Tampilkan postingan dengan label Iman Kpd Kitab2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iman Kpd Kitab2. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Juli 2010

Al Baqoroh ayat 75

AYAT 75: A fa tathma'uuna an yukminuu la kum wa qod kaana fariiqun minhum yasma'uuna kalaamalloohi tsumma yuharrifuunahu min ba'di maa 'aqoluuhu wa hum ya'lamuuna
  • A = apakah (ism istifham = kata tanya)
  • Fa = then/lalu
  • Thoma'a = he hoped/dia telah berharap → tathma'uuna = you-all hope/kalian berharap (fi'l mudloorik = kata kerja present tense)
  • An = that/bahwa
  • Amina = he felt secure/dia telah merasa aman → aamana (wazan 4: causative) = he believed/dia telah percaya → yukminuuna = they believe/mereka percaya (fi'l mudloorik) → karena ada an, maka yukminuuna berubah jadi bentuk subjunctive yukminuu
  • La = for/pada
  • Kum = you-all/kalian
  • Wa = dan
  • Qod = certainly/sesungguhnya
  • Kaana = he was/dia
  • Faroqo = he parted/dia telah membagi → fariiqun = a party/sekelompok
  • Min = from/dari
  • Hum = them/mereka
  • Sami'a = he listened/dia telah mendengarkan → yasma'uuna = they listen/mereka mendengarkan (fi'l mudloorik) → karena kaana, maka artinya kembali jadi past tense, yaitu they listened/mereka telah mendengarkan
  • Kalamun = a word/sebuah kata → kalaamun = words/kata-kata (jamaknya) → manshub jadi kalaaman, berarti posisinya adalah maf'ul (objek) dari yasma'uuna
  • Allah majrur jadi alloohi, dan kalaaman hilang tanwin jadi kalaama, berarti Allah adalah mudlof ilaih (pemilik) dari kalaama
  • Tsumma = then/lalu
  • Harofa = he changed/dia telah berubah → harrofa = he changed/dia telah merubah → yuharrifuuna = they change/mereka mengubah → karena kaana, maka artinya kembali jadi past tense, yaitu they changed/mereka telah mengubah
  • Hu = him/dia
  • Min = from/dari
  • Ba'dun = after/setelah → min adalah preposisi, maka ba'dun majrur jadi ba'din → ba'din hilang tanwin jadi ba'di, berarti maa 'aqoluuhu adalah mudlof ilaih dari ba'di
  • Maa = what/apa yang
  • 'Aqola = he understood/dia telah mengerti/dia telah pakai otak → 'aqoluu = they understood/mereka telah mengerti/mereka telah pakai otak
  • Hum = they/mereka
  • 'Alima = he knew/dia telah tahu → ya'lamuuna = they know/mereka tahu → karena kaana, maka artinya kembali jadi past tense, yaitu they knew/mereka telah tahu
A fa tathma'uuna an yukminuu la kum wa qod kaana fariiqun minhum yasma'uuna kalaamalloohi tsumma yuharrifuunahu min ba'di maa 'aqoluuhu wa hum ya'lamuuna

Inggris: Then do you-all hope that they believe to you-all and certainly a party from them listened to Allah's words, then they changed it after what they understood it, and they knew
Indonesia: Lalu apakah kalian berharap bahwa mereka percaya kepada kalian padahal sungguh sekumpulan dari mereka telah mendengarkan kata-katanya Allah, lalu mereka mengubahnya setelah apa yang mereka pahami dan mereka telah tahu?

A fa tathma'uuna an yukminuu la kum

Tafsir Ibn Katsir: apakah kalian, orang-orang beriman, berharap bahwa mereka akan menaati kalian. Mereka adalah orang-orang yang sudah tahu tanda-tanda kekuasaan Allah, tapi hati mereka mengeras setelahnya.

Wa qod kaana fariiqun min hum yasma'uuna kalamalloohi

Tafsir Ibn Katsir: yaitu mengubah maknanya.

Tsumma yuharrifuunahuu min ba'di maa 'aqoluuhu

Tafsir Ibn Katsir: mereka memahaminya dengan baik, tapi mereka menentang kebenarannya.

Wa hum ya'lamuuna

Tafsir Ibn Katsir: mereka sangat menyadari kesalahan interpretasi dan kejahatan mereka.

Al Maa-idah 13: Fa bimaa naqdlihim mii-tsaaqohum (lalu karena mereka melanggar perjanjian mereka) la'annaahum wa ja'alnaa quluubahum qoosiyatan (*Kami* telah melaknat mereka dan *Kami* telah menjadikan hati mereka mengeras) yuharrifuunal kalima 'an mawaa-dli'ihi (mereka mengubah kata-kata (Allah) dari tempatnya) wa nasuu hadhdhon mimmaa dzukkiruu bihii (dan mereka telah melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diingatkan dengannya) wa laa tazaalu taththoli'u 'alaa khoo-inatin minhum (dan kamu tidak berhenti melihat atas para pengkhianat dari mereka) illaa qoliilan minhum (kecuali sedikit dari mereka), fa'fu 'anhum washfah (maka maafkanlah mereka dan biarkanlah), innallooha yuhibbul muhsiniina (sesungguhnya Allah suka orang-orang baik).

Atsar Qotadah: mereka adalah Bani Isroil yang pernah mendengar kata-kata Allah lalu mereka mengubahnya setelah mengerti dan memahaminya.

Atsar Mujahid: para ulama mengubah kata-kata Allah dan menyembunyikan kebenarannya.

Atsar Ibn Wahb: dari Ibn Zaid: mereka mengubah Taurot yang Allah turunkan kepada mereka, mengubah yang halal jadi haram, dan menghalalkan yang haram, membenarkan yang salah, dan menyalahkan yang benar. Maka, saat seseorang yang mencari kebenaran datang kepada mereka dengan uang sogokan, mereka menghakimi kasusnya sesuai kitab Allah, tapi saat seseorang yang melakukan kejahatan mendatangi mereka dengan uang sogokan, mereka mengeluarkan kitab lain yang sudah dirubah, yang menyatakan bahwa itu adalah perbuatan baik. Saat seseorang yang tidak mencari kebenaran dan tidak memberi uang suap datang kepada mereka, mereka menyuruh berbuat baik kepadanya. Maka Allah berkata kepadanya di Al Baqoroh 44: a takmuruunan naasa bil birri wa tansauna anfusakum wa antum tatluunal kitaaba, a falaa ta'qiluuna (Kenapa kalian menyuruh orang-orang dengan perbuatan baik padahal kalian melupakan diri kalian sendiri, dan kalian membaca kitab? Lalu apakah kalian tidak punya otak?)

Senin, 16 Maret 2009

Al Baqoroh ayat 53

Nikmat Allah kepada Bani Isroil : 3. Taurot (ketetapan dan pembeda baik buruk)

AYAT 53: Wa idz aatainaa muusal kitaaba wal furqoona la’allakum tahtaduuna
  • Wa = dan
  • Idz = when/saat (untuk past tense)
  • Ataa = he came/dia telah datang → Aatainaa (wazan 4: causative) = we brought/kami telah mendatangkan (fi'l ma-dlii/past tense)
  • Kataba = he wrote/he determine/dia telah menulis/dia telah menetapkan → Kitaabun = a book/sebuah buku/sebuah ketetapan → al-kitaabu = THE book (bentuk definitnya) → manshub jadi al-kitaaba, berarti al-kitaaba adalah objek kedua dari aatainaa setelah muusaa
  • Faroqo = he distinguished/dia telah membedakan → furqoonun = a distinguisher/a criterion/sebuah pembeda baik-buruk → al-furqoonu = THE distinguisher (bentuk definitnya) → manshub jadi al-furqoona, berarti al-furqoona adalah objek ketiga dari aatainaa
  • La'alla = hopefully/semoga → bentuk lain dari inna; maka kum adalah ism inna, tahtaduuna adalah khobar inna
  • Kum = you-all/kalian
  • Hadaa = he guided/dia menunjukkan → tahtaduuna = those who are guided
Wa idz aatainaa muusal kitaaba wal furqoona la’allakum tahtaduuna

Inggris: And (remember) when *We* brought Musa THE book and THE distinguisher, hopefully you-all are those who are guided
Indonesia: Dan (ingatlah) saat *Kami* mendatangkan Musa buku/ketetapan dan pembeda baik-buruk, semoga kalian adalah mereka yang ditunjukkan (ke jalan yang benar)

Wa idz aatainaa muusal kitaaba wal furqoona

Tafsir Ibn Katsir: Al Kitab (ketetapan) adalah Taurot, Al Furqon adalah pembeda benar-salah, petunjuk-kesesatan.

Al A'roof 154: Wa fii nuskhotihaa hudan warohmatun (dan di dalam tulisannya adalah petunjuk dan rahmat) lilladziina hum li robbihim yarhabuuna (bagi orang-orang yang takut kepada Robb mereka).

La'allakum tahtaduuna

Al Qoshosh 43: Wa laqod aataina muusal kitaaba (dan sungguh *Kami* telah memberi Musa Al-Kitab) min ba’di maa ahlaknal quruunal uulaa (dari setelah apa yg Kami telah binasakan (dari) kurun awal (generasi terdahulu, yaitu Fir’aun dan pengikut2nya)) ba-shoo-iro linnaasi wa hudan warohmatal (sebagai "mata" bagi manusia dan petunjuk dan rahmat) la'allahum yatadzakkaruun (semoga mereka adalah orang-orang yang ingat (pada Allah))

Kamis, 05 Maret 2009

Al Baqoroh ayat 44

AYAT 44: A takmuruunan naasa bil birri wa tansauna anfusakum wa antum tatluunal kitaab. Afalaa ta’qiluuna

I'rob
  • A = apakah (berfungsi mengubah jadi kalimat tanya)
  • Amaro = he ordered/dia telah menyuruh → takmuruuna = you-all order/kalian menyuruh (fi'l mudloorik = present tense)
  • Naasun = a human being → an-naasu = THE human being
  • Bi = with/dengan
  • Barro = he was being pious/dia telah saleh → birrun = a righteousness/sebuah kesalehan → al-birru = THE righteousness → bi adalah preposisi, maka al-birru majrur jadi al-birri
  • Wa = dan
  • Nasiya = he pretend to forget/dia pura-pura lupa → tansauna = you-all forget/kalian pura-pura lupa
  • Nafsun = self/diri sendiri → anfusun = selves (bentuk jamaknya)
  • Kum = you-all/kalian → anfusun hilang tanwin jadi anfusu, berarti kum mudlof ilaih dari anfuusun → anfusu manshub jadi anfusa, berarti anfusa adalah objek dari tansauna → anfusakum = yourselves
  • Antum = you-all/kalian
  • Talaa = he recited/dia telah membaca → tatluuna = you-all recite/kalian membaca (fi'l mudloorik)
  • Kataba = he wrote/he decreed/dia telah menulis/dia telah menetapkan → kitaabun = a book/sebuah kitab → al-kitaabu = THE book (bentuk definitnya) → al-kitaabu manshub jadi al-kitaaba, berarti posisinya sebagai objek dari tatluuna
  • Fa = then/lalu
  • Laa = tidak → laa nafiyah (negasi)
  • 'Aqila = he had brain/dia telah punya otak → ta'qiluuna = you have brain/kalian punya otak (fi'l mudloorik)
A takmuruunan naasa bil birri wa tansauna anfusakum wa antum tatluunal kitaaba, a fa laa ta'qiluuna

Inggris: Do you-all order THE human being to THE righteousness and you-all pretend to forget yourselves while you-all recite THE Book? Then, don't you have brain?
Indonesia: Apakah kalian menyuruh manusia kepada kesalehan dan kalian sendiri pura-pura lupa padahal kalian membaca Al-kitab? Lalu apakah kalian tidak punya otak?

