram, yaitu Ghuroobu (gagak), Hada-ah (elang), ‘Aqrob (kalajengking), Fakroh (tikus), dan Kalbul ‘Ukuur (anjing gila).

Kamis, 08 Januari 2009

Al Baqoroh ayat 25

AYAT 25: Wa basy-syiril ladziina aamanuu wa’amilush shoolihaati anna lahum jannaatin tajrii min tahtihal anhaar. Kullamaa ruziquu minhaa min tsamarotir rizqon. Qooluu haadzal ladzii ruziqnaa min qoblu wa utuu bihii mutasyaabihan. Wa lahum fiihaa azwaajum muthohharotuw wahum fiihaa khooliduun.

I'rob


  • Wa = dan
  • Ba-syaro = he rejoiced/dia telah bergembira → basysyaro (wazan 2: intensive/causative/declarative/denominative) = he gave glad tidings/dia telah memberi kabar gembira → basysyiri = (you) give glad tidings! (fi'l amr = kata kerja perintah)
  • Alladziina = those who/yang → berarti kalimat setelahnya akan dibendakan, yaitu objek dari basysyiri.
  • Aamana = he believed/dia telah percaya → aamanuu = they believed/mereka telah percaya (fi'l ma-dlii = past tense)
  • 'Amila = he did/dia melakukan (fi'l ma-dlii = past tense)
  • Sholuha = he was good/he was pious/dia baik/dia soleh → shoolihun = a good thing (maskulin tunggal) → shoolihuuna/shullaahu = good things (maskulin jamak) → shoolihaatun = good things (feminin) → tunggal= pakai tak marbuthoh, jamak = pakai tak taknis → ash-shoolihaatu = THE good things
  • Anna = that/bahwa → berfungsi sebagai inna → berarti jannatin adalah ism inna, dan lahum adalah khobar inna
  • La = for/bagi
  • Hum = them/mereka
  • Jannatun = a garden/sebuah kebun (tunggal, pakai tak marbuthoh) → jinaanun/jannaatun = gardens (jamak, pakai tak taknis) → jannaatun adalah ism inna, maka manshub → feminin (mu-annats) jamak, kalau manshub harus berakhiran "i" → jannaatin.
  • Jaroo = he flowed/dia telah mengalir → tajrii = they flow/mereka mengalir (fi'l mudloorik = present tense)
  • Min = from/dari
  • Tahta = beneath/di bawah
  • Hu = him/dia
  • Nahrun = a river/sebuah sungai (feminin) → anhaarun/anharun = bentuk jamaknya/rivers → al-anhaaru = THE rivers
  • Kullamaa = everytime/setiap kali
  • Rozaqo = he provided/dia telah memberi rizki → rozaquu = they provided/mereka telah mendapat rizqi → ruziquu = they were provided/dia telah mendapat rizqi (fi'l majhul = kata kerja pasif)
  • Haa = her/dia
  • Tsamarotun = buah-buahan → min adalah preposisi, maka tsamarotun majrur jadi tsamarotin.
  • Rizqun = provision/rizqi → manshub jadi rizqon, berarti rizqon adalah sebagai maf'ul (objek) kedua setelah min tsamarotin, atau sebagai Haal (kata keterangan = secara/sebagai).
  • Qoola = he said/dia telah berkata → qooluu = they said/mereka telah berkata (fi'l ma-dlii)
  • Haadzaa = this/ini
  • Alladzii = the one that/yang → karena haadzaa adalah tunggal, maka memakai alladzii → berarti kalimat berikutnya akan dibendakan, yaitu ruziqnaa min qobluhaadzaa + kata benda, berarti haadzaa adalah mubtadak, alladzii ruziqnaa min qoblu adalah khobar
  • Rozaqo = he provided/dia telah memberi rizki → rozaqnaa = we provided/kami telah memberi rizqi → ruziqnaa = we were provided/kami mendapat rizqi (fi'l majhul)
  • Qoblu = before/sebelumnya → qoblu adalah dlorof zaman (keterangan waktu) yang mabni (tetap qoblu), berbeda dengan qoblun (=sebelum).
  • Aataa = he gave/dia telah memberi → Utuu = they were given/mereka telah diberi (fi'l ma-dlii majhul = past tense pasif)
  • Bi = dengan → bi adalah preposisi, maka hu majrur jadi hi
  • Syabaha = he resembled/dia telah menyerupai → tasyabbaha (wazan 6: resiprokal) = he resembled each other/dia telah saling menyerupai → mutasyaabihun = a resemblance/yang serupa (ism fa'il = yang me-) → mutasyaabihun adalah maf'ul (objek) dari utuu, maka manshub jadi mutasyaabihan.
  • Wa = dan
  • La = for/bagi
  • Hum = them/mereka
  • Fii = in/di dalam
  • Haa = her/dia → yaitu surga
  • Zaujun = a mate/seorang pasangan → Azwaajun = bentuk jamaknya/mates
  • Thoharo = he was pure/dia telah suci → thohharo (wazan 2: intensive/causative/declarative/denominative) = he purified/dia telah mensucikan → muthohharotun = pure (ism fa'il = yang me-).
  • Kholida = he abode forever/dia telah kekal → khooliduuna = they abode forever/mereka telah kekal → fiihaa adalah Haal muqoddam (kata keterangan yang didahulukan) dari azwaajun muthohharotun dan khooliduunalahum adalah mubtadak, fiiha azwaajun muthohharotun adalah khobar, sehingga ditambahkan kata "adalah".

