Tampilkan postingan dengan label Orang Munafik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Orang Munafik. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Juli 2010

Al Baqoroh ayat 76

AYAT 76: Wa idzaa laqul ladziina aamanuu qooluu aamannaa, wa idzaa kholaa ba'dluhum ilaa ba'dlin qooluu a tuhaddi-tsuuna hum bimaa fatahalloohu 'alaikum li yuhaajjuukum bihii 'inda robbikum, a fa laa ta'qiluuna

  • Wa = dan
  • Idzaa = when/saat (present tense)
  • Laqiya = he met/dia telah bertemu → laquu = they met/mereka telah bertemu → tapi karena idzaa, maka terjemahannya menjadi present tense, yaitu they meet/mereka bertemu
  • Alladziina = those who/yang → berarti klausa setelahnya dikatabendakan, yaitu aamanuu
  • Amina = he felt secure/dia telah merasa aman → aamana (wazan 4: causative) = he believed/dia telah percaya → aamanuu = they believed/mereka telah percaya → aamannaa = we believed/kami telah percaya
  • Qoola = he said/dia telah berkata → qooluu = they said/mereka telah berkata → tapi karena idzaa, terjemahannya menjadi present tense, yaitu they say/mereka berkata
  • Kholaa = he was alone/dia telah sendiri → karena idzaa, maka terjemahannya menjadi present tense, yaitu he is alone/dia sendiri
  • Ba'dlun = a fraction/sebagian → hilang tanwin jadi ba'dlu, berarti hum adalah mudlof ilaih (pemilik) dari ba'dlu
  • Hum = them/mereka
  • Ilaa = to
  • Ba'dlun → ilaa adalah preposisi, maka ba'dlun majrur jadi ba'dlin
  • A = apakah (ism istifham = kata tanya)
  • Hada-tsa = he came to existence/dia telah muncul → hadda-tsa = he told/dia telah mengatakan → tuhadditsuuna = you-all tell/kalian menceritakan
  • Bi = with/dengan
  • Maa = what/apa yang (ism maushul = relative pronoun)
  • Fataha = he opened/dia telah membuka
  • Allah marfu' jadi alloohu, berarti posisinya adalah fa'il (subjek) dari fataha
  • 'Alaa = upon/atas
  • Kum = you-all/kalian → 'alaa+kum = 'alaikum
  • Li = in order to/agar
  • Haajja = he argued/dia telah berdebat → yuhaajjuu = they argue/mereka berdebat
  • Hu = him/dia → bi adalah preposisi, maka hu majrur jadi hi
  • 'Inda = with/di sisi
  • Robbun = Lord → 'inda adalah preposisi, maka robbun majrur jadi robbin → robbin hilang tanwin jadi robbi, berarti kum adalah mudlof ilaih dari robbi
  • Fa = then/lalu
  • Laa → laa nafiyah (negasi)
  • 'Aqila = he had brain/dia telah punya otak → ta'qiluuna = you-all have brains/kalian punya otak
Wa idzaa laqul ladziina aamanuu qooluu aamannaa, wa idzaa kholaa ba'dluhum ilaa ba'dlin qooluu a tuhaddi-tsuuna hum bimaa fatahalloohu 'alaikum li yuhaajjuukum bihii 'inda robbikum, a fa laa ta'qiluuna

Inggris: And when they meet those who believed, they say, "We believed", and when some of them are alone towards some (others), they say, "Do you-all tell them with what Allah opened upon you-all, so they argue you with it before your Lord? Then, don't you-all have brains?
Indonesia: Dan saat mereka bertemu orang-orang yang percaya, mereka berkata "Kami telah percaya", dan saat sebagian dari mereka sedang sendiri dengan sebagian (yang lain), mereka berkata "Apakah kalian akan mengatakan (kepada) mereka dengan apa yang Allah telah bukakan atas kalian, agar mereka berargumen dengannya di sisi Robb kalian?" Apakah kalian tidak punya otak?

Wa idzaa laqul ladziina aamanuu qooluu aamanna

Atsar Muhammad bin Ishaq: dari Ibn 'Abbas: Mereka percaya bahwa Muhammad adalah rosul Allah, tapi dia hanya dikirim untuk kalian (orang Arab). Tapi saat mereka saling berjumpa, mereka berkata, "Jangan kalian sampaikan kabar tentang nabi ini ke orang-orang Arab, karena kalian dulu meminta Allah memenangkan kalian atas mereka saat dia datang, tapi dia malah dikirim untuk mereka, bukan untuk kalian."

Wa idzaa kholaa ba'dluhum ilaa ba'dlin qooluu a tuhaddi-tsuuna hum bimaa fatahalloohu 'alaikum li yuhaajjuukum bihi 'inda robbikum

Tafsir Ibn Katsir: Kalau kamu mengaku kepada mereka bahwa dia adalah nabi, dan mereka tahu bahwa Allah telah mengambil perjanjian dari kalian untuk mengikutinya, mereka akan tahu bahwa Muhammad adalah nabi yang kita tunggu-tunggu dan yang kedatangannya kita temukan dalam ramalan di kitab kita. Maka, jangan percaya dia dan ingkari dia.

Selasa, 23 Desember 2008

Al Baqoroh ayat 20

AYAT 20: Yakadul barqu yakhthofu abshoorohum. Kullamaa adloo-a lahum masyau fiih. Wa idzaa adhlama ‘alaihim qoomuu. Walaw syaa-allohu ladzahaba bisam’ihim wa abshoorihim. Innallaha ‘alaa kulli syai-in qodiir.

I'rob

  • Kaada = he was about to/dia hampir → Yakaadu = he is about to/dia hampir (fi’l mudloorik = present tense)
  • Baroqo = he shined/dia telah bercahaya → barqun = a lightning/sebuah kilat (ism masdar = gerund) → al-barqu = THE lightning → al-barqu marfu', berarti fa'il (subjek) dari yakaadu, menggantikan kata "dia".
  • Khothifa = he seized by force/dia telah merampas → yakhthofu = he seizes by force/dia merampas (fi’l mudloorik)
  • Bashuro = he saw/dia telah melihat → bashorun = a sight/sebuah penglihatan → abshoorun = bentuk jamaknya/sights → abshoorun manshub jadi abshooron, berarti merupakan maf'ul (objek) dari yakhthofu
  • Hum = they/mereka → abshooron hilang tanwin jadi abshooro, berarti hum adalah mudlof ilaih (pemilik) dari absooron → hum tidak majrur menjadi him karena abshoorohum tidak diawali preposisi.
  • Kullamaa = everytime/setiap kali → dhorf zamaan (keterangan waktu)
  • Dloo-a = he brought to light/dia telah bersinar → a-dloo-a (wazan 4: causative) = he flashed/dia telah jadi bersinar (fi’l ma-dlii = past tense)
  • La = for/bagi
  • Hum = they/mereka
  • Masyaa = he walked/dia telah berjalan → masyauu = they walked/mereka telah berjalan (fi'l ma-dlii)
  • Fii = in/didalam
  • Hu = he/dia → fii adalah preposisi, maka hu majrur jadi hi.
  • Wa = dan
  • Idzaa = when/saat → klausa setelahnya otomatis menjadi bentuk present tense
  • Dholima = it was dark/dia telah gelap → adhlama (wazan 4: causative) = he darkened/dia telah membuat jadi gelap (fi’l ma-dlii) → karena idzaa, maka diterjemahkan : he darkens → ada yang menerjemahkan he (the lightning), he (the dark cloud), dan He (Allah), dan belum ada kesepakatan mengenai itu.
  • 'Alaa = upon/atas
  • Hum = they/mereka
  • Qooma = he stood/dia telah berdiri → qoomuu = they stood/mereka telah berdiri (fi’l ma-dlii) → karena idzaa, berarti diterjemahkan: they stand/mereka berdiri
  • Wa = dan
  • Lau = if/kalau
  • Syaa-a = he willed/dia telah ingin (fi’l ma-dlii)
  • Allah marfu' (berakhiran "u"), berarti fa'il dari syaa-a, menggantikan posisi "he".
  • La = certainly/niscaya
  • Dzahaba = he went/dia telah pergi (fi'l ma-dli)
  • Bi = with/dengan
  • Sami’a = he heard/dia telah mendengar → sam’un = a hearing/sebuah pendengaran (ism masdar/gerund) → asmaa’un = bentuk jamaknya/hearings
  • Hum = they/mereka → bi adalah preposisi, maka sam'un dan hum majrur jadi sam'in dan him → him adalah mudlof ilaih (pemilik) dari sam'in, maka sam'in harus buang tanwin jadi sam'i → bi adalah preposisi, maka abshoorun dan hum majrur jadi abshoorin dan him → him adalah mudlof ilaih dari abshoorin, maka abshoorin harus buang tanwin jadi abshoori.
  • Inna = sesungguhnya → maka Allah adalah ism inna (dan Allah harus manshub jadi Allooha), dan 'alaa kulli syai-in qodiirun adalah khobar inna → di terjemahan, ditambahkan "adalah".
  • 'Alaa = atas/upon
  • Kullun = setiap
  • Syai-un = sesuatu → 'alaa adalah preposisi, maka kullun dan syai-un majrur jadi kullin dan syai-in → syai-in adalah mudlof ilaih (pemilik) dari kullin, kullin harus hilang tanwin jadi kulli.
  • Qodaro = he had power (dia telah menetapkan/menakdirkan) → qodiirun = Most Omnipotent (Maha Penakdir).

Yakaadul barqu yakhthofu abshoorohum, kullamaa a-dloo-a lahum masyauu fiihi, wa idzaa adhlama 'alaihim qoomuu, wa lau syaa-alloohu, la dzahaba bi sam'ihim wa abshoorihim, innallooha 'alaa kulli syai-in qodiirun

Inggris: THE lightning is about to seize their sightings by force, everytime he (the lightning) flashed upon them, they walked in it, and when he (Allah/the lightning/the dark cloud) darkens upon them, they stand, and if Allah willed, He surely went with their hearings and their sightings, verily, Allah is Most Omnipotent upon everything.
Indonesia: Sang kilat hampir merampas penglihatan mereka, setiap kali dia (sang kilat) telah menjadi bersinar kepada mereka, mereka telah berjalan di dalamnya, dan saat dia (Allah/sang kilat/sang awan hitam) membuat jadi gelap kepada mereka, mereka berdiri, dan jika Allah mau, pasti Dia telah pergi dengan pendengaran mereka dan penglihatan mereka, sesungguhnya Allah adalah Maha Penakdir atas segala sesuatu.

Yakaadul barqu yakhthofu abshoorohum

Tafsir Ibnu Katsir: karena kilat memang kuat dan karena lemahnya pemahaman sehingga tidak memungkinkan mereka untuk percaya (beriman).

Kullamaa a-dloo-a lahum masyauu fiihi

Atsar Ali bin Abi Tholhah: dari Ibnu Abbas: waktu orang munafik mendapat bagian dari kejayaan Islam, mereka puas, tapi waktu Islam mengalami malapetaka, mereka siap kembali kafir.

Al Hajj 11: Wa minan naasi man ya'budullooha 'alaa harf (dan di antara manusia barangsiapa menyembah Allah di tepian (tidak penuh keyakinan) fa in a-shoobahu khoirun ithma-anna bihi (maka jika dia mendapat kebaikan, dia tetap dalam keadaan itu) wa in a-shoobat-hu fitnatun inqolaba 'alaa wajhihi (dan jika dia mendapat fitnah (cobaan), dia berbalik ke belakang (kembali kafir)) khosirod dun-yaa wal aakhirooh (dia rugi dunia dan akhirat) dzaalika huwal khusroonul mubiin (demikian itu adalah kerugian yg nyata).

Atsar Muhammad bin Ishaq, Qotadah, Abul 'Aliyah, Al Hasan Al Bashri, Ar Robi' bin Anas, dan As Suddi: dari Ibnu Abbas: mereka tahu Islam jalan yg benar, dan mereka berbicara tentang itu dengan tulus, tapi waktu mereka kembali ingkar, mereka bingung.

Tafsir Ibnu Katsir: di hari pembalasan, Allah memberi cahaya sesuai tingkat keimanannya di Shiroothol Mustaqiim (jembatan di atas neraka). Ada yg cahayanya menerangi sampai beberapa mil, ada yg kurang, ada yg lebih dari itu. Ada cahaya yg kadang nyala kadang mati, sehingga ia kadang jalan kadang berhenti. Orang munafik tidak mendapat cahaya sama sekali.