A takmuruunan naasa bil birri wa tansauna anfusakum

Atsar Muhammad bin Ishaq: dari Ibnu Abbas: maksudnya, padahal kalian lupa mempraktekkannya.

Atsar As-Suddi dan Abdurrozzaq: dari Ma'mar: dari Qotadah: Bani Isroil biasa menyuruh orang: taat pada Allah, takut padaNya dan berbuat baik; tapi mereka sendiri tidak mempraktekkannya. Maka Allah mengingatkan mereka lewat ayat ini.

Atsar Ibnu Juroij: Ahli Kitab dan orang munafik biasanya menyuruh orang sholat dan puasa, tapi mereka tidak mempraktekkannya. Jadi, kalau dia menyuruh kesalehan, dia harus menjadi yang pertama melaksanakannya.

Tafsir Ibn Katsir: menyuruh kesalehan adalah kewajiban, tapi melaksanakannya juga kewajiban yang sama pentingnya.

Menurut tafsir Adh Dhohhak: dari Ibnu Abbas: apakah kalian menyuruh orang lain masuk agama Rasulullah, dan perintah2 lain spt sholat, tapi kalian sendiri tidak mempraktekkannya?

Hud 88: Wamaa uriidu (Dan aku (Nabi Syu’aib) tidak mau) an ukhoolifakum (untuk aku berkontradiksi kepada kalian) ilaa maa anhaakum ‘anhu (kepada apa yg aku larang kalian atasnya). In uriidu illal ishlaaha (aku tidak menginginkan selain perbaikan) mastatho’tu (selama aku sanggup), wamaa taufiiqii illaa billaah (dan tidak ada petunjuk bagiku selain dengan (pertolongan) Allah), ‘alaihi tawakkaltu (hanya kepada-Nya aku mewakilkan (urusanku)) wa ilaihi uniib (dan hanya kepada-Nya aku kembali)

Wa antum tatluunal kitaab (padahal kalian membaca kitab)

Atsar Muhammad bin Ishaq: dari Ibn 'Abbas: kalian melarang manusia mengingkari kerosulan dan perjanjian yang kalian sebutkan dalam Taurot, kalian tahu apa yg dijanjikan Taurot terhadap orang yang mengabaikan perintah Allah, tapi kalian tidak mempraktekkannya. Dengan kata lain, kalian sendiri ingkar terhadap isi Taurot.

Afalaa ta’qiluun (tidakkah kalian berakal)

Menurut tafsir Ibnu Katsir: artinya apakah kalian tidak memikirkan apa yang kalian lakukan terhadap diri kalian sendiri? Semoga kalian sadar dari mengantuk kalian dan pandangan kalian kembali dari kebutaan.

Larangan menyuruh berbuat baik kalau dia tidak mempraktekkannya

Hadits ghorib Imam Abul Qosim Ath Thobroni: dari Jundub: dari Rosululloh: Ma-tsalul ‘aalimil ladzii yu’allimun nasal khoiro (Perumpamaan orang berilmu yang mengajarkan kebaikan pada manusia) wa laa ya’malu bihii (tapi dia sendiri tidak melakukannya) kama-tsalis sirooji yu-dlii-u linnaasi (seperti perumpamaan pelita menerangi manusia) wa yahriqu nafsah (tapi dia sendiri terbakar)

Hadits shohih Imam Ahmad (dari Abu Wa-il) dan hadits shohih Bukhori dan Muslim (dari Al A'masy): dari Usamah: dari Rosululloh: Yujaa-u bir rojuli yaumal qiyaamati (pada hari kiamat akan didatangkan seseorang) fa yulqoo fin naari (lalu dia dicampakkan di dalam neraka) fa tandaliqu bihiqtaabuhu (lalu ususnya terburai), fa yaduuru bihaa fin naari (lalu dia berputar dalam neraka (mengitari ususnya itu)) kamaa yaduurul himaaru biruhaahu (seperti keledai mengitari penggilingannya), fa ya-thiifu bihi ahlun naari (lalu para penghuni neraka berputar mengelilinginya) fa yaquuluuna (lalu mereka berkata), yaa fulaan maa a-shoobaka ("Wahai fulan, apa yang menimpamu?) alam takun takmurunaa bil ma’ruufi wa tanhaanaa 'anil munkar? (bukankah dulu kamu menyuruh berbuat baik dan mencegah berbuat munkar?") fa yaquula (lalu dia berkata) kuntu aamirukum bil ma’ruufi ("Dulu aku menyuruh kalian berbuat baik) wa laa aatiihi (tapi aku tidak mengerjakannya), wa anhaakum ‘anil munkari wa aatiihi (dan melarang kalian berbuat kemunkaran tapi aku sendiri mengerjakan).

Hadits shohih Imam Ahmad: dari Sayyar bin Hatim: dari Ja'far bin Sulaiman: dari Tsabit: dari Anas: dari Rosululloh: Innallooha yu'aa fil ummiyyiina yaumal qiyaamati (sesungguhnya Allah memaafkan orang2 butahuruf di hari kiamat) maa laa yu’aa fil 'ulamaak (dengan pemaafan yg tak Dia lakukan terhadap orang berilmu)

Az Zumar 9: Qul hal yastawil ladziina ya’lamuuna wal ladziina laa ya’lamuun (katakan, apakah sama orang yg berilmu (tahu larangan dan perintah Allah) dan orang yg tak berilmu)? Innamaa yata-dzakkaru uulul albaab (sesungguhnya orang2 yg punya otaklah yang bisa menerima pelajaran)

Hadits dari Ibnu Jarir Ath Thobari: dari Al Walid bin Uqbah: dari Rosululloh: Inna unaasan min ahlil jannati (sesungguhnya ada seorang manusia dari penghuni surga) yathla’uuna ‘alaa unaasin min ahlin naari (dia melihat kepada manusia dari penghuni neraka) fa yaquuluuna bima da-kholtumun naar (lalu mereka berkata "karena apa kalian masuk neraka?) fa walloohi maa da-kholnal jannata illaa bimaa ta’allamnaa minkum (padahal demi Allah tiada yg memasukkan kami ke surga selain karena apa yang kami pelajari dari kalian") fa yaquuluuna innaa kunnaa naquulu wa laa naf’al (Lalu mereka berkata "Sesungguhnya kami dulu hanya berkata dan tidak melakukannya")

Atsar Adh Dhohhak: dari Ibnu Abbas: Aku pernah didatangi seorang lelaki dan dia berkata, "Wahai Ibnu Abbas, sesungguhnya aku ingin menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat jahat." Aku berkata, "Apa kamu sudah melakukannya?" Dia berkata, "Aku baru ingin melakukannya", Lalu aku berkata, "Kalau kamu tidak takut akan terbongkar aib dirimu dengan 3 ayat dalam Alqur-an, maka lakukanlah". Dia berkata, "Apa saja 3 ayat itu?" Ibnu Abbas membacakan ayat Alqur-an:
1. "A takmuruunan naasa bil birri wa tansauna anfusakum" (Al Baqoroh 44)
Aku berkata "Apakah kamu sudah mengerjakan hal ini dengan sempurna?" Dia berkata "Belum"
2. "Limaa taquuluuna maa laa taf’aluun? Kaburo maqtan 'indalloohi an taquuluu maa laa taf’aluun" (Kenapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan - Ash Shoff 2-3)
Aku berkata "Apakah kamu telah mengerjakan hal ini dengan sempurna?" Dia berkata "Belum"
3. Ucapan seorang hamba yg sholih, Syu’aib: "Wamaa uriidu an ukhoolifakum ilaa maa anhaakum 'anhu. In uriidu illal ishlaaha" (Dan aku tidak menghendaki untuk aku menyalahkan kalian kepada apa yg aku larang kalian atasnya, tidaklah aku menghendaki selain perbaikan - Huud 88)
Aku berkata "Dan apakah kamu sudah mengerjakan hal ini dengan sempurna?" Dia berkata "Belum", Maka aku berkata "Mulailah dari dirimu sendiri"

Atsar Ibrohim An Nakho'i: aku benar-benar tidak suka menasehati karena 3 ayat: Al Baqoroh 44, Ash Shoff 2-3, dan Huud 88.

Senin, 02 Maret 2009

Al Baqoroh ayat 41

AYAT 41: Wa aaminuu bimaa anzaltu mushoddiqon limaa ma’akum walaa takuunuu awwala kaafirin bihii. Walaa tasytaruu bi aayaatii tsamanan qoliilan. Wa iyyaaya fattaquuni

I'rob
  • Wa = dan
  • Aamana = he believed/dia telah percaya → aaminuu = (you-all) believe!/berimanlah kalian (fi'l 'amr = kata kerja perintah)
  • Bi = with/dengan
  • Maa = what/apa yang (relative pronoun)
  • Nazala = he descended/dia telah turun → anzala (wazan 4: causative) = he sent down/dia telah menurunkan → anzaltu = I sent down/Aku telah menurunkan
  • Shodaqo = he was truthful/dia telah benar → shoddaqo (wazan 2) = he verified/dia telah membenarkan → mushoddiqun (ism fa'ilnya/yang me-) = verifier/yang membenarkan
  • Li = to/atas
  • Ma'a = together with/bersama → preposisi
  • Kum = you-all/kalian
  • Laa = Don't! → laa nahiyah (larangan)
  • Takuunuuna = you-all are/kalian adalah → Takuunuu (bentuk jussive, karena ada laa) → kaana bentuk fi'l mudloorik/present tense, berarti "kalian" adalah ism inna, dan awwalu adalah khobar kaana
  • Awwalun = the first/awal → khobar kaana harus manshub (berakhiran "a") jadi awwalan
  • Kafaro = he disbelieved/dia telah tidak percaya → kaafirun = disbeliever/orang yang tidak percaya → kaafirun adalah mudlof ilaih dari awwalun, maka kaafirun majrur jadi kaafirin
  • Bi = with/dengan
  • Hu = him/dia → bi adalah preposisi, maka hu majrur jadi hi
  • Laa = Don't! → laa nahiyah (larangan)
  • Syaroo = he bartered/dia telah menukar → tasytaruuna = kalian menukarkan (fi'l mudloorik = present tense) → karena laa, maka tasytaruuna berubah jadi tasytaruu (jussive)
  • Aayatun = a verse/a miracle/sebuah ayat → aayaatun = bentuk jamaknya/verses/miracles → bi adalah preposisi, maka aayaatun majrur jadi aayaatin
  • -y = my/-ku → akhiran -y adalah mudlof ilaih dari aayaatin, berarti aayaatin hilang tanwin jadi aayaati
  • Tsamanun = a price/sebuah harga → posisinya sebagai Haal (kata keterangan) sehingga harus manshub (berakhiran "a") jadi tsamanan
  • Qoliilun = he was small/dia telah sedikit → sama-sama manshub dan naqiroh dengan tsamanan, berarti sebagai na'at dari tsamanan
  • Wa = dan
  • Iyyaa (=only unto/hanya kepada) + nii (me) = iyyaaya = only unto me
  • Fa = then/maka
  • Waqoo = he feared Ittaquu = (you-all) fear!/(kalian) takutlah!
  • -ni = me/aku (objek)
Wa aaminuu bimaa anzaltu mushoddiqon limaa ma'akum, wa laa takuunuu awwala kaafirin bihii, wa laa tasytaruu bi aayaatii tsamanan qoliilan. Wa iyyaaya fattaquun

