Tampilkan postingan dengan label Taqwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taqwa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Juli 2010

Al Baqoroh ayat 66

AYAT 66: Fa ja'alnaahaa nakaalan limaa baina yadaihaa wa maa kholfahaa wa mau'idhotan lil muttaqiina
  • Fa = then/lalu
  • Ja'ala = he made/dia telah menjadikan → ja'alnaa = we made/kami telah menjadikan
  • Haa = her/dia → jenis kelaminnya perempuan, dan ada banyak tafsir tentang siapa "her" yang dimaksud
  • Nakaalun = a deterrent punishment/suatu peringatan → manshub jadi nakaalan, berarti posisinya adalah maf'ul (objek) kedua dari ja'alnaa
  • Li = for/bagi
  • Maa = those who/yang → those, karena yadaihaa adalah jamak
  • Bayana = he separated/dia telah memisahkan → Bainun = between (dlorof makaan = keterangan tempat) → bainun manshub jadi bainan karena muta'alliq (related) dengan ja'alnaa → bainan hilang tanwin jadi baina, berarti yadaihaa adalah mudlof ilaih dari baina
  • Aidun/yadun = a hand/sebuah tangan → yadai/yadaa = both hands
  • Haa = her/dia
  • Wa = dan
  • Kholafa = he succeeded/dia telah meneruskan → kholfun = behind/after/di belakang (dlorof makaan) → kholfun manshub jadi kholfan, berarti posisinya masih muta'alliq dengan ja'alnaa → kholfan hilang tanwin jadi kholfa, berarti haa adalah mudlof ilaih (pemilik) dari kholfa
  • Ya'idho/wa'idho = he admonished/dia telah menegur → mau'idhotun (jenis kelamin wanita) = an admonition/suatu teguran → manshub jadi mau'idhotan, berarti posisinya adalah sebagai maf'ul kedua dari ja'alnaa
  • Waqoo = he protected/dia telah melindungi → ittaqoo (wazan 8: pasif/refleksi): he feared/dia telah takut → muttaquuna = those who fear/orang-orang yang takut (ism fa'il = yang me-) → lii adalah preposisi, maka muttaquuna majrur jadi muttaqiina
Fa ja'alnaahaa nakaalan limaa baina yadaihaa wa maa kholfahaa wa mau'idhotan lil muttaqiina

Inggris: Then *We* made her a deterrent punishment for those who are between both of her hands and those who are after her and an admonition for those who feared.
Indonesia: Lalu *Kami* telah menjadikannya suatu peringatan bagi orang-orang yang diantara kedua tangannya dan orang-orang yang setelahnya dan suatu teguran bagi orang-orang yang takut (pada Allah).

Fa ja'alnaahaa nakalan

Tafsir Ibn Jarir: Sebagian ahli tafsir mengartikan "haa" (her) dengan al qirodah (kera), sebagian lain mengartikan al hiitaan (ikan), sebagian lain lagi 'adzaabuhu (adzabnya), dan sisanya al qoryatun (the village). Tapi yang shohih adalah tafsir yang terakhir, yaitu penduduk kampung Eilah yang melanggar hari Sabbath/Sabtu.

Tafsir Ibn Katsir: Allah menjadikan penduduk desa ini, yang melanggar kesucian hari Sabbath, sebagai peringatan, melalui cara mereka dihukumnya.

Limaa baina yadaihaa wa maa kholfahaa

Tafsir Ibn Katsir: yaitu bagi desa-desa lain. Allah membuat suatu peringatan untuk orang-orang yang hidup di zaman itu (between both of her hands) dan untuk orang-orang di masa setelahnya, dengan memelihara kisah ini.

Atsar Ibn 'Abbas: yaitu bagi desa-desa di sekitarnya, melalui cara Allah menghukum penduduknya.

Al Ahqoof 27: Wa laqod ahlaknaa maa kaulakum minal quroo (dan sesungguhnya pastilah *Kami* telah membinasakan apa yang disekitar kalian dari negeri-negeri tersebut (Eilah, dll)) wa shorrofnal aayaati la'allahum yarji'uuna (dan *Kami* telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (mukjizat) tersebut, dengan harapan mereka kembali (ke jalan yang benar)).

Tafsir Ibn Katsir: Al Ahqoof 27 ini ditujukan kepada penduduk Mekah, bahwa Allah telah menghancurkan bangsa-bangsa yang ingkar kepada rosul-rosul yang tinggal di sekitar Mekah, seperti bangsa 'Ad di Al Ahqoof di Hadromaut dekat Yaman, bangsa Tsamud yang tinggal di sekitar Mekah dan Asy-Syam (Syria), bangsa Sabak di Yaman, bangsa Madyan di jalanan menuju Ghozzah (Gaza, Palestina barat), dan bangsa Luth yang tinggal di danau (Laut Mati) yang dulunya mereka mampiri saat perjalanan menuju Yordania.

Menurut tafsir Ibnu Abbas: Pelajaran untuk penduduk negeri2 lain di sekitarnya.

Wa mau'idhotan lil muttaqiina

Tafsir Ibn Katsir: yaitu peringatan. Adzab dan hukuman yang dialami desa ini adalah akibat dari melanggar larangan Allah dan karena tipudaya mereka. Maka, orang-orang yang takut harus menyadari bahwa perilaku mereka itu jahat, sehingga apa yang terjadi kepada desa itu tidak menimpa orang-orang yang takut.

An Naazi'aat 25-26: Fa akho-dzahullaahu nakaalal aakhiroti wal uulaa (lalu Allah mengambil siksa akhirat dan yang terdahulu (siksa dunia, sebagai hukuman kepada Fir'aun)), inna fii dzaalika la'ibrotan liman yahsyaa (sesungguhnya di dalam itu adalah benar-benar pelajaran bagi orang yang takut (Allah)).

Sabtu, 10 Juli 2010

Al Baqoroh ayat 63

AYAT 63: Wa idz akhodznaa mii-tsaaqokum wa rofa'naa fauqokumuth thuuro, khu-dzuu maa aatainaakum biquwwatin wadzkuruu maa fiihi la’allakum tattaquuna
  • Wa = dan
  • Idz = when/saat (past tense)
  • Akhodza = he took/dia telah mengambil → akhodznaa = we took/kami telah mengambil
  • Miitsaaqun = a treaty/sebuah perjanjian → manshub jadi miitsaaqon, berarti miitsaaqon adalah maf'ul (objek) dari akhodznaa
  • Kum = kalian → miitsaaqon hilang tanwin jadi miitsaaqo, berarti kum adalah mudlof ilaih (pemilik) dari miitsaaqo
  • Rofa'a = he raised/dia telah mengangkat → rofa'naa = we raised/kami telah mengangkat
  • Fauqun = over/melebihi → manshub jadi fauqon, berarti fauqon adalah maf'ul dari rofa'naa → fauqon hilang tanwin jadi fauqo, berarti kum adalah mudlof ilaih dari fauqo
  • Ath-thuuru = THE Mount/sang gunung → manshub jadi ath-thuuro, berarti ath-thuuro adalah maf'ul kedua dari rofa'a
  • Akhodza = he took/dia telah mengambil → Khudzuu = you all take!/kalian ambillah!
  • Maa = what/apa yang (ism maushul = relative pronoun)
  • Ataa = he came/dia telah datang → aataa (wazan 4: causative) = he gave/dia telah mendatangkan → aatainaa = we gave/kami telah mendatangkan
  • Bi = with/dengan
  • Quwwatun = a strength → bi adalah preposisi, maka quwwatun majrur jadi quwwatin
  • Dzakaro = he remembered/dia telah mengingat → udzkuruu = you-all remember!/kalian ingatlah!
  • Fii = in/di dalam
  • Hu = he/dia → fii adalah preposisi, maka hu majrur jadi hi
  • La'alla = perhaps/mungkin
  • Waqoo = he protected/dia telah melindungi → ittaqoo = he feared/dia telah takut → tattaquuna = you-all fear/kalian takut
Wa idz akhodznaa mii-tsaaqokum wa rofa'naa fauqokumuth thuuro, khu-dzuu maa aatainaakum biquwwatin wadzkuruu maa fiihi la'allakum tattaquuna