Al Hadiid 12-13: Yauma tarol mukminiina wal mukminaati ((yaitu pada) hari kamu melihat lelaki beriman dan perempuan beriman) yas'aa nuuruhum baina aidiihim wa bi aimaanihim (cahaya mereka bersinar di depan mereka dan di kanan mereka) busyrookumul yauma jannatun tajrii min tahtihal anhaaru khoolidiina fiiha ((dikatakan pada mereka): Hari ini adalah berita gembira untuk kalian, (yaitu) surga yang mengalir dari bawahnya sungai2, mereka kekal di dalamnya) dzaalika huwal fauzul 'adhiim (demikianlah keuntungan yg besar). Yauma yaquulul munaafiquuna wal munaafiqootu lil ladziina aamanuu ((pada) hari lelaki munafik dan perempuan munafik berkata kepada orang2 yg beriman) indhuruunaa naqtabis min nuurikum (Tunggu kami, kami ingin mengambil dari cahaya kalian) qiilarji'uu waroo-akum fal tamisuu nuuron (dikatakan (kepada mereka): Kembalilah ke belakang kalian dan carilah cahaya (sendiri)) fa dluriba bainahum bi suurin lahuu baab (lalu diantara mereka dipasang dinding (pemisah) yang berpintu) baathinuhu fiihir rohmatu wa dhoohiruhu min qibalihil adzaab (didalamnya ada rahmat dan diluarnya ada azab).

At Tahriim 8: Yaa ayyuhal ladziina aamanuu tuubuu ilalloohi taubatan na-shuuhan (wahai orang2 yg percaya (beriman), bertobatlah kepada Allah dengan tobat yg semurni-murninya) 'asaa robbukum an yukaffiro 'an kum sayyi-aatikum (semoga Robb-kalian menutupi kesalahan2 kalian) wa yudkhilakum jannaatin tajrii min tahtihal anhaaru (dan memasukkan kalian ke surga yg mengalir di dalamnya sungai2) yauma laa yukhzillaahun nabiyya walladziina aamanuu ma'ahu (di hari Allah tidak menghinakan nabi dan orang2 yg percaya yang bersama dia) nuuruhum yas'aa baina aidiihim wa bi aimaanihim (cahaya mereka memancar di depan mereka dan di kanan mereka) yaquuluuna robbanaa atmim lanaa nuuronaa waghfir lanaa (mereka berkata: Robb kami, sempurnakan bagi kami cahaya kami dan ampuni kami) innaka 'alaa kulli syai-in qodiir (sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas setiap sesuatu)

Atsar Ibnu Abi Hatim: dari Ibnu Mas'ud: nuuruhum yas'aa baina aidiihim (cahaya memancar di depan mereka) artinya mereka akan melewati Shirotol Mustaqim berdasarkan amalnya. Cahayanya bisa sebesar gunung, bisa sebesar pohon kurma. Orang yg cahayanya paling sedikit adalah yg telunjuknya kadang2 bercahaya, kadang2 padam.

Atsar Ibnu Abi Hatim: dari Ibnu Abbas: setiap orang yg meng-esa-kan Allah (yang benar2 menerapkan iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin) akan mendapat cahaya di hari kebangkitan, dan cahaya orang munafik akan dipadamkan. Saat orang beriman melihat cahaya orang munafik padam, mereka cemas dan berdoa robbanaa atmim lanaa nuuronaa (Robb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami).

Atsar Adh Dhohhak: di hari kebangkitan, setiap orang yg beriman diberi cahaya. Saat sampai Shiroothol Mustaqiim, cahaya orang munafik akan padam, dan orang2 beriman akan cemas dan berdoa seperti di atas.

Jenis-jenis manusia

Tafsir Ibnu Katsir: manusia ada 3 golongan, percaya (beriman), ingkar (kafir), dan munafik (pura2 percaya, padahal hatinya ingkar). Orang munafik ada 2 jenis, yaitu munafik murni (perumpamaan api) dan separo munafik (cahaya keimanannya kadang menyala, kadang padam).

Al Hajj 3: Wa minan naasi man yujaadilu fillaahi bi ghoiri 'ilmin wa yattabi'u kulla syaithoonin mariid (dan di antara manusia ada yg membantah tentang Allah tanpa ilmu (kafir murni) dan hanya mengikuti para setan yg sangat jahat (kafir ikut-ikut)).

Al Hajj 8: Wa minan naasi man yujaadilu fillaahi bi ghoiri 'ilmin wa laa hudan wa laa kitaabin muniir (dan di antara manusia ada yg membantah tentang Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk, dan tanpa kitab yg menerangkan).

An Nuur 39: Wal ladziina kafaruu a'maluhum ka saroobin bi qii'atin yahsabuhudh dhom-aanu maa-an hattaa idzaa jaa-ahu lam yajid-hu syai-an (dan orang2 yg kafir, amal2 mereka seperti fatamorgana di padang pasir, yg dikira air oleh orang2 yg haus, sehingga kalau didatangi mereka tidak mendapatkan sesuatu)

An Nuur 40: Au ka dhulumaatin fii bahrin lujjiyyin yaghsyaahu maujun min fauqihi maujun min fauqihi sahaabun (atau (keadaan orang2 kafir) seperti kegelapan didalam laut yg dalam, yg diliputi ombak di atas ombak, di atasnya lagi ada awan gelap) dhulumaatun ba'dluhaa fauqo ba'dlin (itulah gelap gulita yg berlapis-lapis) idz akhroja yadahu lam yakad yarooha (kalau dia mengeluarkan tangannya hampir dia tidak bisa melihatnya) wa man lam yaj'alillaahu lahu nuuron famaa lahuu min nuur (dan barangsiapa tidak diberi cahaya oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya)

Ayat 39 tentang orang kafir murni, ayat 40 tentang kafir ikut2.

Al Waaqi’ah 7-10: Wa kuntum azwaajan tsalaatsah (Dan kalian menjadi 3 golongan) fa ash-haabul maimanati maa ash-haabul maimanah (maka golongan (yg menerima buku catatan amal dengan tangan) kanan, betapa (mulianya) golongan kanan) wa ash-haabul masy-amati maa ash-haabul masy-amah (dan golongan kiri, betapa (sengsaranya) golongan kiri) was saabiquunas saabiquun (dan orang2 yg paling dahulu (beriman) mereka paling dahulu (masuk surga))

Jadi ada 3 golongan nanti di hari kiamat: Maimanah (golongan kanan), Masy-amah (golongan kiri), dan Assaabiquun (orang2 yg paling dahulu (beriman))

Al Waqiah 88-94: Fa ammaa in kaana minal muqorrobiin (maka adapun jika dia (orang mati) adalah tergolong orang2 yg didekatkan) fa rouhun wa roihaanun wa jannatu na'iim (maka (dia mendapat) ketenteraman, kepuasan dan surga (yg penuh) kenikmatan) wa ammaa in kaana min ash-haabil yamiin (dan adapun jika dia adalah tergolong golongan kanan) fa salaamun laka min ash-haabil yamiin (maka bagimu adalah keselamatan (karena kamu) dari golongan kanan)) wa ammaa in kaana minal mukadzdzibiinadl dloolliin (dan adapun jika dia tergolong orang2 yg mendustakan (dan) orang2 sesat) fa nuzulun min hamiim (maka (dia mendapat) hidangan dari air mendidih) wa tashliyatu jahiim (dan (dia) dimasukkan neraka).

Menurut ayat-ayat ini ada 3 golongan: Muqorrobiin (orang yg didekatkan kepada Allah), Ashaabul Yamiin (golongan kanan), dan Mukadzdzibiina (orang2 yg mendustakan)

Al Insaan 3: Innaa hadainaahus sabiila immaa syaakiron wa immaa kafuuron (sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan lurus, ada yg bersyukur dan ada pula yg kafir)

Tafsir Ibnu Katsir: Orang beriman ada 2 (muqorrobiin dan abror (orang soleh)), orang kafir ada 2 (sesungguhnya dan ikut2), orang munafik ada 2 (murni munafik dan sedikit munafik).

Hadits Bukhori & Muslim: dari Abdullah bin Amr: dari Rosululloh: Tsalaatsun man kunna fiihi kaana munaafiqon khoolishon (Tiga hal, barangsiapa ketiganya ada di dalamnya, jadilah ia munafik murni) wa man kaanat fiihi waahidatun minhunna kaanat fiihi khoshlatun minan nafaaqi hattaa yada'ahaa (dan barangsiapa salah satu ada di dalamnya, maka pada dirinya ada satu sifat kemunafikan sehingga ia meninggalkannya) man idzaa haddatsa kadzab (barangsiapa kalau berkata berdusta) wa idzaa wa’ada akhlafa (dan kalau berjanji (dia) khilaf) wa idzaktumina khoona (dan kalau dipercaya berkhianat)

Tafsir Ibnu Katsir: Setiap orang bisa punya sebagian iman, sebagian munafik baik perbuatan atau dalam hati saja.

Hadits jayyid hasan Imam Ahmad: dari Abu Sa'id: dari Rosululloh: Alquluubu arba'ah (hati itu ada 4 (macam)) qulbun ajrodu fiihi mitslus sirooji yazharu (hati yg bersih yg di dalamnya ada semacam lampu yg bersinar) wa qolbun aghlafu marbuuthun 'alaa ghilaafihi (hati yg tertutup dengan tali terikat disekitar tutupannya) wa qolbun mankuusun (hati yg berbalik) wa qolbun mushfahun (dan hati yg berlapis) fa ammal qolbul ajrodu fa qolbul mukmini (maka adapun hati yg bersih maka (adalah) hati orang mukmin) fa siroojuhu fiihi nuuruhu (dan lampu yg di dalamnya adalah cahayanya) wa amml qolbul aghlafu fa qolbul kaafiri (dan hati yg tertutup adalah hati orang kafir) wa ammal qolbul mankuusu fa qolbul munaafiqil khoolishi 'arofa tsumma ankaro (dan hati yg berbalik adalah hati orang munafik (murni), ia tahu Islam lalu ingkar) wa ammal qolbul mushfahu fa qolbun fiihi iimaanun wa nifaaqun (dan hati yg berlapis adalah hati yg di dalamnya ada iman dan kemunafikan) wa matsalul iimaani fiihi kamatsalil baqlati yamudduhal maa-uth thoyyibu (dan perumpamaan iman didalamnya adalah seperti sayuran disiram air bersih) wa matsalun nifaaqi fiihi kamatsalil qurhati yamudduhal qoihu waddamu (dan perumpamaan kemunafikan didalamnya adalah seperti luka yg dilumuri nanah & darah) fa ayyul maaddataini gholabat 'alal ukhroo gholabat 'alaih (dan mana di antara keduanya (iman vs kemunafikan) yg mengalahkan yg lainnya, maka dialah yg mendominasi).

Wa lau syaa-alloohu, la dzahaba bi sam’ihim wa abshoorihim

Atsar Muhammad bin Ishaq: dari Ibnu Abbas: pendengaran dan penglihatan mereka berhak diambil Allah karena mereka meninggalkan kebenaran setelah mengetahuinya.

Innallooha ‘alaa kulli syai-in qodiirun

Atsar Ibnu Abbas: Allah berkuasa menghukum dan mengampuni hambaNya kalau Dia berkehendak

Tafsir Ibnu Jarir dan Qurthubi: "au" (atau) di ayat 18 dan 19 maksudnya "dan" (yaitu dua-duanya perumpamaan itu sama saja, orang munafik bisa digambarkan di ayat 18 dan 19).

Tapi Tafsir Ibnu Katsir: "au" (atau) disini maksudnya "ada dua jenis" (perumpamaan ayat 18 adalah munafik murni, perumpamaan ayat 19 adalah munafik yg masih ada imannya).

Al Baqoroh ayat 19

AYAT 19: Au ka shoyyibim minas samaa-i fiihi dhulumaatuw waro’duw wabarq. Yaj’aluuna ashoobi’ahum fii aadzaanihim minash showaa’iqi hadzarol mauut. Wallahu muhiithum bil kaafiriin.