Inggris: And (you all) believe with what I sent down verifying what's with you-all! And don't (you-all) be the first of disbeliever with it! And don't you-all barter My verses/miracles with a small price! And unto Me alone then (you-all) fear!
Indonesia: Dan percayalah kalian dengan apa yang telah Aku turunkan yang membenarkan terhadap apa yang bersama kalian! Dan jangan kalian menjadi yang orang yang pertama kali tidak percaya dengannya! Dan jangan kalian menukar ayat-ayatKu dengan harga yang rendah. Dan hanya kepadaKu maka kalian takutlah!

Wa aaminuu bimaa anzaltu mushoddiqon limaa ma'akum

Tafsir Ibn Katsir: yaitu kepada Alquran yang Allah kirim kepada Muhammad, nabi dari bangsa Arab yang buta huruf, sebagai membawa kabar gembira, peringatan, dan cahaya. Quran mengandung kebenaran dari Allah dan mengakui apa yang diturunkan sebelumnya dalam Taurot dan Injil.

Atsar Abul 'Aliyah, Mujahid, Ar Robi' bin Anas, Qotadah: Allah berkata "Wahai Bani Isroil, percayalah dengan apa yang Akutelah turunkan (Alqur-an) yang membenarkan apa yang kalian punya (Taurot dan Injil)", karena deskripsi Muhammad ada dalam Taurot dan Injil.

Walaa takuunuu awwala kaafirin bihi

Atsar Ibnu Abbas: "Jangan menjadi orang yang pertama kali tidak percaya kepada Alqur-an (atau Muhammad) padahal kalian tahu lebih banyak daripada orang lain".

Atsar Abul 'Aliyah, Al Hasan Al Bashri, As Suddi, Ar Robi' bin Anas: yaitu larangan kepada Ahli Kitab untuk menjadi orang yang pertama kali tidak percaya setelah mendengar bahwa dia telah dikirim sebagai seorang nabi.

Tafsir Ibn Jarir: Bihii maksudnya Alqur-an.

Tafsir Ibn Katsir: ayat ini ditujukan kepada Bani Isroil, karena mereka yang di Madinah adalah Bani Isroil pertama yang tidak percaya. Padahal sebelumnya Muhammad sudah ditolak orang Quroisy dan orang Arab, jangan memperburuknya.

Walaa tasytaruu bi aayaatii

Tafsir Ibn Katsir: jangan menukar iman kepada ayat-ayat Allah dan iman kepada rosulNya, dengan kehidupan dunia dan godaannya yang hanya sebentar dan tidak abadi.

Menurut tafsir Abu Ja’far: dari Ar Robi’ bin Anas: dari Abul ’Aliyah: Jangan menerima upah dalam mengajarkan ayat Allah.

Larangan dakwah dengan minta upah

Shood 86: Qul maa as-alukum 'alaihi min ajrin (katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepada kalian atas ini (penyampaian risalah dan nasihat ini)) wa maa anaa minal mutakallifiina (dan aku bukan dari orang-orang yang mengada-ada)

Bukhori: dari Sufyan Ats-Tsauri: dari Ibn Mas'ud: Wahai manusia, barangsiapa tahu (berilmu) sesuatu, maka katakanlah. Dan barangsiapa tidak tahu (belum punya ilmunya), maka katakan Allohu a'lam (Allah lebih tahu), karena seseorang yang berkata Allohu A'lam adalah termasuk bagian dari ilmu. Sesungguhnya Allah berkata kepada Rosululloh Shood 86.

Hadits Ibn 'Asakir dan Al Baihaqi: dari Abu Darda': dari Rosululloh: Man akhodza 'alaa ta'liimil qur-aani qousan, qolladahulloohu qousan min naari yaumal qiyaamah (barangsiapa mengambil sebuah busur atas mengajarkan Alqur-an, pasti Allah mengalungkan kepadanya busur dari api neraka pada hari kiamat) → hasan li ghoirihi, karena dikatakan "tidak ada asalnya" oleh Al Baihaqi sendiri, lalu dibantah oleh Ibn At Turkimani karena sanad Al Baihaqi shohih tapi entah kenapa dia mendloifkannya sendiri. Abu Hatim tidak ada masalah dengan sanad hadits ini. Menurut Ibnu Hajar Asyqolani, sanadnya sesuai syarat shohih Muslim. Cacat yang ada dari hadits ini adalah Sa'id bin Abdul Aziz rusak hafalannya di akhir usianya (tapi belum diketahui, hadits ini didengar setelah hafalannya rusak atau sebelumnya), dan Al Walid bin Muslim adalah mudallis tadlis taswiyah (tadlis terburuk).

Hadits shohih Abu Dawud, Ibnu Majah, Imam Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi: dari 'Ubadah bin Ash Shomit: Aku mengajarkan Alqur-an dan menulis kepada ahli Shuffah, lalu salah seorang dari mereka menghadiahkan sebuah busur kepadaku. Kata hatiku, busur ini bukan harta, toh dapat aku gunakan untuk berperang fii sabiilillah. Aku mendatangi Rosululloh dan bertanya kepada dia, "Wahai Rosululloh, seorang lelaki yang telah kuajari menulis dan membaca Alqur-an telah menghadiahkan sebuah busur kepadaku. Busur itu bukanlah harta berharga dan dapat aku gunakan untuk berperang fii sabiilillah." Rosululloh berkata, in kunta tuhibbu an tuthowwaqo min naarin faqbalhaa (Kalau kamu suka dililitkan kalung dari neraka, maka terimalah!) Lalu aku menolak.

Hadits hasan shohih Tirmidzi: dari Utsman bin Abi Al 'Ash: Sesungguhnya nasihat terakhir Rasulullah kepadaku adalah barangsiapa menjadi muadzin janganlah dia mengambil upah atas adzannya.

Hadits hasan lighoirihi Tirmidzi, Imam Ahmad, dan Al Baghowi: dari ‘Imron bin Husain:
Aku melihat seorang qori sedang membaca Alqur-an lalu meminta upah. Akupun mengatakan kalimat istirja' (inna lillahi wa inna ilaihi rooji'uuna) lalu aku berkata, "Aku mendengar Rosululloh pernah berkata man qoro-al qur-aana (barangsiapa membaca Alqur-an) falyas-ililaaha bihi (maka mintalah kepada Allah dengannya (pahalanya)), fa innahu sayajii-u iqwaamun yaqro-uunal qur-aana yas-iluuna bihin naas (karena sesungguhnya akan datang beberapa kaum yang membacakan Alqur-an meminta dengannya (upahnya) kepada manusia)"

Hadits hasan Ahmad, Al Baghowi, Al Hakim: dari Abu Sa'id Al Khudri: dari Rosululloh:
Ta'allamul qur-aana (pelajarilah Alqur-an) was-alullooha bihil jannah (dan mintalah Allah surga (sebagai balasannya)) qobla an yata'allamahu qoumun yas-aluunaihid dun-yaa (sebelum datang suatu kaum yang mempelajarinya, meminta dunia (upah) sebagai imbalannya) fa innal qur-aana yata'allamuhu tsalaatsah (sesungguhnya orang yang mempelajari Alqur-an ada 3) rojalun yubaahii bihi (orang yang membanggakan diri dengannya (dengan mempelajarinya)) wa rojulun yastakkilu bihi (dan orang yang mencari makan dengannya (dengan mempelajarinya)) wa rojulun yaqro-ahulloohi (dan orang yang membacakannya karena Allah)

Hadits shohih Abu Dawud dan Imam Ahmad: dari Jabir bin Abdillah: Rosululloh keluar menemui kami. Saat itu kami sedang membaca Alqur-an, di antara kami ada orang2 Arab dan orang2 'Ajam (non-Arab). Beliau berkata, iqroo-uu fakullun hasanun (bacalah (Alqur-an), karena (bacaan kalian) semuanya bagus) wa sayajii-u iqwaamun yuqiimuunahu kamaa tuqoomul qidhu (dan akan datang beberapa kaum yang menegakkan yang harus ditegakkan (Alqur-an dan Islam) seperti menegakkan anak panah) yata'ajjaluunahu (mereka hanya mencari materi dengannya) wa laa yata-ajjaluunahu (dan mereka tidak mencari pahala)

Hadits shohih Ath Thohawi, Imam Ahmad, dan Thobroni: dari Abdurrohman bin Syibl Al Anshoori: Mu'awiyah (nabi palsu zaman Rasulullah) berkata kepadanya "Kalau kamu datang ke kemahku, maka sampaikan hadits yg telah engkau dengar dari Rosululloh" Lalu dia berkata, "Aku mendengar Rosululloh berkata: Iqro-uul qur-aana wa laa takkuluu bihi (kalian bacalah Alqur-an dan kalian jangan mencari makan darinya) wa laa tastaktsiruu bihi (dan kalian jangan menganggapnya remeh) wa laa taghluu fiihi (dan kalian jangan berlebihan dengannya)

Hadits Bukhori & Muslim: dari Abdullah bin as-Sa'dy:
Umar telah memakai jasaku untuk mengumpulkan zakat. Setelah aku selesai mengumpulkan kemudian diserahkan kepada Umar, dia memerintahkan agar aku diberi upah. Aku berkata, “Semua kukerjakan ikhlas lillahi ta'ala”. Umar pun berkata, “Aku juga pernah menjadi amil zakat semasa Rasulullah, lalu aku diberi upah, maka aku berkata seperti yang engkau katakan tadi (semua kukerjakan dengan ikhlas lillahi ta'ala) Rasulullah pun berkata, “Apabila engkau diberi sesuatu tanpa meminta-minta maka makanlah dan sedekahkanlah"

Ruqyah yang sesuai Alqur-an boleh diminta upahnya, dan mahar boleh berupa hafalan Quran

Hadits Bukhori: dari Sahal bin Sa’d As Sa’idi: Kami sedang duduk bersama Rasulullah, lalu datang seorang wanita dan memperlihatkan dirinya kepada Rasulullah, maka Rasulullah menundukkan pandangannya dan lalu mengangkatnya kembali dan beliau tak menyuruh perempuan itu pergi. Maka salah seorang sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, nikahkan aku dengannya”, Rasulullah berkata, “Apakah kau punya sesuatu (untuk mahar)?” Lelaki itu berkata, “Tidak”, Rasulullah berkata, “Walau hanya dari cincin besi?” Lelaki itu berkata, “Saya tak punya apa2, walau itu cincin besi, tapi saya akan sobek kain ini, separuh saya serahkan untuk mahar, separuh lagi untuk saya pakai”, Rasulullah berkata, “Tidak! Apakah kamu menguasai sesuatu dari Alqur-an?” Lelaki itu berkata, “Ada wahai Rasulullah”, Rasulullah berkata, “Zawwajtukahaa bimaa ma’aka minal qur-aan” = Aku nikahkan kamu kepadanya dengan mahar apa-apa yg kauhafal dari Alqur-an.