Wa basy-syiril ladziina aamanuu wa’amilush shoolihaati anna lahum jannaatin tajrii min tahtihal anhaar. Kullamaa ruziquu minhaa min tsamarotir rizqon. Qooluu haadzal ladzii ruziqnaa min qoblu wa utuu bihii mutasyaabihan. Wa lahum fiihaa azwaajum muthohharotuw wahum fiihaa khooliduun

Inggris: And give glad tidings those who believed and did THE good things; that gardens, from under which THE rivers flow, are for them! Everytime they were provided from her (the garden) provision from fruits/from fruits as provision, they said "This is what we were provided before" and they were given the resemblance of it. And for them are pure mates in it and they abode forever in it.
Indonesia: Dan kabarkanlah berita gembira (kepada) mereka yang percaya (beriman) dan berbuat baik; bahwa kebun, yang sungai-sungai mengalir dari bawahnya, adalah untuk mereka. Setiap kali mereka telah mendapat rizqi darinya (surga), rizqi dari buah-buahan/dari buah-buahan sebagai rizqi, mereka telah berkata "Ini adalah apa yang kami telah mendapat rizqi sebelumnya" dan mereka telah diberi yang serupa dengannya. Dan bagi mereka adalah pasangan-pasangan yang suci di dalamnya (di dalam surga) dan mereka telah kekal di dalamnya.

Tujuan ayat ini

Tafsir Ibn Katsir: Setelah ayat tentang ancaman adzab untuk orang yang ingkar, Allah menyebutkan keadaan dari wali (kawan) Allah yang setia dan bahagia, yang beriman kepada-Nya dan rosulNya, istiqomah (konsisten) pada imannya dan berbuat baik. Itulah kenapa Alqur-an disebut Matsaanii: menyebut keimanan lalu menyebut kekafiran, menyebut orang bahagia lalu menyebut orang sengsara.

Jannaatin tajrii min tahtihal anhaar

Tafsir Ibn Katsir: yaitu surga. Sungai mengalir di bawah pohon-pohon di surga. Sungai di surga tidak turun ke lembah. Tepi Al Kautsar (danau untuk nabi di surga) dibuat dari kubah mutiara berlubang. Pasir di surga terbuat dari harum kesturi, batu surga terbuat dari mutiara dan perhiasan.

Hadits shohih Bukhori: dari Anas bin Malik: dari Rosululloh: Saat aku sedang berjalan di surga (malam mi'roj) aku melihat sebuah sungai, di dua tepiannya ada tenda yang terbuat dari mutiara berlubang. Aku berkata "Apa ini, wahai Jibril?" Dia berkata "Ini adalah Al Kautsar yang Robbmu telah berikan untukmu." Saksikan, harumnya atau lumpurnya adalah kesturi yang berbau tajam"

Hadits shohih Abu Dawud: dari Anas: Saat Rosululloh diangkat ke langit (untuk mi'roj) ke surga, sebuah sungai yang tepiannya adalah mutiara berlubang atau transparan disajikan kepadanya. Malaikat yang bersamanya memukulnya dengan tangannya dan mengeluarkan kesturi. Muhammad lalu menanyakan malaikat yang bersamanya "Apa ini?" Dia menjawab "Ini adalah Al Kautsar yang Allah telah berikan kepadamu"

Hadits shohih Bukhori: dari Abu 'Ubaidah: aku bertanya pada 'Aisyah tentang ayat "Sesungguhnya Kami telah menganugerahimu Al Kautsar". Dia menjawab "Al Kautsar adalah sungai yang telah diberikan kepada nabimu yang di tepiannya ada mutiara berlubang dan perabotannya yang tidak dapat dihitung seperti bintang".