I'rob


  • Au = or/atau
  • Ka = like/seperti
  • Shooba = he rained/dia telah hujan → shoyyibun/shoubun = a dark cloud/sebuah awan gelap → ka adalah preposisi, maka shoyyibun majrur jadi shoyyibin
  • Min = from/dari
  • Samaa-un = a sky/sebuah langit → samaawaatu/samawaatu = bentuk jamaknya/skies → as-samaa-u = THE sky → as-samaa-u diawali huruf vokal, maka min jadi mina → mina adalah preposisi, maka as-samaa-u majrur jadi as-samaa-i.
  • Fii = in/di dalam
  • Hu = him/dia → fii adalah preposisi, maka hu majrur jadi hi
  • Dhulmatu/dhulumatu = a darkness/kegelapan → dhulumaatun = bentuk jamaknya/darknesses
  • Wa = dan
  • Ro’ada = he thundered/dia telah menggelegar → ro'dun = a thunder/sebuah petir (ism masdar = gerund)
  • Baroqo = he shined/dia telah bercahaya → barqun = a lightning/sebuah kilat (ism masdar) → fiihi adalah mubtadak dan dhulumaatun wa ro'dun wa barqun adalah khobar, maka di terjemahannya ditambahkan kata "adalah".
  • Ja'ala = he made/dia telah menjadikan → yaj'aluuna = they make/mereka menjadikan (fi'l mudloorik = present tense)
  • Shoba'a = he pointed/dia telah menunjuk → ashba'un/ushbu'un/ishba'u = a finger/sebuah jari → ashoobi'u = bentuk jamaknya/fingers → a-shoobi’u adalah maf'ul (objek) dari yaj'aluuna, maka a-shoobi’u manshub jadi a-shoobi'a.
  • Hum = they/mereka
  • Fii = in/didalam
  • Adzina = he listened/dia telah mendengar → udzunun = an ear/sebuah telinga → aadzaanun = bentuk jamaknya/ears → fii adalah preposisi, maka aadzaanun majrur jadi aadzaanin → hum yang kedua adalah mudlof ilaih dari aadzaanin, maka aadzaanin harus menghilangkan tanwin jadi aadzaani, dan hum majrur jadi him.
  • Min = because of/karena → karena kata/klausa setelahnya adalah penyebab dari klausa sebelumnya, dan kata/klausa setelahnya berupa kata benda
  • Sho'iqo = he was loud /dia telah keras → ash-shoo'iqoh = THE thunderclap/sang halilintar → ash-showaa’iqu = bentuk jamaknya (thunderclaps)
  • Hadziro = he bewared/dia telah waspada → hadzaro = a wariness/kewaspadaan (ism masdar)
  • Mautun = A death/sebuah kematian → al-mautu = THE death → al-mautu adalah mudlof ilaih (pemilik) dari hadzaron, maka hadzaron buang tanwin jadi hadzaro dan al-mautu majrur jadi al-mauti.
  • Wa = dan
  • Allah marfu' (berakhiran "u") dan setelahnya adalah kata benda juga yang marfu', berarti Allah adalah mubtadak dan muhii-thun adalah khobar, maka dalam terjemahannya ditambahkan kata "adalah"
  • Haa-tho = he guarded/dia telah menjaga → ihtaa-tho (wazan 4: causative) = he encompassed/dia telah mengawasi → muhii-thun = Most Encompasser/Maha Mengawasi(ism fa’il)
  • Bi = with/dengan
  • Kafaro = he disbelieved/dia telah tidak percaya → kaafirun = a disbeliever/seorang yang tidak percaya (ism fa'il) → kaafiruuna = bentuk jamaknya/disbelievers → al-kaafiruuna = THE disbelievers → bi adalah preposisi, maka al-kaafiruuna majrur jadi al-kaafiriina
Au ka shoyyibin minas samaa-i, fiihi dhulumaatun wa ro'dun wa barqun, yaj'aluuna a-shoobi'ahum fii aadzaanihim minash showaa'iqi hadzarol mauti, walloohu muhii-thun bil kaafiriina

Inggris: Or like a dark cloud from THE sky, in it are darknesses and thunder and lightning, they make their fingers in their ears because of THE thunderclaps, a wariness of THE death, and Allah is Most Encompasser with THE disbelievers.

Indonesia: Atau seperti sebuah awan hitam dari sang langit, di dalamnya adalah kegelapan-kegelapan dan petir dan kilat, mereka menjadikan jari-jari mereka di dalam telinga-telinga mereka karena sang halilintar, suatu kewaspadaan terhadap sang kematian, dan Allah adalah Maha Mengawasi semua orang yang tidak percaya.

Au ka shoyyibin minas samaa-i

Tafsir Ibn Katsir: tentang perumpamaan orang munafik, yang kadang2 percaya dengan Islam, kadang2 meragukannya. Saat hati mereka ragu2, bingung, dan ingkar, hati mereka seperti shoyyib.

Atsar Ibn Mas'ud, Ibn 'Abbas, Abul 'Aliyah, Mujahid, Sa'id bin Jubair, 'Atho', Al Hasan Al Bashri, Qotadah, 'Athiyah Al Afwi, 'Atho' Al Khurosani, As Suddi, dan Ar Robi' bin Anas: shoyyib artinya hujan.

Atsar Ad Dhohhak: shoyyib artinya awan.

Fiihi dhulumaatun

Tafsir Ibnu Katsir: Dhulumaatu (kegelapan) artinya keraguan, ketidakpercayaan, dan kemunafikan terhadap Islam.

Wa ro'dun

Tafsir Ibnu Katsir: Ro'dun (petir) mengejutkan hati mereka dengan rasa takut, karena orang munafik itu hatinya selalu takut dan khawatir.

Al Munaafiqun 4: Yahsabuuna kulla shoihatin 'alaihim (mereka mengira setiap teriakan yg keras ditujukan kepada mereka).

At Taubah 56-57: Wa yahlifuuna billaahi (dan mereka (orang2 munafik) bersumpah dengan (nama) Allah) innahum la minkum (sesungguhnya mereka adalah golongan kalian) wa maa hum minkum (padahal mereka bukan golongan kalian) wa laakinna hum qoumun yafroquun (melainkan mereka orang2 yg sangat takut (kepada kalian)). Lau yajiduuna malja-an au maghoorootin au muddakholan (kalau mereka mendapat tempat perlindungan atau gua2 atau lubang2) lawallau ilaihi wa hum yajmahuun (niscaya mereka berpaling kepadanya dan mereka lari secepat-cepatnya (kesana)).

Wa barqun

Tafsir Ibnu Katsir: Barqun (kilat) artinya cahaya keimanan yg kadang2 ada di hati orang munafik.

Yaj'aluuna a-shoobi'ahum fii aadzaanihim minash showaa'iqi hadzarol maut, wallohu muhii-thun bil kaafiriina

Tafsir Ibnu Katsir: mereka menyumbat telinga mereka dengan jari2 mereka, maksudnya kehati-hatian mereka tidak membawa manfaat bagi mereka karena Allah Maha Meliputi/Mengawasi mereka melalui kekuasaan dan keputusanNya.

Al Buruuj 17-20: Hal ataaka hadiitsul junuud (sudahkah datang padamu berita tentang bala tentara (penentang)?) Fir'auna wa tsamuud ((yaitu) Fir’aun & Tsamud). Balil ladziina kafaruu fii takdziib (memang orang2 yg ingkar selalu berdusta). Walloohu min waroo-ihim muhiith (padahal Allah mengawasi dari belakang mereka).

Senin, 22 Desember 2008

Al Baqoroh ayat 17-18

AYAT 17: Ma-tsaluhum kama-tsalil ladzis tauqoda naaron, falammaa adloo-at maa haulahuu dzahaballahu binuurihim watarokahum fii dhulumaatin laa yubshiruun.

I'rob

  • Matsalun = a parable/sebuah perumpamaan
  • Hum = they/mereka --> hum adalah mudlof ilaih dari matsalun, sehingga matsalun hilang tanwin jadi matsalu
  • Ka = like/seperti --> ka adalah preposisi, maka matsalun harus majrur jadi matsalin
  • Alladzii = one who/yang --> berarti klausa setelahnya ingin dibendakan, dan matsalin hilang tanwin jadi matsali --> berarti alladziis tauqoda naaron adalah mudlof ilaih dari matsali.
  • Waqoda = he kindled/dia telah menyala --> istauqoda (wazan 10: meminta agar 'menyala' dapat terjadi) = dia telah menyalakan/he kindled (fi’l ma-dlii = past tense)
  • Naarun = a fire/suatu api --> naarun manshub jadi naaron, berarti naaron adalah maf'ul dari istauqoda --> matsaluhum adalah mubtadak, kamatsalil ladzis tauqoda naaron adalah khobarnya, sehingga diberikan "adalah" dalam terjemahannya.
  • Fa = then/lalu
  • Lamma = when/saat --> hanya untuk past tense
  • Dloo-a = he brought to light/dia telah membawa cahaya --> a-dloo-a (wazan 4: causative) = he illuminated/dia telah menerangi --> a-dloo-at = she illuminated (fi'l ma-dlii) --> she di sini adalah naarun.
  • Maa = what/apa yang (ism maushul = relative pronoun)
  • Haula = surrounding/di sekitaran (biasanya berupa lingkaran)
  • Hu = him/dia
  • Dzahaba = he went out/dia telah pergi (fi’l ma-dlii)
  • Allah marfu' (berakhiran "u"), berarti Allah adalah fa'il (subjek) dari dzahaba.
  • Bi = with/dengan
  • Nuurun = a light/sebuah cahaya --> bi adalah preposisi, maka nuurun majrur jadi nuurin.
  • Hum = they/mereka --> hum majrur jadi him, nuurin hilang tanwin jadi nuuri, berarti hum adalah mudlof ilaih dari nuurin --> bi nuurihim adalah pelengkap dari dzahaba
  • Wa = dan
  • Taroka = he left/dia telah meninggalkan (fi’l ma-dlii)
  • Hum = they/mereka
  • Fii = in/di dalam
  • Dholima = he is dark/dia telah gelap --> dhulmatu/dhulumatu = a darkness/sebuah kegelapan --> dhulumaatun = bentuk jamaknya, darknesses --> fii adalah preposisi, maka dhulumaatun majrur jadi dhulumaatin.
  • Laa --> laa nafiyah (negator)
  • Bashuro = he saw/dia melihat --> abshoro (wazan 4: causative) = he could see/dia bisa melihat --> yubshiruuna = they could see/mereka bisa melihat (fi’l mudloorik = present tense)
Matsaluhum kamatsalil ladzis tauqoda naaron, fa lammaa a-dloo-at maa haulahu, dzahaballoohu bi nuurihim wa tarokahum fii dhulumaatin, laa yubshiruuna

Inggris: Their parable IS like A parable of one who kindled a fire, then when she (the fire) illuminate what surrounding him (the one who kindled it), Allah went with their light and He left them in darknesses, they couldn't see.
Indonesia: Perumpamaan mereka adalah seperti sebuah perumpamaannya orang yang telah menyalakan api, lalu saat dia (api) telah menerangi apa yang mengelilinginya (yang menyalakan api), Allah telah pergi dengan cahaya mereka dan Dia meninggalkan mereka dalam kegelapan, mereka tidak bisa melihat.

Kenapa Allah membuat permisalan?

Al ‘Ankabuut 43: Wa tilkal amtsaalu nadlribuhaa linnaas (dan perumpamaan2 ini Kami buat untuk manusia) wa maa ya'qiluhaa illal 'aalimuun (dan tiada yg memahaminya kecuali orang2 yg berilmu)

Arti permisalan di ayat ini

Tafsir Ibnu Katsir: Orang munafik itu membeli kesesatan dengan menjual petunjuk, lalu menjadi buta, bagaikan orang yg menyalakan api. Waktu api menyinari sekitarnya, dia diuntungkan dan merasa aman, tiba2 api itu padam sehingga mereka berada dalam kegelapan, tidak bisa melihat & tidak mendapat petunjuk atau penuntun. Orang ini juga tidak bisa mendengar dan berkata-kata dan jika ada api, dia juga tidak bisa melihat.

Dzahaballoohu binuurihim

Tafsir Ibnu Katsir: Allah menghilangkan apa yg menguntungkan untuk mereka, yaitu cahaya, lalu meninggalkan mereka dengan apa yg membahayakan mereka, yaitu kegelapan dan kabut.

Wa tarokahum fii dhulumaatin

Tafsir Ibnu Katsir: yaitu membiarkan mereka ragu2, tidak percaya, dan munafik.

Laa yubshiruuna

Tafsir Ibnu Katsir: yaitu tidak bisa menemukan jalan dan arah yg benar.


AYAT 18: Shummum bukmun ‘umyun fahum laa yarji’uun.

I'rob
  • Shummun = deaf/tuli
  • Bukmun = dumb/bisu
  • 'Umyun = blind/buta
  • Fa = then/lalu
  • Hum = they/mereka --> berfungsi sebagai 'athof (penguat).
  • Laa --> laa nafiyah (negator)
  • Roja'a = he returned/dia telah kembali --> yarji'uuna = they returned/mereka kembali (fi’l mudloorik = present tense)
Shummun bukmun 'umyun fa hum laa yarji'uuna

Inggris: Deaf, dumb, blind, then they don't return
Indonesia: Tuli, bisu, buta, lalu mereka tidak kembali

Shummun bukmun 'umyun

Tafsir Ibnu Katsir: Orang munafik itu tuli (tidak bisa mendengar petunjuk), bisu (tidak bisa mengatakan kata-kata yg menguntungkan mereka), dan buta (dalam kegelapan dan kesesatan)

Jadi yg tersesat hatinya atau matanya?