Hadits Shohih Bukhori: dari Abu Sa'id Al Khudri: sekelompok sahabat Rosulullah sedang dalam perjalanan hingga beristirahat di dekat salah satu suku Arab dan meminta mereka dijamu sebagai tamu, tapi mereka (suku itu) menolak menjamu mereka. Lalu kepala suku itu digigit ular (atau disengat kalajengking) dan dia diberikan segala pengobatan tapi semuanya gagal. Beberapa dari mereka berkata "Maukah kamu mendatangi kelompok yang beristirahat di dekat kalian dan mencari tahu apakah salah satu dari mereka punya sesuatu yang berguna?" Mereka mendatangi mereka dan berkata "Wahai sekelompok orang, Pemimpin kami digigit ular (atau disengat kalajengking) dan kami sudah mengobatinya dengan segala hal tapi tidak ada yang berguna. Apakah ada di antara kalian yang memiliki sesuatu yang berguna?" Salah satu dari mereka menjawab, "Ya, demi Allah aku tahu cara mengobati dengan Ruqyah. Tapi demi Allah kami ingin kalian menerima kami sebagai tamu kalian tapi kalian menolak. Aku tidak akan mengobati pasien kalian dengan Ruqyah sampai kalian menjanjikan sesuatu kepada kami sebagai upah." Maka mereka setuju memberi sekawanan kambing kepada musafir itu. Lelaki itu datang ke kepala suku bersama mereka, meludahi (gigitannya) dan membacakan Surat Al Fatihah sampai pasiennya sembuh dan bisa jalan seperti tidak pernah sakit. Saat orang-orang suku itu membayar upah mereka sesuai perjanjian, beberapa dari mereka (musafir) berkata, "Bagi-bagikan kambingnya" Tapi orang yang meruqyah berkata "Jangan melakukannya sampai kita mendatangi Rosululloh dan menceritakan kepadanya apa yang terjadi, dan lihat apa yang dia akan perintahkan kita. Maka mereka mendatangi Rosululloh dan menceritakan kisahnya dan dia berkata "Bagaimana kalian tahu bahwa Surat Al Fatihah adalah Ruqyah? Kalian telah melakukan hal yang benar. Bagikan (kambingnya) dan aku dibagi juga ya." Rosululloh lalu tersenyum.

Hadits shohih Abu Dawud, Ahmad, Ibn Majah, Al Hakim: dari Abu Huroiroh: Man ta'allama 'ilman mimmaa yubtaghoo bihi wajhulloohi (barangsiapa mengajarkan ilmu dengan mencari Wajah Allah) laa yata'allamuhu illaa li yushiiba bihi arodlon minad dun-yaa ((tapi) dia tidak mengajarkannya kecuali untuk mencari keuntungan dunia) lam yajid 'arfal jannati yaumal qiyaamah (dia takkan mendapatkan bau surga pada hari kiamat)

Lalu bagaimana dengan hadits yang membolehkan Kitabulloh diambil upahnya?

Hadits shohih Bukhori: dari Ibn Abbas: Inna ahaqqo maa akhodztum 'alaihi ajron kitaabulloohi (sesungguhnya yang paling berhak kalian ambil upah atasnya adalah Kitabulloh)

Tapi kemudian ada hadits lain yang menjelaskannya:

Hadits shohih Bukhori: dari Ibn Abbas: Kalian adalah yang paling berhak menerima upah dari melakukan Ruqyah dengan kitab Allah.

Para rosul pun dakwah sambil tetap mencari nafkah

Hadits Muslim dan Ahmad: dari Abu Huroiroh: dari Rosululloh: Zakarriyaa adalah seorang tukang kayu.

Hadits Bukhori: dari Miqdam bin Ma'dikariba: dari Rosululloh: Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil usahanya sendiri, sedangkan Dawud juga makan dari hasil usahanya sendiri

Saba' 10-11: Wa laqod aatainaa daawuuda minnaa fadllan (Dan sungguh Kami telah memberi Dawud karunia dari Kami) yaa jibaalu awwibii ma'ahu wath thoiro (wahai para gunung dan para burung, bertasbihlah berulang-ulang bersamanya) wa a lannaa lahul hadiida (dan Kami telah melunakkan besi baginya (mukjizat membengkokkan besi)) ani'mal saabighootin (bahwa "kamu buatlah baju besi yang besar) wa qoddir fis sardi wa'maluu shoolihan (dan ukurlah didalam anyaman (baju besi) dan berbuat baiklah")

Asy-Syu'aro 108-109: Wattaqulooha wa a-thii'uuni (dan takutlah pada Allah dan taatilah aku (Nuh)) wa maa as-alukum 'alaihi min ajrin (dan aku tidak minta kalian upah atasnya) in ajriya illaa 'alaa robbil 'aalamiina (tiadalah upahku kecuali atas Robb dari semua alam)

Asy-Syu'aro 126-127: Fattaqullooha wa a-thii'uuni (maka takutlah pada Allah dan taatilah aku (Hud)) wa maa as-alukum 'alaihi min ajrin (dan aku tidak minta kalian upah atasnya) in ajriya illaa 'alaa robbil 'aalamiina (tiadalah upahku kecuali atas Robb dari semua alam)

Asy-Syu'aro 144-145: Fattaqullooha wa a-thii'uuni (maka takutlah pada Allah dan taatilah aku (Shoolih)) wa maa as-alukum 'alaihi min ajrin (dan aku tidak minta kalian upah atasnya) in ajriya illaa 'alaa robbil 'aalamiina (tiadalah upahku kecuali atas Robb dari semua alam)

Asy-Syu'aro 164-165: Fattaqullooha wa a-thii'uuni (maka takutlah pada Allah dan taatilah aku (Luth)) wa maa as-alukum 'alaihi min ajrin (dan aku tidak minta kalian upah atasnya) in ajriya illaa 'alaa robbil 'aalamiina (tiadalah upahku kecuali atas Robb dari semua alam)

Asy-Syu'aro 179-180: Fattaqullooha wa a-thii'uuni (maka takutlah pada Allah dan taatilah aku (Syu'aib)) wa maa as-alukum 'alaihi min ajrin (dan aku tidak minta kalian upah atasnya) in ajriya illaa 'alaa robbil 'aalamiina (tiadalah upahku kecuali atas Robb dari semua alam)

Shood 86 (sudah disebutkan di atas)

Al Furqoon 57: Qul maa as-alukum 'alaihi min ajrin (Katakanlah: "Aku tidak minta kalian upah atasnya) illaa man syaa-a an yatta-khidza ilaa robbihi sabiilan (kecuali barangsiapa yang mau untuk mengambil jalan menuju Robbnya)

Yaasiin 21: Ittabi'uu man laa yas-alukum ajron wa hum muhtaduuna (ikutilah barangsiapa yang tidak minta upah kepadamu, dan mereka adalah orang-orang yang diberi petunjuk)

Wa iyyaaya fattaquuni

Atsar Ibnu Abi Hatim: dari Tholq bin Habib: Taqwa adalah ta'mala bi thoo'atillah (berbuat dengan menaati Allah) rojaa-a rohmatillah ’alaa nuurin minallah (dengan mengharap rahmat Allah atas cahaya (petunjuk) dari Allah) wa tatruka ma'shiyaatallah 'alaa nuurin minallah (dan meninggalkan maksiat kepada Allah atas cahaya dari Allah) takhoofu 'iqooballah (karena takut terhadap siksa Allah)

Jumat, 30 Januari 2009

Al Baqoroh ayat 38-39

AYAT 38: Qulnah bithuu minhaa jamii'an. Fa immaa yaktiyannakum minnii hudan faman tabi'a hudaaya falaa khoufun 'alaihim walaa hum yahzanuuna

I'rob

  • Qoola = he said/dia telah berkata → qulnaa = we said/kami berkata (fi'l ma-dlii = past tense)
  • Habatho = he descended/dia telah turun → ihbithuu = (you-all) descend!/kalian turunlah! (fi'l 'amr = kata kerja perintah)
  • Min = from/dari
  • Haa = her/dia (surga)
  • Jama'a = he gathered/dia mengumpulkan → Jamii'an = entirely (sebagai Haal/kata keterangan, maka harus manshub/berakhiran "an")
  • Fa = then/lalu
  • Immaa = if/jika
  • Ataa = he came/dia telah datang → yaktii = he comes (fi'l mudloorik = present tense) → yaktiyanna = he comes (energetic mood)
  • Kum = you-all/kalian
  • Min (=from) + nii (=me) = minnii = from me/dariku
  • Hadaa = he guided/dia telah menunjukkan → hudan = a guidance
  • Man = who → karena tabi'a bersubjek "he", maka man = he who
  • Tabi'a = he followed/dia mengikuti
  • Hudan (a guidance) + akhiran "y" (=my) = hudaaya = my guidance/petunjukku
  • Laa → Laa nafiyah (negasi)
  • Khowafa = he feared/dia telah takut → khoufun = a fear/sebuah ketakutan → laa khoufun = no fear/tiada ketakutan
  • 'Alaa = on/atas
  • Hum = them/mereka → 'alaa adalah preposisi, maka hum majrur jadi him → 'alaa+him='alaihim
  • Hazana = he grieved/dia telah bersedih → yahzanuuna = they grieve/mereka bersedih (fi'l mu-dloorik = present tense) → laa yahzanuuna = they don't grieve/mereka tidak bersedih
Qulnah bithuu minhaa jamii'an, fa immaa yaktiyannakum minnii hudan faman tabi'a hudaaya falaa khoufun 'alaihim walaa hum yahzanuuna

Inggris: *We* said "Descend you-all from her (the garden) entirely, then if there comes to you a guidance from me, then one who followed My guidance then no fear on them and they doesn't grieve."
Indonesia: *Kami* berkata, "Turunlah kalian darinya (surga) semuanya, lalu jika datang kepada kalian sebuah petunjuk dariKu, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjukKu, lalu tiada ketakutan atas mereka dan mereka tidak bersedih."