Hadits Ibnu Abi Hatim: dari Abu Huroiroh: dari Rosululloh: Anhaarul jannati tafajjaru tahta tilaalin au min tahti jibaalil misk (Sungai surga memancar dari bawah bukit atau pegunungan kesturi).

Kullamaa ruziquu minhaa min tsamarotir rizqon

Atsar Ibnu Hatim: dari Yahya bin Abi Katsir: Rumput di surga terbuat dari bunga za'faroon (saffron), bukitnya dari kesturi, dan anak2 lelaki yang forever young akan melayani orang beriman dengan buah-buahan. Lalu mereka membawakan buah yang sama, dan para penghuni surga berkata “Ini khan sama dengan yang barusan kalian bawakan untuk kami tadi?”. Anak2 lelaki tadi menjawab “Makanlah, karena warnanya sama tapi rasanya berbeda.”

Wa utuu bihii mutasyaabihan

Atsar Abu Ja’far Arrozi: dari Arrobi’ bin Anas: dari Abul ‘Aliyah: antara satu buah dengan yang lain kelihatan sama tapi rasanya lain.

Atsar ‘Ikrimah: Buahnya sama dengan buah-buahan di dunia, tapi rasa buah di surga lebih baik.

Atsar Sufyan Atstsauri: dari Al A’mash: Dari Abu Tsubyan: dari Ibnu Abbas: Tidak ada yg di surga yg serupa dengan yang di dunia kecuali namanya.” Di riwayat lain Ibnu Abbas berkata “Hanya namanya yang sama antara yg di dunia dan surga”.

Azwaajun Muthohharoh

Tafsir Ibnu Abi Tholhah: dari Ibnu Abbas: suci dari "noda" dan najis.

Tafsir Mujahid: suci dari haid, tidak berak, kencing, meludah, bebas dari cairan seks, dan tidak bisa hamil.

Tafsir Qotadah: bebas dari kotoran dan dosa.

Tafsir Qotadah (dari riwayat lain) dan ‘Ata’, Alhasan, Addhohhak, Abu Sholih, ‘Atiyah, As Suddi: bebas dari haid dan kehamilan.

Wa hum fiihaa khooliduun

Tafsir Ibn Katsir: kenikmatan surga tidak akan pernah habis selamanya.

Selasa, 25 November 2008

Al Baqoroh Ayat 4-5

Ayat 4: Walladziina yu’minuuna bimaa unzila ilaika wamaa unzila min qoblik. Wabil aakhirooti hum yuuqinuuna

I'ROB

  • Wa = dan → berarti setelah ini adalah khobar kedua dari mubtadak al-muttaqiina di ayat 2
  • Alladziina → khobar kedua berupa klausa (subjek-predikat) sehingga perlu ism maushul (relative pronoun) yang jamak (karena al-muttaqiina jamak)
  • Aamana = he believed/dia telah percaya → yukminuuna = they believed/mereka percaya (fi’l mudlorik = present tense)
  • Bi = with/dengan
  • Maa = what/apa yang (ism maushul = relative pronoun)
  • Anzala = he revealed/dia telah menurunkan → Unzila = it was revealed by him (fi’l majhuul = kata kerja pasif)
  • Ilaa = kepada
  • Ka = you/kamu (objek) → ilaa+ka = ilaikabimaa unzila ilaika adalah maf’ul/objek dari yukminuuna
  • Wa = dan → yaitu point kedua dari "bi" dari "bimaa unzila ilaika"
  • Min = from/dari
  • Qoblun = before/sebelum → min adalah preposisi, maka qoblun majrur jadi qoblin.
  • Ka = you/kamu → ka adalah mudlof ilaih dari qoblin, maka qoblin menghilangkan tanwin jadi qobli.
  • Wa = dan yaitu point kedua dari alladziina di ayat ini
  • Al-aakhirotu = THE hereafter/akhirat → bi adalah preposisi, maka al-aakhirotu majrur menjadi al-aakhirotibil aakhirotihum adalah maf’ul muqoddam (objek sebelum kata kerja) dari yuuqinuuna.
  • Hum = they/mereka → berfungsi sebagai dlomir fasl (kata ganti pemisah)
  • Yaqina = he was certain/dia telah yakin → yuuqinuuna = they are certain/mereka yakin (fi'l mudloorik)
Walladziina yukminuuna bimaa unzila ilaika wa maa unzila min qoblika wa bil aakhiroti hum yuuqinuuna