Al Hajj 46: Fa innahaa laa ta'mal abshooru wa lakin ta'mal quluubul latii fish shuduur (Maka sesungguhnya bukan mata yang buta tapi hati yg di dalam dada yg buta)

Al Baqoroh ayat 16

AYAT 16: Ulaa-ikal ladziinasy tarowudl dlolaalata bil hudaa, famaa robihat tijaarotuhum wamaa kaanuu muhtadiin

I'rob

  • Ulaa-ika = those (ism isyaroh = kata tunjuk)
  • Alladziina = those who/yang (ism maushul = relative pronoun) → berarti kalimat setelahnya ingin dikatabendakan (yaitu isytarowudl dlolaalata bil hudaa) → berarti ulaa-ika adalah mubtadak, alladziina isytarowudl dlolaalata bil hudaa adalah khobar, sehingga dalam terjemahannya ditambahkan kata "adalah".
  • Syaroo = he bought/bartered/prefered/dia telah membeli → isytaroo (wazan 8: saling) = he bought each other → isytarowu = they bought each other/mereka telah saling membeli (fi’l ma-dlii = past tense)
  • Dlolla = he went ashtray/dia telah tersesat → Dlolaalatan = sebuah kesesatan/AN error (ism mashdar = gerund) → adl-dlolaalata = THE error
  • Bi = with/dengan
  • Hadaa = he guided/dia telah menunjukkan → hudan = a guidance/sebuah petunjuk (ism mashdar) → al hudaa = THE guidance
  • Fa = then/maka → karena ada hubungan sebab akibat antara sebelumnya dan sesudahnya
  • Maa → maa nafiyah (negator) → maa sebagai negator hanya dipakai untuk fi’l ma-dlii.
  • Robiha = he profited/dia telah untung → robihat = she profited (fi’l ma-dlii)
  • Tajaro = he commerce/dia telah berdagang → tijaarotun = A commerce/sebuah perdagangan (ism mashdar), bergender perempuan, karena berakhiran tak marbuthoh → robihat adalah fi'l ma-dlii untuk perempuan dan tijaarotun juga perempuan, maka tak marbuthoh di tijaarotun harus berubah jadi tak taknis
  • Hum = they/mereka → hum adalah mudlof ilaih (pemilik) dari tijaarotun, maka tijaarotun harus menghilangkan tanwin jadi tijaarotu, hum harusnya majrur jadi him, tapi ternyata tetap hum, berarti tijaarotu dan hum adalah subjek dari robihat → tijaarotuhum menempati posisi "she" di robihat → maa robihat tijaarotuhum = their commerce didn't profit.
  • Wa = dan
  • Maa → maa nafiyah (negator)
  • Kaanuu → kaana yang mengandung ism kaana "mereka" → muhtadiina adalah khobar kaana, klausa setelahnya jadi past tense, dan di terjemahannya ditambahkan "were".
  • Hadaa = he guided/dia telah menunjukkan → ihtadaa (wazan 8: saling/pasif) = he gained guidance/dia memperoleh petunjuk → muhtadu = A guidance gainer/seorang pemeroleh petunjuk (ism fa'il = pelaku) → muhtaduuna = guidance gainers (bentuk jamaknya) → karena muhtaduuna adalah khobar kaana, maka harus manshub jadi muhtadiina

Ulaa-ikal ladziinasy tarowudl dlolaalata bil hudaa, fa maa robihat tijaarotuhum wa maa kaanuu muhtadiin

Inggris: Those are those who barter/prefer THE error with THE guidance, then their commerce didn't profit and they were not guidance gainers.
Indonesia: Mereka adalah yang menjual kesesatan dengan petunjuk, lalu perdagangan mereka tidak untung dan mereka bukan para pemeroleh petunjuk.

Uulaa-ikal ladziinasy tarowudl dlolaalata bil hudaa

Atsar As Suddi (dari Ibnu Mas’ud) dan Qotadah: maksudnya, memilih kesesatan dan meninggalkan petunjuk.

Atsar Mujahid: maksudnya, mereka (awalnya) percaya (beriman), lalu ingkar (kafir).

Al Fushshilat 17: Wa ammaa tsamuudu fa hadainahum fastahabbul 'amaa 'alal hudaa (Dan adapun (kaum) Tsamud, Kami telah menunjukkan mereka (jalan yg benar), tapi mereka lebih suka kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk) fa akhodzat hum shoo'iqotul 'adzaabil huunii bimaa kaanuu yaksibuun (maka petir menyambar mereka sebagai adzab yg menghinakan karena apa yg telah mereka kerjakan)

Al Munaafiqun 3: Dzaalika bi annahum aamanuu tsumma kafaruu fa thubi'a 'alaa quluubihim fa hum laa yafqohuun (Itu karena sesungguhnya mereka telah percaya (beriman) lalu mereka ingkar (kafir), maka hati mereka dikunci sehingga mereka tidak bisa mengerti)

Fa maa robihat tijaarotuhum wa maa kaanuu muhtadiin

Tafsir Ibnu Katsir: perdagangan (menjual keimanan, membeli kesesatan) mereka tidak sukses (di dunia dan akhirat) dan mereka tidak mendapat petunjuk (ke jalan lurus).

Atsar Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim: dari Qotadah: Demi Allah aku telah menyaksikan mereka keluar dari petunjuk demi kesesatan, keluar dari jamaah (komunitas orang beriman) menuju perpecahan (sekte, partai, jamaah eksklusif), meninggalkan rasa aman demi rasa takut, meninggalkan sunnah (tradisi Rosululloh) demi bid’ah (inovasi dalam ibadah).

Jumat, 19 Desember 2008

Al Baqoroh ayat 15

AYAT 15: Allahu yastahziuu bihim wa yamudduhum fii thughyaanihim ya’mahuun.

I'rob

  • Allah marfu' (berakhiran "u") maka Allah adalah subjek dari yahtahzi-u → ayat ini adalah jumlah ismiyyah (subjek lalu predikat).
  • Haza-a = he mocked/dia telah mengolok-olok → istahza-a (wazan 10: meminta/berpikir bahwa mocking harus terjadi) = he mocked/dia telah mengolok/olok → yahtahzi-u = he mocks/dia mengolok-olok (fi’l mudloriik = present tense)
  • Bi = to/kepada
  • Hum = they/mereka → bi adalah preposisi, maka hum harus majrur jadi him → bihim adalah maf'ul (objek) dari yahtahzi-u.
  • Wa = dan
  • Madda = he increased/dia telah meningkatkan → yamuddu = he increases/dia meningkatkan (fi’l mudloriik) → hum adalah maf'ul dari yamuddu.
  • Fii = in/di dalam
  • Thoghiya = he transgressed/dia telah melampaui batas → thughyaanun = transgression/pelampauan batas (ism masdar = gerund) → fii adalah preposisi, maka thughyaanun harus majrur jadi thughyaanin → hum adalah mudlof ilaih dari thughyaanin, maka thughyaanin harus menghilangkan tanwin jadi thughyaani dan hum majrur jadi him
  • 'Amiha = he wandered blindly/dia mengembara tak tahu arah → ya’mahuuna = they wander blindly/mereka mengembara tak tahu arah (fi’l mudloorik) → fii thughyaanihim adalah maf'ul kedua (setelah hum)dari yamudduhum (sehingga artinya "He increased them in their transgression") sekaligus maf'ul dari ya’mahuuna (sehingga juga berarti "mereka mengembara tak tahu arah dalam pelampauan batas mereka")
Allahu yastahziuu bihim wa yamudduhum fii thughyaanihim ya’mahuuna

Inggris: Allah mocks at them and He increases them in their transgression, in their transgression they wander blindly.
Indonesia: Allah mengolok-olok atas mereka dan Dia meningkatkan mereka dalam pelampauan batas mereka; dalam pelampauan batas mereka, mereka mengembara tak tahu arah.

Allohu yastahziuu bihim

Tafsir Ibnu Katsir: Alloh membalas orang munafik dan menghukum karena perbuatan mereka (mengolok dan bermuka dua).

Tafsir Ibnu Jarir: Allah akan membalasnya di hari kebangkitan, seperti di Al Hadiid 13 dan Ali Imroon 178. Ini adalah cara Allah mengolok-olok orang munafik dan orang syirik (yg mempartnerkan Allah).

Al Hadiid 13: Yauma yaquulul munaafiquuna wal munaafiqootu lil ladziina aamanu (pada hari (saat) lelaki munafik dan perempuan munafik berkata kepada orang2 yg percaya (beriman)) indhuruunaa naqtabis min nuurikum (Tunggu kami, biarkan kami mendapat sesuatu dari cahayamu) qiilar ji'uu wa roo-akum fal tamisuu nuuron (dikatakan (kepada mereka): kembalilah kalian dan kalian carilah cahaya (sendiri)) fa dluriba bainahum bi suurin lahu baabun baathinuhum (maka diadakan diantara mereka dinding yg mempunyai pintu) Fir rohmatu wa dhoohiruhu min qibalihil 'adzaab (di dalamnya adalah rahmat dan di luarnya dari situ adalah siksa)

Ali Imroon 178: Wa laa yahsabannal ladziina kafaruu (dan janganlah orang2 yg ingkar (kafir) berpikir) annamaa numlii lahum khoirun li anfusihim (bahwa penundaan (hukuman) atas mereka adalah baik bagi mereka) innamaa numlii lahum li yazdaaduu itsman (sesungguhnya Kami menunda atas mereka hanyalah agar mereka bertambah dosanya) wa lahum 'adzaabun muhiin (dan bagi mereka adalah adzab yg menghinakan).

Ali Imron 54: Wa makaruu wa makarolloh (dan mereka menipu, maka Allah menipu (mereka)) walloohu khoirul maakirin (dan sesungguhnya Allah sebaik-baik (pembalas) tipudaya)

An Nisaak 142: Innal munaafiqiina yu-khoodi'uunalloohi (sesungguhnya orang2 munafik selalu menipu Allah) wa huwa khoodi'uhum (dan Dia (akan membalas) menipu mereka)

At Taubah 79: Alladziina yalmizuunal muththowwi'iina minal mukminiina fish shodaqooti (orang2 yang mencela orang-orang yang memberi dengan ikhlas dari (golongan) orang beriman dalam sedekah) wal ladziina laa yajiduuna illaa juhdahum (dan orang2 yg tidak mendapat (sesuatu untuk disedekahkan) selain kesanggupan mereka) fa yaskhoruuna minhum (lalu mereka menghina mereka) sakhirolloohu minhum (Allah (akan membalas) menghina mereka) wa lahum 'adzaabun aliim (dan bagi mereka adalah adzab yg pedih)

At Taubah 67: Nasullooha fa nasiyahum (mereka lupa pada Allah, maka Allah akan melupakan mereka)

An Nahl 126: Wa in 'aaqobtum fa 'aaqibuu bi mitsli maa 'uuqibtum bihi (dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan seimbang apa yg dia timpakan kepadamu) wa la-in shobartum la huwa khoirun lish shoobiriin (dan kalau kamu bersabar, niscaya itu lebih baik bagi orang2 yg bersabar)

Olok2 Allah berbeda dengan olok2 orang munafik

Asy Syuuro 40: Wa jazaa-uu sayyi-atin sayyi-atun mitsluhaa (dan balasan dari suatu serangan adalah serangan yang serupa dengannya) fa man 'afaa wa ashlaha (maka barangsiapa memaafkan dan berdamai) fa ajruhuu 'alallooh (maka pahalanya adalah atas Allah).

Al Baqoroh 194: Fa mani'tadaa 'alaikum fa'taduu 'alaihi bi mitsli ma'tadaa 'alaikum (maka barangsiapa menyerang atas kalian maka seranglah atas mereka seperti apa yg dia serang atas kalian)

Dua-duanya sama-sama "serangan", tapi serangan pertama adalah ketidakadilan, dan serangan balasannya adalah serangan keadilan. Begitu pula dengan orang munafik "mengolok2" dan Allah (membalas) "mengolok2".

Wa yamudduhum

Tafsir Ibnu Katsir: yaitu Allah memberi mereka penundaan hukuman.

Tafsir Ibnu Jarir: Allah memberi mereka peningkatan, artinya Allah tidak membalas mereka dulu, dan membiarkan mereka menyimpang dan durhaka.

Atsar Mujahid: Allah membuat akhlak buruk mereka itu semakin parah.