Qulnah bithuu minhaa jamii'an

Tafsir Ibn Katsir: Allah menurunkan Adam, Hawa, dan iblis dari surga ke bumi

Fa immaa yaktiyannakum minnii hudan

Tafsir Ibn Katsir: Allah mengingatkan mereka bertiga bahwa Dia akan menurunkan kitab-kitab dan mengutus para nabi dan rosul kepada keturunan mereka.

Atsar Abul 'Aliyah: Hudan maksudnya para nabi dan rosul, ayat/tanda-tanda kekuasaan yang jelas, dan penjelasan yang terang.

Faman tabi'a hudaaya

Tafsir Ibn Katsir: yaitu barangsiapa menerima isi kitab-kitab Allah dan menerima para rosul yg diutusNya.

Falaa khoufun 'alaihim walaa hum yahzanuun

Tafsir Ibn Katsir: ketakutan maksudnya akhirat, kesedihan maksudnya kesedihan dalam kehidupan dunia.

Thoohaa 123: Fa immaa yaktiyannakum minnii hudan (maka jika datang pada kalian sebuah petunjuk dariku) fa manittaba'a hudaaya fa laa yadlillu wa laa yasyqoo (lalu barangsiapa yang mengikuti petunjukKu maka dia takkan tersesat dan dia takkan celaka)


AYAT 39: Walladziina kafaruu wa kadzdzabuu bi aayaatinaa ulaa-ika ashhaabun naar. Hum fiihaa khooliduun.

I'rob


  • Wa = and/dan
  • Alladziina = those who = yang (ism maushul=relative pronoun) → berarti kalimat berikutnya (yaitu kafaruu wa kadzdzabuu bi aayaatinaa) akan dijadikan kata benda
  • Kafaro = he disbelieved/dia telah tidak percaya → kafaruu = they disbelieved/mereka telah tidak percaya
  • Kadzaba = he lied/dia telah berbohong → kadzdzaba (wazan 2: causative) = he denied/dia telah mengingkari → kadzdzabuu = they denied/mereka telah mengingkari
  • Bi = with/dengan
  • Aayatun = verse/miracle/ayat/tanda-tanda kekuasaan/mukjizat → Aayaatun = bentuk jamaknya/verses/miracles → bi adalah preposisi, maka aayaatun majrur jadi aayaatin
  • -naa = us/kami → aayaatin hilang tanwin jadi aayaati, berarti -naa adalah mudlof ilaih (pemilik) dari aayaati
  • Ulaa-ika = those
  • Shohaba = he companied/dia bersahabat → saahibun = a companion/seorang sahabat → ashhaabu = bentuk jamaknya/companions
  • Naarun = A hell/sebuah neraka (jenis kelamin: perempuan) → an-naaru = THE hell (bentuk definitnya) → an-naaru majrur jadi an-naari, berarti posisinya adalah sebagai mudlof ilaih dari ashhaabu → ashhaabun naari adalah khobar, dan ulaa-ika adalah mubtadak
  • Hum = they/mereka
  • Fii = in/di dalam
  • Haa = her/dia (the hell)
  • Kholida = he remained forever/dia tinggal selamanya → khooliduuna = they remained forever/mereka tinggal selamanya (fi'l ma-dlii)
Jadi, Walladziina kafaruu wa kadzdzabuu bi aayaatinaa ulaa-ika ashhaabun naari, hum fiihaa khooliduuna = And those who disbelieved and denied with *Our* verses/miracles, they are companions of THE hell, they remained forever in her (the hell) = Dan orang-orang yang tidak percaya (tidak beriman) dan ingkar dengan ayat-ayat/mukjizat-mukjizat *Kami*, mereka adalah sahabat-sahabat neraka, mereka telah tinggal selamanya di dalamnya.

Khooliduuna (kekal)

Tafsir Ibn Katsir: mereka tinggal di neraka selamanya, tidak bisa mencari jalan keluarnya.

Hadits Muslim: dari Ibnu Jarir: dari Abu Sa'id Alkhudri: dari Rosululloh: Ammaa ahlun naaril ladziina hum ahluhaa (adapun penghuni neraka yang memang penghuninya) falaa yamuutuuna fiihaa walaa yahyauna (maka mereka tidak mati di dalamnya dan tidak hidup) walaakin aqwaamun a-shoobat humun naaru bi khothooyaa hum (tapi kaum-kaum yang mereka adalah sahabat-sahabat neraka karena dosa-dosa mereka) fa amaatat hum imaatatan (lalu benar-benar matilah mereka) hattaa idzaa shooruu fahmaa u-dzina fisy syafaa'ah (sampai saat mereka jadi arang, lalu mereka diizinkan mendapat syafa'at)

Thoohaa 124: Wa man a'rodlo 'an dzikrii (Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingatKu) fa inna lahu ma'ii-syatan dlonkan (maka sesungguhnya baginya adalah kehidupan yang susah) wa nahsyuruhu yaumal qiyaamati a'maa (dan kami mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta)

Thoohaa 125-126: Qoola robbi lima hasyartanii a'maa (dia telah berkata, "Robbku, kenapa Engkau mengumpulkanku secara buta) wa qod kuntu ba-shiiron (padahal sesungguhnya aku bisa melihat) qoola kadzaalika atatka aayaatunaa fa nasiitahaa (Dia telah berkata, "Demikianlah, ayat-ayat/mukjizat-mukjizat Kami telah datang kepadamu lalu kamu melupakannya) wa kadzaalikal yauma tunsaa (dan demikianlah pada hari ini kalian dilupakan)

Rabu, 07 Januari 2009

Al Baqoroh ayat 24

AYAT 24: Fa in lam taf’aluu walan taf’aluu fattaqun naarol latii wa quuduhan naasu wal hijaaroh. U’iddat lil kaafiriin.

I'rob

  • Fa = then/lalu
  • In = if/jika
  • Lam → lam nafiyyah (negasi)
  • Fa'ala = he made/dia telah membuat → lam taf’aluu = you-all don't make/kalian tidak membuat
  • Wa = dan
  • Lan = will never/takkan → lan taf'aluu = you will never make/kalian takkan (bisa) membuat
  • Taqoo = he feared/dia telah takut → ittaquu = fear you-all/takutlah kalian (fi'l amr = kata kerja perintah)
  • Naarun = a fire/sebuah api → an-naaru = THE fire → gender naarun adalah muannats (feminin) → an-naaru manshub jadi an-naaro, berarti posisinya maf'ul (objek) dari ittaquu.
  • Allatii = one who/yang (ism maushul untuk feminin tunggal) → karena naaron feminin → berarti waquuduhan naasu wal hijaaroh adalah kalimat yang ingin di-gerund-kan, yaitu sebagai na'at (sifat) dari an-naaro.
  • Waqoda = he kindled/dia menyalakan → waquudun/waqiidun/wiqoodun = kayu api untuk menyalakan perapian
  • Haa = her/dia → yaitu an-naaro
  • Naasun = A human being/seorang manusia → an-naasu = THE human being
  • Hajarun = a stone/sebuah batu → hijaarotun = a stone (gender perempuan) → al hijaarotu = THE stone → waquuduha adalah mubtadak, an-naasu wal hijaaroh adalah khobar, maka di terjemahannya ditambahkan "adalah"
  • 'Adda = he calculated/dia telah menghitung → a'addu (wazan 4: causative) = he prepared/dia telah menyiapkan → a'addut = she prepared → u'iddat = she was prepared/dia disediakan (fi'l majhul = kata kerja pasif)
  • Li = for/bagi
  • Kafaro = he disbelieved/dia telah ingkar → kaafirun = disbeliever/orang yang ingkar → al-kaafirun = THE disbeliever → al-kaafiruuna = bentuk jamaknya/THE disbelievers → li adalah preposisi, maka al-kaafiruuna majrur jadi al-kaafiriina
Fa in lam taf'aluu wa lan taf'aluu, fattaqun naarol latii waquuduhan naasu wal hijaaroh, u'iddat lil kaafiriina

Inggris: And then if you-all don't make and you'll never (be able to) make, then fear (you-all) THE fire whose fuel is THE human being and THE stone, she (the fire) was prepared for THE disbelievers.
Indonesia: lalu jika kalian tidak (bisa) membuat dan kalian takkan (bisa) membuat, maka kalian takutlah sang api (neraka) yang kayu apinya adalah manusia dan batu, dia (neraka) telah disiapkan untuk sang orang-orang kafir.

Fa in lam taf'aluu wa lan taf'aluu

Al Isroo’ 88: Qul la-inijtama'atil insu wal jinnu 'alaa an yaktuu bi mistlihi haadzal qur-aani (Katakan: Sungguh jika manusia dan jin berkumpul untuk mereka mendatangkan (membuat) yang serupa dengan Alqur-an ini) laa yaktuuna bi mitslihi walau kaana ba'dluhum li ba'dlin dhohiiroo (mereka takkan mendatangkan (membuat) dengan serupa walaupun sebagian mereka adalah penolong dari sebagian yg lain)

Karena Alqur-an adalah Mukjizat

1. Tidak ada yang bisa menandinginya
Tafsir Ibn Katsir: Alqur-an adalah mukjizat, Allah memberitahukan dengan yakin bahwa tidak ada yang bisa menandingi Alqur-an selamanya (kenyataannya begitu). Karena Alqur-an adalah Perkataan Allah, tidak mungkin sama dengan perkataan makhluk ciptaan-Nya. Orang yang mencermati Alqur-an pasti menyadari Alqur-an adalah bahasa tingkat tinggi, melalui kata-kata yang tersurat maupun tersirat.

2. Kalimat dalam Alqur-an semua sempurna dan dijelaskan (di ayat lain)
Huud 1: Alif Lam Roo. Kitaabun uhkimat aayaatuhu ((ini adalah) sebuah buku yang ayatnya sempurna) tsumma fushshilat min ladun hakiimin khobiir (lalu dijabarkan dari sisi Al Hakim (Yang Maha Bijaksana) Al Khobiir (Yang Mahatahu).

3. Quran itu benar dan adil, tidak berlebihan: tidak seperti puisi yang berisi kebohongan dan berpanjang-panjang (dalam Qur-an, semua kata adalah penting), tidak basi/membosankan dibaca berkali-kali
Al An'aam 115: Wa tammat kalimatu robbika shidqon wa 'adlan (dan perkataan Robbmu adalah benar (kisah-kisahnya) dan adil (syariahnya)).