Inggris: And those who believe in what was revealed by Him to you and (in) what was revealed before you and (those who) are certain with THE hereafter

Indonesia: Dan orang-orang yang percaya dengan apa yg diturunkanNya kepadamu dan (dengan) apa yg diturunkanNya sebelum kamu dan (orang-orang yang) yakin dengan akhirat.

Walladziina yukminuuna bimaa unzila ilaika wa maa unzila min qoblika

Atsar Ibnu Abbas: membenarkan yg dibawa Muhammad (yaitu Alqur-an) dan yg dibawa Rosul2 sebelumnya (Injil, Taurat, Zabur, dan shuhuf-shuhuf). Tidak membedakan antar rosul & tidak ingkar terhadap apa yg mereka bawa dari Allah.

An Nisaak 136: Yaa ayyuhal ladziina aamanuu aaminuu billaahi wa rosuulihi wal kitaabil ladzii nazzala ‘alaa rosuulihi wal kitaabil ladzii anzala min qoblu (Wahai orang2 yg percaya (beriman)! Percayalah kepada Allah, dan rosulNya, dan kitabNya (Alqur-an) yg diturunkanNya kepada rosulNya, dan kitab yg diturunkanNya sebelum(nya))

An Nisaak 47: Yaa ayyuhal ladziina uutul kitaaba aaminuu bimaa nazzalnaa mu-shoddiqon lima ma’akum (Wahai orang2 yg diberikan kitab! Percayalah dengan apa yg Kami telah turunkan yg membenarkan apa yg telah bersama kalian (kitab kalian))

Al Maa-idah 68: Qul yaa ahlal kitaabi lastum ‘alaa syai-in hattaa tuqiimut tauroota wal injiila wa maa unzila ilaikum min robbikum (Katakan: Wahai Ahli Kitab! Tidaklah kalian memiliki sesuatu sampai kalian menegakkan Taurot, Injil, dan apa yg telah diturunkan kepada kalian dari Robb kalian)

Al Baqoroh 285: Aamanar rosuulu bimaa unzila ilaihi min robbihi wal mukminuuna kullun aamana billaahi wa malaa-ikatihi wa kutuubihi wa rusuulihi laa nufarriqu baina ahadin min rusuulihi (Rosul (Muhammad) percaya dengan apa yg telah diturunkan kepadanya dari Robbnya, dan (begitu pula) orang2 beriman. Masing-masing percaya kepada Allah, malaikatNya, Kitab2Nya, dan Rosul2Nya. "Kami tidak membedakan antara rosul satu dg rosul lain")

An Nisaak 152: Walladziina aamanuu billaahi wa rusuulihi wa lam yufarriquu baina ahadin minhum (Dan mereka yg percaya kepada Allah dan Rosul2Nya dan tidak membedakan antara rosul satu dg rosul lain)

Sikap kita terhadap ayat2 di Kitab2 sebelum turunnya Alqur-an

Hadits Abu Dawud: dari Abu Namlah Al Anshori: dari Rosululloh: Apa yg dikatakan Ahli Kitab kepadamu (ayat dari kitab suci mereka), jangan membenarkan dan jangan menyalahkannya, tapi katakan "Kami percaya dengan Allah dan rosulNya". Kalau salah, jangan membenarkannya, kalau benar, jangan menyalahkannya.