Al An’am 44-45: Fa lammaa nasuu maa dzukkiruu bihi (maka setelah mereka melupakan apa yang telah diperingatkan kepada mereka dengannya) fatahnaa 'alaihim abwaaba kulli syai-in (Kami bukakan atas mereka pintu-pintu segala sesuatu (kesenangan)) hattaa idzaa farihuu bimaa uutuu (sehingga saat mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka) akhodznaahum baghtatan (Kami siksa mereka dengan tiba-tiba) fa idzaa hum mublisuun (maka saat itu mereka adalah orang-orang yg putus asa). Fa quthi'a daabirul qoumil ladziina dholamuu (maka semua kaum orang2 yg dholim dipotong (dimusnahkan)) walhamdulillaahi robbil 'aalamiin (dan segala puji bagi Allah Robb seluruh alam).

Al Mukminuun 55-56: A yahsabuuna annamaa numidduhum bihii min maalin wa baniin (Apakah mereka mengira bahwa Kami memanjangkan (menganugerahi) kepada mereka dari harta dan anak2 itu) nusaari'u lahum fil khoiroot ((berarti bahwa) Kami menyebarkan kepada mereka dalam kebaikan?) bal laa yasy'uruun (Bahkan mereka tidak sadar)

Al An’am 110: Wa nuqollibu af-idatahum wa abshoorohum (dan Kami memalingkan hati mereka dan penglihatan mereka) kamaa lam yukminuu bihi awwala marrotin (seperti orang2 yg belum pernah percaya kepadanya pada awalnya) wa nadzaruhum fii thughyaanihim ya'mahuun (dan Kami biarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka)

Fii Thughyaanihim

Tafsir Ibnu Katsir: thughyaanu artinya melampaui batas, seperti surat Al Haqqooh 11.

Al Haqqooh 11: Innaa lammaa thoghol maa-u hamalnaakum fil jaariyah (sesungguhnya Kami setelah air Thogho (telah naik), Kami bawa kamu ke dalam perahu)

Ya’mahuuna

Tafsir Ibnu Jarir: Al 'amahu artinya penyimpangan, jadi fii thughyaanihim ya'mahuuna artinya dalam kesesatan dan ketidakpercayaan yg menimpa mereka, menyebabkan mereka bingung/terombang-ambing dan tidak bisa menemukan jalan keluar karena Allah sudah mengunci-mati hati mereka, menyegelnya, dan membutakan mata mereka.

Al Baqoroh ayat 14

AYAT 14: Wa idzaa laqul ladziina aamanuu qooluu aamannaa wa idzaa kholau ilaa syayaathiinihim qooluu innaa ma’akum innamaa nahnu mustahziuuna

I'rob
  • Wa = dan
  • Idzaa = when/saat → dlorof zaman (keterangan waktu) yang memaksa setelahnya jadi present tense
  • Laqiya = he met/dia telah bertemu → laquu = they met/mereka telah bertemu (fi’l ma-dlii = past tense) → tapi karena ada idzaa, maka jadi present tense → mereka bertemu
  • Alladziina → karena aamanuu dimaksudkan sebagai objek (tidak mungkin subjek, karena laquu transitif, memerlukan objek, sementara tidak ada lagi yg potensial jadi subjek/objek), dan aamanuu adalah klausa (subjek-predikat) maka harus ada ism maushul (relative pronoun) → subjek dari aamanuu adalah jamak, maka ism maushul harus jamak, yaitu alladziina.
  • Aamana = he believed/dia telah percaya → aamanuu = they believed/mereka telah percaya (fi’l ma-dlii) → tapi menjadi present karena ada idzaa → sehingga artinya adalah "mereka percaya"
  • Qoola = he said/dia telah berkata → qooluu = they said/mereka telah berkata (fi’l ma-dlii) → tapi menjadi present karena ada idzaa → sehingga artinya adalah "mereka berkata"
  • Aamanu = he believed/dia telah percaya → aamannaa = we believed/kami telah percaya (fi'l ma-dlii) → tapi menjadi present karena ada idzaa → sehingga artinya adalah "kami percaya"
  • Wa = but/tapi → karena klausa berikutnya berlawanan dengan sebelumnya
  • Idzaa = when/saat → dlorof zaman yang mengubah setelahnya jadi present tense
  • Kholaa = he was alone/dia telah mengasingkan diri → kholau = they were alone/mereka telah mengasingkan diri (fi’l ma-dlii) → tapi karena idzaa, jadi present tense → sehingga artinya "mereka mengasingkan diri"
  • Ilaa = kepada
  • Syaithoonun = satu setan → syayaathiinu = bentuk jamaknya/satans → ilaa adalah preposisi, maka syayaathiinu harus majrur menjadi syayaathiini.
  • Hum = they/mereka → hum adalah mudlof ilaih dari syayaathiini, maka hum majrur jadi him.
  • Qoola = he said/dia telah berkata → qooluu = they said/mereka telah berkata → karena idzaa, jadi present tense → sehingga artinya "mereka berkata"
  • Innaa = verily we/sesungguhnya kami → kami adalah ism inna, ma'akum adalah khobar inna, dan dalam terjemahannya, ditambahkan "adalah"
  • Ma'a = with/bersama
  • Kum = you-all/kalian
  • Innamaa = verily ... only/sesungguhnya ... hanyalah → nahnu adalah ism inna dan mustahzi-uuna adalah khobar inna
  • Nahnu = we/kami
  • Haza-a = he mocked/dia mengolok-olok → istahza-a (wazan 10: berpikir bahwa haza-a harus terjadi) = he mocked → mustahzi-un = mocker (ism fa’il = yang me-) → mustahzi-uuna = mockers
Wa idzaa laqul ladziina aamanuu qooluu aamannaa wa idzaa kholauu ilaa syayaathiinihim qooluu innaa ma'akum, innamaa nahnu mustahzi-uuna

Inggris: And when they met those who believed, they said "We believed" and when they are alone with their devils, they say "We are verily with you-all, we are verily only mockers"
Indonesia: Dan saat mereka bertemu orang-orang yang percaya, mereka berkata "Kami percaya" dan saat mereka sendirian dengan setan-setan mereka, mereka berkata "Kami sesungguhnya bersama kalian, kami sesungguhnya hanyalah para pengolok-olok"

Wa idzaa laqul ladziina aamanuu qooluu aamannaa

Tafsir Ibnu Katsir: kalau orang munafik bertemu orang beriman, mereka berkata bahwa mereka percaya, pura2 jadi orang beriman yg setia. Mereka melakukan ini untuk menyesatkan dan menipu orang beriman, dan agar mereka bisa mendapat keutamaan/keuntungan2 yg diterima orang beriman.

Wa idzaa kholauu ilaa syayaathiinihim

Tafsir Ibnu Katsir: yaitu saat mereka sendirian bersama setan2 mereka, yaitu pemimpin dan pembesar dari kalangan pendeta (rabbi/pendeta) Yahudi, orang munafik, dan penyembah berhala.

Al An’am 112: Wa kadzaalika ja'alnaa li kulli nabiyyin 'aduwwan syayaathiinal insi wal jinni (dan demikianlah, Kami menjadikan untuk setiap nabi seorang musuh (berupa) setan (berupa) manusia dan (setan berupa) jin) yuuhii ba'dlu hum ilaa ba'dlin zukhrufal qouli ghuruuron (saling membisikkan kata2 indah sebagai tipuan)

Qooluu innaa ma’akum

Atsar Muhammad bin Ishaq: dari Ibn Abbas: yaitu bahwa orang2 munafik sejalan dengan para pemimpin mereka.

Innamaa nahnu mustahzi-uuna

Tafsir Ibnu Katsir: yaitu mengolok2 orang beriman dan menipu mereka.

Atsar Adh Dhohhak, Ar Robi' bin Anas, dan Qotadah: dari Ibnu Abbas: yaitu mengolok2 para sahabat Muhammad.

Al Baqoroh ayat 13

AYAT 13: Wa idzaa qiila lahum aaminuu kamaa aamanannaasu qooluu anukminu kamaa aamanas sufahaak. Alaa innahum humus sufahaa-u walaakin laa ya’lamuun.

I'rob

  • Wa = dan
  • Idzaa = when/saat → dlorof zaman (keterangan waktu) yang membuat klausa setelahnya jadi present tense
  • Qoola = he said/dia telah berkata → qiila = it was said by him (fi’l majhul = kata kerja pasif) → tapi karena idzaa, qiila = it IS said by him
  • La = for/bagi
  • Hum = they/mereka
  • Aamana = he believed/dia telah percaya → aaminuu = (you-all) believe!/kalian percayalah (fi'l amr = kata kerja perintah)
  • Ka = like/seperti
  • Maa = what/apa yang (ism maushul = relative pronoun)
  • Naasun = a human being/seorang manusia → an-naasu = THE human being → an-naasu marfu' (berakhiran "u") maka an-naasu adalah subjek dari aamana → aaminuu ka maa aamanan naasu adalah naa-ibul faa’ilun (subjek kalimat pasif) dari qiila
  • Qoola = he said/dia telah berkata → qooluu = they said/mereka telah berkata (fi'l ma-dlii) → tapi karena idzaa, maka qooluu = mereka berkata (present tense)
  • A = apakah
  • Aamana = he believed/dia telah percaya (fi'l ma-dlii) → nukminu = we believe/kami percaya (fi'l mudloorik = present tense)
  • Safaha = he was fool/dia telah bodoh → safiihun = a fool (orang bodoh) → sufahaa-un = fools (orang-orang bodoh) → as-sufahaa-u = THE fools → as-sufahaa-u marfu (berakhiran "u"), maka as-sufahaa-u adalah fa'il (subjek) dari aamana.
  • Laa → laa nafiyah (negator)
  • Inna = verily/sesungguhnya → maka hum adalah ism inna dan as-sufahaa-u adalah khobar inna → dan di terjemahannya ditambahkan kata "adalah"
  • Hum kedua adalah dlorof fashl (penegas)
  • Walaakin = but/tapi
  • 'Alima = he knew/dia telah tahu → ya'lamuuna = they know/mereka tahu (fi’l mudloorik)
Wa idzaa qiila lahum aaminuu ka maa aamanan naasu qooluu a nukminu ka maa aamanas sufahaa-u a laa innahum humus sufahaa-u walaakin laa ya’lamuuna

Inggris: And when "Believe you-all like what THE human-being believes!" is said to them, they said "Do we believe like what THE fools believe?" Aren't they verily THE fools but they don't know?
Indonesia: Dan saat "Percayalah kalian seperti orang yang percaya!" dikatakan kepada mereka, mereka berkata "Apakah kami (harus) percaya seperti orang-orang bodoh percaya?" Bukankah mereka sesungguhnya orang-orang bodoh tersebut tapi mereka tidak tahu?

Aaminuu ka maa aamanan naasu

Tafsir Ibnu Katsir: maksudnya, percayalah seperti orang beriman percaya kepada Allah, malaikat2Nya, kitab2Nya, rosul2Nya, hari kebangkitan setelah kematian, surga, dan neraka, dan taatilah Allah dan rosulNya dengan taat pada perintahNya dan larangannya.

A nukminu ka maa aamanas sufahaa-u

Tafsir Ibnu Katsir: orang munafik menjawabnya seperti itu. Orang munafik merasa "kami dan orang2 beriman itu sama2 di jalan yang benar, tapi mereka itu orang2 bodoh"

Atsar Abul 'Aliyah & As Suddi: dari Ibnu Abbas & Ibnu Mas’ud: yang dituduh sufaaha-u (orang2 bodoh) oleh orang munafik adalah para sahabat Rosululloh”.

Sufahaa-u

Anak yatim yang belum baligh dan orang dewasa yg tidak bisa mengatur harta bendanya juga termasuk sufahaa-u

An Nisaa’ 5: Wa laa tuktus sufahaa-a amwaa lakumul latii ja’alalloohu lakum qiyaaman (dan jangan serahkan kepada sufahaa-u harta kalian yg Allah telah jadikan sebagai pemeliharaan (biaya hidup))

Tafsir Ibnu Katsir: Sufahaa-u adalah orang2 yg tidak terdidik, yg berpikiran pendek, yg kurang bisa membedakan mana yg manfaat, mana yg mudlorot.

A laa innahum humus sufahaa-u walaakin laa ya’lamuuna

Tafsir Ibnu Katsir: Orang munafik itu bodoh, tidak menyadari seberapa dia sudah menyimpang dan tidak tahu. Mereka itu buta dan jauh dari kebenaran.

Selasa, 09 Desember 2008

Al Baqoroh ayat 11-12

AYAT 11: Wa idzaa qiila lahum laa tufsiduu fil ardli qooluu innamaa nahnu mushlihuun.