4. Quran menyebutkan taghrib, tarhib, teguran, dan nasihat
Contoh janji dan kabar gembira:

As Sajdah 17: Fa laa ta'lamu nafsun maa ukhfiya lahum min qurroti a'yunin jazaa-a bi maa kaanuu ya'maluun (Maka tidak seorangpun tahu apa yang disembunyikan bagi mereka dari yg menyejukkan pandangan mata (yaitu nikmatnya surga, sebagai) pembalasan atas apa yg mereka telah kerjakan.

Az Zukhruf 71: Wa fiiha maa tasytahiihil anfusu wa taladzdzul a'yuun (Dan di dalamnya (surga) adalah apa yg diinginkan diri (manusia) dan yg sedap (dipandang) mata) wa antum fiiha khooliduun (dan kamu kekal di dalamnya)

Contoh peringatan:

Al Isroo’ 68: A fa amintum an yakhsifa bi kum jaanibal barri (maka apakah kalian merasa aman bahwa Dia takkan membenamkan sebagian daratan bersama kamu) au yursila 'alaikum haashiban tsumma laa tajiduu lakum wa kiilaa (atau Dia mengirimkan atas kalian angin kencang berpasir lalu kalian tidak mendapat pelindung bagi kalian?)

Al Mulk 16-17: A amintum man fis samaa-i an yakhsifa bi kumul ardlo fa idzaa hiya tamuur (Atau kalian merasa amankah, bahwa Dia yg di langit akan membuatmu ditelan bumi ketika tiba2 ia berguncang?) Am amintum man fis samaa-i an yursila 'alaikum haashiban fasata'lamuuna kaifa nadziir (Atau kalian merasa amankah, bahwa Dia yg di langit akan mengirimkan atas kalian angin berbatu, maka kelak kalian akan tahu bagaimana peringatan-Ku)
Contoh ancaman:
Al Ankabut 40: Fa kullan akhodznaa bi dzanbih (Maka masing2 Kami siksa karena dosa2nya).

Contoh nasihat:
Asy Syuuro 205-207: A faro-aita in matta'naahum siniin (Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun) tsumma jaa-ahum maa kaanuu yuu'aduun (lalu datang kepada mereka adzab yg telah diancamkan kepada mereka) Maa aghnaa 'anhum maa kaanuu yumatta'uun (pasti tidak berguna bagi mereka apa yg selalu mereka nikmati).

Saat berbicara hukum, perintah, dan larangan, Alqur-an mengajak kebenaran, kebaikan, menyenangkan, dan menguntungkan, serta melarang yg tidak disukai, jahat, dan amoral.

Atsar Ibnu Mas’ud: Kalau kamu mendengar Allah berfirman dalam Alqur-an Yaa ayyuhal ladziina aamanuu (wahai orang-orang yg beriman), maka siapkan pendengaranmu dengan baik karena klausa setelah itu mengandung perintah dan larangan.

5. Qur-an adalah mukjizat kepada Nabi Muhammad

Hadits Bukhori: dari Abu Huroiroh: dari Rosululloh: Setiap nabi diberi mukjizat yang karenanya orang percaya (beriman), tapi sesungguhnya apa yang diberikan kepadaku adalah wahyu yg Allah turunkan kepadaku. Maka aku berharap pengikutku akan mengungguli pengikut nabi-nabi lain di hari kiamat.

Waquuduhaa

Manusia (sebagai kayu api) = Qoosithuun
Al Jinn 15: Wa ammal qoosithuuna fa kaanuu li jahannama hathooban (Dan adapun orang kafir yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka adalah kayu bakar untuk jahanam).

Batu (sebagai kayu api) = berhala
Al Anbiyaak 98-99: Innakum wa maa ta'buduuna min duunillaahi hashobu jahannam (sesungguhnya apa yang kalian ibadahi dari selain Allah adalah kayu bakar jahanam). Antum lahaa waariduun (kalian masuk ke dalamnya). Lau kaana haa-ulaa-i aalihatan maa waroduuhaa (Kalau mereka (yang diibadahi selain Allah) itu tuhan, mereka tidak memasukinya (jahanam)) Wa kullun fiihaa khooliduun (dan semuanya kekal di dalamnya).

Tafsir Ibnu Katsir: yaitu batu belerang yang hitam besar, busuk, yaitu yg paling panas kalau dibakar.

U’iddat = she was prepared → who is she?

Tafsir Ibnu Mas’ud: yang dipersiapkan adalah neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu.

Lil Kaafiriina

Tafsir Ibnu Katsir: untuk orang-orang yg ingkar kepada Allah dan rosulNya
Tafsir Ibnu Ishak: dari Muhammad: dari ‘Ikrimah / Said bin Jubair: dari Ibnu Abbas: yaitu untuk orang yg berada dalam kekufuran seperti yg kalian lakukan

Dipersiapkan = Berarti neraka sudah ada?

Hadits Imam Ahmad, Abu Dawud, Nasa-i, Tirmidzi, Ibnu Majah:
Istakdzanatin naaru robbahaa (neraka telah minta izin kepada Robbnya) fa qoolat: Robbi akala ba’dli ba’dlon (Wahai Robbku, sebagian kami telah memakan sebagian lainnya) fa adzina lahaa binafsaini nafsun fisy syitaa-i wa nafsun fish shoif (maka diizinkan kepadanya dengan 2 diri, diri musim dingin dan diri musim panas)

Hadits Muslim: dari Ibnu Mas’ud: Kami pernah mendengar suara sesuatu jatuh, lalu kami berkata “Apa itu?” Lalu Rosulullah berkata: Haadzaa hajarun ulqiya bihi min syafiiri jahannama mundzu sab’iina sanatan laana wa shola ilaa qourihaa (Itu batu yang dilempar dari tepi neraka jahanam sejak 70 tahun lalu dan sekarang baru sampai ke dasarnya)

Minggu, 04 Januari 2009

Al Baqoroh ayat 23

Ayat 23 sampai 25 menceritakan bahwa Allah menantang orang yg tidak percaya dengan Alqur-an.

Ayat 23: Wa in kuntum fii roibin mimmaa nazzalnaa 'alaa 'abdinaa, faktuu bi suurotin min mitslihi wad'uu syuhadaa-a kum min duunillaahi in kuntum shoodiqiina

I'rob
  • Wa = dan
  • In = if/jika
  • Kuntum = you-all were → kaana yang mengandung ism kaana "kalian" dan khobar kaana fii roibin mimmaa nazzalnaa 'alaa 'abdinaa
  • Fii = in/di dalam
  • Roibun = a doubt/sebuah keraguan → fii adalah preposisi, maka roibun majrur jadi roibin.
  • Min = from/dari
  • Maa = what/apa yang (ism maushul) → min+maa=mimmaa
  • Nazala = he descended/dia telah turun → nazzala (wazan 2: intensive/causative/denominative) = he sent down/dia telah menurunkan → nazzalnaa = we sent down/kami telah menurunkan (fi'l ma-dlii = past tense)
  • 'Alaa = on/atas
  • 'Abada = he worshipped/dia telah beribadah → 'abdun = worshipper/hamba (ism fa'il=pelaku) → 'alaa adalah preposisi, maka ‘abdun majrur jadi 'abdin
  • Naa = us/kami → naa adalah mudlof ilaih (pemilik) dari 'abdin, maka 'abdin membuang tanwin jadi 'abdi
  • Fa = then/maka → karena ada in (jika)
  • Ataa = he produced/dia telah membuat → atuu = produce you-all!/kalian buatlah (fi'l amr = kata kerja perintah)
  • Bi = with/dengan
  • Suurotun = a chapter/sebuah surat → suurotun majrur jadi suurotin karena bi adalah preposisi.
  • Min = dari
  • Mitslun = a parable/sebuah perumpamaan → min adalah preposisi, maka mitslun majrur jadi mitslin
  • Hu = him/dia → hu adalah mudlof ilaih (pemilik) dari mitslin, maka mitslin buang tanwin jadi mitsli, dan hu majrur jadi hi.
  • Wa = dan
  • Da'aa = he invoked/dia telah berdoa/dia telah menyeru → id'uu = you-all invoke/kalian serulah/kalian ajaklah (fi'l amr = kata kerja perintah)
  • Syahida = he bore witness/dia bersaksi → syahaadun = THE witness → syuhadaa-un = bentuk jamaknya/THE witnesses → syuhadaa-un manshub jadi syuhadaa-an, berarti sebagai maf'ul (objek) dari id'uu.
  • Kum = you-all/kalian → kum adalah mudlof ilaih (pemilik) dari syuhadaa-an, maka syuhadaa-an hilang tanwin jadi syuhadaa-a.
  • Min = from/dari
  • Duunun = other than/selain → min adalah preposisi, maka duunun majrur jadi duunin → Allah adalah mudlof ilaih (pemilik) dari duunin, maka duunin hilang tanwin jadi duuni.
  • Kuntum → kaana (fi'l ma-dlii) dengan ism kaana "kalian" dan shoodiqiina sebagai khobar kaana
  • Shodaqo = he was true/dia telah benar → shoodiqu = truthful person/orang yang benar → shoodiquuna = bentuk jamak/truthful people → shoodiquuna adalah khobar kaana, maka harus manshub jadi shoodiqiina.

Wa in kuntum fii roibin mimmaa nazzalnaa 'alaa 'abdinaa, faktuu bi suurotin min mitslihi wad'uu syuhadaa-a kum min duunillaahi in kuntum shoodiqiina

Inggris: and if you-all were in a doubt from what *We* sent down on Our worshipper, then you-all produce a chapter of its likeness! And invoke your witnesses from other than Allah if you-all were truthful people"
Indonesia: Dan jika kalian telah dalam suatu keraguan dari apa yang *Kami* telah turunkan atas hamba Kami, maka buatlah sebuah surat dari semisalnya, dan serulah saksi-saksi kalian (orang yang kalian percaya dalam saksinya) dari selain Allah jika kalian adalah orang-orang yang benar.

Tujuan ayat

Tafsir Ibnu Katsir: setelah Allah menyampaikan bahwa tidak ada sesembahan yang dibenarkan selain Allah (ayat 21, 22), Allah membuktikan kebenaran atas kerosulan Muhammad dengan mukjizat turunnya Alqur-an.

Wa in kuntum fii roibin mimmaa nazzalnaa 'alaa 'abdinaa

Tafsir Ibnu Katsir: yaitu orang Arab, Yahudi, dan Nasrani, mereka meragukan bahwa Allah menurunkan Alqur-an kepada Muhammad.

Tafsir Ibnu Katsir: 'abdinaa adalah Muhammad.

Faktuu bi suurotin min mitslihi

Tafsir Ibnu Katsir: yaitu buatlah yg serupa dengan surat-surat yg Muhammad bawa, jika kalian berpendapat Alqur-an tidak datang dari Allah. Maka kalian tidak akan berhasil meskipun dibantu siapapun selain Allah.