Al ‘Ankabuut 46: Wa laa tujaadiluu ahlal kitaabi (Dan jangan kamu berdebat dengan Ahli Kitab) illaa bil latii hiya ahsanu (kecuali dengan cara yg baik) illal ladziina dholamuu minhum (kecuali dengan orang2 yg dholim (aniaya) di antara mereka) wa quuluu aamannaa bil ladzii unzila ilainaa wa unzila ilaikum (dan katakanlah "Kami percaya dengan apa yg diturunkan kepada kami dan diturunkan kepada kalian) wa ilaahunnaa wa ilaahukum waahidun wa nahnu lahu muslimuun (dan tuhan kami dan tuhan kalian adalah satu dan kepadaNya kita muslim (berserah))

Wa bil aakhiroti hum yuuqinuuna

Atsar Ibnu Abbas: akhirat adalah hari kebangkitan, kiamat, surga, neraka, perhitungan, dan timbangan amal (mizan). Disebut akhirat karena datangnya setelah kehidupan dunia.

Atsar Mujahid: ayat 1-4 menjelaskan orang beriman, 6-7 orang kafir, 8-20 orang munafik.


Ayat 5: Ulaa-ika ‘ala hudan min robbihim, wa ulaa-ika humul muflihuun

I'ROB

  • Ulaa-ika = those → ism isyaroh (kata tunjuk)
  • 'Alaa = upon (di atas)
  • Hudan = a guidance/sebuah petunjuk (kata hudan sudah majrur)
  • Min = from/dari
  • Robbun = Lord → min adalah preposisi, maka robbun harus majrur menjadi robbin.
  • Hum = they/mereka → hum adalah mudlof ilaih (pemilik) dari robbin, maka robbin harus menghilangkan tanwin menjadi robbi, dan hum harus majrur menjadi him → Ulaa-ika adalah mubtadak dan 'alaa hudan min robbihim adalah khobar, sehingga di terjemahan, disisipkan kata "adalah/merupakan" → juga min robbihim adalah na'at (sifat) dari hudan, sehingga di terjemahan disisipkan kata "yang".
  • Wa = dan
  • Perhatikan, ulaa-ika diulang lagi, ini menunjukkan penekanan.
  • Hum di sini berfungsi sebagai dlorof fashl (penegas).
  • Falaha = he won/dia telah memenangkan → al-muflihuuna = THE winners/para pemenang → ulaa-ika adalah mubtadak dan al-muflihuuna adalah khobarnya, sehingga di terjemahannya disisipkan kata "adalah".
Ulaa-ika 'alaa hudan min robbihim, wa ulaa-ika humul muflihuuna

Inggris: Those ARE on a from-their-Lord guidance, and they are the winners.
Indonesia: itu semua adalah atas petunjuk yang dari Robb mereka, dan mereka adalah para pemenang".

Uulaa-ika

Tafsir Ibnu Katsir: Uulaa-ika meliputi yg beriman pada yg ghoib, mendirikan sholat, menafkahkan dari rizqi Allah kepadanya, beriman kepada Alquran & kitab2 sebelumnya, serta percaya kepada hari akhir.

'Alaa hudan min robbihim

Tafsir Ibnu Katsir: yaitu mengikuti petunjuk dari Allah.

Para pemenang

Tafsir Ibnu Katsir: yaitu sukses di dunia dan akhirat, mendapat apa yg mereka cari, dan berhasil menjauhi maksiat, sehingga mereka masuk surga.

Al Baqoroh Ayat 3

Ayat 3: Alladziina yukminuuna bil ghoibi wayuqiimuunash sholaata wa mimma rozaqnaahum yunfiquuna

I'rob

  • Alladziina → Yukminuuna bil ghoibi adalah khobar dari mubtadak al muttaqiina (those who fear), dan khobar yang bukan kata benda memerlukan ism maushul (relative pronoun) → disini dipakai yaitu alladziina, karena al-muttaqiina adalah jamak.
  • Aamana = he believed/dia telah percaya → yukminuuna = they believe/mereka percaya (fi’l mudloorik = present tense dari aamana).
  • Bi = with/dengan
  • Ghoibun = An unseen/sesuatu yang tak nampak → Al ghoibu = THE unseen (bentuk definitnya) → bi adalah preposisi, sehingga al-ghoibu majrur jadi al-ghoibi.
  • Wa = dan → berarti point kedua dari alladziina
  • Qooma = he stood/dia telah berdiri → yuqiimuuna = they stand/mereka mendirikan (fi’l mudloorik)
  • Shollaa (berakhiran 'y' tapi dibaca 'a' panjang)= he prayed/dia telah sholat → sholaatun = a prayer/sebuah sholat → ash-sholaatu = THE prayer (bentuk definitnya) → ash-sholaatu manshub jadi ash-sholaata, berarti dia adalah maf’ul (objek) dari yuqiimuuna.
  • Wa → berarti point ketiga dari alladziina
  • Min = a portion of/sebagian
  • Maa = what/apa yang (ism maushul = relative pronoun) → min+maa = mimmaa.
  • Rozaqo = he bestowed/dia telah merizqikan → rozaqnaa = we bestowed/kami telah merizqikan (fi'l ma-dlii = kata kerja lampau) → mimmaa rozaqnaahum adalah maf’ul muqoddam (objek sebelum predikat) dari yunfiquuna.
  • Hum = they/mereka → tidak mungkin hum menggantikan "kami" dari rozaqnaa, sehingga posisi hum adalah maf'ul/objek dari rozaqnaa
  • Nafaqo = he spent out/dia telah menafkahkan/dia telah menginfakkan → yunfiquuna = mereka menafkahkan (fi'l mudloorik) → mimmaa rozaqnaahum adalah maf'ul muqoddam (objek yang ditaruh sebelum kata kerja) dari yunfiquuna.