Inggris: And (remember) when *We* took your treaty and *We* raised THE mount over you-all, "You-all take what *We* gave you-all with strength! And you-all remember what is in him (Taurot)! Perhaps you-all fear".
Indonesia: Dan (ingatlah) saat *Kami* telah mengambil perjanjian kalian dan *Kami* telah mengangkat Sang Gunung di atas kalian, "Kalian ambillah apa yang telah Kami datangkan (kepada) kalian dengan kekuatan, dan ingatlah apa yang di dalamnya (Taurot) mungkin kalian takut"

Ayat serupa

Al A'roof 171: Wa idz nataqnal jabala fauqohum (dan (ingatlah) saat *Kami* telah mengangkat Sang Gunung di atas mereka) ka-annahu dhollatun (seolah-olah dia adalah naungan) wa dhonnuu annahuu waaqi'un bihim (dan mereka telah mengira bahwa dia jatuh kepada mereka) khu-dzuu maa aatainaakum bi quwwatin ("Kalian ambillah apa yang telah Kami datangkan kepada kalian dengan kekuatan) wadzkuruu maa fiihi la'allakum tattaquuna (dan ingatlah apa yang di dalamnya (Taurot) mungkin kalian takut).

Wa idz akhodznaa mii-tsaaqo kum

Tafsir Ibn Katsir: Allah mengingatkan Bani Isroil atas janji, ikrar, dan sumpah yang Dia ambil dari mereka agar percaya kepada Dia saja, tanpa partner, dan mengikuti rosulNya. Saat Dia mengambil janji dari mereka, Allah mengangkat gunung di atas kepala mereka, sehingga mereka menegaskan ikrar yang mereka telah berikan kepada Allah dan mereka menaatinya dengan ikhlas dan serius.

Wa rofa’naa fauqokumuth thuur

Atsar Ibn 'Abbas, Mujahid, 'Atho', 'Ikrimah, Al Hasan Al Bashri, Adh Dhohhak, Ar Robi' bin Anas: berdasar Al A'roof 171, Ath Thuur artinya Al Jabal/THE mount.

Atsar Ibn 'Abbas: Ath Thuur adalah jenis gunung yang ditumbuhi tumbuhan. Yang tidak ada tumbuhannya, bukan Ath Thuur.

Atsar Ibn 'Abbas: Saat mereka menolak untuk menaati, Allah mengangkat gunung diatas kepala mereka sehingga mereka mau mendengarkan.

Khu-dzuu maa aatainaakum bi quwwatin

Atsar Al Hasan Al Bashri: yaitu Taurot.

Atsar Mujahid: taatilah dengan ketat.

Wadzkuruu maa fiihi la'allakum tattaquuna

Atsar Abul 'Aliyah dan Ar Robi' bin Anas: bacalah dan amalkanlah Taurot.

Minggu, 08 Maret 2009

Al Baqoroh ayat 48

AYAT 48: Wat taquu yauman laa tajzii nafsun 'an nafsin syai-an wa laa yuqbalu minhaa syafaa'atun wa laa yuk-khodzu minhaa 'adlun wa laa hum yunshoruun

I'rob

  • Wa = dan
  • Taqoo = he feared/dia telah takut → ittaquu = (you-all) fear!/kalian takutlah
  • Yaumun = a day → yaumun manshub jadi yauman, berarti yauman adalah maf'ul (objek) dari ittaquu
  • Laa = tidak → laa nafiyah (negasi)
  • Jazaa (akhiran "y" yang memanjangkan "a") = he availed/dia telah berguna→ tajziy = she avails/dia berguna
  • Nafsun = self/diri → tetap marfu' (berakhiran "u"), berarti nafsun adalah fa'il (subjek) dari tajziy, menempati posisi "she" dari tajziy, karena nafsun bergender perempuan
  • 'An = from/dari
  • Nafsun = self/dari → 'an adalah preposisi, maka nafsun majrur jadi nafsin
  • Syai-un = a thing/sesuatu → syai-un manshub jadi syai-an, berarti syai-an adalah maf'ul dari tajziy
  • Laa = tidak → laa nafiyah
  • Qobila = he accepted/dia telah menerima → yuqbalu = he is accepted/dia diterima (fi'l mudloorik majhul = present tense pasif)
  • Min = from/dari
  • Haa = her/dia (nafsun)
  • Syafa'a = he interceded/dia memberi syafa'at → syafaa'atun = intercession/syafa'at → tetap marfu', berarti syafaa'atun adalah naa-ibun faa'il (subjek dari kata kerja pasif) dari yuqbalu
  • Laa = tidak → laa nafiyah
  • Akhodza = he received/dia telah menerima → yukkhodzu = he is received/dia diterima (fi'l mudloorik majhul=present tense pasif)
  • 'Adala = he acted justly/dia telah adil → 'adlun = a ransom/suatu tebusan
  • Laa = tidak → laa nafiyah
  • Hum = they/mereka
  • Nashoro = he assisted/dia telah menolong → yunshoruuna = they are helped/mereka ditolong
Wat taquu yauman laa tajzii nafsun 'an nafsin syai-an wa laa yuqbalu minhaa syafaa'atun wa laa yuk-khodzu minhaa 'adlun wa laa hum yunshoruuna

Inggris: And (you-all) fear a day (that) a self doesn't avails anything to (another) self, and an intercession from the self isn't accepted, and a ransom from the self isn't received, and they aren't helped.
Indonesia: Dan kalian takutlah (pada) suatu hari (saat) suatu diri tidak berguna sesuatupun pada diri yang lain, dan suatu syafa'at darinya (orang lain) tidak diterima, dan suatu tebusan darinya (orang lain) tidak diterima dan mereka tidak ditolong.

Tujuan ayat

Setelah Bani Isroil diingatkan atas nikmatnya, mereka diingatkan tentang lamanya siksaan di hari kiamat.

Wat taquu yauman

Tafsir Ibn Katsir: yaitu hari kiamat

Laa tajzii nafsun 'an nafsin syai-an

Tafsir Ibn Katsir: di hari kiamat, tidak ada yang bisa saling membantu.

Al An’aam 164: Wa laa taksibu kullu nafsin illaa ’alaihaa (dan setiap seseorang tidak mengerjakan kecuali atas (diri) nya (sendiri)), wa laa taziru waazirotun wizro ukhroo (dan dia tidak memikul beban dosa orang lain)

Fathiir 18: Wa laa taziru waazirotun wizro ukhroo (dan dia tidak memikul beban dosa orang lain), wa in tad’u mutsqolatun (dan jika orang yg berat (dosanya) memanggil (orang lain)) ilaa himlihaa (untuk memikulnya) laa yuhmal minhu syai-un (takkan (mau) dipikul sedikitpun darinya) wa lau kaana dzaa qurbaa (meskipun dia punya hubungan kerabat)

'Abasa 37: Likullim ri-in minhum yaumaidzin syaknun yughniihi (Bagi setiap seseorang dari mereka pada hari itu adalah urusan (masing-masing) yang menyibukkannya)

Luqman 33: Yaa ayyuhan naasut taquu robbakum (wahai manusia takutlah (pada) Robb kalian) wakhsyau yauman (dan takutlah (pada) suatu hari (dimana)) laa yajzii waalidun ’an waladihii (seorang bapak tidak berguna (untuk menolong) kepada anaknya), wa laa mauluudun huwa jaazin ’an waalidihii syai-an (dan anaknya bukan penolong dari bapaknya sedikitpun)

Al Baqoroh 254: Min qobli an yaktiya yaumun (sebelum datangnya hari dimana) laa bai'un fiihi (tidak ada jual beli di dalamnya) wa laa khullatun (dan tidak ada persahabatan) wa laa syafaa'ah (dan tidak ada syafa'at).

Ibrohim 31: Min qobli an yaktiya yaumun laa bai'un fiihi wa laa khilaalun (sebelum datangnya hari dimana tidak ada jual beli di dalamnya dan tidak ada persahabatan)

Wa laa yuqbalu minhaa syafaa'atun

Tafsir Ibn Katsir: syafa'at orang yang ingkar tidak akan diterima. Kalau mereka tidak percaya kepada Rosululloh dan tidak mengikuti ajarannya, maka di hari kiamat syafa'at dari kerabat dan tuannya tidak akan menolongnya.