Al Qoshosh 49: Qul faktuu bi kitaabin min 'indillaahi huwa ahdaa min humaa attabi'hu in kuntum shoodiqiin (Katakan (Muhammad): maka kalian buatlah satu kitab dari sisi Allah yg dia (kitab itu) lebih memberi petunjuk dari keduanya (Alqur-an dan Taurot), aku akan mengikutinya jika kamu orang yg benar).

Al Isrook 88: Qul la-inijtama'atil insu wal jinnu 'alaa an yaktuu bi mitsli haadzal qur-aani laa yaktuuna bi mitslihi wa lau kaana ba'dluhum li ba'dlin dhohiiron (Katakan: sungguh jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yg serupa Alqur-an ini, niscaya mereka tidak bisa membuat yg semisal dengannya walaupun sebagian mereka membantu sebagian yg lain).

Huud 13: Am yaquuluunaf taroohu (atau mereka berkata: dia (Muhammad) telah membuat-buatnya (Alqur-an)) qul faktuu bi 'asyri suwarin mitslihi muftaroyaatin (katakan: maka buatlah 10 surat yang semisal dengannya (Alqur-an) yg dibuat-buat itu) wad'uu manis tatho'tum min duunillaahi in kuntum shoodiqiin (dan ajaklah siapapun selain Allah, yang sanggup, jika kalian adalah orang-orang yang benar).

Yunus 37-38: Wa maa kaana haadzal qur-aanu an yuftaroo min duunillaahi (dan tidak mungkin Alqur-an ini dibuat-buat dari selain Allah) wa laakin tasydiiqol ladzii baina yadaihi wa tafshiilal kitaabi (tapi dia (Alqur-an) membenarkan kitab2 sebelumnya dan menjelaskan hukum2 yg telah ditetapkannya) laa roiba fiihi min robbil 'aalamiin (tiada keraguan di dalamnya, dari Robb seluruh alam). Am yaquuluunaf taroohu (atau mereka berkata: dia (Muhammad) membuat-buatnya) Qul faktuu bi suurotin mitslihi wad'uu manistatho'tum min duunillaahi in kuntum shoodiqiin (katakan: maka buatlah sebuah surat yg semisalnya (Alqur-an) dan ajaklah siapapun di antara kalian selain Allah, yang sanggup, jika kamu adalah orang2 yg benar).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah menantang orang yg tidak percaya Islam, baik individual maupun kelompok, bisa baca-tulis maupun buta-huruf (sehingga benar2 merupakan tantangan, karena Muhammad buta-huruf) untuk membuat satu surat yg serupa dengan surat dari Alqur-an yg dibawa Muhammad.

Sebelum jadi muslim, Amr bin Al-‘As ketemu Musailamah Al Kadzdzab (Sang Pembohong) yg dikenal sebagai nabi palsu, yg ditanyai “Apa yg baru-baru saja diwahyukan kepada temanmu itu (Muhammad) di Makkah? Amr berkata “Sebuah surat pendek yg indah”. Musailamah bertanya “Apakah itu?” Amr menjawab: Wal ‘ashr. Innal insaana lafii khusr (Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian). Musailamah berpikir sebentar dan berkata “Surat serupa juga diwahyukan kepadaku.” Amr bertanya “Apa itu?” Musailamah menjawab "Ya Wabr, Ya Wabr (Wahai kucing liar, wahai kucing liar), kamu tiada lain dua telinga dan satu dada, dan sisanya tidak penting dan rapuh". Amr berkata "Demi Allah! Kamu tahu bahwa saya tahu bahwa kamu berdusta."

Wad'uu syuhadaa-a kum min duunillaahi in kuntum shoodiqiina

Atsar Ibnu Abbas: syuhadaa-akum artinya para penolong.

Atsar As Suddi: dari Abu Malik: syuhadaa-akum artinya partner kalian, yaitu orang lain yg membantu kalian atau sesembahan kalian.

Atsar Mujahid: syuhadaa-akum artinya orang2 yg bijaksana dan pandai bicara.

Selasa, 25 November 2008

Al Baqoroh Ayat 4-5

Ayat 4: Walladziina yu’minuuna bimaa unzila ilaika wamaa unzila min qoblik. Wabil aakhirooti hum yuuqinuuna

I'ROB

  • Wa = dan → berarti setelah ini adalah khobar kedua dari mubtadak al-muttaqiina di ayat 2
  • Alladziina → khobar kedua berupa klausa (subjek-predikat) sehingga perlu ism maushul (relative pronoun) yang jamak (karena al-muttaqiina jamak)
  • Aamana = he believed/dia telah percaya → yukminuuna = they believed/mereka percaya (fi’l mudlorik = present tense)
  • Bi = with/dengan
  • Maa = what/apa yang (ism maushul = relative pronoun)
  • Anzala = he revealed/dia telah menurunkan → Unzila = it was revealed by him (fi’l majhuul = kata kerja pasif)
  • Ilaa = kepada
  • Ka = you/kamu (objek) → ilaa+ka = ilaika → bimaa unzila ilaika adalah maf’ul/objek dari yukminuuna
  • Wa = dan → yaitu point kedua dari "bi" dari "bimaa unzila ilaika"
  • Min = from/dari
  • Qoblun = before/sebelum → min adalah preposisi, maka qoblun majrur jadi qoblin.
  • Ka = you/kamu → ka adalah mudlof ilaih dari qoblin, maka qoblin menghilangkan tanwin jadi qobli.
  • Wa = dan → yaitu point kedua dari alladziina di ayat ini
  • Al-aakhirotu = THE hereafter/akhirat → bi adalah preposisi, maka al-aakhirotu majrur menjadi al-aakhiroti → bil aakhirotihum adalah maf’ul muqoddam (objek sebelum kata kerja) dari yuuqinuuna.
  • Hum = they/mereka → berfungsi sebagai dlomir fasl (kata ganti pemisah)
  • Yaqina = he was certain/dia telah yakin → yuuqinuuna = they are certain/mereka yakin (fi'l mudloorik)
Walladziina yukminuuna bimaa unzila ilaika wa maa unzila min qoblika wa bil aakhiroti hum yuuqinuuna

Inggris: And those who believe in what was revealed by Him to you and (in) what was revealed before you and (those who) are certain with THE hereafter

Indonesia: Dan orang-orang yang percaya dengan apa yg diturunkanNya kepadamu dan (dengan) apa yg diturunkanNya sebelum kamu dan (orang-orang yang) yakin dengan akhirat.

Walladziina yukminuuna bimaa unzila ilaika wa maa unzila min qoblika

Atsar Ibnu Abbas: membenarkan yg dibawa Muhammad (yaitu Alqur-an) dan yg dibawa Rosul2 sebelumnya (Injil, Taurat, Zabur, dan shuhuf-shuhuf). Tidak membedakan antar rosul & tidak ingkar terhadap apa yg mereka bawa dari Allah.

An Nisaak 136: Yaa ayyuhal ladziina aamanuu aaminuu billaahi wa rosuulihi wal kitaabil ladzii nazzala ‘alaa rosuulihi wal kitaabil ladzii anzala min qoblu (Wahai orang2 yg percaya (beriman)! Percayalah kepada Allah, dan rosulNya, dan kitabNya (Alqur-an) yg diturunkanNya kepada rosulNya, dan kitab yg diturunkanNya sebelum(nya))

An Nisaak 47: Yaa ayyuhal ladziina uutul kitaaba aaminuu bimaa nazzalnaa mu-shoddiqon lima ma’akum (Wahai orang2 yg diberikan kitab! Percayalah dengan apa yg Kami telah turunkan yg membenarkan apa yg telah bersama kalian (kitab kalian))

Al Maa-idah 68: Qul yaa ahlal kitaabi lastum ‘alaa syai-in hattaa tuqiimut tauroota wal injiila wa maa unzila ilaikum min robbikum (Katakan: Wahai Ahli Kitab! Tidaklah kalian memiliki sesuatu sampai kalian menegakkan Taurot, Injil, dan apa yg telah diturunkan kepada kalian dari Robb kalian)

Al Baqoroh 285: Aamanar rosuulu bimaa unzila ilaihi min robbihi wal mukminuuna kullun aamana billaahi wa malaa-ikatihi wa kutuubihi wa rusuulihi laa nufarriqu baina ahadin min rusuulihi (Rosul (Muhammad) percaya dengan apa yg telah diturunkan kepadanya dari Robbnya, dan (begitu pula) orang2 beriman. Masing-masing percaya kepada Allah, malaikatNya, Kitab2Nya, dan Rosul2Nya. "Kami tidak membedakan antara rosul satu dg rosul lain")

An Nisaak 152: Walladziina aamanuu billaahi wa rusuulihi wa lam yufarriquu baina ahadin minhum (Dan mereka yg percaya kepada Allah dan Rosul2Nya dan tidak membedakan antara rosul satu dg rosul lain)

Sikap kita terhadap ayat2 di Kitab2 sebelum turunnya Alqur-an

Hadits Abu Dawud: dari Abu Namlah Al Anshori: dari Rosululloh: Apa yg dikatakan Ahli Kitab kepadamu (ayat dari kitab suci mereka), jangan membenarkan dan jangan menyalahkannya, tapi katakan "Kami percaya dengan Allah dan rosulNya". Kalau salah, jangan membenarkannya, kalau benar, jangan menyalahkannya.

Al ‘Ankabuut 46: Wa laa tujaadiluu ahlal kitaabi (Dan jangan kamu berdebat dengan Ahli Kitab) illaa bil latii hiya ahsanu (kecuali dengan cara yg baik) illal ladziina dholamuu minhum (kecuali dengan orang2 yg dholim (aniaya) di antara mereka) wa quuluu aamannaa bil ladzii unzila ilainaa wa unzila ilaikum (dan katakanlah "Kami percaya dengan apa yg diturunkan kepada kami dan diturunkan kepada kalian) wa ilaahunnaa wa ilaahukum waahidun wa nahnu lahu muslimuun (dan tuhan kami dan tuhan kalian adalah satu dan kepadaNya kita muslim (berserah))

Wa bil aakhiroti hum yuuqinuuna

Atsar Ibnu Abbas: akhirat adalah hari kebangkitan, kiamat, surga, neraka, perhitungan, dan timbangan amal (mizan). Disebut akhirat karena datangnya setelah kehidupan dunia.

Atsar Mujahid: ayat 1-4 menjelaskan orang beriman, 6-7 orang kafir, 8-20 orang munafik.