Alladziina yukminuuna bil ghoibi wa yuqiimuunash sholaata wa mimmaa rozaqnaahum yunfiquuna

Inggris: i.e. those who believe in THE unseen, and (those who) stand the prayer, and (those who) spend out a portion of what We provided them"
Indonesia: yaitu orang-orang yang percaya kepada Al Ghoib (yang tak nampak), dan (orang-orang yang) mendirikan sholat, dan (orang-orang yang) menafkahkan/menginfakkan sebagian dari apa yang Kami rizqikan (kepada) mereka

Alladziina yukminuuna

Definisi: iman = percaya

Atsar Abu Ja’far Ar Rozi: dari ‘Abdullah: iman artinya mempercayai

Atsar Abu Ja’far Ar Rozi: dari Ar Robi' bin Anas: iman artinya taqwa/takut (kepada Allah)

Atsar Ibnu Jarir: percaya kepada Al Ghoib dengan hati, perkataan, dan perbuatan.

At Taubah 61: Yukminu billaahi wa yukminu lil mukminiina (dia percaya kepada Allah dan dia percaya kepada orang percaya (mukmin))

Kata-kata Nabi Yusuf kepada ayahnya (Nabi Ya'qub):

Yusuf 17: Wa maa anta bi mukminin lanaa (Tapi kamu tidak percaya kepada kami) wa lau kunnaa shoodiqiin (walaupun kami jujur)

Iman meliputi perbuatan

At Tiin 6: Illalladziina aamanuu wa ‘amilush shoolihaati (Kecuali mereka yg percaya (beriman) dan beramal sholih)

Iman adalah Khoshyah (takut kepada Allah)

Al Mulk 12: Innal ladziina yakhsyauna robbahum bil ghoib (Sesungguhnya mereka yg takut kepada Robb mereka yg tak nampak (beserta hukumannya di hari akhir)) lahum maghfirotun wa ajrun kabiirun (niscaya mereka (mendapat) ampunan dan pahala yg besar)

Qof 33: Man khosyiyar rohmana bil ghoibi wa jaa-a bi qolbin muniib ((yaitu)barangsiapa yg takut kepada Ar Rohmaan yg tak nampak dan (barangsiapa yg) menjadikan hatinya bertobat)

Takut adalah inti iman dan pengetahuan

Faathir 28: Innamaa yakhsyallooha min ‘ibaadihil ‘ulamaak (Sesungguhnya barangsiapa yg takut kepada Allah diantara hambaNya adalah orang2 yg tahu/berilmu)

Bil Ghoibi

Abu Ja’far Ar Rozi (dari Abul ‘Aliyah) dan Qotadah: yaitu percaya kepada Allah, malaikat2Nya, kitab2Nya, rosul2Nya, hari akhir, surgaNya, nerakaNya, pertemuan denganNya (kelak), hidup setelah mati, dan hari pembalasan.