Al Mudatstsir 48: Famaa tanfa’uhum syafaa’atusy syaafi’iin (Maka syafaatnya pemberi syafa'at tidak bermanfaat bagi mereka)

Asy Syu’aroo 100-101: Famaa lanaa min syaafi’iina (Maka kami (penyembah berhala dan orang sesat yang dimasukkan neraka) tidak punya pemberi syafa’at). Wa laa shodiiqin hamiim (Dan tidak ada teman yang akrab (yang akan membantu))

Wa laa yukkhodzu minhaa 'adlun

Tafsir Ibn Katsir: Allah tidak menerima tebusan dari orang yang tidak percaya/beriman, meskipun mereka membayar emas sepenuh bumi sebagai tebusan.

Hadits shohih Ibn Jarir: dari Amr bin Qois Al Mala-i: dari seorang lelaki Bani Umayyah di Syam: pernah ditanyakan kepada Rasulullah SAW: Yaa rosuulallooh, Mal 'Adl? Qoola Al 'Adlul fidyah (Ya Rasulullah, apa itu Al 'Adl? Al 'Adl adalah tebusan)

Ali 'Imron 91: Innalladziina kafaruu (sesungguhnya orang-orang yang tidak percaya) wa maatuu wa hum kaffaarun (dan mati dalam keingkaran) fa lan yuqbala (maka takkan diterima) min ahadihim (dari seorang diantara mereka) mil-ul ardli dzahaban (emas sepenuh bumi) wa lawif tadaa bihii (walaupun dia menebus (diri) dengannya). Ulaa-ika lahum 'adzaabun aliimun (bagi mereka adalah siksa yg pedih) wa maa lahum min naashiriin (dan bagi mereka tidak ada penolong)

Al Maa-idah 36: Innal ladziina kafaru (sesungguhnya orang-orang yang tidak percaya) lau anna (kalau sekiranya) lahum maa fil ardli jamii'an (bagi mereka apa yg di bumi seluruhnya) wa mitslahuu (dan semisalnya) ma'ahuu (ada bersamanya) liyaftaduu bihii (untuk menebus diri dengannya) min 'adzaabi yaumil qiyaamati (dari siksaan hari kiamat) maa taqubbila minhum ((pasti) tidak diterima dari mereka). Wa lahum ‘adzaabun aliim (Dan bagi mereka adalah siksa yg pedih).

Al An’aam 70: Laisa lahaa (baginya tiada) min duunillaahi (selain dari Allah) waliyyun walaa syafii'un (pelindung dan tiada pemberi syafa'at). Wa in ta’dil (dan jika dia menebus) kulla 'adlin (segala tebusan) laa yukkhodz minhaa (pasti tidak diambil darinya).

Al Hadiid 15: Fal yauma (maka (pada) hari tersebut) laa yuk-khodzu minkum fidyatun (takkan diambil tebusan dari kalian) wa laa minal ladziina kafaruu (dan tidak (pula) dari orang2 yg kafir), mak wa waakumun naar (tempat tinggal kalian adalah neraka). Hiyaa maulaakum (itu adalah kawan kalian)

Wa laa hum yunshoruun

Tafsir Ibn Katsir: tidak ada seorangpun yang akan marah atau cemas membelanya, atas namanya, atau menawarkan bantuan atau menyelamatkannya dari hukuman Allah.

Al Mukminuun 88: Wa huwa yujiiru (dan Dia melindungi) wa laa yujaaru ‘alaihi (dan tidak ada yang melindungi atasnya)

Al Fajr 25-26: Fa yaumaidzin laa yu’adzdzibu 'adzaabahuu ahadun (Maka pada hari itu tidak ada seseorang yang menyiksa (seperti) siksaNya). Wa laa yuu-tsiqu watsaaqohuu ahadun (Dan tiada seseorang yg mengikat (seperti) ikatanNya)

Ash Shooffaat 25-26: Maa lakum laa tanaashoruun ((Mengapa) bagi kalian tidak ada tolong menolong?) Bal humul yauma mustaslimuun (Bahkan mereka pada hari itu berserah diri)

Tafsir Adh Dhohhak: dari Ibnu Abbas: Maa lakum laa tanaashoruun, artinya di hari kiamat kalian takkan tolong menolong. Tidak di hari kiamat.

Tafsir Ibnu Jarir: di hari kiamat mereka tidak ditolong atau diberi syafa'at, tidak ada tebusan yang akan diterima, semua haknya akan hilang bersama dengan pertolongan-pertolongan, tidak ada bantuan atau kerja sama bagi mereka di hari itu. Pengadilan akan terserah pada Allah Mahabesar Mahaadil, tidak ada penolong yang bisa membantu. Dia akan membalas perbuatan buruk dan melipatgandakan perbuatan baik.

Al Ahqoof 28: Fa lau laa nashoro humul ladziinat takhodzuu min duunillaahi qurbaanan aalihah (lalu mengapa mereka yang mereka jadikan sesembahan selain dari Allah untuk mendekatkan diri tidak menolong?) Bal dlulluu ‘anhum (bahkan mereka telah lenyap dari mereka), wa dzaalika ifkuhum (dan itulah kebohongan mereka) wa maa kaanuu yaftaruun (dan itu adalah apa yang mereka ada-adakan)

Ath Thooriq 9-10: Yauma tublas saroo-ir (Pada hari dibuka semua rahasia), famaa lahuu min quwwatin wa laa naashir (Maka tiada baginya kekuatan dan tiada (seorangpun) penolong)

Senin, 02 Maret 2009

Al Baqoroh ayat 41

AYAT 41: Wa aaminuu bimaa anzaltu mushoddiqon limaa ma’akum walaa takuunuu awwala kaafirin bihii. Walaa tasytaruu bi aayaatii tsamanan qoliilan. Wa iyyaaya fattaquuni

I'rob
  • Wa = dan
  • Aamana = he believed/dia telah percaya → aaminuu = (you-all) believe!/berimanlah kalian (fi'l 'amr = kata kerja perintah)
  • Bi = with/dengan
  • Maa = what/apa yang (relative pronoun)
  • Nazala = he descended/dia telah turun → anzala (wazan 4: causative) = he sent down/dia telah menurunkan → anzaltu = I sent down/Aku telah menurunkan
  • Shodaqo = he was truthful/dia telah benar → shoddaqo (wazan 2) = he verified/dia telah membenarkan → mushoddiqun (ism fa'ilnya/yang me-) = verifier/yang membenarkan
  • Li = to/atas
  • Ma'a = together with/bersama → preposisi
  • Kum = you-all/kalian
  • Laa = Don't! → laa nahiyah (larangan)
  • Takuunuuna = you-all are/kalian adalah → Takuunuu (bentuk jussive, karena ada laa) → kaana bentuk fi'l mudloorik/present tense, berarti "kalian" adalah ism inna, dan awwalu adalah khobar kaana
  • Awwalun = the first/awal → khobar kaana harus manshub (berakhiran "a") jadi awwalan
  • Kafaro = he disbelieved/dia telah tidak percaya → kaafirun = disbeliever/orang yang tidak percaya → kaafirun adalah mudlof ilaih dari awwalun, maka kaafirun majrur jadi kaafirin
  • Bi = with/dengan
  • Hu = him/dia → bi adalah preposisi, maka hu majrur jadi hi
  • Laa = Don't! → laa nahiyah (larangan)
  • Syaroo = he bartered/dia telah menukar → tasytaruuna = kalian menukarkan (fi'l mudloorik = present tense) → karena laa, maka tasytaruuna berubah jadi tasytaruu (jussive)
  • Aayatun = a verse/a miracle/sebuah ayat → aayaatun = bentuk jamaknya/verses/miracles → bi adalah preposisi, maka aayaatun majrur jadi aayaatin
  • -y = my/-ku → akhiran -y adalah mudlof ilaih dari aayaatin, berarti aayaatin hilang tanwin jadi aayaati
  • Tsamanun = a price/sebuah harga → posisinya sebagai Haal (kata keterangan) sehingga harus manshub (berakhiran "a") jadi tsamanan
  • Qoliilun = he was small/dia telah sedikit → sama-sama manshub dan naqiroh dengan tsamanan, berarti sebagai na'at dari tsamanan
  • Wa = dan
  • Iyyaa (=only unto/hanya kepada) + nii (me) = iyyaaya = only unto me
  • Fa = then/maka
  • Waqoo = he feared Ittaquu = (you-all) fear!/(kalian) takutlah!
  • -ni = me/aku (objek)
Wa aaminuu bimaa anzaltu mushoddiqon limaa ma'akum, wa laa takuunuu awwala kaafirin bihii, wa laa tasytaruu bi aayaatii tsamanan qoliilan. Wa iyyaaya fattaquun