I'rob

  • Wa = dan
  • Idzaa = when/saat → idz dan idzaa adalah dlorof zaman (keterangan waktu), dua-duanya bermakna saat/ketika, tapi idzaa membuat setelahnya jadi present tense, idz membuat setelahnya jadi past tense.
  • Qoola = he said/dia telah berkata → qiila = it was said by him (fi'l majhul = kata kerja pasif) → idzaa qiila = when it IS said by him (karena idzaa membuatnya present tense)
  • La = unto/kepada
  • Hum = they/mereka
  • Laa → laa nahiyah (larangan)
  • Fasada = he made mischief/dia telah berbuat kerusakan → yufsiduu = you-all make mischief/kalian berbuat kerusakan → laa + yufsiduu = laa tufsiduu
  • Fii = di dalam
  • Al-ardlu = THE earth/bumi → fii adalah preposisi, maka al-ardlu majrur jadi al-ardli → laa tufsiduu fil ardli adalah naa-ibul faa'ilun (subjek kata kerja pasif) dari qiila lahum.
  • Qoola = he said/dia telah berkata → qooluu = they said/mereka telah berkata (fi’l ma-dlii = past tense) → berubah jadi present tense "mereka berkata" karena idzaa.
  • Innamaa = verily... only/sesungguhnya ... hanyalah → nahnu adalah ism inna, mushlihuuna adalah khobar inna → di terjemahannya diletakkan kata "adalah" setelah nahnu.
  • Nahnu = we/kami
  • Sholiha = he did good/dia telah berbuat baik → mushlihun = a pious man/orang baik (ism fa'il = yang me-) → muslihuuna = bentuk jamaknya/pious people
Wa idzaa qiila lahum laa tufsiduu fil ardli qoolu innama nahnu muslihuuna

Inggris: And when "Don't you-all make mischief on the earth" IS said to them, they say, "Surely, we are only pious people"
Indonesia: Dan saat "Kalian jangan berbuat kerusakan di bumi!" dikatakan kepada mereka, mereka berkata "Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang baik".

Fasada

Atsar As Suddi: dari Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud: Mereka adalah orang munafik, kerusakan yg diperbuat adalah keingkaran terhadap Islam dan kemaksiatan.

Atsar Abu Ja'far: dari Abul 'Aliyah: berbuat kerusakan artinya berbuat maksiat di bumi, yaitu melanggar perintah dan larangan Allah, karena kedamaian di bumi dan di langit tercipta karena ketaatan kepada Allah.

Tafsir Ibnu Jarir: orang munafik berbuat kerusakan di bumi dengan melanggar perintah dan larangan Allah, ragu2 terhadap Islam tapi bilang ke orang2 'tidak ragu2 terhadap Islam', mendukung orang yg tidak percaya kepada Allah, kitab2Nya, dan rosul2Nya.

Orang kafir jangan menjadi Aulia/Wali (penunjuk jalan hidup)?

Al Anfal 73: Walladziina kafaruu ba'dluhum auliyaa-u ba'dl (dan orang2 yang ingkar (kafir), sebagian mereka melindungi sebagian yg lain) Illaa taf'aluuhu takun fitnatun fil ardli fasaadun kabiir (jika kamu tidak melaksanakannya (saling melindungi sesama orang beriman) niscaya terjadi cobaan di bumi dan kerusakan yg besar).

An Nisaak 144-145: Yaa ayyuhal ladziina aamanuu (wahai orang2 yg percaya (beriman)) laa tatta-khidzul kaafiriina auliyaa-a min duunil mukminiin (janganlah kalian mengambil orang2 ingkar (kafir) sebagai wali ketimbang orang2 beriman/percaya). A turiiduuna an taj’aluu lillaahi ‘alaikum sulthoonan mubiin (Apakah kalian ingin bahwa kalian menjadikan alasan yg nyata bagi Allah (untuk hukuman) atas kalian?). Innal munaafiqiina fid darkil asfali minan naari (Sesungguhnya orang2 munafik adalah dalam tingkatan terbawah dari neraka) wa lan tajida lahum na-shiiron (dan kalian tidak mendapat penolong bagi mereka)

Tafsir Ibnu Katsir: Orang munafik menipu orang beriman dengan menampakkan seolah2 percaya pada Islam padahal mereka setia dan mendukung orang2 yg ingkar terhadap Islam.

Innama nahnu muslihuun

Tafsir Ibnu Katsir: mereka berteman dan berdamai dengan orang yang percaya (beriman) dan orang yang ingkar (kafir) ucapannya & menjadikan orang kafir sbg pemimpin (penunjuk jalan lurus kepada) orang beriman.


AYAT 12: Alaa innahum humul mufsiduuna wa laakin laa yasy’uruun

I'rob
  • A = apakah
  • Laa → laa nafiyah (negator)
  • Inna = verily/sesungguhnya → hum adalah ism inna dan al-mufsiduuna adalah khobar inna → di terjemahannya ditambahkan "adalah".
  • Hum = they/mereka → hum pertama adalah ism inna, hum kedua adalah dlomir fasl (sebagai penguat)
  • Fasada = he made mischief/dia telah berbuat kerusakan → al-mufsidu = one who make mischief/orang yang berbuat kerusakan → al-mufsiduuna = bentuk jamaknya/those who make mischief/orang-orang yang berbuat kerusakan
  • Walaakin = but/tapi
  • Laa → laa nafiyah (negator)
  • Sya'aro = he perceived/dia telah merasa → yasy'uruuna = they perceive/mereka merasa (fi’l mudloorik = present tense)
A laa innahum humul mufsiduuna walaakin laa yasy’uruuna

Inggris: Don't verily they are those who make mischief but they don't perceive?
Indonesia: Bukankah sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berbuat kerusakan tapi mereka tidak merasa?

Laa yasy'uruuna

Tafsir Ibnu Katsir: perilaku orang munafik, meski dengan alasan perdamaian/ishlah, sesungguhnya adalah berbuat kerusakan, meskipun mereka tidak merasa bahwa mereka berbuat kerusakan.

Al Baqoroh ayat 10

AYAT 10: Fii quluubihim marodlun fazaadahumulloohu marodlon, wa lahum ‘adzaabun aliim, bimaa kaanuu yakdzibuun

I'rob

  • Fii = in/di dalam
  • Qolbun = a heart/sebuah hati → quluubun = bentuk jamaknya/hearts → fii adalah preposisi, maka quluubun majrur jadi quluubin.
  • Hum = they/mereka → hum adalah mudlof ilaih (pemilik) dari quluubin, maka quluubin harus menghilangkan akhiran n jadi quluubi dan hum harus majrur menjadi him.
  • Marodlun = a disease/suatu penyakit → marodlun adalah khobar dan fii quluubihim adalah mubtadaknya, sehingga di terjemahannya diberikan "adalah".
  • Fa = then/lalu
  • Zaada = he increased/dia telah menambah (fi'l ma-dlii = past tense)
  • Allah marfu' (berakhiran "u"), maka Allah adalah fa'il (subjek) dari zaada.
  • Hum = they/mereka → posisinya adalah maf'ul (objek) dari zaada.
  • Marodlun manshub jadi marodlon, berarti marodlon adalah maf'ul kedua.
  • La = for/bagi
  • Hum = they/mereka
  • 'Adzaabun = a torment/sebuah siksaan
  • Alima = he got pain/dia telah sakit → aliimun = painful → 'adzaabun dan aliimun sama-sama naqiroh dan marfu', berarti aliimun adalah na'at (sifat) dari 'adzaabun, sehingga 'adzaabun aliimun diterjemakan: a painful torment → 'adzaabun aliimun adalah khobar, dan lahum adalah mubtadak, sehingga ditambahkan "adalah" di terjemahannya.
  • Bi = because/karena
  • Maa = what/apa yang (ism maushul = relative pronoun)
  • Kaanuu = they was/did → kaana yang mengandung ism kaana "mereka", berarti khobar kaana nya adalah yakdzibuuna.
  • Kadzaba = he lied/dia telah berbohong → yakdzibuuna = they lie/mereka berbohong (fi'l mudloriik = present tense) → karena kaanuu adalah fi’l ma-dlii, maka yakdzibuuna (sebagai khobar) haruslah past tense.

Fii quluubihim marodlun fa zaadahumulloohu marodlon wa lahum 'adzaabun aliimun bi maa kaanuu yakdzibuuna

Inggris: In their hearts is a disease, then Allah increased them a disease, and for them is a painful torment due to what they lied at.
Indonesia: Di dalam hati mereka adalah suatu penyakit, lalu Allah menambah mereka sebuah penyakit, dan bagi mereka adalah sebuah siksaan menyakitkan karena apa yang mereka dustakan.

Marodlun

Atsar As Suddi, Mujahid, Ikrimah, Al Hasan Al Bashri, Abul 'Aliyah, Ar Robi' bin Anas, dan Qotadah : dari Ibnu Abbas & Ibnu Mas'ud: yaitu keraguan.

Tafsir 'Abdurrohman bin Zaid bin Aslam: yaitu penyakit dalam agama, bukan penyakit fisik. Penyakitnya adalah keraguan terhadap Islam. Allah menambah penyakit mereka, yaitu meningkatkan keraguan mereka dengan perilaku yang memalukan.

At Taubah 124-125: Wa idzaa maa unzilat suurotun (Dan saat diturunkan suatu surat) fa minhum man yaquulu ayyukum zaadat hu haadzihi iimaanan (maka sebagian dari mereka (orang munafik) berkata "Manakah dari kalian yg imannya meningkat karena (turunnya surat) itu?"). Fa ammal ladziina aamanuu fa zaadat hum iimaanan wa hum yastabsyiruun (Maka bagi barangsiapa yang percaya, maka iman mereka telah meningkat, dan mereka bergembira) Wa ammal ladziina fii quluubihim marodlun (Dan bagi barangsiapa yang sebuah penyakit adalah dalam hatinya) fa zaadat hum rijsan ilaa rijsi him (maka (turunnya surat) itu akan menambah Rijs (keraguan) terhadap Rijs mereka) wa maatuu wa hum kaafiruun (Dan mereka akan mati dan mereka adalah orang yang ingkar)

Muhammad 17: Wal ladziinah tadau zaadahum hudan wa aataahum taqwaahum (Dan orang2 yg menerima petunjuk, Dia menambah petunjuk (untuk) mereka dan menambah ketaqwaan mereka)

Rosululloh tidak diberi tahu oleh Allah, siapa saja yang munafik

At Taubah 101: Wa mimman haulakum minal a'roobi munafiquuna (Dan beberapa (orang2) Arab disekitarmu adalah munafik) wa min ahlil madiinati maroduu ‘alan nifaaqi (dan dari penduduk Madinah ada yang bertahan dengan kemunafikannya) laa ta’lamuhum nahnu na’lamuhum (kamu tidak tahu mereka, (tapi) Kami tahu mereka). Sanu’adzdzibu hum marrotaini (Kami akan menghukum mereka dua kali) tsumma yurodduuna ilaa ‘adzaabin ‘adhiimi (lalu mereka akan dibawa ke siksaan yang besar)

Al Ahzaab 60-61: La in lam yantahil munaafiquuna wal ladziina fii quluubihim marodlun wal murjifuuna fil madiinati (sungguh jika orang2 munafik, orang2 yg suatu penyakit adalah dalam hatinya, dan orang2 yg menyebarkan berita bohong diantara orang2 di Madinah tidak berhenti) la nughriyannaka bihim (niscaya Kami perintahkan kamu menyerang mereka) tsumma laa yujaawiruunaka fiihaa illaa qoliilan (lalu mereka tidak menjadi tetanggamu di dalamnya, kecuali sedikit (saja)). Mal’uuniina (mereka terkutuk) ainamaa tsuqifuu ukhidzuu (dimanapun mereka dijumpai, mereka ditangkap) wa quttiluu taqtiilan (dan dibunuh secara dahsyat)

Rosululloh hanya diberi tahu ciri2 mereka dan dia hanya mengasumsikan bahwa orang2 tertentu punya ciri2 itu

Muhammad 30: Wa lau na-syaa-u (dan kalau Kami berkehendak) la aroinaaka hum (sungguh Kami menunjukkanmu (siapa saja) mereka) fa la’arofta hum bi siimaahum (maka sungguh kalian mengenal mereka dengan tanda2 mereka) Wa la ta’rifanna hum fii lahnil qoul (dan sungguh kalian mengenal mereka dalam lagu/tatabahasa perkataan (mereka)). Walloohu ya’lamu a’maalakum (Dan Alloh tahu semua perbuatan kalian).

Hanya 1 hadits yg menyatakan Rosululloh tahu siapa orang munafik itu.