Hadits Imam Ahmad: dari Abu Jumu'ah: Taghoddainaa ma’a rosuulillaah wa ma’anaa abuu ‘ubaidatabnal jarrooh, fa qoola yaa rosuulullooh hal ahadun khoirun minnaa? Aslamnaa ma’aka wa jaahadnaa ma’aka? (Saat kami makan siang bersama Rosululloh, Abu 'Ubaidah, yg sedang bersama kami, berkata, "Ya Rosululloh, adakah orang yg lebih baik dari kami ? Kami memeluk Islam bersamamu dan berjihad bersamamu) Qoola na’am. Qoumun min ba’dikum yukminuuna bii wa lam yarounii (Dia berkata "Ya, (yaitu) orang2 yg datang (di zaman) setelah kalian, yg percaya denganku meskipun mereka tidak melihatku)

Wa yuqiimuunash sholaata

Atsar Ibnu Abbas: yaitu melakukan sholat dengan semua kewajibannya.

Atsar Adh Dhohhak: dari Ibnu Abbas: yaitu mengerjakan dengan sempurna rukuk, sujud, bacaan, kerendahan hati, dan hadir dalam sholat.

Atsar Qotadah: yaitu memelihara tepat waktu, berwudlu, rukuk, dan sujud.

Atsar Muqotil bin Hayyan: yaitu menjaga agar tepat waktu, menyempurnakan wudlu, rukuk, sujud, bacaan Alqur-an, tasyahhud, dan sholawat kepada Rosululloh.

Wa mimmaa rozaqnaahum yunfiquuna

Atsar Ali bin Abi Tholhah: dari Ibnu Abbas: yaitu zakat dari kekayaannya.

Atsar As Suddi: dari Ibnu Abbas: yaitu kewajiban lelaki untuk menafkahi keluarganya, karena ayat ini turun sebelum ada kewajiban zakat.

Atsar Juwaibir: dari Adh Dhohhak: Shodaqoh adalah sarana lebih dekat kepada Allah, berdasarkan kebijakan dan kemampuannya, sampai kewajiban zakat diturunkan di surat At-Taubah yg merevisi ayat ini.

Allah sering menyebut sholat dan zakat bersamaan

Tafsir Ibnu Katsir: sholat adalah bentuk menyembah Allah (hablum minalloh), zakat adalah bentuk kebaikan terhadap makhluk dengan memberikan manfaat kepada mereka (hablum minannaas)

Bukhori & Muslim: dari Ibnu Umar: dari Rosulullah: Buniyal islaamu ‘ala khomsin (Islam didirikan atas lima): Syahaadati an laa ilaaha illallahu wa anna muhammadan rosuulullahi, wa iqoomish sholaati, wa iitaa-iz-zakaati, wa shoumi romadloona, wa hajjil baiti (bersaksi bahwa tiada sesembahan yg benar selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rosul Allah, dan mendirikan sholat, dan memberikan zakat, dan berpuasa Romadloon, dan berhaji ke Al Baitu (The House=Baitullah))

Sabtu, 12 Juli 2008

Al Fatihah ayat 5

Ayat 6: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

I'rob


  • Iyyaaka (إِيَّاكَ) = you/kamu (objek) → iyyaaka adalah maf'ul muqoddam (objek yg didahulukan dlm kalimat inversi) → dalam bahasa Arab, inversi seperti ini bermakna "hanya".
  • 'Abada (عَبَدَ) = he worshipped/dia telah beribadah → na'budu (نَعْبُدُ) = we worshipped/kami beribadah (fi'l mudloorik)
  • Wa (وَ) = and/dan
  • Iyyaaka, disebut dua kali agar pembaca tidak ambigu kepada siapa kita harus meminta tolong.
  • 'Awana/'Aana (عَوَانٌۢ) = he helped/dia telah menolong → ista’aana (wazan 10)= he sought help from/dia telah meminta tolong → nasta’iinu (نَسْتَعِينُ) = we ask for help/kami meminta tolong (fi’l mudloorik)
Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iinu

Inggris: We worship ONLY You and we sought help from ONLY You
Indonesia: Kami beribadah HANYA kepadaMu dan kami mencari pertolongan HANYA dariMu

Na'budu - Orang yg beribadah dinamakan 'abdu


Nabi Muhammad juga 'abdu, terbukti Allah 3x menyebut Rosululloh sebagai 'abdu:

Al Kahfi 1: Alhamdu lillaahil ladzii anzala ‘alaa ‘abdihil kitaaba (Segala puji adalah kepada Allah, yang telah menurunkan Al Kitab (THE Book, yaitu Alqur-an) kepada 'abdiNya (yaitu Muhammad))