Inggris: And (you all) believe with what I sent down verifying what's with you-all! And don't (you-all) be the first of disbeliever with it! And don't you-all barter My verses/miracles with a small price! And unto Me alone then (you-all) fear!
Indonesia: Dan percayalah kalian dengan apa yang telah Aku turunkan yang membenarkan terhadap apa yang bersama kalian! Dan jangan kalian menjadi yang orang yang pertama kali tidak percaya dengannya! Dan jangan kalian menukar ayat-ayatKu dengan harga yang rendah. Dan hanya kepadaKu maka kalian takutlah!

Wa aaminuu bimaa anzaltu mushoddiqon limaa ma'akum

Tafsir Ibn Katsir: yaitu kepada Alquran yang Allah kirim kepada Muhammad, nabi dari bangsa Arab yang buta huruf, sebagai membawa kabar gembira, peringatan, dan cahaya. Quran mengandung kebenaran dari Allah dan mengakui apa yang diturunkan sebelumnya dalam Taurot dan Injil.

Atsar Abul 'Aliyah, Mujahid, Ar Robi' bin Anas, Qotadah: Allah berkata "Wahai Bani Isroil, percayalah dengan apa yang Akutelah turunkan (Alqur-an) yang membenarkan apa yang kalian punya (Taurot dan Injil)", karena deskripsi Muhammad ada dalam Taurot dan Injil.

Walaa takuunuu awwala kaafirin bihi

Atsar Ibnu Abbas: "Jangan menjadi orang yang pertama kali tidak percaya kepada Alqur-an (atau Muhammad) padahal kalian tahu lebih banyak daripada orang lain".

Atsar Abul 'Aliyah, Al Hasan Al Bashri, As Suddi, Ar Robi' bin Anas: yaitu larangan kepada Ahli Kitab untuk menjadi orang yang pertama kali tidak percaya setelah mendengar bahwa dia telah dikirim sebagai seorang nabi.

Tafsir Ibn Jarir: Bihii maksudnya Alqur-an.

Tafsir Ibn Katsir: ayat ini ditujukan kepada Bani Isroil, karena mereka yang di Madinah adalah Bani Isroil pertama yang tidak percaya. Padahal sebelumnya Muhammad sudah ditolak orang Quroisy dan orang Arab, jangan memperburuknya.

Walaa tasytaruu bi aayaatii

Tafsir Ibn Katsir: jangan menukar iman kepada ayat-ayat Allah dan iman kepada rosulNya, dengan kehidupan dunia dan godaannya yang hanya sebentar dan tidak abadi.

Menurut tafsir Abu Ja’far: dari Ar Robi’ bin Anas: dari Abul ’Aliyah: Jangan menerima upah dalam mengajarkan ayat Allah.

Larangan dakwah dengan minta upah

Shood 86: Qul maa as-alukum 'alaihi min ajrin (katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepada kalian atas ini (penyampaian risalah dan nasihat ini)) wa maa anaa minal mutakallifiina (dan aku bukan dari orang-orang yang mengada-ada)

Bukhori: dari Sufyan Ats-Tsauri: dari Ibn Mas'ud: Wahai manusia, barangsiapa tahu (berilmu) sesuatu, maka katakanlah. Dan barangsiapa tidak tahu (belum punya ilmunya), maka katakan Allohu a'lam (Allah lebih tahu), karena seseorang yang berkata Allohu A'lam adalah termasuk bagian dari ilmu. Sesungguhnya Allah berkata kepada Rosululloh Shood 86.

Hadits Ibn 'Asakir dan Al Baihaqi: dari Abu Darda': dari Rosululloh: Man akhodza 'alaa ta'liimil qur-aani qousan, qolladahulloohu qousan min naari yaumal qiyaamah (barangsiapa mengambil sebuah busur atas mengajarkan Alqur-an, pasti Allah mengalungkan kepadanya busur dari api neraka pada hari kiamat) → hasan li ghoirihi, karena dikatakan "tidak ada asalnya" oleh Al Baihaqi sendiri, lalu dibantah oleh Ibn At Turkimani karena sanad Al Baihaqi shohih tapi entah kenapa dia mendloifkannya sendiri. Abu Hatim tidak ada masalah dengan sanad hadits ini. Menurut Ibnu Hajar Asyqolani, sanadnya sesuai syarat shohih Muslim. Cacat yang ada dari hadits ini adalah Sa'id bin Abdul Aziz rusak hafalannya di akhir usianya (tapi belum diketahui, hadits ini didengar setelah hafalannya rusak atau sebelumnya), dan Al Walid bin Muslim adalah mudallis tadlis taswiyah (tadlis terburuk).

Hadits shohih Abu Dawud, Ibnu Majah, Imam Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi: dari 'Ubadah bin Ash Shomit: Aku mengajarkan Alqur-an dan menulis kepada ahli Shuffah, lalu salah seorang dari mereka menghadiahkan sebuah busur kepadaku. Kata hatiku, busur ini bukan harta, toh dapat aku gunakan untuk berperang fii sabiilillah. Aku mendatangi Rosululloh dan bertanya kepada dia, "Wahai Rosululloh, seorang lelaki yang telah kuajari menulis dan membaca Alqur-an telah menghadiahkan sebuah busur kepadaku. Busur itu bukanlah harta berharga dan dapat aku gunakan untuk berperang fii sabiilillah." Rosululloh berkata, in kunta tuhibbu an tuthowwaqo min naarin faqbalhaa (Kalau kamu suka dililitkan kalung dari neraka, maka terimalah!) Lalu aku menolak.

Hadits hasan shohih Tirmidzi: dari Utsman bin Abi Al 'Ash: Sesungguhnya nasihat terakhir Rasulullah kepadaku adalah barangsiapa menjadi muadzin janganlah dia mengambil upah atas adzannya.

Hadits hasan lighoirihi Tirmidzi, Imam Ahmad, dan Al Baghowi: dari ‘Imron bin Husain:
Aku melihat seorang qori sedang membaca Alqur-an lalu meminta upah. Akupun mengatakan kalimat istirja' (inna lillahi wa inna ilaihi rooji'uuna) lalu aku berkata, "Aku mendengar Rosululloh pernah berkata man qoro-al qur-aana (barangsiapa membaca Alqur-an) falyas-ililaaha bihi (maka mintalah kepada Allah dengannya (pahalanya)), fa innahu sayajii-u iqwaamun yaqro-uunal qur-aana yas-iluuna bihin naas (karena sesungguhnya akan datang beberapa kaum yang membacakan Alqur-an meminta dengannya (upahnya) kepada manusia)"

Hadits hasan Ahmad, Al Baghowi, Al Hakim: dari Abu Sa'id Al Khudri: dari Rosululloh:
Ta'allamul qur-aana (pelajarilah Alqur-an) was-alullooha bihil jannah (dan mintalah Allah surga (sebagai balasannya)) qobla an yata'allamahu qoumun yas-aluunaihid dun-yaa (sebelum datang suatu kaum yang mempelajarinya, meminta dunia (upah) sebagai imbalannya) fa innal qur-aana yata'allamuhu tsalaatsah (sesungguhnya orang yang mempelajari Alqur-an ada 3) rojalun yubaahii bihi (orang yang membanggakan diri dengannya (dengan mempelajarinya)) wa rojulun yastakkilu bihi (dan orang yang mencari makan dengannya (dengan mempelajarinya)) wa rojulun yaqro-ahulloohi (dan orang yang membacakannya karena Allah)