Hadits Hudhoifah bin Al-Yaman: Rosululloh memberiku nama 14 orang munafik selama perang Tabuk. Mereka berencana membunuh Rosululloh pada malam hari di sebuah bukit. Mereka berencana menarik perhatian unta Rosululloh, sehingga Rosululloh terlempar ke lereng bukit. Allah memberitahu Rosululloh tentang rencana itu, dan Rosululloh memberitahu Hudhoifah nama mereka.

Tapi kenapa Rasulullah tidak mengambil tindakan tegas terhadap orang munafik?

Atsar Zaid bin Arqom: orang munafik paling terkenal saat itu adalah 'Abdullah bin Ubayy bin Salul.

Hadits Bukhori dan Muslim: dari Umar bin Khoththob: dari Rosululloh: Innii akrohu an tatahaddatsal ‘arobu anna muhammadan yaqtulu ash-haabah (Sesungguhnya aku tidak suka orang2 Arab memperbincangkan bahwa Muhammad membunuh sahabat2nya).

Hadits shohih Bukhori dan Muslim: dari 'Umar bin Al Khoththob: Saat Ibnu Salul mati, Rosululloh dipanggil untuk sholat jenasah baginya. Saat Rosululloh berdiri (untuk sholat) aku lompat kepadanya dan berkata "Wahai Rosululloh, apakah kamu mensholati Ibn Salul meskipun dia berkata begini-begitu di hari ini dan itu?" Aku terus menyebutkan perkataannya (Ibn Salul). Rosululloh tersenyum dan berkata "Menjauhlah dariku, wahai 'Umar". Tapi saat aku berkata terlalu banyak kepadanya, dia berkata: Inni khuyyirtu fakhtart (aku diberikan pilihan (untuk mensholatinya atau tidak), maka aku memilihnya) Lau a’lamu annii lau zidtu ‘alas sab’iina yughfaru lahu lazidt (kalau aku tahu dengan memohon (Allah untuk mengampuni Ibnu Salul) lebih dari 70 kali maka Dia akan mengampuninya, maka aku akan melakukannya lebih banyak dari itu). Maka Rosululloh sholat jenasah untuknya lalu pergi tapi dia tidak tinggal lama sebelum ayat Surat At Taubah 84 diturunkan: Wa laa tusholli 'alaa ahadin minhum maata abadan (dan janganlah kamu mensholatkan atas seseorang diantara mereka yang mati, selamanya) wa laa taqum 'alaa qobrihi (dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di atas kuburannya). Innahum kafaruu billaahi wa rosuulihii (sesungguhnya mereka telah ingkar kepada Allah dan rosulNya) wa maatuu wa hum faasiquun (dan mereka mati dan mereka (mati sebagai) orang-orang fasik). Kemudian aku heran betapa beraninya aku berkata seperti itu kepada Rosululloh dan Allah dan rosulNya yang lebih tahu.

Sabtu, 06 Desember 2008

Al Baqoroh ayat 9

AYAT 9: Yukhoodi’uunalloha walladziina aamanuu. Wamaa yakhda’uuna illaa anfusahum wamaa yasy-’uruun.

I'rob
  • Khoda'a = he deceived/dia telah menipu → Khooda'a (wazan 3: berupaya/berjuang) = he tried to deceive/dia telah berupaya menipu → yukhoodi'uuna = mereka berupaya menipu (fi'l mudloorik = present tense)
  • Allah manshub jadi Allooha, berarti Allah adalah maf'ul (objek) dari yukhoodi'uuna.
  • Wa = dan → berarti alladziina aamanuu adalah maf'ul kedua dari yukhoodi'uuna
  • Alladziina → karena objek harus berupa kata benda, padahal aamanuu adalah kata kerja, maka perlu ism maushul (relative pronoun) → karena aamanuu bersubjek mereka, maka digunakan ism maushul jamak alladziina
  • Aamana = he believed/dia telah percaya → aamanuu = they believed/mereka telah percaya (fi’l ma-dlii = past tense).
  • Wa = tapi → karena klausa berikutnya bertentangan dengan sebelumnya.
  • Maa → maa nafiyah (negator)
  • Khoda'a = he deceived/dia telah menipu → yakhda'uuna = they deceive/mereka menipu (fi’l mudloorik)
  • Illaa = kecuali/selain
  • Nafsun = self → anfusun/nufuusun = selves → karena illaa, maka harus manshub jadi anfusan.
  • Hum = they/mereka → hum adalah mudlof ilaih dari anfusan, maka anfusan harus hilang tanwin jadi anfusa → anfusahum = diri mereka sendiri
  • Wa = dan → karena klausa berikutnya tidak bertentangan dengan sebelumnya.
  • Sya'aro = he perceived/dia telah merasa → yasy’uruuna = they perceive/mereka merasa (fi'l mudloorik)
Yukhoodi'uunallooha wal ladziina aamanuu wa maa yakhda'uuna illa anfusahum wa maa yasy'uruuna

Inggris: they tried to deceive Allah and those who believe but they don't deceive but themselves, and they don't perceive.
Indonesia: mereka berupaya menipu Allah dan (menipu) orang-orang yang percaya (beriman) tapi mereka tidak menipu selain diri mereka sendiri dan mereka tidak merasa.

Yukhoodi'uunallooha wal ladziina aamanuu

Tafsir Ibn Katsir: Dengan menampakkan bahwa mereka beriman, padahal hatinya ingkar/tidak percaya, mereka mengira sudah berhasil menipu Allah dan mengira tindakan mereka itu (alim di depan umum saja, padahal hatinya tidak) berguna baginya di sisi Allah. Mungkin mereka berhasil menipu orang beriman, tapi mereka tidak bisa menipu Allah.

Surat Mujaadilah 18: Yauma yab’a-tsu humulloohi jamii’an (Di hari Allah membangkitkan mereka bersama2) fa yahlifuuna lahu kamaa yahlifuuna lakum (maka mereka bersumpah kepadaNya seperti mereka bersumpah kepadamu) wa yahsabuuna annahum ‘alaa syai-in (dan mereka mengira bahwa mereka memiliki sesuatu (sebagai pijakan)) alaa innahum humul kaadzibuun (Ketahuilah, sesungguhnya mereka adalah pembohong!)

Wa maa illaa anfusahum wa maa yasy'uruuna

Tafsir Ibnu Katsir: Dengan berkelakuan yg meyakinkan orang-orang beriman itu, tanpa disadari mereka hanya menipu diri mereka sendiri.

Surat An Nisaak 142: Innal maunaafiqiina yu-khodi’uunallooha wa huwa khoodi’uhum(Sesungguhnya, orang2 munafik selalu menipu Allah, tapi (sebenarnya) Dialah yg menipu mereka)
Atsar Ibnu Abi Hatim: dari Ibnu Juroij: orang munafik bersaksi tidak ada sesembahan 'yg benar' selain Allah, hanya demi darah dan uang, padahal mereka dalam hatinya merahasiakan keingkarannya terhadap syahadat itu.

Al Baqoroh ayat 8

Ayat 8: Waminan naasi man yaquulu aamannaa billaahi wabil yaumil aakhiri wamaa hum bimukminiin.

I'rob

  • Wa = dan
  • Min = a portion of/sebagian
  • Naasun = a human being/seorang manusia → an-naasu = THE human being → min adalah preposisi, maka an-naasu majrur jadi an-naasi → an-naasi diawali huruf vokal, maka min harus berubah menjadi mina.
  • Man = who/barangsiapa yang (ism maushul = relative pronoun)
  • Qoola = he said/dia telah berkata → yaquulu = he says/dia berkata (fi’l mudloorik = present tense).
  • Aamana = he believed/dia telah percaya → aamannaa = we believed/kami telah percaya (fi’l ma-dlii = past tense)
  • Bi = with/dengan
  • Allah → bi adalah preposisi, maka Allah majrur jadi Alloohi, dan karena ada huruf vokal "i" sebelum Allooh, maka kita bacanya Allaah.
  • Wa → berarti bil yaumil aakhiri adalah maf'ul (objek) kedua dari aamannaa, setelah billaahi
  • Yaumun = a day/suatu hari → al-yaumu = the day → bi adalah preposisi, maka al-yaumu majrur jadi al-yaumi.
  • Aakhirun = a last → al-aakhiru = the last/yang terakhir → al-aakhiru ternyata majrur juga jadi al-aakhiri, berarti al-aakhiri dan al-yaumi sama-sama majrur dan ma'rifah (definite noun), maka al-aakhiri adalah na'at (sifat) dari al-yaumi, maka di terjemahannya ditambahkan kata "yang" → al-yaumil aakhiri = the last day → man qoola aamana billaahi wa bil yaumil aakhiri adalah khobar dari mubtadak minan naasi → sehingga di terjemahannya, ditambahkan "adalah" antara khobar dan mubtadak
  • Wa = tetapi → karena bertentangan dengan klausa (subjek-predikat) sebelumnya.
  • Maa → maa nafiyah (negasi)
  • Hum = they/mereka
  • Bi = from/tergolong
  • Aamana = he believed/dia telah percaya → mukminu = believer (ism fa'il = yang me-) → mukminuuna = believers (bentuk jamaknya) → bi adalah preposisi, maka mukminuuna majrur jadi mukminiina → bi mukminiina adalah khobar dari mubtadak hum → sehingga di terjemahannya ditambahkan "adalah" → tapi berhubung ada negator "maa", maka "adalah" berubah jadi "bukan" (yaitu are menjadi aren't)
Wa minan naasi man yaquulu aamannaa billaahi wa bil yaumil aakhiri wa maa hum bi mukminiina

Inggris: And a portion of THE human being is one who said "We believed in Allah and in THE last day" but they are not believers.
Indonesia: Dan sebagian manusia adalah yang telah berkata "Kami telah percaya kepada Allah dan kepada hari akhir" tapi mereka bukan orang-orang yang percaya.

Orang munafik (Tafsir Ibnu Katsir)

Nifaq artinya menampakkan kesepakatan (terhadap Islam) dan menyembunyikan kelicikan (cuma pura2 sepakat demi niat jahat). Ada 2 jenis nifaq, nifaq i'tiqodi (pura2 percaya Islam padahal hatinya ingkar, mereka akan masuk neraka) dan nifaq 'amali (pura2 tidak percaya Islam padahal hatinya percaya, mereka mendapat dosa besar). Munafiq adalah orang yg nifaq.

Ayat tentang orang munafik diturunkan di Madinah, karena di Mekah tidak ada orang munafik, malah orang2 terpaksa pura2 kafir. Lalu Rosululloh dan orang Islam (yaitu kaum Muhajirin/Emigran) hijrah ke Madinah, tempatnya suku Aus dan Khozroj (yaitu kaum Anshor/Penyelamat) yg menyembah berhala sebelum datangnya Islam. Di Madinah, ada 3 suku Yahudi: Bani Qoinuqo' (sekutunya Khozroj), Bani Nadlir, dan Bani Quroidhoh (sekutunya Aus). Banyak suku Aus dan Khozroj yg lalu memeluk Islam, tapi sedikit Yahudi yg memeluk Islam (seperti 'Abdulloh bin Salam).

Saat awal kedatangan Muhajirin, tidak ada orang munafik, karena Islam belum ditakuti. Malah Rosululloh membuat perjanjian damai dengan Yahudi dan suku Arab lainnya di sekitar Madinah. Lalu Islam menang perang Badar. 'Abdulloh bin Ubay bin Salul adalah pemimpin suku Khozroj, yg sekaligus dituakan oleh suku Aus. Penduduk Aus dan Khozroj hampir memilih dia jadi raja, tapi malah orang2 memeluk Islam dan lupa dengan dia, sehingga dia dendam dengan Islam. Maka, saat perang Badar, dia berkata "agama Allah semakin jelas", sehingga dia dan beberapa Ahli Kitab pura2 Muslim. Itulah awal mula lahirnya kemunafikan.

Muhajirin tidak ada yg munafik karena mereka hijrah lillaahi Ta'ala dan harus meninggalkan hartanya, anak2nya, dan tanahnya demi pahala Allah di hari akhir.

Wa maa hum bi mukminiina

Atsar Muhammad bin Ishaq, Abul 'Aliyah, Al Hasan, Qotadah, dan As Suddi: dari Ibnu 'Abbas: ayat ini tentang orang munafik dari Aus dan Khozroj dan yg berperilaku seperti mereka.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah menceritakan ciri orang munafik dengan panjang lebar, sehingga orang beriman tidak tertipu oleh mereka.