Al Jinn 19: Wa annahu lamaa qooma ‘abdulloohi yad’uuhu (Dan saat hamba Allah (Muhammad) berdiri berdoa kepadaNya (sholat))

Al Isrook 1: Subhaanal ladzii asroo bi ‘abdihi lailan minal masjidil haroomi ilal masjidil aqshoo (Mahasuci (Allah) yang meng-isro-kan (isroo = berjalan malam) hambaNya (Muhammad) di malam hari dari Masjid Al-Haroom ke Masjid Al-Aqshoo)

Na'budu - Allah menyuruh Muhammad untuk beribadah kepadaNya saat dia stres karena orang2 yang tidak percaya, menentang dan menolaknya


Al Hijr 97-99: Wa laqod na’lamu annaka ya-dliiqu shodruka bi maa yaquuluun (Dan sesungguhnya Kami tahu bahwa dadamu menjadi sempit karena apa yg mereka katakan). Fa sabbih bi hamdi robbika wa kun minas sajidiin (Maka sucikanlah pujiannya Robbmu dan jadilah golongan yang bersujud (kepada Allah)). Wa’bud robbaka hattaa yaktiyakal yaqiin (Dan beribadahlah kepada Robbmu hingga datang padamu suatu keyakinan (yaitu kematianmu)).

Kenapa Urutannya Na'budu "Lalu" Nasta'iinu


Tafsir Ibnu Katsir: Perintahnya adalah beribadah, sementara pertolongan Allah adalah alat untuk melaksanakan perintah ini.

Atsar Adh Dhohhak: dari Ibnu 'Abbas: Iyyaaka na'budu artinya Engkaulah yg kami esakan, yg kami takuti, dan yg kami harapkan, hanya Engkau saja, Robb kami, dan tidak ada yg lain. Iyyaaka nasta'iinu artinya kami menaatiMu dalam semua urusan kami.

Atsar Qotadah: perintah Allah untuk beribadah dengan ikhlas kepadaNya dan mencari pertolongan dariNya mengenai semua urusan kita.

Kenapa Pasangan Na'budu "dan" Nasta'iinu?


Definisi dari Ibnu Katsir:
Iyyaaka na'budu = Iman (percaya kepada Allah) adalah ringkasan dari tauhid uluuhiyah (semua tentang ibadah itu salah kecuali Allah sudah menyuruh).
Iyyaaka nasta'iinu = Tawakkal (mewakilkan semua urusan kepada Allah) adalah ringkasan dari tauhid rubuubiyah (tidak ada yg namanya 'kebetulan' atau kejadian yg alami tanpa campur Tangan Allah. Kita harus mempercayakan bahwa semua yg terjadi di hidup ini adalah grand design dari Allah, dan semua rencana Allah pasti akan atau telah terjadi). Sehingga, buang-buang waktu, dan juga dosa, kalau kita minta perlindungan selain kepada Allah.
Na'buduu iyyaaka artinya kami beribadah kepadaMu, tapi bentuk maf'ul muqoddam (inversi) iyyaaka na'budu artinya kami beribadah HANYA kepadaMu, kami tidak beribadah selain Engkau.

Tafsir Ibnu Katsir: iyyaaka na'budu adalah penyataan bebas dari syirik (polytheism, beribadah kepada Allah dan juga kepada selain Allah), iyyaka nasta'iin adalah tidak percaya kepada kekuatan macam apapun, dan semua urusan dikendalikan oleh Allah SAJA.

Pasangan na'budu-nasta'iin ini juga banyak diulang2 di Alqur-an:

Huud 123: fa'buduhuu (maka beribadahlah kepadaNya) wa tawakkal 'alaihi (dan wakilkanlah (semua urusan) kepada-Nya), wa maa robbuka bi ghoofilin ‘ammaa ta’maluun (dan Robbmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan)

Al Mulk 29: Qul huwar rohmaanu aamannaa bihi wa ‘alaihi tawakkalnaa (Katakanlah: "Dia adalah Ar Rohmaan, padaNya kita percaya (beriman), dan padaNya kita mewakilkan (semua urusan)')

Al Muzzamil 9: Robbul masyriqi wal maghribi laa ilaaha illaa huwa fatta-khidzhu wakiilan ((Allah adalah satu-satunya) Robb (penguasa) timur dan barat; tidak ada sesembahan yg benar selain Dia, maka jadikan Dia (saja) sebagai wakil (pengatur urusan2mu))