Hadits shohih Abu Dawud dan Imam Ahmad: dari Jabir bin Abdillah: Rosululloh keluar menemui kami. Saat itu kami sedang membaca Alqur-an, di antara kami ada orang2 Arab dan orang2 'Ajam (non-Arab). Beliau berkata, iqroo-uu fakullun hasanun (bacalah (Alqur-an), karena (bacaan kalian) semuanya bagus) wa sayajii-u iqwaamun yuqiimuunahu kamaa tuqoomul qidhu (dan akan datang beberapa kaum yang menegakkan yang harus ditegakkan (Alqur-an dan Islam) seperti menegakkan anak panah) yata'ajjaluunahu (mereka hanya mencari materi dengannya) wa laa yata-ajjaluunahu (dan mereka tidak mencari pahala)

Hadits shohih Ath Thohawi, Imam Ahmad, dan Thobroni: dari Abdurrohman bin Syibl Al Anshoori: Mu'awiyah (nabi palsu zaman Rasulullah) berkata kepadanya "Kalau kamu datang ke kemahku, maka sampaikan hadits yg telah engkau dengar dari Rosululloh" Lalu dia berkata, "Aku mendengar Rosululloh berkata: Iqro-uul qur-aana wa laa takkuluu bihi (kalian bacalah Alqur-an dan kalian jangan mencari makan darinya) wa laa tastaktsiruu bihi (dan kalian jangan menganggapnya remeh) wa laa taghluu fiihi (dan kalian jangan berlebihan dengannya)

Hadits Bukhori & Muslim: dari Abdullah bin as-Sa'dy:
Umar telah memakai jasaku untuk mengumpulkan zakat. Setelah aku selesai mengumpulkan kemudian diserahkan kepada Umar, dia memerintahkan agar aku diberi upah. Aku berkata, “Semua kukerjakan ikhlas lillahi ta'ala”. Umar pun berkata, “Aku juga pernah menjadi amil zakat semasa Rasulullah, lalu aku diberi upah, maka aku berkata seperti yang engkau katakan tadi (semua kukerjakan dengan ikhlas lillahi ta'ala) Rasulullah pun berkata, “Apabila engkau diberi sesuatu tanpa meminta-minta maka makanlah dan sedekahkanlah"

Ruqyah yang sesuai Alqur-an boleh diminta upahnya, dan mahar boleh berupa hafalan Quran

Hadits Bukhori: dari Sahal bin Sa’d As Sa’idi: Kami sedang duduk bersama Rasulullah, lalu datang seorang wanita dan memperlihatkan dirinya kepada Rasulullah, maka Rasulullah menundukkan pandangannya dan lalu mengangkatnya kembali dan beliau tak menyuruh perempuan itu pergi. Maka salah seorang sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, nikahkan aku dengannya”, Rasulullah berkata, “Apakah kau punya sesuatu (untuk mahar)?” Lelaki itu berkata, “Tidak”, Rasulullah berkata, “Walau hanya dari cincin besi?” Lelaki itu berkata, “Saya tak punya apa2, walau itu cincin besi, tapi saya akan sobek kain ini, separuh saya serahkan untuk mahar, separuh lagi untuk saya pakai”, Rasulullah berkata, “Tidak! Apakah kamu menguasai sesuatu dari Alqur-an?” Lelaki itu berkata, “Ada wahai Rasulullah”, Rasulullah berkata, “Zawwajtukahaa bimaa ma’aka minal qur-aan” = Aku nikahkan kamu kepadanya dengan mahar apa-apa yg kauhafal dari Alqur-an.

Hadits Shohih Bukhori: dari Abu Sa'id Al Khudri: sekelompok sahabat Rosulullah sedang dalam perjalanan hingga beristirahat di dekat salah satu suku Arab dan meminta mereka dijamu sebagai tamu, tapi mereka (suku itu) menolak menjamu mereka. Lalu kepala suku itu digigit ular (atau disengat kalajengking) dan dia diberikan segala pengobatan tapi semuanya gagal. Beberapa dari mereka berkata "Maukah kamu mendatangi kelompok yang beristirahat di dekat kalian dan mencari tahu apakah salah satu dari mereka punya sesuatu yang berguna?" Mereka mendatangi mereka dan berkata "Wahai sekelompok orang, Pemimpin kami digigit ular (atau disengat kalajengking) dan kami sudah mengobatinya dengan segala hal tapi tidak ada yang berguna. Apakah ada di antara kalian yang memiliki sesuatu yang berguna?" Salah satu dari mereka menjawab, "Ya, demi Allah aku tahu cara mengobati dengan Ruqyah. Tapi demi Allah kami ingin kalian menerima kami sebagai tamu kalian tapi kalian menolak. Aku tidak akan mengobati pasien kalian dengan Ruqyah sampai kalian menjanjikan sesuatu kepada kami sebagai upah." Maka mereka setuju memberi sekawanan kambing kepada musafir itu. Lelaki itu datang ke kepala suku bersama mereka, meludahi (gigitannya) dan membacakan Surat Al Fatihah sampai pasiennya sembuh dan bisa jalan seperti tidak pernah sakit. Saat orang-orang suku itu membayar upah mereka sesuai perjanjian, beberapa dari mereka (musafir) berkata, "Bagi-bagikan kambingnya" Tapi orang yang meruqyah berkata "Jangan melakukannya sampai kita mendatangi Rosululloh dan menceritakan kepadanya apa yang terjadi, dan lihat apa yang dia akan perintahkan kita. Maka mereka mendatangi Rosululloh dan menceritakan kisahnya dan dia berkata "Bagaimana kalian tahu bahwa Surat Al Fatihah adalah Ruqyah? Kalian telah melakukan hal yang benar. Bagikan (kambingnya) dan aku dibagi juga ya." Rosululloh lalu tersenyum.

Hadits shohih Abu Dawud, Ahmad, Ibn Majah, Al Hakim: dari Abu Huroiroh: Man ta'allama 'ilman mimmaa yubtaghoo bihi wajhulloohi (barangsiapa mengajarkan ilmu dengan mencari Wajah Allah) laa yata'allamuhu illaa li yushiiba bihi arodlon minad dun-yaa ((tapi) dia tidak mengajarkannya kecuali untuk mencari keuntungan dunia) lam yajid 'arfal jannati yaumal qiyaamah (dia takkan mendapatkan bau surga pada hari kiamat)

Lalu bagaimana dengan hadits yang membolehkan Kitabulloh diambil upahnya?

Hadits shohih Bukhori: dari Ibn Abbas: Inna ahaqqo maa akhodztum 'alaihi ajron kitaabulloohi (sesungguhnya yang paling berhak kalian ambil upah atasnya adalah Kitabulloh)

Tapi kemudian ada hadits lain yang menjelaskannya:

Hadits shohih Bukhori: dari Ibn Abbas: Kalian adalah yang paling berhak menerima upah dari melakukan Ruqyah dengan kitab Allah.

Para rosul pun dakwah sambil tetap mencari nafkah

Hadits Muslim dan Ahmad: dari Abu Huroiroh: dari Rosululloh: Zakarriyaa adalah seorang tukang kayu.