Surat Al Munaafiquun 1: Idzaa jaa-akal munaafiquuna qooluu nasyhadu innaka la rosuulullooh (Jika datang kepadamu orang2 munafik berkata "Kami bersaksi sesungguhnya kamu benar2 rosul Allah) walloohu ya’lamu innaka la rosuuluhu (dan Allah Mahatahu bahwa sesungguhnya kamu benar2 rosul Allah") walloohu yasyhadu innal munaafiqiina la kaadzibuun (dan Allah menyaksikan sesungguhnya orang munafik itu benar-benar pendusta)

Selasa, 02 September 2008

Al Fatihah ayat 7

Ayat 7: صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِّينَ

I'rob


  • Shiroo-thun (صِرَٰطٌ) = a path → shiroo-thun manshub jadi shiroo-thon (صِرَٰطًا), berarti shiroothon masih bagian dari objeknya ihdinaa di ayat sebelumnya → lalu shiroothon naqiroh karena memang agar pembaca menerjemahkannya sebagai definite noun → lalu shiroothon hilang tanwin jadi shirootho (صِرَٰطَ), berarti shirootho adalah mudlof dari alladziina an'amta 'alaihim, dan kata "of" harus ditambahkan di terjemahannya.
  • Alladziina (الَّذِينَ) = those who/yang → yaitu ism maushuul untuk jamak
  • Ni'ma (نِعْمَ) = he bestowed/dia telah memberi nikmat → an'amta (أَنْعَمْتَ) = you bestowed/kamu telah memberi nikmat; merupakan bentuk fi'l ma-dlii dengan Form IV
  • 'Alaa (عَلَي) = upon/atas → memakai kaidah preposisi (menjadi 'alai) kalau bertemu dlomaa-ir
  • Hum (هُمْ) = them/mereka → 'alaa adalah preposisi, maka hum majrur jadi him (هِمْ) → him mengacu pada alladziina.
  • Ghoiru (ُغَيْر) = other than/bukan → ghoiru majrur jadi ghoiri (غَيْرِ), berarti ghoiril maghdluubi 'alaihim adalah mudlof ilaih kedua dari shirootho, dan kata "of" harus ditambahkan di terjemahannya.
  • Gho-dliba (غَضِبَ) = he was angry/dia telah marah → maghdluubun (ْمَغْضُوبٌ) = a person who earned anger/yang dimarahi; merupakan passive participle → al-maghdluubu (ٱلْمَغْضُوب) adalah bentuk definitnya → lalu ghoiri membuat al-maghdluubu majrur jadi al-maghdluubi (ٱلْمَغْضُوبِ).
  • Wa (وَ) = and/dan
  • La (لاَ) berfungsi menegasikan kalimat.
  • Dlolla (ضَّآلِّ) = he went ashtray/dia telah tersesat → dloollun (ضَّآلِّ) = a person who go ashtray/yang tersesat; merupakan kata benda pelaku dan bukan active participle → adl-dloolluuna (ضَلُّوانَ) = bentuk jamak dan ma'rifah dari dloollun → adl dloolluuna majrur jadi adl-dloolliina, berarti adl-dloolliina (الضَّآلِّينَ) adalah mudlof ilaih ketiga dari shirootho, jadi kata "of" harus ditambahkan di terjemahannya.
Shiroothol ladziina an'amta 'alaihim, ghoiril maghdluubi 'alaihim wa ladl dloolliina

Inggris: (i.e.) a path OF those You made bestowed on, OF other than of those who earned anger on, and not OF those who go ashtray.
Indonesia: (yaitu) sebuah jalan dari mereka yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) dari yang dimurkai atas mereka, dan bukan (jalan) dari mereka yang tersesat.

SHIROOTHOL LADZIINA AN'AMTA 'ALAIHIM


Siapa yang Allah beri nikmat?

An Nisaak 69: Wa man yu-thi’illaaha war rosuula (dan siapapun yang mentaati Allah dan rosulNya (Muhammad)) fa uulaa-ika ma’al ladziina an’amalloohu ‘alaihim (maka mereka itu akan bersama dengan orang-orang yang Allah beri nikmat) minan nabiyyiina wash shiddiiqiina wasy syuhadaa-i wash shoolihiina (dari (golongan) para nabi, para shiddiiqiin (orang2 yg benar), para syuhadaak, dan orang2 soleh). Wa husna uulaa-ika rofiiqon (Dan betapa baiknya (hebatnya) para sahabat itu).

Tafsir Ibnu Katsir: yang diberi nikmat Allah adalah yang mendapat petunjuk, ikhlas, dan taat kepada Allah dan Rosul-Nya, yg mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

GHOIRIL MAGHDLUUBI 'ALAIHIM


Siapa yang dimurkai Allah?

Yaitu orang2 yg TAHU kebenarannya, tapi MENYIMPANG dari kebenaran itu. Mereka lebih buruk daripada orang sesat. Dasarnya:

Al Maa-idah 60: Qul hal u nabbi-ukum bi syarri min dzaalika ma-tsuubatan 'indallooh (Katakanlah: maukah aku beritahukan kamu tentang yang lebih buruk daripada itu (orang-orang fasik/rebellious?) Man la'anahulloohu wa gho-dliba 'alaihi ((yaitu) mereka yg dilaknat Allah dan dimurkai Allah) wa ja'ala min humul qirodata wal khonaaziiro (dan mereka yang Dia jadikan monyet dan babi) wa 'abadath thooghuut (dan mereka yang beribadah kepada Thoghut (alternatif selain Allah)). Uulaa-ika syarrun makaanan wa a-dlollu ‘an sawaa-is sabiil (Mereka itu terburuk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yg lurus).

Al Mujaadilah 14: A lam taro ilal ladziina tawallau qouman gho-dliballoohu 'alaihim (Apakah kalian tidak pernah melihat mereka yg berkawan dengan orang-orang yg dimurkai Allah?) Maa hum minkum wa laa minhum wa yahlifuuna 'alal kadzibi wa hum ya'lamuuna (Mereka bukan dari kalian dan bukan dari mereka dan mereka bersumpah atas suatu kebohongan padahal mereka (sudah) tahu)

WA LADL DLOOLLIINA


Siapa orang yang tersesat?

"Orang yg dimurkai Allah" SUDAH tahu mana jalan yg benar tapi mereka sengaja ke jalan yg salah. Sedangkan "orang sesat" adalah orang yg TIDAK tahu mana yg benar, sehingga mereka mengembara dalam kesesatannya, tidak menemukan jalan yg benar karena mereka tidak mencarinya di sumber kebenaran yang tepat, padahal mereka ingin tahu mana jalan yg benar.

Al Maa-idah 77: Qul yaa ahlal kitaabi (Katakanlah: Wahai Ahli Kitab (people of Alkitab, yaitu Yahudi dan Nasrani) laa taghluu fii diinikum ghoirol haqqi (janganlah kalian berlebihan (melampaui batas) dalam agamamu secara tidak benar) wa laa tattabi'uu ahwaa-a qoumin qod dlolluu min qoblu wa a-dlolluu ka-tsiiron wa dlolluu 'an sawaa-is sabiil (dan jangan kalian ikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat sebelumnya, dan yang telah menyesatkan banyak (orang), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus)

Al Kahfi 17: Man yahdillaahu fa huwal muhtadi. Wa man yudl-lil fa lan tajida lahu waliyyan mursyidan (Barangsiapa yang Allah tunjukkan (ke jalan lurus), maka dia akan ditunjukkan. Tapi barangsiapa yang Dia sesatkan, maka kamu tidak akan menemukan Wali (kawan) baginya untuk mengarahkannya (ke jalan yg benar))

Al A’roof 186: Man yudl-lilillaahu fa laa haadii lahu (Barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang bisa menunjukkannya). Wa ya-dzaruhum fii thughyaanihim ya'mahuun (Dan Dia membiarkan mereka mengembara dalam kesesatan)

AL MAGHDLUUBI 'ALAIHIM = YAHUDI? ADL-DLOOLLIINA = NASRANI?


Beberapa ahli tafsir terkemuka seperti Ibnu Katsir, dll berpendapat seperti itu. Tapi bagi saya, ayat ini TIDAK HANYA merujuk ke Yahudi atau Nasrani atau agama manapun, tapi ke siapa saja (termasuk orang ISLAM) yang dimurkai Allah (yaitu mereka yang sudah tahu seperti apa yang benar, tapi tetap saja menyimpang), dan siapapun (termasuk orang ISLAM) yang sesat (yaitu tidak bisa membedakan mana rule-rule Allah dan mana yang seolah-olah rule-rule Allah padahal bukan, contoh: membaca Surah Yaasiin beramai-ramai saat ada kematian).

Dasar saya adalah:
Al Baqoroh 62: Innal ladziina aamanuu wal ladziina haaduu wan nashoroo wash shobi-iina man aamana billaahi wal yaumil aakhiri wa 'amila shoolihan fa lahum ajruhum 'inda robbihim wa laa khoufun 'alaihim wa laa hum yahzanuuna (Sesungguhnya orang-orang yang percaya (beriman) dan mereka yg Yahudi dan Nasrani dan Shobi-iin, barangsiapa yg percaya kepada Allah dan hari akhir (hari pembalasan) dan beramal soleh (berbuat baik sesuai ajaran Allah, bukan dari budaya nenek moyang atau penalaran, apalagi mengarang sendiri) maka bagi mereka pahala di sisi Robb mereka, dan mereka tidak akan takut, dan mereka tidak akan bersedih)

AAMIIN (HARUSKAH DIBACA?)



Hadits Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi: dari Wa'il bin Hujr: Aku mendengar Rosululloh membaca "ghoiril maghdluubi 'alaihim waladl dloolliin" dan beliau berkata Aamiin dengan diperpanjang. (tambahan dari versi Abu Dawud: dan suaranya ditinggikan) (Hadits ini dihasankan oleh Tirmidzi, ditambahkan Tirmidzi bahwa hadits ini diriwayatkan juga oleh Ali dan Ibnu Mas'ud)

Hadits Abu Dawud, Ibnu Majah, Ad Daruqutni: dari Abu Huroiroh: Setiap Rosululloh membaca "ghoiril maghdluubi 'alaihim wa ladl dloolliin", dia akan berkata Aamiin sampai orang-orang yang di baris pertama di belakangnya bisa mendengarnya. (tambahan dari Abu Dawud dan Ibnu Majah: Maka masjid akan bergetar karena (orang-orang di belakang Nabi) membaca Amin)

Hadits Abu Dawud: dari Bilal bin Robah: Wahai Rosululloh, jangan selesaikan berkata Aamiin sebelum aku bisa bergabung denganmu (membaca Aamin)"

Hadits Bukhori & Muslim: dari Abu Huroiroh: dari Rosululloh: Idzaa ammanal imaamu fa amminuu, fa innahu man waafaqo takmiinuhu takmiinal malaa-ikati ghufiro lahu maa taqoddama min dzanbihi (Saat imam berkata "Aamiin", maka katakan "Aamiin", karena sesungguhnya barangsiapa berkata amin bersama aminnya para malaikat, dosa2nya terdahulu akan diampuni)

Hadits Muslim: dari Abu Huroiroh: dari Rosululloh: Idzaa qoola ahadukum fish sholaati aamiin, wal malaa-ikatu fis samaa-i aamiin, fawaafaqot ihdaahumal ukhroo ghufiro lahu maa taqoddama min dzanbihi (Saat kalian berkata Aamiin dalam sholat, dan para malaikat di langit berkata "Amin", maka dosa2nya terdahulu akan diampuni)

Hadits Muslim: dari Abu Musa: Idzaa qoola ya’nil imaama waladl dloolliin, fa quuluu aamiin, yujibkumullooh (Saat imam berkata "waladl-dloolliin", maka katakanlah "Amin", Allah akan menjawab doa kalian)

Hadits Imam Ahmad: dari A'isyah: saat kata Yahudi dikatakan kepada Rosululloh, Rosululloh berkata: Innahum lan yahsuduunaa 'alaa syai-in kamaa yahsuduunaa 'alal jumu’atil latii hadaanalloohu lahaa wa dlolluu 'anhaa (Sesungguhnya mereka tidak hasad (iri) kepada kita atas sesuatupun melebihi dari rasa iri mereka atas hari Jum'at dimana kita telah ditunjukkan oleh Allah, sementara itu mereka disesatkan-Nya (di hari Jum'at)), wa 'alal qiblatil latii hadaanalloohu lahaa wa dlolluu 'anhaa (dan atas qiblah (arah sholat) yang kita ditunjuki Allah) wa 'alaa qoulinaa kholfal imaami aamiin (dan atas pengucapan "Aamiin" di belakang imam)

Hadits Ibnu Majah: Maa hasadatkumul yahuudu 'alaa syai-in maa hasadatkum 'alas salaami wat takmiin (Yahudi tidak pernah hasad (iri) kepada kita atas sesuatupun melebihi dari rasa iri mereka atas salam (Assalaamu 'alaikum wa rohmatulloohi wa barokaatuh) dan atas perkataan "amiin")