Ayat 5: Ulaa-ika ‘ala hudan min robbihim, wa ulaa-ika humul muflihuun

I'ROB

  • Ulaa-ika = those → ism isyaroh (kata tunjuk)
  • 'Alaa = upon (di atas)
  • Hudan = a guidance/sebuah petunjuk (kata hudan sudah majrur)
  • Min = from/dari
  • Robbun = Lord → min adalah preposisi, maka robbun harus majrur menjadi robbin.
  • Hum = they/mereka → hum adalah mudlof ilaih (pemilik) dari robbin, maka robbin harus menghilangkan tanwin menjadi robbi, dan hum harus majrur menjadi him → Ulaa-ika adalah mubtadak dan 'alaa hudan min robbihim adalah khobar, sehingga di terjemahan, disisipkan kata "adalah/merupakan" → juga min robbihim adalah na'at (sifat) dari hudan, sehingga di terjemahan disisipkan kata "yang".
  • Wa = dan
  • Perhatikan, ulaa-ika diulang lagi, ini menunjukkan penekanan.
  • Hum di sini berfungsi sebagai dlorof fashl (penegas).
  • Falaha = he won/dia telah memenangkan → al-muflihuuna = THE winners/para pemenang → ulaa-ika adalah mubtadak dan al-muflihuuna adalah khobarnya, sehingga di terjemahannya disisipkan kata "adalah".
Ulaa-ika 'alaa hudan min robbihim, wa ulaa-ika humul muflihuuna

Inggris: Those ARE on a from-their-Lord guidance, and they are the winners.
Indonesia: itu semua adalah atas petunjuk yang dari Robb mereka, dan mereka adalah para pemenang".

Uulaa-ika

Tafsir Ibnu Katsir: Uulaa-ika meliputi yg beriman pada yg ghoib, mendirikan sholat, menafkahkan dari rizqi Allah kepadanya, beriman kepada Alquran & kitab2 sebelumnya, serta percaya kepada hari akhir.

'Alaa hudan min robbihim

Tafsir Ibnu Katsir: yaitu mengikuti petunjuk dari Allah.

Para pemenang

Tafsir Ibnu Katsir: yaitu sukses di dunia dan akhirat, mendapat apa yg mereka cari, dan berhasil menjauhi maksiat, sehingga mereka masuk surga.

Al Baqoroh ayat 2

Ayat 2: ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

I'rob

  • Dzaalika (ذَلِكَ) = that/itu → ism isyaroh menunjuk ke lokasi yang jauh
  • Kitaabun (كِتَٰبٌ) = a book/sebuah kitab → al-kitaabu (الْكِتَابُ) = THE Book; yaitu bentuk ma'rifahnya → lalu dzaalikal kitaabu membentuk kalimat mubtadak khobar, dzaalika adalah mubtadak, al-kitaabu adalah khobar.
  • Laa (لاَ) terletak sebelum mubtadak, berarti laa nafiyah ini berlaku seperti inna. Laa nafiyah berfungsi menegasikan kalimat setelahnya, yaitu roiba fiihi, roiba sebagai mubtadak, fiihi sebagai khobar.
  • Roibun (رَيْبٌ) = a doubt/sebuah keraguan → Laa nafiyah membuat mubtadak roibun menjadi manshub dan naqiroh tapi tidak berakhiran tanwin roiba (رَيْبَ).
  • Fii (فِي) = in/didalam
  • Hu (هُ) = him/dia, mengacu kepada Al-Kitab → menurut aturan dlomaa-ir nashb wa jarr muttashilih, huruf sebelum hu adalah y, maka hu menjadi hi (هِ).
  • Hadaa (هَدَىٰ) = he guided/dia telah menunjukkan → hudan (هُدًى) = a guidance/sebuah petunjuk
  • Li (لِّ) = for/untuk
  • Waqoo (وَقَىٰ) = he preserved/dia telah memelihara → Ittaqoo (ٱتَّقَىٰ) (wazan 4, yaitu kausatif) = he feared/dia telah takut → Al-muttaquu (ٱلْمُتَّقُ) = one who fears/orang yang takut (ism fa'il = yang me-) → Al-muttaquuna (ٱلْمُتَّقُونَ) = those who fear/orang-orang yang takut → li adalah preposisi, maka al-muttaquuna majrur jadi al-muttaqiina (ٱلْمُتَّقِينَ).
Dzaalikal kitaabu laa roiba fiihi, hudan lil muttaqiin

Inggris: That is The Book (Alqur-an), no doubt is in it, a guidance for those who fear (to Allah).
Indonesia: Ini adalah Sang Kitab, tidak ada keraguan adalah atasnya, suatu petunjuk bagi mereka yang takut (kepada Allah)

Laa roiba fiihi

As Sajdah 1-2: Alif Laam Miim. Tanziilul kitaabi laa roiba fiihi min robbil 'aalamiin (Turunnya Alqur-an yang tidak ada keraguan padanya adalah dari Robb semesta alam)

Atsar As-Suddi (dari Ibnu 'Abbas) dan Murroh Al-Hamadani (dari Ibnu Mas'ud): tidak ada keraguan dalam Alqur-an artinya tidak ada keraguan tentang Alqur-an.

Atsar Ibnu Abi Hatim: the Book, Alqur-an, adalah tanpa diragukan (lagi) diturunkan dari Alloh.

"Laa royba. Fiihi hudan lil muttaqiin" atau "Laa royba fiihi. Hudan lil muttaqiin"?

(Lihat tanda titik tiga di ayat ini)

Dzaalikal kitabu laa royba. Fiihi hudan lil muttaqiin = Alqur-an itu tiada keraguan. Padanya ada petunjuk untuk orang2 yg bertaqwa.
Dzaalikal kitabu laa royba fiihi. Hudan lil muttaqiin = Alqur-an itu tiada keraguan padanya. Petunjuk untuk orang2 yg bertaqwa.

Tafsir Ibnu Katsir: Hudan bukan sekadar pernyataan adanya petunjuk dalam Alqur-an, tapi sudah merupakan sifat Alqur-an. Jadi "Alqur-an adalah petunjuk", bukan “Di dalam Alqur-an ada petunjuk”.

Hudan

1) Petunjuk yang benar

Fushshilat 44: Qul huwa lilladziina aamanuu (Katakanlah: dia (Alqur-an) adalah untuk orang2 yg percaya (beriman)) hudan wa syifaa-un (petunjuk dan penyembuh) wal ladziina laa yukminuuna (dan (bagi) orang2 yg tidak percaya (kafir)) fii aadzaanihim waqrun (sumbatan ada didalam kuping mereka) wa huwa 'alaihim 'aman (dan dia (Alqur-an) adalah kebutaan atas mereka). Uulaa-ika yunaadauna min makaanin ba’iidin (Mereka adalah orang2 yg dipanggil dari sebuah tempat yg jauh (sehingga mereka tidak dengar dan tidak paham).

Al Isrook 82: Wa nunazzilu minal qur-aani maa huwa syifaa-un wa rohmatun lil mukminiina (dan Kami turunkan Alqur-an sebagai penyembuh dan rahmat bagi orang2 yg percaya (beriman)) wa laa yaziidudh dhoolimiina illaa khosaaron (dan Alqur-an tidak menambah (apapun bagi) orang2 dholim (aniaya) kecuali kerugian)

2) Jadi, Alqur-an itu menguntungkan karena isinya adalah petunjuk/hidayah, tapi petunjuk hanya bisa didapatkan orang2 yg benar

Yunus 57: Yaa ayyuhan naasu qod jaa-atkum mau'idhotun man robbikum (wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian pelajaran (nasihat baik) dari Robb kalian (yaitu Alqur-an)) wa syifaa-un lima fish shuduuri (dan penyembuh atas apa yg didalam dada (penyakit kebodohan, keraguan, kemunafikan (serigala berbulu domba terhadap Islam))) wa hudan wa rohmatun lil mukminiin (dan petunjuk dan rahmat kepada orang2 yg percaya (beriman))

3) Atsar Ibn 'Abbas & Ibn Mas'ud: Hudan = cahaya.

4) Rasa percaya (iman) yg ada dalam hati, dan hanya Alloh yg bisa membuatnya percaya (beriman), manusia tidak akan pernah bisa

Al Qoshosh 56: Innaka laa tahdii man ahbabta (sesungguhnya, kamu tidak akan (bisa) memberi petunjuk orang yg kamu cintai) wa laakinnallooha yahdii man ya-syaak (tapi Allah yang menunjuki (jalan lurus) kepada orang yg Dia kehendaki). Wa huwa a’lamu bil muhtadiin (Dan Dia Mahatahu atas siapa yg ditunjuki)

Al Baqoroh 272: Laisa ‘alaika hudaahum wa laakinnallooha yahdii man yasyaak (petunjuk untuk mereka bukan dari kamu, tapi Allah memberi petunjuk siapa yg Dia kehendaki)

Al A’roof 186: Man yudl-lilillaahu fa laa haadii lahu (Barangsiapa Alloh sesatkan, maka tidak ada yang bisa memberi petunjuk kepadanya), wa ya-dzaruhum fii thughyaanihim ya’mahuun (dan Dia membiarkannya terombang-ambing dalam kesesatan)

Al Kahfi 17: Man yahdillaahu fa huwal muhtadi (barangsiapa yang Allah tunjukkan (jalan lurus), maka dia adalah orang yg ditunjukkan), wa man yudl-lil fa lan tajida lahu waliyyan mursyidan (dan barangsiapa yg Dia sesatkan, maka kamu tidak akan menemukan Wali (kawan pemberi petunjuk) bagi dia untuk mengarahkannya (ke jalan lurus).

5) Memberi petunjuk = menjelaskan kebenaran & mengarahkan

Asy Syuroo 52: Wa innaka latahdii ilaa shiroothin mustaqiim (dan sesungguhnya kamu benar-benar menunjukkan (manusia) kepada jalan yang lurus)

Ar Ro'd 7: Innamaa anta mundzirun, wa likulli qoumin haadi (sesungguhnya kamu hanyalah pemberi peringatan, dan bagi setiap kaum, ada orang yg menunjukkan (jalan lurus))

Fushshilat 17: Wa ammaa tsamuudu (dan adapun kaum Tsamud) fa hadainahum (maka Kami telah beri mereka petunjuk) fastahabbul ‘amaa ‘alal hudaa (tapi mereka lebih suka kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk) fa akhodzat hum shoo’iqotul ‘adzaabil huuni bimaa kaanuu yaksibuun (maka mereka disambar petir adzab yg menghinakan karena apa yg telah mereka kerjakan)

Al Balaad 10: Wa hadainahun najdaini (Dan tunjukkan dia dua jalan (baik dan buruk))

Lil Muttaqiina

Atsar Ibnu 'Abbas: Al Muttaqiin artinya orang yg beriman, menjauhi syirik dengan Allah (menjauhi menduakan Tuhan dengan selain Alloh) yg selalu taat kepadaNya, yg takut dengan hukuman Alloh jika mengabaikan petunjuk yg telah mereka kenali dan ketahui, yg selalu mengharap rahmatNya dengan percaya kepada wahyuNya.

Atsar Sufyan Atstsauri: dari Al Hasan Al Bashri: Al Muttaqiin adalah orang yg benar-benar takut dengan siksaan Allah jika mengerjakan apa yg diharamkanNya dan meninggalkan apa yg telah diwajibkan kepada mereka.

Atsar Qotadah: definisi Al Muttaqiin ada di ayat 3-4.