Hadits Bukhori: dari Miqdam bin Ma'dikariba: dari Rosululloh: Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil usahanya sendiri, sedangkan Dawud juga makan dari hasil usahanya sendiri

Saba' 10-11: Wa laqod aatainaa daawuuda minnaa fadllan (Dan sungguh Kami telah memberi Dawud karunia dari Kami) yaa jibaalu awwibii ma'ahu wath thoiro (wahai para gunung dan para burung, bertasbihlah berulang-ulang bersamanya) wa a lannaa lahul hadiida (dan Kami telah melunakkan besi baginya (mukjizat membengkokkan besi)) ani'mal saabighootin (bahwa "kamu buatlah baju besi yang besar) wa qoddir fis sardi wa'maluu shoolihan (dan ukurlah didalam anyaman (baju besi) dan berbuat baiklah")

Asy-Syu'aro 108-109: Wattaqulooha wa a-thii'uuni (dan takutlah pada Allah dan taatilah aku (Nuh)) wa maa as-alukum 'alaihi min ajrin (dan aku tidak minta kalian upah atasnya) in ajriya illaa 'alaa robbil 'aalamiina (tiadalah upahku kecuali atas Robb dari semua alam)

Asy-Syu'aro 126-127: Fattaqullooha wa a-thii'uuni (maka takutlah pada Allah dan taatilah aku (Hud)) wa maa as-alukum 'alaihi min ajrin (dan aku tidak minta kalian upah atasnya) in ajriya illaa 'alaa robbil 'aalamiina (tiadalah upahku kecuali atas Robb dari semua alam)

Asy-Syu'aro 144-145: Fattaqullooha wa a-thii'uuni (maka takutlah pada Allah dan taatilah aku (Shoolih)) wa maa as-alukum 'alaihi min ajrin (dan aku tidak minta kalian upah atasnya) in ajriya illaa 'alaa robbil 'aalamiina (tiadalah upahku kecuali atas Robb dari semua alam)

Asy-Syu'aro 164-165: Fattaqullooha wa a-thii'uuni (maka takutlah pada Allah dan taatilah aku (Luth)) wa maa as-alukum 'alaihi min ajrin (dan aku tidak minta kalian upah atasnya) in ajriya illaa 'alaa robbil 'aalamiina (tiadalah upahku kecuali atas Robb dari semua alam)

Asy-Syu'aro 179-180: Fattaqullooha wa a-thii'uuni (maka takutlah pada Allah dan taatilah aku (Syu'aib)) wa maa as-alukum 'alaihi min ajrin (dan aku tidak minta kalian upah atasnya) in ajriya illaa 'alaa robbil 'aalamiina (tiadalah upahku kecuali atas Robb dari semua alam)

Shood 86 (sudah disebutkan di atas)

Al Furqoon 57: Qul maa as-alukum 'alaihi min ajrin (Katakanlah: "Aku tidak minta kalian upah atasnya) illaa man syaa-a an yatta-khidza ilaa robbihi sabiilan (kecuali barangsiapa yang mau untuk mengambil jalan menuju Robbnya)

Yaasiin 21: Ittabi'uu man laa yas-alukum ajron wa hum muhtaduuna (ikutilah barangsiapa yang tidak minta upah kepadamu, dan mereka adalah orang-orang yang diberi petunjuk)

Wa iyyaaya fattaquuni

Atsar Ibnu Abi Hatim: dari Tholq bin Habib: Taqwa adalah ta'mala bi thoo'atillah (berbuat dengan menaati Allah) rojaa-a rohmatillah ’alaa nuurin minallah (dengan mengharap rahmat Allah atas cahaya (petunjuk) dari Allah) wa tatruka ma'shiyaatallah 'alaa nuurin minallah (dan meninggalkan maksiat kepada Allah atas cahaya dari Allah) takhoofu 'iqooballah (karena takut terhadap siksa Allah)

Al Baqoroh ayat 40

Di Al Baqoroh ayat 40 sampai ayat 123 Allah bercerita panjang lebar tentang kisah Bani Isroil. Ayat 40-48 bercerita tentang perintah dan larangan Allah kepada Bani Isroil.

AYAT 40: Yaa banii isroo-iiladz kuruu ni'matiyal latii an'amtu 'alaikum wa aufuu bi 'ahdii uufi bi 'ahdikum. Wa iyyaaya farhabuun.

I'rob


  • Yaa = wahai (kata nidak=panggilan) → di Arab kalau memanggil orang harus diawali Yaa
  • Ibnun = a son/seorang putra lelaki → banii = children/keturunan
  • Isroo-iila = Isroil → mudlof ilaih dari banii
  • Dzakaro = he remembered/dia telah mengingat → udzkuruu = (you-all) remember!/kalian ingatlah
  • Na'ama = he favoured/dia telah memberi nikmat → ni'matun = favour/nikmat (gender: perempuan)
  • Ni'matun (=nikmat) + akhiran "y" (=my) = ni'matiya
  • Allatii = she who/yang → berarti kalimat setelahnya (an'amtu 'alaikum) akan dijadikan kata benda, berarti an'amtu 'alaikum adalah na'at (sifat) dari ni'matiya
  • Na'ama = he favoured → an'amtu (wazan 2: causative) = I bestowed/aku telah memberi nikmat
  • 'Alaa (=on/atas) + kum (you-all/kalian) = 'alaikum
  • Wa = and/dan
  • Wafaa (akhiran -y untuk memanjangkan a)= he kept the promise/dia memenuhi janji → aufuu = (you-all) fulfil!/kalian penuhilah
  • Bi = with/dengan
  • 'Ahdun = a covenant/sebuah perjanjian → bi adalah preposisi, maka 'ahdun majrur jadi 'ahdin
  • Akhiran -y = my/-ku → akhiran -y adalah mudlof ilaih dari 'ahdin, sehingga 'ahdin hilang tanwin jadi 'ahdi
  • Wafaa = he kept the promise → uufi = I fulfil/aku penuhi (bentuk jussive fi'l mudloorik)
  • Keterangan: jussive dipakai untuk permintaan, desakan, permohonan, self-encouragement, keinginan, harapan, niat, perintah, tujuan, atau akibat. Dan i'robnya ada bentuk khususnya.
  • Kum = kalian → kum adalah mudlof ilaih dari 'ahdin, maka 'ahdin hilang tanwin jadi 'ahdi.
  • Iyyaa = unto/kepada
  • Iyyaa+ nii (=me) = iyyaaya = only unto me/hanya kepadaku
  • Fa = then/maka
  • Rohiba = he feared/dia telah takut → irhabuuni = frighten you-all!/takutlah kalian (fi'l 'amr = kata kerja perintah)
Yaa banii isroo-iiladz kuruu ni'matiyal latii an'amtu 'alaikum, wa aufuu bi 'ahdii uufi bi 'ahdikum, wa iyyaaya farhabuuna

Inggris: O Children of Israil, (you-all) remember my favour which I bestowed upon you-all! And (you-all) fulfill My covenant, I will fulfill your covenant! And unto Me alone, then (you-all) fear!
Indonesia: Wahai keturunan Isroil, (kalian) ingatlah nikmatKu yang Aku telah memberikan kepada kalian, dan kalian penuhilah perjanjianKu, aku akan penuhi perjanjian kalian, dan hanya kepadaKu maka kalian takutlah!

Yaa banii isroi-iila

Hadits Abu Dawud: dari Ibn 'Abbas: Ha-dlorot 'i-shoobatun minal yahuudi nabiyalloohi shollalloohu 'alaihi wa sallam (sekelompok Yahudi telah mendatangi Rosululloh yang semoga sholawat dan keselamatan adalah atasnya) fa qoola lahum (dan dia telah berkata kepada mereka) Hal ta’lamuuna inna isroo-iila ya'quub? (Apakah kalian tahu sesungguhnya Isroil adalah Yaqub?) Qooluu alloohumma na'am (mereka telah berkata "Ya Allah, ya (kami tahu)) fa qoolan nabiyyu sholalloohu 'alaihi wa sallam allohummasy had (Lalu nabi yang semoga sholawat dan keselamatan adalah atasnya telah berkata "Ya Allah, saksikanlah!")

Atsar Ath-Thobari: dari Ibnu Abbas: Isroil artinya sama dengan Abdulloh (hamba Allah)

Udzkuruu ni'matiyal latii an'amtu 'alaikum

Tafsir Ibn Katsir: Allah mengingatkan Bani Isroil dg mencontohkan leluhur mereka, Isroil/Ya'qub, seolah berkata "Wahai keturunan orang saleh, hamba Allah yang saleh yang menaati Allah! Jadilah seperti leluhur kalian (Ya'quub), mengikuti kebenaran".

Atsar Mujahid: Nikmat Allah kepada Yahudi adalah Allah membuat air memancar dari batu, mengirim manna dan salwa (makanan berkualitas tinggi di zaman itu) untuk mereka, dan menyelamatkan mereka dari diperbudak Firaun.

Atsar Abul 'Aliyah: Nikmat Allah di sini adalah banyaknya nabi dan rosul dari kalangan mereka (seperti Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Isa, Nabi Samuel, Nabi Joshua) dan diturunkannya kitab-kitab untuk mereka.

Tafsir Ibn Katsir: ayat ini serupa dengan Al Maa-idah 20.

Al Maa-idah 20: Wa idz qoola muusaa li qoumihii (dan saat Musa berkata kepada kaumnya) yaa qoumidzkuruu ni'matalloohi 'alaikum (wahai kaumku, ingatlah nikmat Allah atas kalian) idz ja'ala fiikum anbiyaa-a wa ja'alakum muluukan (saat Dia telah jadikan diantara kalian para nabi dan Dia telah jadikan kalian para penguasa) wa aataakum maa lam yukti ahadan minal 'aalamiin (dan Dia telah memberi kalian apa yg Dia tidak berikan kepada seorangpun dari seluruh alam (di zaman itu)).

Atsar Muhammad bin Ishaq: dari Ibn 'Abbas: yaitu dukungan Allah terhadap Bani Isroil dan leluhur mereka (Ya'qub), yaitu terselamatkan dari Firaun dan para pengikutnya.

Aufuu bi 'ahdii, uufi bi 'ahdikum

Tafsir Ibn Katsir: Perjanjian yang diambil Allah dari Bani Isroil adalah tentang Muhammad saat dia nantinya dikirim kepada mereka, janji untuk percaya kepada Muhammad dan mengikutinya. Janji Allah kepada Bani Isroil adalah untuk menghilangkan rantai dan batasan-batasan yang "mengalungi leher mereka" karena dosa-dosa mereka. Allah akan memenuhinya kalau mereka memenuhinya juga.

Atsar Al Hasan Al Bashri: yaitu Al Maa-idah 12.

Al Maa-idah 12: Wa laqod akho-dzalloohu mii-tsaaqo banii isro-iil (dan sungguh Allah telah mengambil perjanjian Bani Isroil), wa ba'atsnaa min humutsnai 'a-syaro naqiiba (dan Kami telah mengangkat dari mereka 12 pemimpin). Wa qoolalloohu innii ma'akum (dan Allah telah berkata, "sungguh Aku bersama kalian"), la in aqomtumush sholaata wa aataitumuz zakaata (sungguh jika kalian telah mendirikan sholat dan kalian telah menunaikan zakat) wa aamantum bi rusulii wa 'azzartumuuhum wa aqrodltumullooha qordlon hasanan (dan kalian telah beriman dengan rosul-rosulKu dan kalian telah membantu mereka dan kalian telah meminjamkan Allah pinjaman yg baik) la ukaffironna 'ankum sayyi-aatikum (sungguh Aku akan menghapus kesalahan2 kalian) wa la udkhilannakum jannaatin tajrii min tahtihal anhaar (dan sungguh Aku akan memasukkan kalian ke surga yg mengalir dari bawahnya sungai2), faman kafaro ba'da dzaalika minkum (dan barangsiapa yang ingkar sesudah itu dari kalian) fa qod dholla sawaa-as sabiil (maka sungguh dia telah sesat (dari) jalan yg lurus)

Atsar Abul 'Aliyah: yaitu, janji semua hambaNya kepada Allah, untuk memeluk Islam dan mengikutinya.

Atsar As Suddi, Adh Dhohhak, Abul 'Aliyah, Ar Robi' bin Anas: dari Ibnu Abbas: janji dari Allah kepada kalian adalah bahwa Allah akan ridlo/puas kepada kalian dan memasukkan kalian ke surga.

Wa iyyaaya farhabuun (Dan hanya kepada-Ku kalian harus takut)

Atsar Ibnu Abbas: takutlah kalian akan siksaan yg bisa diturunkan Allah kepada kalian, seperti yg Allah lakukan kepada para leluhur mereka, seperti mutasi menjadi kera dan babi, dll.

Targhib dan Tahrib

Tafsir Ibn Katsir: Ayat ini mengandung targhib (anjuran, yaitu meng-encourage Bani Isroil tentang nikmat Allah kepada leluhur mereka) dilanjut dengan tarhib (ancaman, agar mereka kembali kepada kebenaran, mengikuti Rosululloh, menaati perintah dan larangan Alqur-an, dan percaya kepada isinya).

Kamis, 01 Januari 2009

Al Baqoroh ayat 21

Setelah menceritakan topik 3 jenis manusia (Ayat 2-20), Ayat 21-39 akan bercerita tentang Keesaan dan Kekuasaan Allah:

1. Ayat 21-22: Perintah menyembah Allah
2. Ayat 23-25: Menantang orang syirik mengenai Alqur-an
3. Ayat 26-27: Allah membuat perumpamaan dalam Alqur-an yang selalu ada hikmahnya
4. Ayat 28-29: Bukti kekuasaan Allah
5. Ayat 30-39: Penciptaan manusia dan penguasaannya di bumi

AYAT 21: Yaa ayyuhan naasu’buduu robbakumul ladzii kholaqokum walladziina min qoblikum la’allakum tattaquun.

I'rob

  • Yaa = O/wahai → kata nidak (panggilan) → Di Arab, kalau memanggil orang harus diawali "Yaa" sebelum namanya.
  • Ayyu → ism nakiroh (kata benda indefinit) dan kata yang mabni (tidak akan pernah majrur, manshub, atau marfu’) dan kata ini selalu setelah yaa jika tidak memanggil orang tertentu.
  • Haa → meminta orang yang dipanggil untuk memperhatikan.
  • An-naasu = THE human being/sang manusia
  • 'Abada = he worshipped/dia telah beribadah → a'buduu = you all worship!/kalian beribadahlah (fi’l amr = kata kerja perintah).
  • Robbun = Lord → robbun manshub jadi robban, berarti robbu adalah maf’ul (objek) dari a'buduu.
  • Kum = you-all/kalian → kum adalah mudlof ilaih (pemilik) dari robban, maka robban hilang tanwin jadi robba
  • Alladzii = the one who/yang (ism maushul = relative pronoun) → berarti kata berikutnya adalah klausa (subjek/predikat) yang ingin dibendakan → kholaqokum mengandung subjek-predikat-objek → karena menjelaskan robbakum (objek dari a'buduu), berarti alladzii bertujuan menjadikan kholaqokum sebagai na'at (sifat) dari robbakum → dan karena alladzii berawalan vokal, maka robbakum berubah jadi robbakumu.
  • Kholaqo = he created/dia telah menciptakan (fi’l ma-dlii = past tense)
  • Wa = dan
  • Alladziina = those who/yang (ism maushul) → ternyata kata berikutnya adalah min qoblikum, berarti sebagai maf'ul (objek) kedua dari kholaqo (setelah kum) → alladziina adalah jamak (those who), dan cocok dengan yang dijamakkan, yaitu min qoblikum.
  • Min = from/dari
  • Qoblun = before/sebelum → dhorf zaman → min adalah preposisi, maka qoblun majrur jadi qoblin
  • Kum = you-all/kalian → kum adalah mudlof ilaih dari qoblin, maka qoblin hilang tanwin jadi qobli
  • La'alla = hopefully/semoga → kata tarojji (harapan), varian dari inna → berarti kum adalah ism inna dan tattaquuna adalah khobar inna (di antaranya diletakkan terjemahan "adalah").
  • Waqoo = he preserved/dia memelihara → ittaqoo (wazan 8: refleksif) = he feared/dia telah takut (fi'l mudloorik) → tattaquuna = those who fear/orang-orang yang takut → harus marfu' (sebagai khobar inna)

Yaa ayyuhan naasu a’buduu robbakumul ladzii kholaqokum walladziina min qoblikum la’allakum tattaquuna

Inggris: O THE human being, (you-all) worship your Lord, who created you-all and those who are before you! Hopefully, you-all are those who fear.
Indonesia: Wahai manusia, kalian ibadahilah Robb kalian, yang menciptakan kalian dan (menciptakan) orang-orang yang sebelum kalian! Semoga kalian adalah orang-orang yang takut.

Tafsir

Tafsir Ibnu Katsir: ayat ini menyebutkan keesaanNya (beribadahlah kepada Robb kalian; Tauhid Uluhiyyah) dan menyatakan bahwa Dia telah menghidupkan kalian dari ketiadaan.

Selasa, 25 November 2008

Al Baqoroh Ayat 3

Ayat 3: Alladziina yukminuuna bil ghoibi wayuqiimuunash sholaata wa mimma rozaqnaahum yunfiquuna

I'rob

  • Alladziina → Yukminuuna bil ghoibi adalah khobar dari mubtadak al muttaqiina (those who fear), dan khobar yang bukan kata benda memerlukan ism maushul (relative pronoun) → disini dipakai yaitu alladziina, karena al-muttaqiina adalah jamak.
  • Aamana = he believed/dia telah percaya → yukminuuna = they believe/mereka percaya (fi’l mudloorik = present tense dari aamana).
  • Bi = with/dengan
  • Ghoibun = An unseen/sesuatu yang tak nampak → Al ghoibu = THE unseen (bentuk definitnya) → bi adalah preposisi, sehingga al-ghoibu majrur jadi al-ghoibi.
  • Wa = dan → berarti point kedua dari alladziina
  • Qooma = he stood/dia telah berdiri → yuqiimuuna = they stand/mereka mendirikan (fi’l mudloorik)
  • Shollaa (berakhiran 'y' tapi dibaca 'a' panjang)= he prayed/dia telah sholat → sholaatun = a prayer/sebuah sholat → ash-sholaatu = THE prayer (bentuk definitnya) → ash-sholaatu manshub jadi ash-sholaata, berarti dia adalah maf’ul (objek) dari yuqiimuuna.
  • Wa → berarti point ketiga dari alladziina
  • Min = a portion of/sebagian
  • Maa = what/apa yang (ism maushul = relative pronoun) → min+maa = mimmaa.
  • Rozaqo = he bestowed/dia telah merizqikan → rozaqnaa = we bestowed/kami telah merizqikan (fi'l ma-dlii = kata kerja lampau) → mimmaa rozaqnaahum adalah maf’ul muqoddam (objek sebelum predikat) dari yunfiquuna.
  • Hum = they/mereka → tidak mungkin hum menggantikan "kami" dari rozaqnaa, sehingga posisi hum adalah maf'ul/objek dari rozaqnaa
  • Nafaqo = he spent out/dia telah menafkahkan/dia telah menginfakkan → yunfiquuna = mereka menafkahkan (fi'l mudloorik) → mimmaa rozaqnaahum adalah maf'ul muqoddam (objek yang ditaruh sebelum kata kerja) dari yunfiquuna.

Alladziina yukminuuna bil ghoibi wa yuqiimuunash sholaata wa mimmaa rozaqnaahum yunfiquuna

Inggris: i.e. those who believe in THE unseen, and (those who) stand the prayer, and (those who) spend out a portion of what We provided them"
Indonesia: yaitu orang-orang yang percaya kepada Al Ghoib (yang tak nampak), dan (orang-orang yang) mendirikan sholat, dan (orang-orang yang) menafkahkan/menginfakkan sebagian dari apa yang Kami rizqikan (kepada) mereka

Alladziina yukminuuna

Definisi: iman = percaya

Atsar Abu Ja’far Ar Rozi: dari ‘Abdullah: iman artinya mempercayai

Atsar Abu Ja’far Ar Rozi: dari Ar Robi' bin Anas: iman artinya taqwa/takut (kepada Allah)

Atsar Ibnu Jarir: percaya kepada Al Ghoib dengan hati, perkataan, dan perbuatan.

At Taubah 61: Yukminu billaahi wa yukminu lil mukminiina (dia percaya kepada Allah dan dia percaya kepada orang percaya (mukmin))

Kata-kata Nabi Yusuf kepada ayahnya (Nabi Ya'qub):

Yusuf 17: Wa maa anta bi mukminin lanaa (Tapi kamu tidak percaya kepada kami) wa lau kunnaa shoodiqiin (walaupun kami jujur)

Iman meliputi perbuatan

At Tiin 6: Illalladziina aamanuu wa ‘amilush shoolihaati (Kecuali mereka yg percaya (beriman) dan beramal sholih)

Iman adalah Khoshyah (takut kepada Allah)

Al Mulk 12: Innal ladziina yakhsyauna robbahum bil ghoib (Sesungguhnya mereka yg takut kepada Robb mereka yg tak nampak (beserta hukumannya di hari akhir)) lahum maghfirotun wa ajrun kabiirun (niscaya mereka (mendapat) ampunan dan pahala yg besar)

Qof 33: Man khosyiyar rohmana bil ghoibi wa jaa-a bi qolbin muniib ((yaitu)barangsiapa yg takut kepada Ar Rohmaan yg tak nampak dan (barangsiapa yg) menjadikan hatinya bertobat)

Takut adalah inti iman dan pengetahuan

Faathir 28: Innamaa yakhsyallooha min ‘ibaadihil ‘ulamaak (Sesungguhnya barangsiapa yg takut kepada Allah diantara hambaNya adalah orang2 yg tahu/berilmu)

Bil Ghoibi

Abu Ja’far Ar Rozi (dari Abul ‘Aliyah) dan Qotadah: yaitu percaya kepada Allah, malaikat2Nya, kitab2Nya, rosul2Nya, hari akhir, surgaNya, nerakaNya, pertemuan denganNya (kelak), hidup setelah mati, dan hari pembalasan.

Hadits Imam Ahmad: dari Abu Jumu'ah: Taghoddainaa ma’a rosuulillaah wa ma’anaa abuu ‘ubaidatabnal jarrooh, fa qoola yaa rosuulullooh hal ahadun khoirun minnaa? Aslamnaa ma’aka wa jaahadnaa ma’aka? (Saat kami makan siang bersama Rosululloh, Abu 'Ubaidah, yg sedang bersama kami, berkata, "Ya Rosululloh, adakah orang yg lebih baik dari kami ? Kami memeluk Islam bersamamu dan berjihad bersamamu) Qoola na’am. Qoumun min ba’dikum yukminuuna bii wa lam yarounii (Dia berkata "Ya, (yaitu) orang2 yg datang (di zaman) setelah kalian, yg percaya denganku meskipun mereka tidak melihatku)

Wa yuqiimuunash sholaata

Atsar Ibnu Abbas: yaitu melakukan sholat dengan semua kewajibannya.

Atsar Adh Dhohhak: dari Ibnu Abbas: yaitu mengerjakan dengan sempurna rukuk, sujud, bacaan, kerendahan hati, dan hadir dalam sholat.

Atsar Qotadah: yaitu memelihara tepat waktu, berwudlu, rukuk, dan sujud.

Atsar Muqotil bin Hayyan: yaitu menjaga agar tepat waktu, menyempurnakan wudlu, rukuk, sujud, bacaan Alqur-an, tasyahhud, dan sholawat kepada Rosululloh.

Wa mimmaa rozaqnaahum yunfiquuna

Atsar Ali bin Abi Tholhah: dari Ibnu Abbas: yaitu zakat dari kekayaannya.

Atsar As Suddi: dari Ibnu Abbas: yaitu kewajiban lelaki untuk menafkahi keluarganya, karena ayat ini turun sebelum ada kewajiban zakat.

Atsar Juwaibir: dari Adh Dhohhak: Shodaqoh adalah sarana lebih dekat kepada Allah, berdasarkan kebijakan dan kemampuannya, sampai kewajiban zakat diturunkan di surat At-Taubah yg merevisi ayat ini.

Allah sering menyebut sholat dan zakat bersamaan

Tafsir Ibnu Katsir: sholat adalah bentuk menyembah Allah (hablum minalloh), zakat adalah bentuk kebaikan terhadap makhluk dengan memberikan manfaat kepada mereka (hablum minannaas)

Bukhori & Muslim: dari Ibnu Umar: dari Rosulullah: Buniyal islaamu ‘ala khomsin (Islam didirikan atas lima): Syahaadati an laa ilaaha illallahu wa anna muhammadan rosuulullahi, wa iqoomish sholaati, wa iitaa-iz-zakaati, wa shoumi romadloona, wa hajjil baiti (bersaksi bahwa tiada sesembahan yg benar selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rosul Allah, dan mendirikan sholat, dan memberikan zakat, dan berpuasa Romadloon, dan berhaji ke Al Baitu (The House=Baitullah))